Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang
Enjoy gays...
Biasanya, Aurora akan menghabiskan waktu luangnya dengan jalan-jalan bersama teman-temannya atau pergi ke rumah orang tuanya untuk melepas rindu.
Tapi hari ini, ada yang sedikit berbeda.
Karena tak ada jadwal kuliah apapun dan teman-temannya juga sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Aurora pun memutuskan untuk memasak makan siang dan akan membawanya ke kantor Luca.
Hampir 1 jam lamanya berkutat dengan kompor dan semua bahan makanan yang dia butuhkan, Aurora akhirnya selesai.
Menu kali ini adalah masakan nusantara khas Jawa. Beefsteak Jawa, mie goreng Jawa, dan sayur tumis sawi + tahu.
Menatanya ke dalam masing-masing wadah yang sudah dia siapkan sebelumnya, Aurora tampak antusias dan tersenyum bahagia melihat hasil kerja kerasnya.
Ting....
Suara notifikasi berbunyi.
Mengambil benda pipih itu dari saku apron, Aurora melihat siapa yang mengirimnya pesan. Rupanya itu dari taksi online yang tadi dia pesan dan sudah ada di depan.
Tak mau menunggu lama, Aurora pun langsung membalas pesan itu lalu melepas apronny. Berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti baju dan sekedar menata diri agar nanti dia tidak terlihat memalukan di mata para karyawan Luca.
***
Berkas terakhir yang baru saja di tandatangani langsung Luca berikan pada sekretaris pribadinya yang memang sudah menunggu.
"Terimakasih Pak." Ucap wanita itu membungkuk hormat
"Sama-sama."
Seperginya sang sekretaris pribadi dari ruangannya, Luca sedikit melemaskan otot-otot leher dan tangannya yang terasa kaku karena terlalu fokus bekerja.
Di waktu yang sama, kedatangan Aurora di kantor itu seketika menarik perhatian semua orang di sana sejak ia melangkahkan kaki masuk ke sana. Aura kecantikan yang terpancar dalam dirinya benar-benar membuat semua orang terpesona tanpa terkecuali. Maklum saja, ini baru pertama kalinya Aurora datang ke sana. Jadi, tak ada satupun dari mereka yang tahu siapa statusnya.
"Permisi. Apa saya bisa bertemu dengan Bapak Luca?" Tanya Aurora dengan sopan pata petugas resepsionis yang tengah bertugas di sana.
"Maaf, Mbak dengan siapa dan ada keperluan apa? Apakah sebelumnya sudah membuat janji dengan Pak Luca?"
"Saya Aurora. Saya belum membuat janji karena saya pikir harusnya beliau sedang tidak sibuk sekarang."
"Kami minta maaf sebelumnya mbak. Tapi untuk bertemu dengan Pak Luca , Anda harus membuat janji terlebih dahulu."
"Begitu ya...."
Sebenarnya mudah saja bagi Aurora untuk menemui Luca. Hanya dengan memberitahu Luca jika dia ada di kantornya, Luca pasti akan langsung menemuinya. Tapi, bukan itu tujuan Aurora. Dia ingin sedikit memberi Luca kejutan dengan kehadirannya.
"Apa tidak bisa di hubungkan dengan sekretarisnya jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya? Karena saya sudah jauh-jauh datang kemari untuk bertemu dengannya, sayang kalau saya pulang begitu saja." Tak kehabisan akal, Aurora mencoba bernegosiasi.
"Baik, tunggu sebentar. Akan saya hubungkan dengan sekretaris Pak Luca terlebih dahulu. Apa beliau sedang luang atau tidak dan bisa menemui Anda atau tidak."
"Terimakasih."
Sebagai wajah pertama citra perusahaan di mata orang-orang yang datang, pelayanan petugas resepsionis yang ramah dan sopan adalah hal utama yang selalu Luca tekankan. Karena bagi Luca, mereka adalah tamu yang akan membawa keberkahan. Selagi itu tak mengganggu apalagi membuat keributan tentunya.
Tetap berdiri di sana, Aurora menunggu petugas resepsionis itu menghubungi sekretaris pribadi Luca untuk mengetahui hasilnya.
***
Waktu istirahat masih kurang 10 menit lagi. Walau pekerjaan utama sudah selesai, tapi dia terlihat masih sibuk mengecek segala macam berkas dan laporan yang akan dia berikan pada Luca setelah makan siang nanti.
Hingga tiba-tiba....
Kring....
Bunyi interkom di atas meja terdengar.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran yang ada dalam genggaman, dia mengangkat panggilan itu seakan tahu itu berasal darimana.
^^^"Iya, ada apa?"^^^
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Pak Luca, namanya Mbak Aurora. Tapi dia belum membuat janji sebelumnya."
^^^"Tunggu sebentar."^^^
Mematikan panggilan interkom itu secara sepihak, dia bangkit dari kursinya berniat memberitahukan hal itu pada Luca yang masih ada di ruangannya.
Namun, baru selangkah yang dia buat, Luca terlihat keluar dari ruangannya dan melintasi meja kerjanya begitu saja.
"Pak Luca?" Panggilnya menunduk hormat menghampiri Luca.
"Kenapa Ren?" Tanya Luca menoleh seraya menghentikan langkahnya.
"Di lobby kantor ada seseorang yang ingin menemui Bapak. Tapi dia belum membuat janji sebelumnya, jadi pihak resepsionis tidak berani untuk memberikan izin."
"Siapa namanya?"
"Aurora."
"Minta penjaga untuk mengantarnya ke ruangan saya." Perintah Luca setelah terdiam beberapa saat karena terkejut.
"Baik Pak."
Kembali ke tempatnya, gadis itu langsung menghubungi pihak resepsionis untuk menyampaikan perintah Luca.
Sementara Luca yang awalnya berniat untuk pergi jadi mengurungkan rencananya itu dan kembali masuk ke ruangannya.
Di tempat berbeda, Aurora terlihat masih berdiri di depan meja resepsionis menunggu kabar dari sekretaris pribadi Luca.
Sedangkan petugas resepsionis yang tadi sudah mencoba mempersilahkan Aurora untuk duduk di salah satu kursi lobby kantor sembari menunggu tapi di tolak dengan sopan oleh Aurora terlihat tengah menyelesaikan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Aurora.
Kring....
Bunyi interkom terdengar.
Tanpa berlama-lama, petugas resepsionis itu langsung mengangkatnya.
"Hallo. Pak Luca mau menemuinya. Minta penjaga untuk mengantarnya ke ruangan Pak Luca."
^^^"Baik."^^^
"Gimana Mbak?" Tanya Aurora memastikan setelah petugas resepsionis itu mematikan panggilannya.
" Pak Luca mau menemui Mbaknya."
Hendak bertanya dimana ruangan Luca berada, tapi sebuah pesan singkat lebih dulu masuk ke handphonenya.
Mengambil benda pipih itu dari dalam tas, Aurora melihat notifikasi yang tertera di layar. Dia seketika tersenyum karena itu dari Luca.
"Ra? Lo beneran dateng ke kantor gue?"
Tak berniat menjawabnya, Aurora kembali menyimpan handphonenya ke dalam tas.
"Security?" Panggil petugas resepsionis itu sedikit berteriak pada salah seorang petugas keamanan yang tengah berjaga di depan pintu masuk.
"Tolong antar mbak ini ke ruangan Pak Luca sekarang." Perintah petugas resepsionis itu seraya tersenyum ke arah Aurora.
"Makasih mbak." Membalas senyuman itu juga dengan ramah, Aurora tak lupa membawa tas bekal yang dia letakkan di atas meja resepsionis sebelum pergi.
"Sama-sama."
"Mari, silahkan Mbak." Dengan senyum ramah dan sikap yang sopan petugas keamanan itu mempersilahkan Aurora untuk jalan lebih dulu sedangkan dia mengikutinya dari arah belakang.
"Ruangannya ada di lantai berapa?" Tanya Aurora saat keduanya berhenti di depan lift dan menunggu pintu terbuka.
"Lantai 11 mbak."
Ting...
Pintu lift terbuka.
Masuk ke dalamnya, hanya ada mereka berdua di sana. Karena itu jalur privat lift jadilah mereka langsung terhubung ke lantai 11 dimana ruangan Luca berada tanpa perlu repot-repot memencet tombol seperti lift biasanya.
***
Jika biasanya lantai gedung perkantoran akan di penuhi dengan karyawan yang berlalu lalang atau bekerja di meja kerjanya masing-masing, hal itu tak berlaku di lantai 11 saat Aurora pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Alih-alih menemukan orang-orang yang sibuk bekerja di sana, Aurora justru di sambut lorong sepi dengan berbagai ruangan di samping kanan dan kirinya.
"Mbak Aurora?" Tegur sekretaris pribadi Luca menghentikan langkah Aurora karena melintasinya begitu saja sebab tak menyadari keberadaannya.
"Iya?" Balas Aurora dengan tatapan bingung.
Pergi dari tempat kerjanya, dia melangkah menghampiri Aurora.
"Perkenalkan, saya Reni sekretaris pribadi Pak Luca." Tersenyum ramah dan membungkuk hormat, Reni memperkenalkan dirinya pada Aurora.
"Silahkan. Pak Luca sudah menunggu anda di dalam." Menggantikan petugas keamanan itu mengantar Aurora, Reni lebih dulu melangkah untuk menunjukkan dimana letak ruangan Luca yang tak jauh dari tempat kerjanya.
"Ini ruangannya mbak." Beritahu Reni saat keduanya berhenti di depan sebuah pintu dengan balutan cat warna coklat.
"Makasih."
"Sama-sama." Kembali ke tempat kerjanya, Reni terlihat melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Membuka pintu itu, Aurora langsung di sambut dengan wajah tampan Luca yang sudah menunggunya.
"Hay Ra." Sapa Luca dengan senyum sumringah dan wajah gembira.
"Hay Luca." Balas Aurora juga dengan senyum tipis andalannya.
"Kenapa gak langsung bilang aja kalo lo istri gue? Jadi di tahan kan lo sama resepsionis?" Bangkit dari kursi kebesarannya, Luca melangkah mendekati sofa lalu duduk di sebelah Aurora.
"Kan niatnya mau ngasih surprise." Sahut Aurora melepas tasnya dan meletakkan tas bekalnya di atas meja.
"Ada-ada aja lo emang." Kekeh Luca seraya mengacak-acak rambut Aurora gemas karena tak habis pikir dengan tingkah sang istri yang selalu berhasil membuatnya berkali-kali jatuh cinta.
Bukannya kesal atau bagaimana karena Luca yang membuat tatanan rambutnya jadi berantakan, Aurora justru tersenyum bahagia karena perlakuan sederhana yang Luca berikan membuat hatinya seketika menghangat.
"Bawa apa?" Tanya Luca mengalihkan pandangannya ke arah tas bekal di atas meja yang belum Aurora buka.
"Makan siang buat lo. Gabut gue di rumah gak ngapa-ngapain." Membukanya, Aurora mengeluarkan satu per satu isinya dan menyiapkannya untuk Luca.
"Wahhh..... Kebetulan banget. Baru aja gue mau makan siang." Tersenyum bahagia, Luca menatap semua makanan itu dengan mata berbinar dan tak sabaran.
"Thanks ya." Ucap Luca sebelum menikmati makanan itu.
"Sama-sama."
Melihat bagaimana lahapnya Luca menyantap makanan buatannya, membuat Aurora tersenyum bangga sekaligus bahagia. Tak sia-sia rupanya usahanya membuatkan Luca makan siang.
"Enak gak?" Tanya Aurora.
"Enak. Masakan lo gak pernah ngecewain kok."
Terbuai dengan masakan Aurora sampai Luca lupa jika istrinya mungkin saja belum makan siang sama seperti dirinya.
Benar saja, saat Luca memberikan suapannya, Aurora dengan senang hati menerima.
"Kerjaan lo hari ini lagi gak banyak?" Tanya Aurora membuka obrolan sembari keduanya menghabiskan makanan yang Aurora bawa.
"Enggak. Kenapa?"
"Gak papa. Aneh aja liat lo bisa santai kayak gini."
"Tapi habis ini gue ada meeting sama client. Lo mau langsung pulang atau gimana?"
"Kalo misal gue nungguin lo disini, boleh gak?"
"Serius?" Aurora mengangguk.
"Boleh-boleh aja. Tapi emang lo gak bosen?"
"Emang berapa lama?"
"Gak tau."
Habis tak bersisa, Luca merapikan perlengkapan makan yang terpakai lalu memasukkannya kembali ke dalam tas bekal agar Aurora tak perlu lagi membereskannya dan bisa langsung di bawa pulang nanti.
Bangkit dari duduknya, Luca melangkah menuju pantry kecil yang ada di ruangannya. Membuka kulkas di sana lalu mengambil sebotol mineral yang ada di sana dan membawanya ke arah Aurora.
Memberikan botol yang sudah dia buka pada Aurora, Luca kembali duduk di tempatnya. Barulah setelah Aurora selesai, Luca minum dari botol yang sama.
"Tunggu deh. Kayaknya gue punya sesuatu yang bisa bikin lo gak bosen selama nungguin gue." Ucap Luca saat mengingat sesuatu seraya bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati lemari yang ada di bawah TV di hadapan mereka.
Mengambil sesuatu itu dari dalam sana, Luca kembali menghampiri Aurora dan memberikan kotak berwarna putih berukuran sedang itu pada Aurora.
"Ini kan?" Kaget Aurora tak percaya seraya menerima kotak itu dengan mata berbinar dan senyum bahagia.
"Lo bisa pake itu selama nungguin gue, gimana?" Ikut tersenyum bahagia, Luca kembali duduk di sebelah Aurora.
"Wahhh..... Thank you Luca." Lihat bagaimana Aurora begitu bahagia menerima pemberian itu. Dia bahkan langsung membukanya dan mengeluarkan isinya.
"Your welcome."
Sebenarnya Luca sudah membeli barang itu sejak lama, tapi dia sengaja menyimpannya untuk berjaga-jaga jika Aurora tiba-tiba datang ke kantornya tanpa memberi kabar dan tak ada hiburan yang bisa dia mainkan untuk membunuh rasa bosan.
Benar saja, dugaan Luca itu terwujud hari ini. Dan beruntungnya Luca karena Aurora begitu menyukai pemberiannya. Ps5 beserta DVD nya.
Tanpa menunggu lama, Aurora langsung menyalakan TV dan memasang game itu agar bisa langsung dia mainkan. Jika ada game, sudah bisa di pastikan seberapa lama pun Luca meeting dan sibuk dengan pekerjaannya, dia tak akan pernah merasa bosan.
Meninggalkan Aurora yang tengah bahagia dengan dunianya, Luca kembali ke meja kerjanya untuk mengecek kembali persiapan berkas yang nanti akan dia gunakan untuk meeting.
10 menit dalam diam, pekerjaan pun akhirnya terselesaikan. Bersamaan dengan itu, suara notifikasi pesan terdengar.
Mengambil handphone yang ada di atas meja, Luca membuka pesan dari Rion sang teman.
"Pesenan lo udah gue anter ke kantor lo."
^^^"Thanks Rion."^^^
"Sama-sama."
Tepat saat balasan pesan Rion terkirim, interkom yang ada di meja kerjanya berbunyi. Tak menunggu lama, Luca pun langsung mengangkatnya.
^^^"Ada apa?"^^^
"Ada kiriman paket untuk Bapak."
^^^"Dari siapa?"^^^
"Tn. Clarion Luke."
^^^"Minta security untuk mengantarkannya ke ruangan saya."^^^
"Baik Pak."
Menutup panggilan interkom itu, Luca kembali menghampiri Aurora dan duduk di sebelahnya. Menjadi penonton dalam diam karena tak ingin mengganggu sang istri yang begitu fokus dengan game di depannya.
5 menit berselang, pintu ruangannya terketuk. Berdiri dari duduknya, Luca berjalan untuk membukakan pintu.
"Permisi Pak paket untuk Bapak." Ucap petugas keamanan itu dengan senyum ramah seraya memberikan paper bag berukuran sedang yang dia bawa pada Luca.
"Terimakasih." Balas Luca seraya menerima paper bag itu dan menutup kembali pintunya.
"Ra, bisa di pause dulu gak?" Pinta Luca seraya meletakkan paper bag itu di atas meja lalu duduk di sebelah Aurora.
Menjawabnya dengan sebuah tindakan, Aurora mempouse game yang tengah dia mainkan lalu meletakkan stick ps yang dia gunakan di atas meja.
"Apa itu?" Tanya Aurora penasaran melihat paper bag berwarna coklat itu.
"Buat lo." Mengeluarkan isinya, ada dua kotak beludru berwarna navy dengan ukuran kecil dan sedang di dalamnya.
"Huh??"
"Inget taruhan gue sama anak-anak waktu itu?" Aurora mengangguk.
"Nah, gue minta beliin ini sama Rion."
"Seriusan?" Kali ini giliran Luca yang mengangguk.
"Tapi cuma gelangnya doang......" Ucap Luca melanjutkan seraya membuka kotak itu satu per satu untuk memperlihatkan isinya pada Aurora.
Awalnya, perhatian Aurora memang tertuju pada gelang yang berliontin bintang. Tapi setelahnya, perhatian Aurora tertuju sepenuhnya pada sebuah kalung yang cukup familiar untuknya.
"Ini kan?" Kaget Aurora tersenyum bahagia saat melihat kalung itu adalah kalung yang sama yang dia lihat saat mereka membeli cincin pernikahan waktu itu.
"Kalung yang waktu itu lo pengen."
"Thank you Luca." Saking bahagianya mendapat kejutan dari Luca, Aurora sampai tanpa sadar memberi Luca sebuah pelukan.
Terkejut karena baru pertama kali keduanya berpelukan, membuat Luca diam terpaku untuk beberapa saat sebelum akhirnya membalas pelukan.
"Sama-sama." Ucap Luca tersenyum bahagia.
Meski tak berlangsung lama karena Aurora yang melepas pelukannya lebih dulu tapi Luca tetap terlihat bahagia.
"Mau gue pakein gak?" Tanya Luca memberi tawaran seraya melirik gelang dan kalung itu.
"Boleh."
Mula-mula, Luca memasangkan gelang itu ke tangan kiri Aurora. Setelahnya, dia memakaikan kalung itu.
"Cantik." Ucap Luca memuji. Entah Aurora yang memang terlihat cantik atau kalung itu yang cocok dan pas di leher Aurora.
"Kan istrinya Luca." Sahut Aurora spontan diiringi senyuman. Membuat Luca yang baru pertama kali mendengar pengakuan Aurora seperti barusan jadi tersipu malu dan sedikit salah tingkah.
Masih dengan senyuman yang terpancar di wajahnya, Aurora menatap gelang yang kini sudah terpasang di tangannya. Sederhana dan dari hadiah pemberian Rion memang, tapi Aurora begitu mengagumi dan menyukainya. Karena pasti, gelang itu Luca sendiri yang memilihnya untuknya.
"Gelang sama kalungnya jangan pernah di lepas ya Ra?" Pinta Luca tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Aurora.
"Pasti. Gak akan pernah gue lepas."
Hendak kembali memulai permainan, tapi pintu ruangan Luca lebih dulu di ketuk. Setelahnya, sekretaris pribadi Luca terlihat masuk dengan beberapa berkas dan ipad dalam genggaman.
"Permisi Pak, sudah saatnya untuk Anda menghadiri meeting." Beritahu Reni dengan sopan.
"Gue tinggal ya? Kalo bosen keliling kantor aja, tapi minta di temenin security." Pamit Luca seraya tersenyum dan mengacak sekilas rambut Aurora.
"Oke." Membalasnya juga dengan senyuman, Aurora mengangkat tangannya membentuk huruf O sebagai tanda jika dia mengerti apa yang Luca katakan.
Setelah kepergian Luca, Aurora kembali melanjutkan permainannya.