Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan
Frustrasi karena kejujurannya dianggap sampah, Sean Manuel meledak.
Jika sebelumnya dia adalah pangeran kegelapan yang tenang, kini dia berubah menjadi iblis yang mengamuk. Dia kembali ke setelan awal, bahkan jauh lebih buruk: kasar, tidak terkendali, dan temperamennya berada di titik didih.
Siang itu, suasana kantin NYIS yang biasanya elit mendadak mencekam. Sean duduk di meja tengah bersama Aber dan Nill, tapi auranya begitu pekat hingga siswa di meja sekitarnya memilih pergi meski makanan mereka belum habis.
Seorang siswa kelas bawah tidak sengaja menyenggol meja Sean saat berjalan. Sedikit kuah sup tumpah di atas meja kayu mahal itu.
"S-sorry, Sean... gue nggak sengaja," ucap siswa itu dengan suara bergetar.
Sean tidak menjawab. Dia berdiri perlahan, matanya merah karena kurang tidur dan emosi yang tertahan.
Tanpa peringatan, Sean mencengkeram kerah baju siswa itu dan membantingnya ke atas meja. BRAKK!
"Lo punya mata nggak, hah?!" bentak Sean, suaranya menggelegar di seluruh kantin.
"Lo pikir meja ini setara sama nyawa Lo?!"
"Sean, cabut, Sean! Lo bisa dapet masalah!" Nill mencoba menarik bahu Sean, tapi Sean menepisnya dengan kasar.
"Diem Lo! Siapa pun yang berisik hari ini, gue hancurin mulutnya!" teriak Sean. Dia menendang kursi di sampingnya hingga terpental menghantam dinding kaca.
Di kelas, suasananya jauh lebih buruk. Sean masuk dengan menendang pintu hingga engselnya nyaris lepas. Dia tidak duduk di samping Eleanor lagi, melainkan di kursi paling belakang. Sepanjang pelajaran, dia terus-menerus mengganggu dengan memukul meja atau melempar buku milik siswa lain.
Saat guru mencoba menegur, Sean hanya menatap tajam dan berkata, "Lanjutin aja pelajaran Lo kalau nggak mau gedung ini gue bakar." Guru itu terdiam, tahu siapa kakek Sean.
Eleanor yang duduk di baris depan hanya bisa mengepalkan tangan. Dia tahu Sean sedang tantrum karena kejadian semalam di mansionnya.
"Puas Lo, Riccardo?"
Saat kelas berakhir, Eleanor mencoba keluar secepat mungkin, tapi Sean sudah berdiri di depan pintu, menghalangi jalan.
Teman-teman Sean hanya menonton dari jauh, tidak berani mendekat.
"Minggir, Sean. Gue mau lewat," ucap Eleanor dengan suara setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang melihat tatapan liar di mata Sean.
Sean tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Dia mencengkeram pintu dengan kedua tangannya, mengurung Eleanor di antara tubuhnya.
"Gimana, Riccardo? Ini kan yang Lo mau?" desis Sean, wajahnya mendekat ke telinga Eleanor. "Lo bilang gue sampah, Lo bilang gue nggak punya kehormatan. Jadi buat apa gue bersikap baik? Gue bakal jadi iblis yang sebenernya mulai sekarang."
"Lo cuma pengecut yang nggak bisa terima kenyataan kalau reputasi Lo itu busuk!" balas Eleanor, menatap tajam mata Sean.
"Kenyataan?" Sean menyeringai, kali ini auranya benar-benar gelap. "Kenyataannya adalah... gue frustrasi setengah mati gara-gara Lo nggak percaya sama gue. Dan sekarang, karena Lo anggap gue kotor, gimana kalau gue beneran jadi kotor? Lo mau liat gue bawa cewek ke depan muka Lo tiap hari biar mual Lo itu makin parah?"
Sean memukul pintu di samping kepala Eleanor dengan keras.
DUKK!
"Puas Lo sekarang, Eleanor? Liat apa yang udah Lo lakuin ke gue!" Sean membentak tepat di depan wajah Eleanor, lalu berjalan pergi meninggalkan kekacauan di belakangnya.
Eleanor terpaku di tempatnya. Dia bisa melihat ada luka besar di balik amarah Sean, tapi egonya sebagai seorang Riccardo membuatnya enggan mengakui bahwa mungkin... dia salah menilai pria mulut beracun itu.
Lampu merah di persimpangan sibuk Manhattan itu menjadi saksi bisu pecahnya harga diri sang pewaris tunggal.
Sean yang sedang mengendarai mobil sport-nya dengan ugal-ugalan nyaris menabrak kendaraan lain, menciptakan kebisingan klakson yang memekakkan telinga.
Eleanor, yang kebetulan berada di trotoar tepat di samping mobil Sean, tidak bisa lagi menahan rasa muaknya. Ia menghampiri mobil Sean yang terbuka atapnya, matanya menyala penuh amarah.
"Turun lo, Sean!" teriak Eleanor. Begitu Sean menoleh dengan wajah yang berantakan karena emosi, Eleanor langsung menghardiknya di depan orang banyak.
"Gue pikir lo cuma berengsek, tapi ternyata lo bener-bener sampah. Sampai kapan pun, di mata gue, lo cuma sampah yang nggak berguna!"
Orang-orang mulai berbisik, mengenali sosok Sean Manuel yang sedang dipermalukan. Rahang Sean mengeras, urat-urat di lehernya menonjol saat ia menatap Eleanor dengan tatapan paling mematikan yang pernah ia miliki.
"Lo itu siapanya gue, hah?!" bentak Sean sambil keluar dari mobilnya, menjulang di depan Eleanor. "Berani-beraninya lo bilang gue sampah di depan umum? Lo pikir keluarga Riccardo setinggi itu sampai lo bisa injak-injak gue?!"
Eleanor tidak mundur selangkah pun. Ia justru memajukan wajahnya, menatap Sean dengan rasa jijik yang sangat nyata.
Sean, yang sudah kehilangan akal karena terhina, menarik Eleanor mendekat. Ia membisikkan kata-kata yang begitu rendah dan tajam tepat di telinga gadis itu, sebuah serangan balik yang bertujuan untuk menghancurkan mental Eleanor.
"Jangan sok suci di depan gue, Riccardo," desis Sean, suaranya parau dan penuh kebencian. "Lo pandang hina gue karena rumor itu? Tapi gue jadi mikir... jangan-jangan lo sendiri nggak sesuci kelihatannya. Di balik kacamata dan baju sopan lo ini, mungkin aja di balik payudara besar lo itu udah banyak tangan yang menjamah. Lo cuma pinter akting jadi Dewi, padahal mungkin lo lebih kotor dari model-model itu."
Eleanor terkesiap, tangannya refleks naik dan PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sean hingga wajah cowok itu terlempar ke samping.
Napas Eleanor memburu, matanya berkaca-kaca karena dihina secara seksual dan personal oleh pria yang sebenarnya diam-diam mulai ia pedulikan.
"Lo... lo bener-bener iblis, Sean Manuel. Gue nggak pernah nyangka lo serendah ini."
Eleanor berbalik dan lari meninggalkan kerumunan itu, sementara Sean berdiri mematung di tengah jalan yang mulai macet.
Pipi Sean terasa panas, tapi hatinya jauh lebih hancur. Ia baru saja mengatakan hal paling kejam pada satu-satunya wanita yang ia inginkan, dan ia tahu, setelah kata-kata itu keluar, jalan kembali ke hati Eleanor mungkin sudah tertutup selamanya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰🥰😍
keren....