Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Ambisi dan Detak Jantung Keluarga
Gema suara tamparan itu masih terngiang di telinga Yoga, meninggalkan rasa panas yang menjalar di pipi sekaligus harga diri yang terkoyak. Sebagai seorang Direktur Utama dan dokter yang selalu dipuja, Yoga tidak pernah menyangka akan diperlakukan seburuk itu di kantornya sendiri.
"Anin! Jaga sikapmu! Kamu tidak bisa tiba-tiba datang dan menamparku seperti ini di depan stafku!" Yoga membentak, suaranya menggelegar penuh otoritas yang terluka. "Aku bekerja di sini, Anin! Aku mencari uang untukmu, untuk Arya, untuk masa depan kita! Kalau kamu tidak memberitahuku dengan benar kalau Arya sakit, bagaimana aku bisa tahu?"
Anindya tertawa getir, suara tawanya terdengar menyayat hati di tengah kesunyian ruang kerja yang mewah itu. "Tidak memberitahumu dengan benar? Kamu dengar sendiri apa yang kamu katakan, Yoga?"
****
Dengan tangan yang gemetar hebat karena amarah yang memuncak, Anindya merogoh saku jaketnya. Ia mengambil ponselnya yang layarnya masih menyala. Tanpa ragu, ia melemparkan benda itu ke atas meja kerja Yoga, tepat di depan wajah suaminya.
BRAKK!
"Lihat! Lihat dengan mata kepalamu sendiri!" teriak Anindya. "Aku meneleponmu belasan kali sampai jariku lemas, Yoga! Aku memohon, aku menangis di telepon agar kamu pulang karena anakmu sedang meregang nyawa karena panas tinggi! Tapi apa yang aku dapatkan?"
Yoga meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak melihat daftar panggilan keluar yang semuanya ditujukan ke nomornya—mulai dari pukul satu dini hari hingga beberapa menit yang lalu. Belasan panggilan tak terjawab.
"Wanitamu itu... Dokter Riana yang sangat kamu banggakan itu, dia yang mengangkat teleponku!" suara Anindya kini serak karena tangis. "Dia bilang kamu sangat sibuk menyelamatkan nyawa orang dan melarangku mengganggumu. Dia bilang aku kekanak-kanakan! Di mana kamu saat itu, Yoga? Di mana?!"
Yoga tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia ingat saat ia ke kamar mandi dan meninggalkan ponselnya di dekat Riana. Ia ingat Riana mengatakan tidak ada telepon masuk. Kebenaran itu menghantamnya seperti godam besar, namun egonya masih mencoba mencari celah untuk membela diri.
"Aku... aku benar-benar tidak tahu Riana mengangkatnya, Anin. Tapi kamu seharusnya bisa langsung datang ke sini, bukan malah memendamnya dan—"
"Datang ke sini?!" Anindya memotong dengan jeritan frustrasi. "Anakku tidak bisa bernapas dengan benar, badannya seperti api, dan kamu ingin aku menggendongnya menyetir sendiri ke sini hanya untuk melihatmu tertawa dengan wanita lain? Kamu sudah gila, Yoga! Ambisimu sudah memakan akal sehatmu!"
Anindya melangkah maju, menatap langsung ke dalam manik mata Yoga dengan sorot mata yang penuh dengan luka sedalam samudra.
"Dengar baik-baik, Dokter Prayoga Aditama. Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai putraku. Dan jika kamu lebih mencintai kursi direktur ini, lebih mencintai proyek-proyekmu, dan lebih mencintai waktu yang kamu habiskan bersama rekan wanitamu itu... maka ceraikan aku!"
DEG.
Kata itu meluncur seperti belati yang membelah keheningan. Yoga merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Anin... apa yang kamu katakan? Tarik ucapanmu!"
"Tidak! Aku tidak akan menariknya!" Anindya berteriak tepat di depan wajah Yoga. "Aku lelah, Mas! Aku lelah menjadi yang kedua setelah ambisimu! Aku lelah menunggu pria yang tidak pernah punya waktu untuk sekadar sarapan bersama keluarganya! Pergilah! Jadilah dokter hebat, jadilah CEO paling kaya di dunia ini, tapi jangan pernah cari aku dan Arya lagi!"
Anindya berbalik dengan kasar. Ia tidak sanggup lagi menatap wajah pria yang sangat ia cintai namun sangat menyakitinya itu. Ia melangkah keluar dengan bahu yang berguncang hebat, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi.
Yoga terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya masih memegang ponsel Anindya yang layarnya kini meredup. Ruang kerja yang biasanya terasa seperti singgasana kemenangan, kini mendadak terasa seperti liang kubur yang sempit dan dingin.
Ia menatap pintu yang terbuka lebar, tempat istrinya baru saja menghilang. Di kepalanya, kata-kata Anindya berputar seperti kaset rusak: Ceraikan aku... Aku lelah menjadi yang kedua setelah ambisimu.
Yoga baru menyadari satu hal yang mengerikan. Selama tiga bulan terakhir, ia merasa sedang membangun istana untuk keluarganya, namun ternyata ia justru sedang menggali jurang pemisah. Ia terlalu fokus pada angka-angka dan prestasi, sampai ia lupa bahwa detak jantung yang paling berharga bukan ada di ruang operasi, melainkan di dalam rumahnya sendiri.
"Anin..." bisik Yoga lirih. Suaranya hilang di tengah luasnya ruangan itu.
Lututnya terasa lemas. Yoga jatuh terduduk di kursi kebesarannya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air mata yang selama ini ia tahan sebagai pria kuat, akhirnya jatuh membasahi meja kerjanya. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia hampir kehilangan segalanya justru di saat ia merasa memiliki segalanya.
Lampu neon di koridor VVIP Rumah Sakit Sehati berpijar dingin, memantul pada lantai marmer yang mengilat. Suasana begitu sunyi, hanya deru halus mesin pendingin ruangan yang terdengar, kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam hati dua orang yang berdiri terpaku di sana.
Yoga mencoba melangkah maju. Wajahnya yang biasanya tegar kini tampak hancur. Sorot matanya yang tajam kini meredup, digantikan oleh keputusasaan yang nyata.
"Anin... Sayang, kumohon," suara Yoga keluar dengan parau, serak karena emosi yang tertahan di tenggorokan.
Ia mengulurkan tangan, mencoba meraih jemari Anindya yang terasa sedingin es.
Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, Anindya menarik tangannya dengan sentakan yang halus namun penuh penolakan. Gerakan itu terasa lebih menyakitkan bagi Yoga daripada tamparan yang ia terima di ruang kerja tadi.
"Jangan sentuh aku, Mas," desis Anindya. Suaranya tidak meledak-ledak, namun dinginnya merasuk hingga ke tulang.
"Aku minta maaf, Anin. Aku benar-benar tidak tahu soal telepon itu. Riana... dia menyembunyikannya dariku. Aku bersumpah demi nyawa Arya, aku tidak tahu!" Yoga memohon, butiran keringat dingin membasahi pelipisnya.
Anindya menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam.
"Bukan soal Riana yang mengangkat telepon itu yang membuatku mati rasa, Mas. Tapi fakta bahwa kamu lebih memilih menghabiskan waktu dua jam untuk tertawa bersamanya daripada pulang menemui anak dan istrimu. Kamu ada di gedung yang sama, di bawah atap yang sama saat anakmu berjuang melawan panas tinggi, tapi kamu terasa ribuan kilometer jauhnya."
Anindya memejamkan mata, membiarkan setetes air mata jatuh. "Luka ini terlalu dalam, Mas. Kamu tidak hanya mengabaikanku, tapi kamu mengabaikan nyawa yang kita perjuangkan bersama."
Anindya tidak ingin lagi berdebat. Dengan tangan bergetar, ia mengambil ponselnya dan menekan satu nama yang selalu menjadi pelabuhan terakhirnya.
"Mama..." suara Anindya pecah begitu sambungan telepon terhubung. "Jemput Anin, Ma. Anin mau pulang ke Jakarta. Arya sakit... dan Anin sudah tidak kuat lagi di sini."
Di seberang sana, Kanaya Dewi, sang nyonya besar keluarga Rahardjo, seketika bangkit dari tidurnya. Mendengar tangis putri tunggalnya yang begitu menyayat, ia tidak butuh penjelasan panjang lebar.
Hanya dalam waktu tiga jam, pesawat jet pribadi keluarga Rahardjo telah mendarat di Juanda.
Fajar belum sempurna menyingsing saat pintu koridor VVIP terbuka lebar. Langkah kaki yang tegas menggema. Kanaya Dewi masuk dengan keanggunan yang mengintimidasi, diikuti oleh Dokter Reza yang wajahnya tampak sangat mendung.
Kanaya langsung menghambur memeluk Anindya. "Anin... anakku..."
Anindya luruh dalam dekapan mamanya. Isak tangis yang tadi ia tahan di depan Yoga kini tumpah tak terbendung. Yoga berdiri kaku beberapa meter dari mereka, merasa seperti orang asing di tengah keluarga yang dulu sangat ia banggakan.
"Ma, Pa..." Yoga mencoba menyapa dengan suara rendah.
Kanaya menoleh, matanya yang tajam berkilat penuh amarah. "Jangan panggil aku Mama untuk saat ini, Yoga. Kamu sudah janji akan menjaganya, tapi apa yang kudapati? Anakku menangis ketakutan sendirian sementara suaminya entah di mana!"
Dokter Reza tidak meledak seperti istrinya. Sebagai seorang senior di dunia medis dan seorang ayah, ia memilih untuk membawa Yoga keluar ke taman rumah sakit yang masih berkabut. Udara pagi Surabaya yang lembap terasa menyesakkan.
Dokter Reza berdiri membelakangi Yoga, menatap barisan pohon kamboja yang bunganya mulai berguguran.
"Yoga," panggil Reza dengan nada yang tenang namun sangat berat.
"Iya, Papa," jawab Yoga pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Menjadi dokter internis yang sukses itu mudah, Yoga. Kamu hanya butuh ketenangan tangan dan pengetahuan teknis. Tapi menjadi suami yang sukses... itu butuh hati. Itu butuh kehadiran, bukan sekadar transferan uang atau jabatan mentereng," Reza berbalik, menatap menantunya dengan kekecewaan yang mendalam.
"Aku bekerja untuk mereka, Pa. Aku ingin membangun kerajaan medis ini untuk masa depan Arya," Yoga mencoba membela diri.
Reza tersenyum getir. "Kerajaan apa yang kamu bangun jika di dalamnya tidak ada ratu yang mencintaimu dan pangeran yang mengenal wajah ayahnya? Yoga, kamu menyia-nyiakan permata yang paling berharga... hanya demi kerikil di jalanan. Riana, atau siapa pun rekan kerjamu itu, mereka hanya menyukai kesuksesanmu. Tapi Anindya? Dia mencintaimu bahkan saat kamu bukan siapa-siapa."
Yoga merasa dadanya sesak. Kalimat mertuanya menghantam tepat di pusat egonya.
"Pa... kumohon," Yoga memegang lengan mertuanya, matanya berkaca-kaca. "Bantu aku. Tolong bujuk Anindya agar dia tidak pergi. Tolong yakinkan dia kalau aku sangat mencintainya. Dia ingin berpisah denganku, Pa. Aku tidak bisa hidup tanpa dia dan Arya."
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera