Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Nafas Terakhir di Ambang Syahadat
Hening yang mematikan menyelimuti ruangan itu setelah Hannan mengucapkan pilihannya. Namun, keajaiban atau mungkin takdir yang lebih pahit terjadi. Di saat kesadarannya dianggap telah hilang, jemari Amara yang dingin tiba-tiba bergerak pelan. Ia mengerahkan seluruh sisa kehidupan yang masih tersisa di nadinya untuk membuka mata.
"Dokter..." suara itu lebih mirip bisikan maut, begitu lirih hingga Dokter harus mendekatkan telinganya ke bibir Amara.
Hannan tersentak, ia hendak mendekat namun ditahan oleh perawat. Amara menatap Dokter dengan pandangan yang sangat jernih, seolah-olah seluruh jiwanya terkumpul di detik itu hanya untuk menyampaikan satu wasiat terakhir.
"Selamatkan... anak saya. Saya mohon... biarkan dia melihat ayahnya," ucap Amara. Setiap kata yang keluar diikuti oleh tarikan napas yang berat dan menyakitkan.
Ia lalu menoleh ke arah Hannan. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya yang membiru. Senyuman yang paling indah, paling tulus, namun paling menghancurkan hati Hannan yang pernah ia lihat.
"Mas... terima kasih... sudah menjadikanku istrimu. Maafkan... Siti," bisiknya, menyebut nama samaran yang ia gunakan untuk bersembunyi.
Hannan meraung, "Tidak, Amara! Dokter, lakukan sesuatu! Amara, bertahanlah demi aku! Jangan bicara seperti itu!"
Namun, monitor di samping tempat tidur itu mulai menunjukkan garis-garis yang kacau. Tekanan darah Amara merosot tajam. Dokter segera melakukan tindakan darurat, memompa dada Amara dengan kedua tangannya.
"Pasien mengalami cardiac arrest! Siapkan defibrilator!" teriak Dokter.
Hannan dipaksa keluar dari ruangan. Di balik kaca pintu yang buram, ia melihat tubuh wanita yang paling dicintainya itu tersentak-sentak akibat kejut listrik. Ia melihat para perawat berlarian dengan wajah panik.
Hannan jatuh berlutut di lantai rumah sakit yang dingin. Ia menutup telinganya, tidak ingin mendengar bunyi long-tone dari mesin jantung itu. Ia bersujud, dahinya menyentuh lantai, ia berteriak dalam sujudnya, memanggil nama Tuhannya dengan segala keputusasaan yang manusia bisa miliki.
Tepat saat itu, pintu lift di ujung koridor terbuka. Kiai Abdullah dan Ummi Salamah berlari mendekat. Mereka melihat putra mereka sedang bersujud sambil meraung pilu. Ummi Salamah langsung luruh, ia tahu tanda-tanda itu. Ia tahu bahwa maut sedang berpesta di dalam ruangan sana.
Di dalam ruangan, Dokter meletakkan alat kejut jantung itu dengan tangan gemetar. Ia melihat ke arah jam dinding, lalu menatap tubuh kaku di atas tempat tidur.
"Waktu kematian... 10.45," ucap Dokter dengan suara parau.
Hening.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Hannan saat Dokter keluar dengan kepala tertunduk. Tanpa kata-kata, Dokter hanya menggeleng pelan.
"Kami mohon maaf, Gus. Kami tidak bisa menyelamatkan Ibunya. Tapi... dengan kuasa Allah, kami berhasil melakukan tindakan darurat untuk menyelamatkan janinnya melalui operasi sesar post-mortem yang sangat cepat. Bayi Anda selamat, meski kondisinya sangat prematur dan kritis di ruang NICU."
Hannan tidak mendengar soal bayinya. Kalimat "Kami tidak bisa menyelamatkan Ibunya" terus bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Ia berdiri dengan kaki yang goyah, masuk ke dalam ruangan itu.
Amara terbaring di sana. Wajahnya kini nampak sangat tenang. Tak ada lagi gurat ketakutan, tak ada lagi rasa mual, tak ada lagi beban rahasia yang ia pikul sendiri di kaki gunung. Ia nampak seperti sedang tidur dalam kedamaian yang abadi.
Hannan mendekat, ia mengusap kening Amara yang mulai mendingin. Ia mengecup dahi itu untuk terakhir kalinya.
"Kamu menang, Amara," bisik Hannan dengan air mata yang sudah mengering di pipinya. "Kamu memenangkan permintaanmu. Kamu menyelamatkan buah cinta kita dengan nyawamu sendiri. Tapi bagaimana aku bisa bernapas tanpa udaranya, Amara? Bagaimana aku bisa melihat wajahnya tanpa melihat wajahmu?"
Kiai Abdullah masuk ke ruangan, beliau melihat menantunya yang kini sudah menjadi jenazah. Sang Kiai yang keras itu pun akhirnya luruh. Beliau menangis di kaki tempat tidur Amara. "Maafkan Abah, Nak... Maafkan kesombongan Abah..."
Amara telah pergi. Ia pergi sebagai seorang ibu yang agung, seorang istri yang setia, dan seorang Muslimah yang menutup hayatnya dengan pengorbanan yang paling tinggi.