Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
KENCAN PERTAMA DI PANTAI LOSARI
Hari Minggu sore, matahari mulai merunduk menghadap ufuk barat dengan warna jingga yang mempesona. Tenggara mengantar Khatulistiwa ke Pantai Losari dengan sepeda mobilnya membawa sebuah keranjang piknik yang diisi dengan makanan kesukaan mereka berdua – ikan bakar yang dibuat oleh nenek Tenggara, lalapan segar, nasi hangat, dan es buah segar yang dibuat oleh ibunda Khatulistiwa.
"Kamu benar-benar menyediakan segalanya dengan sangat baik ya," ucap Khatulistiwa dengan senyum lebar saat mereka memasang tikar di bagian pasir yang sedikit lebih tinggi, jauh dari ombak yang menyapu pantai. "Pemandangannya sangat indah malam ini."
Tenggara tersenyum sambil mengeluarkan makanan dari keranjang. "Aku sudah merencanakan ini dari seminggu yang lalu. Aku ingin membuat kencan pertama kita menjadi sesuatu yang sangat spesial dan tak terlupakan."
Mereka duduk bersandar pada batu besar yang ditempatkan sebagai tempat duduk di pinggir pantai, menikmati makanan yang lezat sambil menyaksikan matahari terbenam yang menghiasi langit Makassar. Udara pantai yang segar dengan sedikit aroma garam membuat suasana semakin nyaman dan romantis.
Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan menyusuri bibir pantai sambil menyusuri jejak kaki di pasir yang lembut. Ombak kecil menyapu kaki mereka dengan lembut, memberikan sensasi dingin yang menyegarkan setelah panasnya siang hari.
"Kamu ingat tidak ketika kita pertama kali bertemu di toko buku Gramedia?" tanya Khatulistiwa sambil memegang erat tangan Tenggara.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang membantu aku mencari buku tentang sejarah kerajaan Gowa-Tallo akan menjadi orang yang paling berarti dalam hidupku."
Tenggara mengulurkan tangannya untuk menyisir rambut Khatulistiwa yang tertiup angin. "Aku juga tidak menyangka. Saat itu aku hanya merasa ingin membantu seorang gadis cantik yang tampak bingung mencari buku. Tapi seiring waktu, aku menyadari bahwa kamu adalah orang yang telah aku cari selama ini."
Mereka berhenti di sebuah tempat yang lebih sunyi, duduk bersandar pada dermaga kecil yang tidak digunakan. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan mulai berkelap-kelip seperti bintang di laut, sementara cahaya kota mulai menerangi malam dengan warna-warni yang indah.
"Aku ingin mengajukan sesuatu padamu," ucap Tenggara dengan suara yang penuh rasa hormat. "Setelah kita lulus kuliah nanti, apakah kamu mau menikah denganku dan membangun keluarga bersama? Aku ingin hidup bersama kamu, mengajarkan budaya kita kepada anak-anak kita kelak, dan selalu berada di sisimu dalam setiap langkah hidup kita."
Khatulistiwa melihatnya dengan mata yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. "Tentu saja aku mau, Tenggara. Itu adalah impian terbesar ku juga. Aku ingin kita memiliki rumah yang penuh dengan cinta, di mana kita bisa mengajak keluarga dan teman-teman berkumpul, dan di mana kita bisa melestarikan budaya daerah kita bersama-sama."
Tenggara kemudian mengambil sebuah kalung kecil dari kantongnya – kalung dengan liontin berbentuk siger yang sama dengan yang dia berikan beberapa tahun yang lalu, namun kali ini dibuat dengan lebih indah dan dilengkapi dengan batu akik berwarna merah muda.
"Ini adalah kalung resmi untukmu sebagai tunangan ku," jelasnya dengan lembut saat memasangkannya di leher Khatulistiwa. "Liontin siger melambangkan keberanian dan kebijaksanaan, sementara batu akik melambangkan cinta yang abadi dan kuat seperti batu."
Khatulistiwa menyentuh kalungnya dengan penuh rasa syukur. "Ini sangat cantik, Tenggara. Aku akan selalu mengenakannya dan menjaganya dengan baik."
Mereka kemudian menghabiskan malam itu dengan duduk bersama-sama, berbagi cerita tentang impian mereka untuk masa depan – membangun rumah dengan gaya adat Sulawesi Selatan, memiliki taman yang penuh dengan tanaman obat dan bunga khas daerah, membuka usaha rumahan yang menjual makanan tradisional dan kerajinan tangan, serta melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia untuk belajar lebih banyak tentang budaya bangsa.
"Saat kita sudah menikah, kita harus mengajak keluarga kita untuk melakukan perjalanan ke seluruh Sulawesi ya," ucap Khatulistiwa dengan antusias. "Aku ingin melihat tempat-tempat bersejarah yang kamu ceritakan padaku dan belajar lebih banyak tentang sejarah daerah kita."
"Tentu saja Khatulistiwa ku," jawab Tenggara dengan senyum. "Kita akan menjelajahi setiap sudut Sulawesi – dari Parepare hingga Toraja, dari Makassar hingga Manado. Kita akan mengumpulkan cerita dan tradisi yang bisa kita wariskan kepada generasi mendatang."
Saat jam menunjukkan hampir tengah malam, mereka menyadari bahwa sudah waktunya untuk pulang. Tenggara mengantar Khatulistiwa ke rumahnya dengan hati yang penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Sebelum berpisah di depan pintu rumahnya, mereka saling memberikan ciuman lembut yang penuh dengan janji cinta dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
"Terima kasih telah membuat malam ini menjadi sangat spesial," ucap Khatulistiwa dengan senyum lebar. "Ini adalah kencan pertama terbaik yang pernah aku alami dalam hidupku."
"Semua itu karena kamu ada di sisiku, cintaku," jawab Tenggara dengan penuh cinta. "Aku tidak bisa menunggu untuk menghabiskan seluruh hidupku bersama kamu."
Setelah berpisah, Khatulistiwa masuk ke rumah dengan hati yang penuh kebahagiaan. Dia melihat kalung yang baru saja diberikan Tenggara dan tersenyum sendiri, mengetahui bahwa dia telah menemukan cinta sejati dan siap untuk membangun masa depan yang bahagia bersama orang yang dia cintai. Di pantai Losari, kencan pertama mereka bukan hanya menjadi awal dari hubungan resmi mereka, namun juga awal dari perjalanan hidup yang penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan komitmen untuk selalu bersama-sama