NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Di Balik Gerbang Dendam dan Cinta yang Terluka”

Pagi itu, Surabaya terasa sangat dingin bagi Yoga. Meskipun sinar matahari mulai masuk menembus celah gorden, suasana di dalam rumah terasa hampa. Yoga baru saja menyelesaikan operasi darurat semalaman dan segera pulang untuk memeluk istrinya. Namun, saat ia melangkah masuk ke kamar, ia hanya menemukan tempat tidur yang tertata terlalu rapi. Dingin dan tak berpenghuni.

Di atas bantal tempat Anindya biasanya merebahkan kepala, terdapat selembar kertas putih dengan tulisan tangan yang bergetar.

"Mas Yoga... maafkan aku. Aku harus pergi. Tolong, jangan cari aku. Biarkan aku pergi demi kebaikanmu, demi keselamatanmu. Aku sangat mencintaimu, itulah sebabnya aku tidak bisa terus bersamamu lagi. Lupakan aku, Mas. Hiduplah dengan baik tanpa racun di sisimu."

Yoga meremas kertas itu hingga hancur. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Apa-apaan ini, Anin? Racun apa?!" teriaknya frustrasi di tengah kamar yang sunyi.

Anindya tiba di Jakarta dengan wajah yang sembap. Di dalam taksi menuju mansion keluarga Rahardjo, ia terus memegangi perutnya. Sugesti dari Dokter Fahri benar-benar bekerja; ia merasa setiap jengkal tubuhnya sedang digerogoti penyakit mematikan.

Begitu pintu gerbang mewah keluarga Rahardjo terbuka, Anindya langsung lari ke pelukan Ibu Kanaya yang sudah menunggu di teras.

"Mama..." Anindya terisak hebat, tubuhnya luruh di lantai.

"Sayang! Nayla! Kamu kenapa? Mana Yoga?" tanya Kanaya panik melihat kondisi putrinya yang mengenaskan.

Di ruang tamu yang luas itu, dengan suara terbata-bata, Anindya menceritakan segalanya—tentang peringatan Dokter Fahri, tentang donor darah ceroboh di masa lalu, dan tentang ancaman Hepatitis B yang bisa menular pada Yoga.

Wajah Ibu Kanaya memerah padam. Amarahnya meledak seketika. "Berandal itu! Mama pikir dia adalah penyelamatmu, ternyata dia adalah orang yang menanam bom waktu di tubuhmu! Kecerobohannya hampir membunuhmu, Nayla!"

Ibu Kanaya langsung menghubungi Dokter Reza yang sedang berada di rumah sakit.

"Papa! Pulang sekarang! Yoga sudah menghancurkan hidup putri kita! Dia memberikan darah kotor pada Nayla!"

Dokter Reza tiba dengan wajah tegang.

Sebagai seorang dokter senior, ia seharusnya melakukan pengecekan ulang, namun melihat istrinya yang histeris dan putrinya yang tampak sangat menderita secara fisik dan mental, logikanya sempat tertutup oleh emosi kebapakan yang luar biasa.

"Tenang, Anin... Papa di sini," ucap Reza sambil memeluk putrinya. "Papa akan pastikan kamu sembuh. Kita akan gunakan tim medis terbaik dari Sentral Medika secara tertutup."

Ibu Kanaya berdiri tegak, matanya berkilat penuh dendam. "Papa, mulai detik ini, Yoga tidak boleh tahu Anindya ada di sini. Perketat penjagaan gerbang. Jika dia berani menginjakkan kaki di rumah ini, suruh penjaga mengusirnya seperti anjing! Aku tidak akan membiarkan pria ceroboh itu mendekati putriku lagi!"

Anindya hanya bisa menangis di dalam kamar masa kecil "Nayla" yang baru ia tempati. Kamar itu berubah menjadi penjara emas. Setiap sudut mansion dijaga oleh bodyguard bertubuh kekar. Ponsel Anindya disita oleh Kanaya agar Yoga tidak bisa melacak keberadaannya.

Di sisi lain, di Surabaya, Yoga sedang menggila. Ia membanting vas bunga di ruang kerjanya. "Cakra! Cari dia! Aku tidak peduli kamu harus meretas seluruh satelit di negara ini, temukan istriku sekarang juga!"

Cakra, yang baru pertama kali melihat bosnya sehancur itu, hanya bisa menunduk. "Baik, Bos. Saya akan lacak semua manifes penerbangan dan CCTV bandara."

Yoga berdiri di balkon rumah mereka, menatap langit Jakarta di kejauhan. "Kamu tidak bisa lari dariku, Anin. Jika kamu pikir kamu adalah racun, maka biarkan aku mati karena racun itu. Aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kita, termasuk keluargamu sendiri."

Hanya butuh waktu enam jam bagi Cakra untuk melacak manifes penerbangan dan titik koordinat sinyal ponsel terakhir Anindya sebelum perangkat itu dimatikan secara paksa. Begitu nama "Nayla Rahardjo" muncul di data manifes keberangkatan ke Jakarta, Yoga tidak membuang waktu satu detik pun.

"Batalkan semua jadwal operasi minggu ini. Delegasikan pada Dokter Galih atau siapapun!" teriak Yoga sambil menyambar kunci mobilnya.

"Tapi Bos, ada pasien VIP yang—"

"Aku tidak peduli! Istriku adalah satu-satunya pasien yang harus kuselamatkan sekarang!"

Yoga terbang ke Jakarta dengan amarah dan ketakutan yang bergejolak. Sepanjang penerbangan, ia terus meremas kertas surat dari Anindya. Pikirannya buntu. Apa maksud istrinya tentang 'demi kebaikannya'? Apa yang telah terjadi?

****

Mansion megah milik keluarga Rahardjo di kawasan Menteng tampak seperti benteng pertahanan perang. Begitu mobil taksi yang membawa Yoga berhenti di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi, empat orang bodyguard berseragam safari langsung menghadangnya.

"Buka gerbangnya! Aku ingin bertemu istriku!" Yoga berteriak, matanya merah karena kurang tidur dan emosi yang meluap.

"Maaf, Dokter Yoga. Perintah Nyonya Kanaya jelas: Anda tidak diizinkan masuk," jawab salah satu penjaga dengan nada kaku.

"Istriku ada di dalam! Anindya!"

Pintu utama mansion terbuka. Ibu Kanaya melangkah keluar dengan keanggunan yang mematikan. Wajahnya yang biasa ramah kini sedingin es. Ia berjalan mendekat ke arah gerbang, menatap Yoga dengan pandangan jijik yang sangat dalam.

"Berhenti berteriak, Yoga! Kamu tidak malu dilihat tetangga?" suara Kanaya tajam menusuk.

"Mama, tolong... apa yang terjadi? Kenapa Anin pergi? Kenapa Mama menyembunyikannya?" Yoga memohon, tangannya mencengkeram jeruji besi gerbang.

"Jangan panggil aku Mama! Aku menyesal pernah menganggapmu menantu!" Kanaya menghardik, suaranya naik satu oktav. "Kamu bukan penyelamat, Yoga! Kamu pembunuh! Kamu memberikan darah kotor pada anakku hanya demi ambisi gilamu untuk terlihat seperti pahlawan!"

Yoga tertegun. "Darah kotor? Apa maksud Mama?"

"Dokter Fahri sudah menceritakan semuanya! Kamu memberikan donor darah pembawa virus Hepatitis B kepada Nayla saat kecelakaan itu, kan? Kamu tahu risikonya, tapi kamu tetap melakukannya hanya agar Nayla tidak mati di tanganmu dan kamu tidak disalahkan! Kamu egois, Yoga!"

****

Di belakang Kanaya, Dokter Reza muncul dengan kursi rodanya. Wajah pria tua itu tampak sangat kecewa, seolah ia baru saja dikhianati oleh putra kandungnya sendiri.

"Papa..." Yoga menatap Reza, berharap ada pembelaan.

"Yoga..." suara Dokter Reza terdengar serak dan berat. "Aku sudah memeriksa arsip lama di rumah sakit darurat tempat kamu membawa Anindya dulu. Saat itu kondisinya memang chaos. Dan setelah aku mendengar cerita Anindya tentang apa yang dikatakan Fahri... aku mulai merunut kembali."

Reza menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Benar kan, Yoga? Saat itu kamu tidak melakukan screening darah karena tidak ada stok, dan kamu mengambil darah dari seorang pendonor liar yang ada di lokasi kejadian?"

Yoga terdiam membeku. Memori kelam itu berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak. Hujan deras, darah Anindya yang merembes di aspal, denyut nadinya yang hampir hilang...

Saat itu, aku hanya berpikir: Anindya harus hidup. Aku tidak peduli dari mana darah itu berasal, yang penting jantungnya terus berdetak.

"Aku... aku hanya ingin dia hidup, Pa," bisik Yoga lirih. Lututnya terasa lemas.

"Tapi dengan cara mencemari masa depannya?" Kanaya menyela dengan kejam.

"Sekarang anakku harus menderita seumur hidup karena kecerobohanmu! Dia merasa dirinya racun untukmu! Pergi, Yoga! Pergi sebelum aku melaporkanmu atas malpraktik masa lalu!"

Yoga jatuh terduduk di atas aspal panas di depan gerbang. Kepalanya tertunduk dalam.

Dokter jenius yang selalu diagung-agungkan itu kini tampak seperti pria malang yang baru saja kehilangan dunianya. Ia merasa dikhianati oleh keputusannya sendiri di masa lalu. Keputusan yang ia anggap sebagai pengorbanan, ternyata kini menjadi belati yang menusuk jantung pernikahannya.

****

Yoga tidak beranjak. Ia tetap di sana sampai matahari mulai tenggelam. Saat ia perlahan berdiri untuk pergi dengan hati yang hancur, ia secara tidak sengaja mendongak ke arah balkon lantai dua.

Di sana, di balik pilar besar, seorang wanita dengan terusan putih berdiri mematung. Anindya.

Mata mereka bertemu sejenak. Yoga melihat air mata mengalir di pipi istrinya, sementara Anindya menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis agar tidak terdengar ke bawah. Tatapan Anindya penuh dengan kerinduan yang menyiksa, namun ia tetap bergeming di balik pilar, tidak berani melangkah maju.

Yoga mengepalkan tangannya di dada. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak peduli pada penyakit itu, ia tidak peduli pada virus apapun, asalkan Anindya kembali. Namun, melihat wajah istrinya yang begitu hancur karena rasa bersalah, Yoga sadar bahwa kehadirannya saat ini justru merupakan siksaan bagi Anindya.

Dengan langkah kaki yang terasa berat seperti diseret beban berton-ton, Yoga berbalik menuju taksi. Di balik pilar, Anindya luruh ke lantai, menangis sejadi-jadinya saat melihat mobil yang membawa Yoga perlahan menghilang dari pandangannya.

Lampu-lampu jalanan di kawasan Menteng mulai menyala satu per satu, menyinari aspal yang masih terasa hangat sisa terik siang tadi. Namun, bagi Yoga, dunia di sekelilingnya telah kehilangan cahayanya. Setiap langkah kaki yang ia ambil menjauh dari gerbang mansion keluarga Rahardjo terasa seperti ada paku yang menghujam jantungnya.

Seorang Dokter Prayoga Aditama, pria yang biasanya begitu percaya diri dengan pisau bedah di tangannya, kini tampak rapuh.

Bahunya merosot, dan napasnya terasa sesak oleh beban kenyataan yang menghimpit. Ia sadar, memaksa masuk hanya akan membuat Anindya semakin merasa tertekan oleh rasa bersalah yang diciptakan oleh fitnah Fahri.

Sebelum jemari tangannya menyentuh gagang pintu taksi, sebuah dorongan batin memaksa Yoga untuk menoleh ke atas. Ia mendongak, menatap ke arah balkon lantai dua yang tertutup tirai tipis putih.

Di sana, di balik kain yang melambai ditiup angin malam, ia melihat sebuah bayangan. Tirai itu tersingkap sedikit, menampakkan wajah Anindya yang pucat pasi.

Mata mereka bertemu.

Jarak belasan meter itu terasa seperti jurang yang tak terseberangi. Yoga bisa melihat dengan jelas mata Anindya yang sembap dan merah. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun tatapan itu sudah cukup untuk menceritakan segalanya: kerinduan yang membara, rasa sakit yang tak terperi, dan sebuah keputusasaan yang mendalam.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!