Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.1
...RENCANA BESAR RYN MOA YANG KACAU...
...Tak ada yang lebih berbahaya di dunia ini selain seorang gadis yang sedang jatuh cinta....
...Dan lebih berbahaya lagi jika gadis itu bernama ...
...Ryn Moa....
Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tapi bagi semesta dan bagi siapa pun yang pernah menyaksikan kegilaan kecil bernama cinta, itu adalah pernyataan yang sangat masuk akal. Terutama jika cinta tersebut bukan sekadar rasa suka, melainkan sesuatu yang lebih kompleks, lebih dalam, dan sedikit… tidak rasional.
Ryn Moa adalah tipe gadis yang jika sudah menetapkan hati, maka logika akan duduk manis di bangku penonton. Ia tidak gegabah, tidak juga sepenuhnya waras, namun ia percaya bahwa hidup tanpa keberanian hanyalah kumpulan hari-hari biasa. Dan ia menolak hidup biasa. Pada usia delapan belas tahun, ia telah mengambil keputusan paling drastis dalam hidupnya, pindah kuliah hanya demi satu nama yang ia hafal bahkan sebelum nama-namanya sendiri, Kim Taehyung.
Nama itu bukan sekadar rangkaian huruf. Bagi Ryn Moa, Kim Taehyung adalah fenomena, detak jantung yang datang terlalu cepat, senyum kecil yang muncul tanpa izin, dan alasan mengapa ia bisa menatap kosong ke dinding selama lima menit penuh sambil tersenyum sendiri seperti orang bodoh. Bagi orang lain, mungkin itu konyol. Bagi Ryn Moa… itu cinta. Atau lebih tepatnya, obsesi manis yang ia sebut takdir. Ia tidak pernah menyebutnya sebagai kegilaan. Ia lebih suka menyebutnya sebagai “kejelasan hati”. Bahwa di antara jutaan orang di dunia ini, entah bagaimana semesta menunjuk satu nama dan berbisik, “Dia.”
Sejak kelas dua SMA, ia sudah diam-diam mengagumi Taehyung, pria tampan dengan wajah tegas, senyum lembut, dan tatapan memabukkan yang membuat Ryn Moa, tiba-tiba merasa semua novel romansa murahan yang pernah ia baca terlihat masuk akal. Taehyung bukan siswa paling ramai, bukan pula yang paling populer secara terang-terangan. Ia bukan tipe pria yang suka berdiri di tengah kerumunan. Namun justru itulah yang membuatnya berbahaya. Ia tenang, pendiam, dan memiliki aura seolah dunia berjalan sedikit lebih lambat di sekitarnya. Ryn Moa ingat betul momen pertama ia menyadari keberadaan Taehyung. Bukan saat pria itu tersenyum, bukan saat ia berbicara. Tapi saat Taehyung berdiri di lorong sekolah, menatap keluar jendela dengan ekspresi datar, seolah pikirannya sedang berada di tempat yang jauh. Ryn Moa saat itu hanya lewat… dan hatinya berhenti berdetak satu detik lebih lama dari seharusnya.
Dengan tekad sekeras baja (meski otaknya agak lunak saat urusan cinta), ia memilih sekolah yang sama dengan Taehyung ketika masuk kuliah. Ia menyembunyikan keputusan ini dari kedua orang tuanya melalui trik klasik: “Aku merasa sekolah ini paling cocok dengan jurusan yang aku mau.” Padahal jurusan yang ia maksud… jurusan mendekati Taehyung. Ia sudah berlatih mengucapkan kalimat itu di depan cermin berkali-kali. Dengan nada meyakinkan, dengan senyum penuh kepastian. Orang tuanya mengangguk puas, percaya pada putri mereka yang tampak rasional. Jika saja mereka tahu bahwa di balik semua pertimbangan akademik itu, ada satu faktor utama bernama Kim Taehyung.
...⭐⭐⭐...
Pagi pertama sebagai murid baru, Ryn Moa berdiri di gerbang kampus dengan hati berkecamuk. Bangunan kampus menjulang megah, tampak sibuk oleh mahasiswa yang lalu-lalang dengan ekspresi beragam, ada yang mengantuk, ada yang antusias, ada yang tampak seperti ingin kembali ke tempat tidur. Namun bagi Ryn Moa, dunia seolah hanya berfokus pada satu kemungkinan, Apakah hari ini ia akan melihat Taehyung?
Hawa pagi masih sejuk, dan angin bertiup lembut, mengangkat ujung rambut hitam panjangnya yang ia tata dengan sangat hati-hati. Baju kuliahnya rapi, tasnya sudah ia bersihkan berkali-kali, dan sepatu putihnya bahkan sudah ia poles sampai mengkilap. Ia bahkan memilih parfum dengan aroma paling ringan, karena membaca di sebuah artikel entah dari mana bahwa pria menyukai wangi yang “tidak berusaha terlalu keras”. Ia sendiri tidak yakin apa maksudnya, tapi ia mengangguk setuju seolah memahami sepenuhnya.
Tak lupa, ia membawa tekad. Tekad untuk menaklukkan pria yang bahkan belum pernah berbicara padanya lebih dari… satu huruf. Satu huruf itu pun hanya “Hm?” karena Taehyung pernah menoleh ketika ia tanpa sengaja bersin keras saat lewat di belakangnya. Momen itu masih terukir jelas di kepalanya. Bagaimana wajah Taehyung sedikit terkejut, bagaimana alisnya terangkat tipis, dan bagaimana suara rendah itu keluar singkat. Bagi orang lain, itu tidak berarti apa-apa. Bagi Ryn Moa, itu adalah interaksi bersejarah.
“Ryn Moa!”
Suara Ida memanggil dari belakang. Ryn Moa menoleh dan mendapati enam sahabatnya berlari kecil menghampiri, Ida, Windi, Ody, Melly, Arella, dan Celine. Mereka lah para penonton setia drama kehidupan Ryn Moa, sekaligus komentator yang terkadang lebih pedas daripada kebutuhan. Enam orang dengan kepribadian berbeda, namun satu kesamaan, mereka tahu betul betapa berbahayanya jika Ryn Moa sedang jatuh cinta. Dan mereka tidak berniat menghentikannya, hanya memastikan mereka punya kursi paling depan.
“Kau rambutnya disisir berapa kali sampai serapih itu?” tanya Celine sambil menatap dekat seolah mencari kesalahan.
Celine adalah tipe gadis yang bisa menemukan satu helai rambut tidak simetris dari jarak dua meter. Dan pagi itu, ia tampak kecewa karena tidak menemukannya.
“Dua puluh kali,” jawab Ryn Moa tanpa malu.
Ia mengatakannya dengan bangga, seolah itu adalah pencapaian akademik.
Melly mengangkat alis.
“Dan itu semua demi Taehyung…?”
Nada suaranya datar, namun matanya berbinar penuh minat. Drama adalah hiburan terbaik.
“Tentu saja!” Ryn Moa menegakkan dada. “Hari ini aku akan memulai operasi mendapat hati Taehyung.”
Windi menepuk dahinya.
“Kau ini kenapa ya… kau bahkan belum pernah bicara dengannya.”
Nada putus asa terdengar jelas. Windi adalah tipe realistis, dan Ryn Moa adalah tantangan terbesarnya.
“Aku sudah bicara!”
“Bersin bukan bicara,” sahut Ody datar.
“Dan menggumam bukan percakapan,” tambah Arella.
Ryn Moa merenung sebentar. Ia mengangguk pelan, menerima fakta pahit itu dengan lapang dada.
“Baiklah, tapi… hari ini berbeda. Hari ini aku satu tempat kuliah dengannya. Atmosfernya saja sudah mendukung percakapan romantis.”
“Kau yakin?” tanya Ida.
Nada Ida selalu lembut, tapi penuh keraguan sehat. Ia tahu, terlalu banyak ekspektasi bisa berujung pada kekecewaan… atau komedi. Tepat saat itu, sebuah sepeda melaju cepat dari belakang, hampir mengenai Ryn Moa. Ia menjerit kecil dan melompat ke samping.
“MAAF!”
teriak pengendara sepeda itu sambil terus melaju.
Ryn Moa berdiri terpaku beberapa detik. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya terengah, dan jantungnya hampir meloncat keluar.
“Atmosfer mendukung ya?” Ida bertanya sambil menahan tawa.
Ryn Moa mengibaskan tangan.
“Itu cuma pemanasan.”
Dan begitulah. Hari pertama Ryn Moa sebagai mahasiswa baru dimulai dengan nyaris ditabrak sepeda, rambut yang sedikit kacau, dan tekad yang tetap utuh. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Ia tidak tahu apakah ia akan bertemu Taehyung di lorong, di kelas, atau hanya melihat punggungnya dari kejauhan. Tapi satu hal pasti, kisah ini baru saja dimulai. Dan dunia belum siap menghadapi betapa berbahayanya seorang gadis bernama Ryn Moa… yang sedang jatuh cinta.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....