Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Dua minggu sudah berlalu sejak aku meninggalkan rumah itu. Dua minggu tanpa uang dari Mas Bram, tanpa mobil, tanpa kartu yang dulu dengan sombong ia banggakan.
Dan benar saja, kartu itu benar-benar diblokir.
Kini aku berdiri di bawah terik matahari, satu map berisi lamaran kerja kugenggam erat. Perutku yang mulai membesar terasa semakin berat setiap hari. Hamil bukan alasan untuk menyerah, tapi jujur saja… ini membuat segalanya jauh lebih sulit.
Beberapa perusahaan terang-terangan menolakku saat tahu kondisiku.
“Maaf Bu, kami butuh yang siap kerja full dan mobile.”
Aku hanya tersenyum tipis. Sudah terbiasa.
Syukurlah aku tidak sendirian. Arumi—satu-satunya sahabat yang tidak meninggalkanku—setia mendampingiku. Ia bahkan rela cuti setengah hari hanya untuk menemaniku wawancara.
“Kita cari yang kerjaannya gak terlalu berat. Admin, kasir, atau kerjaan online juga bisa,” ucap Arumi penuh semangat.
Aku mengangguk, meski di dalam hati mulai goyah.
“Kalau gak dapat kerja kantoran, kita coba jualan online aja dulu, Ran. Kamu kan pintar desain, dulu sering bantu bikin proposal kantor Mas Bram,” lanjutnya lagi.
Nama itu membuat dadaku sesak, tapi aku cepat-cepat menepisnya.
Hari itu kami duduk di sebuah kafe kecil, memeriksa lowongan pekerjaan lewat ponsel Arumi. Ia mencatat beberapa alamat dan nomor HRD yang bisa dihubungi.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Nomor tak dikenal.
Aku ragu, tapi tetap mengangkatnya.
[“Halo, ini Ibu Rania?”]
Jantungku berdegup kencang.
[“Iya, saya sendiri.”]
[“Kami dari PT Bintang Nusa Abadi. Lamaran Anda kami terima. Bisa datang untuk wawancara besok?”]
Aku dan Arumi langsung saling pandang.
[“Bisa, Pak,” jawabku cepat, suaraku hampir bergetar.]
Telepon ditutup.
Aku terdiam beberapa detik, tak percaya.
“Ran? Gimana?” tanya Arumi tidak sabar.
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Besok aku wawancara…”
Arumi langsung memelukku erat.
“Lihat kan? Kamu pasti bisa bertahan tanpa Mas Bram!”
Aku mengelus perutku pelan.
“Bukan cuma buat aku… tapi buat kamu juga, Nak,” bisikku dalam hati.
Keesokan harinya aku sudah siap untuk berangkat ke kantor.
Aku berdiri cukup lama di depan cermin. Perutku yang mulai membuncit terlihat jelas meski sudah kututupi dengan blazer longgar. Aku menghela napas pelan.
Aku sendiri heran… ada kantor yang mau menerima perempuan hamil sepertiku.
Tapi Arumi bilang ini kesempatan bagus. Katanya, perusahaan itu sedang butuh staf administrasi tambahan dan HRD-nya cukup terbuka menerima siapa pun yang kompeten.
“Rejeki anak,” kata Arumi kemarin sambil tersenyum menyemangatiku.
Ojek online yang kupesan datang tepat waktu. Sepanjang perjalanan aku mencoba menenangkan diri. Ini awal baru. Aku harus kuat. Aku harus bisa membuktikan bahwa aku mampu hidup tanpa Mas Bram.
Namun setibanya di depan gedung yang aku tuju, langkahku langsung terhenti.
Tubuhku membeku.
Mataku terpaku pada logo besar yang terpasang megah di dinding gedung tinggi itu.
Itu kantor milik Mas Bram.
Jantungku berdegup tak karuan. Tanganku refleks meremas tali tas yang kugantungkan di bahu.
“Ini… kantornya Mas Bram?” bisikku tak percaya.
Aku mundur satu langkah. Rasanya seperti dipermainkan takdir. Dari sekian banyak kantor di kota ini, kenapa justru perusahaan suamiku sendiri?
Apa Arumi tidak tahu?
Atau… ini memang kebetulan yang terlalu kejam?
Aku hampir saja memanggil kembali abang ojek yang sudah berbalik arah. Ego dan rasa maluku tiba-tiba menyeruak. Jika Mas Bram tahu aku melamar kerja di sini, dia pasti akan mengira aku sengaja ingin kembali bergantung padanya.
Pasti dia akan menertawakanku.
Namun tiba-tiba kata-katanya tempo hari terngiang jelas di kepalaku.
“Aku mau tahu sejauh apa kamu bertahan hidup tanpa aku dan uang dariku.”
Napas kuhela dalam.
Baiklah, Mas Bram.
Kalau takdir mempertemukanku lagi di tempat yang sama, bukan berarti aku menyerah. Aku datang ke sini bukan sebagai istrimu. Aku datang sebagai perempuan yang ingin bekerja.
Sebagai ibu yang harus memperjuangkan masa depan anaknya.
Dengan sisa keberanian yang kumiliki, aku melangkah masuk ke dalam gedung itu.
Aku duduk gelisah di ruang tunggu HRD. Tanganku tak berhenti saling menggenggam.
Beberapa menit lalu aku sudah menyerahkan berkas lamaran. Anehnya, prosesnya terasa terlalu cepat. Tanpa banyak pertanyaan, tanpa tes yang rumit.
“Akan kami kabari hari ini juga, Bu Rania,” ucap staf HRD dengan senyum formal.
Hari ini juga?
Aneh.
Belum sempat aku mencerna semuanya, seorang office boy datang menghampiriku.
“Bu Rania diminta ke ruang direktur.”
Ruang direktur.
Darahku seperti berhenti mengalir. Aku tahu betul siapa yang menempati ruangan itu.
Mas Bram.
Langkahku terasa berat saat berdiri di depan pintu kayu besar bertuliskan Director. Tanganku terangkat perlahan, mengetuk dua kali.
“Masuk.”
Suara berat itu… suara yang sangat kukenal.
Aku membuka pintu.
Mas Bram duduk santai di kursinya, memutar pulpen di antara jari-jarinya. Tatapannya langsung terkunci padaku. Ada senyum tipis di sudut bibirnya.
Senyum yang bukan berarti hangat.
“Jadi… kamu yang melamar kerja di sini?” tanyanya pelan.
Aku menegakkan tubuhku. “Iya.”
Dia terkekeh kecil.
“Lucu ya, Ran. Katanya mau hidup tanpa uangku. Tapi akhirnya balik juga ke perusahaanku.”
Dadaku terasa sesak.
“Aku melamar sebagai karyawan, bukan sebagai istrimu,” jawabku setenang mungkin.
Mas Bram berdiri. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depanku.
“Kamu tahu kenapa kamu langsung diterima?”
Aku terdiam.
“Karena aku yang menyuruh HRD menerimamu.”
Tanganku mengepal.
“Kenapa?” tanyaku lirih.
Ia tersenyum miring.
“Karena aku mau lihat… sejauh apa kamu bisa bertahan di bawahku tanpa mengandalkan statusmu sebagai istriku.”
Kata di bawahku terdengar seperti hinaan.
“Kamu tidak akan dapat perlakuan istimewa. Tidak ada fasilitas. Tidak ada toleransi. Kalau kamu salah sedikit saja… kamu keluar.”
Matanya menatap perutku sekilas.
“Dan jangan jadikan kehamilan itu alasan.”
Hatiku seperti ditusuk.
“Aku tidak pernah minta dikasihani,” jawabku pelan tapi tegas.
Mas Bram tertawa kecil.
“Kita lihat saja nanti. Paling seminggu kamu menyerah, lalu pulang menangis minta uang dariku.”
Air mataku hampir jatuh, tapi kutahan mati-matian.
Aku tidak boleh menangis di depannya.
“Aku tidak akan menyerah,” ucapku pelan namun penuh tekad.
Ia kembali ke kursinya.
“Kita lihat, Rania. Kita lihat apakah kamu bisa hidup tanpaku… atau akhirnya kamu akan berlutut.”
Tanganku masih bergetar ketika keluar dari ruangan Mas Bram.
Setiap langkah terasa berat, tapi hatiku jauh lebih berat.
Aku berhenti di lorong yang sepi. Kata-katanya masih terngiang jelas di telingaku.
“Paling seminggu kamu menyerah.”
“Akhirnya kamu akan berlutut.”
Dadaku naik turun menahan emosi. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.
Ternyata benar.
Aku diterima bukan karena kemampuanku.
Bukan karena mereka percaya padaku.
Aku diterima hanya untuk dihina.
Perlahan aku menyeka air mata. Tidak. Aku tidak boleh lemah. Tapi aku juga tidak boleh membiarkan harga diriku diinjak-injak.
Kalau aku bertahan di sini, setiap hari aku akan dipermalukan.
Setiap hari aku akan dipandang rendah.
Dan itu bukan perjuangan… itu penyiksaan.
Dengan langkah mantap, aku berbalik arah. Bukan ke ruang kerja yang seharusnya menjadi tempatku mulai hari ini. Tapi kembali ke ruang direktur.
Aku mengetuk pintu sekali lagi.
“Masuk,” jawabnya santai.
Aku masuk tanpa ragu. Mas Bram mendongak, sedikit terkejut melihatku kembali.
“Kenapa? Sudah mau menyerah?” katanya dengan senyum mengejek.
Aku menatapnya lurus.
“Aku mengundurkan diri.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Apa?”
“Aku tidak jadi bekerja di sini.”
Mas Bram berdiri. “Kamu yakin? Bukannya kamu butuh uang?”
Aku mengangguk pelan.
“Aku memang butuh pekerjaan. Tapi aku tidak butuh direndahkan.”
Wajahnya mengeras.
“Jangan sok punya harga diri, Ran. Dunia kerja itu keras.”
“Aku tahu,” jawabku tenang. “Tapi kerja keras berbeda dengan diinjak-injak.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Aku datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk membuktikan pada kamu bahwa aku bisa berlutut,” lanjutku. “Kalau kamu menerimaku hanya untuk mengejekku… simpan saja pekerjaan itu untuk orang lain.”
Mas Bram mendecakkan lidah.
“Kamu akan menyesal.”
Mungkin benar.
Mungkin nanti aku akan kesulitan lagi mencari kerja.
Mungkin aku akan menangis di kamar kecilku karena tak punya uang.
Tapi satu hal yang pasti…
Aku tidak akan pernah menyesal mempertahankan harga diriku.
“Aku lebih memilih susah daripada kehilangan martabatku,” ucapku pelan namun tegas.
Aku berbalik tanpa menunggu jawabannya. Kali ini, langkahku jauh lebih ringan.
Begitu keluar dari gedung itu, angin siang menyapu wajahku. Aku menghela napas panjang.
Aku memang belum punya pekerjaan.
Aku memang sedang hamil.
Aku memang sendirian.
Tapi setidaknya… aku masih punya harga diri.
Dan itu tidak bisa dibeli oleh siapa pun.
****