NovelToon NovelToon
Kebangkitan Zahira

Kebangkitan Zahira

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

pernikahan selama 20 tahun ternyata hanya jadi persimpangan
hendro ternyata lebih memilih Ratna cinta masa lalunya
parahnya Ratna di dukung oleh rini ibu nya hendro serta angga dan anggi anak mereka ikut mendukung perceraian hendro dan Zahira
Zahira wanita cerdas banyak akal,
tapi dia taat sama suami
setelah lihat hendro selingkuh
maka hendro sudah menetapkan lawan yang salah
mari kita saksikan kebangkitan Zahira
dan kebangkrutan hendro

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KZ 01

17 Juli Tanggal yang tak pernah Zahira lupakan. Dua puluh tahun lalu, di hari itulah ia mengikat janji suci dengan Hendro—mahasiswa tingkat akhir yang tengah KKN di kampung halamannya. Zahira, si kembang desa yang digilai banyak pria, memilih Hendro di antara sekian pilihan, termasuk Adit, dokter muda tampan yang tak kalah mempesona. Cinta membuatnya yakin. Tapi siapa sangka, hari istimewa itu kelak akan menjadi luka terdalam dalam hidupnya.

Zahira lebih memilih Hendro karena sikapnya yang tenang dan dewasa, berbeda dengan Adit yang sering bertindak urakan, penuh ego, dan merasa paling berkuasa seolah dunia harus tunduk padanya.

Zahira, wanita paruh baya berusia 40 tahun, tampak sibuk di dapur seorang diri, menyiapkan berbagai hidangan istimewa. Dua puluh tahun pernikahan tentu layak dirayakan, meski sepuluh tahun terakhir Hendro selalu lupa tanggal ini. Zahira mencoba memaklumi—ia percaya, kesibukan Hendro mencari nafkah adalah bentuk cintanya yang berbeda. Setidaknya, itulah yang ia yakini.

Zahira memiliki anak kembar, Angga dan Anggi, yang kini berusia 17 tahun. Meski melihat ibunya sibuk di dapur, tak satu pun dari mereka tergerak membantu. Kedekatan mereka dengan sang ayah membuat Zahira merasa terpinggirkan. Hendro pun terlalu memanjakan keduanya—setiap kali Zahira mencoba mendisiplinkan mereka, justru ia yang dimarahi suaminya.

“Kamu itu nggak sekolah, tahu apa soal didik anak!” Ucapan itu bukan sekali dua kali Zahira dengar dari Hendro. Setiap kali ia mencoba menegur Angga atau Anggi, kalimat menyakitkan itu selalu jadi tamparan yang menghancurkan hati. Saking seringa membuat Zahira kebal dan tidak merasakan lagi apa itu sakit hati, dan memilih mengalah bagaimanapun hendro adalah kepala rumah tangga.

Suatu hari, Zahira memarahi Anggi karena diam-diam membawa seorang laki-laki ke rumah saat mereka sedang sendiri. Bukannya menyesal, Anggi justru mengadu pada Hendro. Dan seperti yang sudah-sudah, Zahira lagi-lagi menjadi sasaran amarah. Hendro membela anaknya tanpa mendengar penjelasan istrinya. Di matanya, Zahira selalu salah. Selalu terlalu keras. Selalu kurang layak jadi ibu.

Tepat pukul delapan malam, aneka hidangan sudah tertata rapi di meja makan.

“Ngapain masak banyak-banyak?” tanya Hendro, yang malam itu tampil rapi mengenakan kemeja putih bersih.

Hati Zahira berdebar. Ia mengira suaminya ingat ulang tahun pernikahan mereka—berpakaian rapi, mungkin hendak mengajaknya makan malam romantis atau memberi kejutan istimewa. Harapan kecil itu tumbuh diam-diam di hatinya, meski realita sering kali tak seindah harapan.

"Hmm... ini hari spesial kita, Mas," ucap Zahira dengan senyum penuh harap dan bangga.

Matanya berbinar, seolah ingin mengabadikan momen yang ia yakini akan menjadi kenangan indah.

Meski lelah memasak seorang diri, senyum itu tulus—berharap cinta yang dulu pernah hangat masih tersisa di antara mereka.

Belum sempat Hendro menjawab, Angga dan Anggi muncul dengan pakaian rapi dan wajah penuh semangat. Melihat mereka berdandan begitu rapi, hati Zahira semakin berbunga. Ternyata, di balik sikap acuh mereka, anak-anaknya masih ingat ulang tahun pernikahan orang tuanya—begitu pikirnya, penuh haru.

“Pah, ayo kita berangkat,” ucap Anggi ceria, sama sekali tak melirik hidangan yang telah Zahira siapkan dengan penuh cinta dan air mata.

“Kalian mau berangkat ke mana?” tanya Zahira sambil tersenyum hangat. Ia pun sudah berdandan cantik, yakin bahwa malam ini adalah malam istimewa. Hatinya penuh sukacita—ternyata mereka benar-benar tidak melupakan ulang tahun pernikahan mereka. Tak mengapa hidangan belum disentuh, nanti bisa ia bagikan ke tetangga. Yang terpenting, malam ini mereka akan merayakan cinta yang telah terjalin dua puluh tahun lamanya.

Belum sempat mendapat jawaban, Rini—ibu Hendro—datang dengan pakaian rapi dan dandanan yang anggun. Hati Zahira kian menghangat. Bahkan Rini, ibu mertua yang selama ini dingin dan tak pernah benar-benar menyukainya, rupanya ingat juga hari ulang tahun pernikahannya. Zahira nyaris menitikkan air mata. Baginya, kehadiran mereka malam ini adalah bukti bahwa cinta dan keluarga masih punya tempat di hatinya.

“Ayo, Hendro, kita berangkat sekarang. Nanti keburu malam,” ucap Rini dengan nada tergesa namun penuh semangat.

“Tunggu sebentar, Mas, aku ambil tas dulu,” ucap Zahira sambil tersenyum, lalu bergegas menuju kamar.

“Kalau kamu ikut, lalu siapa yang jaga rumah?” ucap Hendro, datar dan dingin, tanpa sedikit pun menatap wajah Zahira.

“Deg.” Rasanya seperti ditikam dari dalam. Sakit, menusuk hingga ke tulang. Apa-apaan ini? Mereka berdandan rapi, bersemangat pergi—bukan untuk merayakan ulang tahun pernikahannya. Bukan untuk dirinya. Zahira tercekat, tak percaya.

“Mas, hari ini ulang tahun pernikahan kita… seharusnya kita merayakannya bersama,” ucap Zahira lirih, berusaha tetap tersenyum. “Aku sudah masak banyak, Mas. Kalau memang kita makan di luar, makanannya bisa aku sedekahkan ke tetangga.”

“Astaga Zahira, kamu ini sudah 40 tahun, bukan remaja lagi! Kenapa juga menghamburkan uang hanya untuk masak dan merayakan ulang tahun pernikahan?”ucap Rini dengan nada tajam

“Iya, kamu ini apa-apaan sih? Melakukan hal yang nggak berguna saja, ujung-ujungnya cuma buang-buang uang,” ucap Hendro dengan nada kesal.

“Pah, udah malam, kenapa sih harus banyak drama segala? Mau berangkat juga ribet banget,” ucap Anggi dengan nada kesal, tanpa sedikit pun peduli pada perasaan ibunya yang berdiri terpaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Ayo, Pak, nanti Tante Ratna kelamaan nunggu,” ucap Angga sambil melirik jam, tak menghiraukan ibunya sama sekali.

Rasanya seperti ditampar berkali-kali saat Zahira mendengar nama itu disebut—Ratna. Wanita yang baginya tak ubahnya duri dalam daging rumah tangganya. Dari ibu mertua, suami, hingga anak-anaknya, semua begitu gemar membandingkan dirinya dengan Ratna.

Ratna, wanita karier dengan jabatan manajer, selalu tampil modis dan percaya diri meski usianya sudah paruh baya. Tapi anehnya, di usia segitu, ia belum juga menikah—namun bisa begitu bebas keluar-masuk rumah Hendro tanpa sungkan, seolah rumah itu miliknya juga.

Angga dan Anggi lebih sering mengadu pada Ratna daripada padanya—ibunya sendiri. Pernah suatu malam, Zahira menegur Anggi karena pulang larut. Anggi tak terima, lalu kabur dan menginap di rumah Ratna.

Bukannya mendukung sebagai sesama perempuan, Ratna malah menyindirnya dengan halus, penuh elegan tapi menusuk, “Jangan samakan kehidupan kita tahun 1990-an dengan anak sekarang. Semakin dilarang, mereka semakin menjadi. Kita sebagai orang tua harus berpikir lebih terbuka.”

Zahira hanya terdiam waktu itu, menggigit bibir, menahan air mata dan amarah yang tak bisa ia luapkan. Di rumahnya sendiri, ia terasa seperti orang asing—tak dianggap, tak dihargai. Dan kini, wanita itu... akan mereka temui malam ini? Di hari ulang tahun pernikahannya?

Pernah suatu kali, Angga pulang dengan tubuh penuh memar akibat tawuran. Saat Zahira memarahinya karena khawatir, Angga justru mengamuk, menghancurkan barang-barang di rumah, lalu pergi menginap di rumah Ratna. Bukannya mendapat teguran, Angga justru dibela. Zahira malah dimarahi Hendro dan dilarang ikut campur lagi dalam urusan anak lelakinya itu.

“Ayo, Pah, nanti Tante Ratna marah kalau kita nggak datang ke pesta ulang tahunnya,” ucap Anggi santai, tanpa menyadari luka di mata ibunya.

“Mas, apa ulang tahun pernikahan kita tidak lebih penting daripada menghadiri ulang tahun Ratna?” ucap Zahira lirih, berusaha tegar meski hatinya nyaris runtuh.

“Mamah…” bentak Anggi kesal. “Please, Mamah itu udah tua, ngapain juga kayak anak kecil, segala ulang tahun pengin dirayain? Nggak penting banget, deh!” katanya tanpa rasa hormat sedikit pun.

“Sudah, sudah, jangan ribut. Nanti keburu malam. Kasihan Ratna kelamaan menunggu,” ucap Rini dengan nada kesal. Lalu mereka pun pergi, meninggalkan Zahira seorang diri—bersama hidangan yang tak tersentuh dan hati yang remuk.

1
Tamirah Spd
Zahira wanita yg cermat dan teliti ia bisa menguasai medan dan waktu ,ia bisa menjelaskan secara detail kronologi kejadian yg sebenarnya.
Tamirah Spd
Hanya ada dlm dunia halu anak kandung sdh remaja justru menyuruh ayahnya menceraikan ibunya sendiri dan lebih menghargai istri kedua ayahnya.....wes angellllll.
Derma S
Luar biasa
Nila Sari Sari
bagus nih cerita nya singkat padat ga bertele tele 👍
Nasiati
ceritany ok bangrt👍👍👍
Nasiati
alhamdulillah makin seru cerita ny
Nasiati
tunggu azab anak durhaka
Wiliam Zero
Novelnya bagus dan happy ending 👍
Mei Saroha
masa sih zahira ngga ngenalin
Mei Saroha
Zainab bukannya ud punya anak, koq suaminya ngga pernah disebut ya
budak jambi
kutuk be kedua ank tu.tidak akan kebahagiaan di hidup mereka dan Ratna jg Hendro hidup sengsara
Hana Nisa Nisa
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Dedeh Dian
sungguh bagus alur ceritanya..banyak terselip kisah hidup insan manusia ...sebagai contoh yg baik dan buruk untuk diambil hikmahnya... makasih author
Ihay Hairunnisa
keren ceritanya.. perjalanan kehidupan...
itin
kok lama lama flat ya 🫣
zahira terlalu mulus sekali perubahannya
dan ceritanya hanya disitu situ ajjah. maap. maap. maap
itin
apa begitu kali ya jalan cerita dunia perpolitikan uang dan jabatan. menggulingkan terbukti yang bersalah mengangkat naik jabatan bagi sekutunya yang kemudian nanti akhirnya justru terbukti sebagai pelaku/oknum kejahatan. pdahal ini masih tentang garment belum yang lahan basah tapi banyak sekali intriknya 😁😄
itin
angga anggi seumuran kan ya dgn senja dan kembarannya tp knp pendidikannya kayak lbh tinggi senja ya. anak magang status pendidikan sdh S1 atau setara kan ya sesgkan anggi msih anak kuliah ingusan
itin
kampung mana ini tempat tinggalnya zahira sekarang kok bodoh semua penduduknya. patutlah adit bilang kliniknya bisa tutup krn satu hasutan sekampung percayaan ternyata memang sesempit itu pola pikir sekampungnya zahira tinggal.
itin
padahal ada kata bijak "SEBURUK BURUKNYA INDUNG KANDUNGMU MENGASUH TAPI BILA MENDADAK DIDIKAN YANG BAIK DARI ORANG ORANG TERDEKAT YANG MENGASIHIMU SEDIKITNYA BISA PUNYA SISI BAIKNYA ITU ANAK ANAK BEDJATT" 😁🫣🥺
itin
wkwkwkwkwk betapa sang khalik maha pembolak balik keadaan
yang dengan setia menguji mental dan keimanannya zahira dan setelah zahira mulai mengambil sikap atas ujiannya beliau langsung membayar kontan kesetiaannya zahira dengan kehancuran tanpa jeda untuk hendro ibunya dan kedua anak perselingkuhannya 😄😄

saya suka
saya suka

seperti real kehidupan didunia yang fana ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!