Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sinar matahari sore yang mulai meredup menyelinap masuk melalui jendela besar apartemen Azkara, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu. Alana baru saja selesai mengganti pakaiannya. Ia kini mengenakan kembali gaun pastelnya yang sudah dibersihkan dan disetrika rapi oleh pelayan pribadi Azkara.
Di depan cermin besar di ruang ganti tamu, Alana sedang melilitkan kembali hijab sutranya dengan gerakan yang tenang namun jemarinya masih sedikit gemetar akibat momen intim di dapur tadi.
Azkara berdiri bersandar di bingkai pintu, memperhatikannya. Pria itu sudah mengenakan kembali kemeja hitamnya, namun kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit tato yang menjalar di tulang selangkanya. Matanya tidak lepas dari sosok Alana, wanita yang sebulan lalu ingin ia hancurkan, namun kini menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak dengan ritme yang penuh harapan.
"Kau sudah siap?" tanya Azkara pelan.
"Sudah," jawab Alana sambil membalikkan tubuh. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang kini tidak lagi menyimpan kewaspadaan. "Terima kasih untuk makan siangnya, Az. Pastanya benar-benar juara."
Namun, Azkara tidak bergerak dari posisinya. Ia tidak membalas senyuman itu dengan tawa jahil seperti biasanya. Wajahnya berubah menjadi sangat serius, sebuah ekspresi yang membuat Alana menghentikan langkahnya.
"Alana, tunggu sebentar," ucap Azkara. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru gelap yang sudah ia simpan selama seminggu terakhir.
Alana terpaku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Azkara melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum wood dan amber-nya menyelimuti indra penciuman Alana. Ia membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin dengan berlian berbentuk pear cut yang sangat elegan, dikelilingi oleh butiran berlian kecil yang berkilau lembut.
"Aku tahu ini sangat mendadak," Azkara memulai, suaranya terdengar lebih rendah dan sedikit serak. "Aku tahu kariermu di New York sedang berada di puncaknya. Kau baru saja memulai kontrak global, dan dunia sedang memandangmu. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi cahayamu."
Azkara menarik napas panjang, menatap mata biru gelap Alana dengan kejujuran yang telanjang. "Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak bisa membiarkan satu hari pun berlalu tanpa kepastian bahwa kau adalah milikku. Aku tidak ingin lagi hanya menjadi 'teman' yang menunggu di lobi kantormu."
Ia menelan ludah, sedikit gugup. "Apa boleh... kita bertunangan saja dulu, Alana? Kita ikat janji ini. Aku akan menunggumu sampai kau merasa kariermu sudah cukup stabil untuk melangkah lebih jauh. Aku hanya ingin sebuah tanda bahwa kau adalah rumah tempatku kembali."
Alana menatap cincin itu, lalu beralih menatap wajah Azkara. Keheningan menyergap ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Azkara sudah bersiap untuk penolakan halus, atau setidaknya permintaan waktu untuk berpikir. Mengingat Alana adalah model Muslimah papan atas, pernikahan dini seringkali dianggap sebagai risiko besar bagi kontrak-kontrak jutaan dolar.
Namun, Alana perlahan menggelengkan kepalanya.
Hati Azkara mencelos. Genggamannya pada kotak cincin itu mengerat. "Kau... kau tidak mau?" tanya Azkara dengan suara yang nyaris hilang.
Alana melangkah satu tahap lebih dekat, hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di mata Azkara. "Aku menggeleng bukan karena aku tidak mau, Azkara," ucap Alana dengan suara yang sangat tenang namun penuh ketegasan.
"Lalu?"
"Aku sudah siap untuk menikah," ujar Alana mantap.
Azkara tertegun. Matanya membelalak tidak percaya. "Tapi... kariermu? Agensimu? Ayahmu? Alana, kita baru saja memulai babak baru ini sebulan yang lalu. Aku ingin melindungimu dari tekanan publik jika kita langsung menikah."
Alana tersenyum, kali ini lebih lebar. Ia meraih tangan Azkara yang memegang kotak cincin itu. "Karierku yang memberiku ketenangan saat aku hampir hancur di hotel itu? Bukan. Agensiku yang melindungiku saat aku merasa malu di pinggir jalan tadi? Bukan. Itu kau, Azkara."
Alana menarik napas dalam. "Aku adalah putri dari Adrian dan Briana Richard. Aku tumbuh melihat bagaimana Ayahku memperjuangkan Ibuku tanpa keraguan. Jika aku harus memilih antara panggung catwalk dan membangun surga bersamamu, aku tidak butuh waktu untuk berpikir. Aku tidak ingin tunangan. Aku ingin menjadi istrimu. Aku ingin hubungan yang sah di mata Tuhan, seperti yang pernah kukatakan padamu saat kau hampir kehilangan kendali waktu itu."
Azkara merasa dunianya seolah meledak oleh kebahagiaan yang luar biasa. Ia tidak menyangka wanita setangguh Alana akan memberikan jawaban yang begitu berani. Segala keraguannya tentang masa lalu, tentang rasa sakit hatinya karena wanita sebelumnya, kini luruh sepenuhnya. Alana adalah jawaban dari semua doa yang bahkan tidak berani ia ucapkan.
"Kau serius, Alana?" bisik Azkara. "Kau sadar apa artinya ini? New York akan geger. Ayahmu mungkin akan menguliti aku jika aku terburu-buru membawamu ke pelaminan."
Alana terkekeh, air mata haru mulai menggenang di sudut matanya. "Biarkan Ayah menjadi urusanku. Dia menyukaimu, Az. Dia melihat pria yang jujur di dalam dirimu. Dan soal publik... biarkan mereka melihat bahwa kecantikan yang sesungguhnya adalah saat seorang wanita merasa aman di pelukan suaminya."
Azkara segera mengeluarkan cincin itu dan menyematkannya di jari manis Alana. Pas sekali. Berlian itu tampak sangat serasi dengan tangan Alana yang halus. Azkara kemudian mengecup punggung tangan Alana dengan sangat lama, seolah ia sedang mengikrarkan sumpah setianya di sana.
"Terima kasih, Alana. Terima kasih telah memilih pria sepertiku untuk menjadi imammu," ucap Azkara dengan nada emosional.
Mereka berdiri di sana, di ruang ganti yang menjadi saksi bisu perubahan takdir mereka. Azkara merangkul pinggang Alana dengan sangat hati-hati, tidak lagi dengan nafsu yang merusak, melainkan dengan kasih sayang yang mendalam. Alana menyandarkan kepalanya di bahu Azkara, menghirup aroma yang kini menjadi aroma favoritnya.
"Kita akan melakukannya dengan benar kali ini," janji Azkara. "Tidak ada pelarian, tidak ada rahasia. Aku akan datang ke rumahmu besok, menghadap Adrian Richard sebagai pria yang ingin meminta harta paling berharganya."
Alana mendongak, menatap Azkara dengan jahil. "Kau siap menghadapi interogasi Ayahku selama berjam-jam?"
"Bahkan jika aku harus berdiri di depan pintu rumahmu selama tiga hari tiga malam di tengah salju New York, aku akan melakukannya," sahut Azkara dengan seringai maconya.
Pertemuan yang diawali dengan siraman kopi dan lumpur, diikuti dengan insiden yang hampir menghancurkan segalanya, kini berujung pada sebuah komitmen abadi. Di kota Manhattan yang keras, di mana cinta seringkali dianggap sebagai transaksi bisnis, Alana dan Azkara membuktikan bahwa kejujuran dan keberanian untuk saling memaafkan adalah fondasi terkuat untuk sebuah pernikahan.
Sore itu, Alana pulang bukan hanya sebagai seorang model sukses, tapi sebagai seorang wanita yang telah menemukan pelabuhan terakhirnya. Dan Azkara, sang pemberontak Manhattan, akhirnya mengerti bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa cepat ia bisa mengemudi, tapi pada seberapa berani ia menetap pada satu hati yang suci.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku