Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kisah Kita Telah Lama Berakhir
Arslan duduk di ruangannya, menatap layar komputer yang menampilkan pindaian KTP yang dilampirkan dalam berkas administrasi Farel. Matanya terpaku pada baris status perkawinan: Belum Kawin.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Arslan menyandarkan punggungnya, membiarkan helaan napas panjang keluar dari dadanya. Penjelasan Abel tentang "suami di luar negeri" kemarin jelas-jelas adalah sebuah kebohongan—sebuah tameng yang sengaja diciptakan untuk menjauhkannya.
Namun, kebenaran itu membawa Arslan pada sebuah asumsi yang menyakitkan. Ia menatap foto Farel yang ada di catatan medis. Bayi itu sangat tampan, sangat bersih, namun di mata Arslan, kehadiran Farel adalah bukti bahwa ada pria lain yang telah menghancurkan kepolosan Abel setelah ia pergi.
“Abel yang dulu begitu polos... apa dia dijebak? Apa dia ditinggalkan pria itu setelah hamil?” batin Arslan. Amarahnya memuncak saat membayangkan pria pengecut yang membiarkan wanita seanggun Abel membesarkan anak seorang diri di tengah stigma masyarakat yang kejam.
Namun, di tengah rasa perih itu, ada sebuah titik cahaya yang mulai berpijar di hati Arslan. Sebuah kelegaan yang egois namun nyata.
Abel belum menjadi milik siapa pun.
Arslan mengepalkan tangannya. Jika dulu ia meninggalkan Abel karena taruhan konyol, kali ini ia tidak akan membiarkan apa pun menghalanginya. Ia tidak peduli jika Farel bukan darah dagingnya. Ia tidak peduli jika dunia menganggap Abel memiliki masa lalu kelam.
Bagi Arslan, jika Abel sanggup menjadi ibu tunggal yang kuat dan sehebat ini, maka ia adalah wanita yang jauh lebih berharga daripada siapa pun.
"Aku akan menerima kamu, Bel. Kamu dan anak itu," gumam Arslan dengan tekad yang bulat. "Aku tidak peduli siapa ayah biologisnya. Aku yang akan menjadi ayah untuknya, dan aku yang akan menjagamu agar tidak ada lagi orang yang bisa menyakitimu."
Arslan berdiri, merapikan jas dokternya dengan penuh percaya diri. Rasa patah hatinya kini berubah menjadi misi penebusan dosa. Ia akan mendekati Abel, bukan sebagai masa lalu yang menghantui, tapi sebagai pelindung yang akan menawarkan masa depan bagi keluarga kecil yang dikira Abel bangun sendirian itu.
Sikap Arslan berubah drastis sejak hari itu. Ia tidak lagi sekadar melakukan visitasi medis yang singkat dan kaku. Arslan kini datang dengan senyum yang lebih hangat—senyum yang tulus, meski terselip rasa bersalah dan tekad yang besar di baliknya.
Sore itu, Arslan masuk ke kamar VIP membawa sebuah tas kertas berisi makanan dari restoran sehat langganannya dan sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi.
"Dokter? Ada pemeriksaan tambahan?" tanya Abel tanpa menoleh, masih sibuk menggendong Farel yang mulai rewel.
"Tidak ada. Gueㅡ maksudnya, saya hanya ingin memastikan 'Ibu' dari pasien saya ini tidak jatuh sakit karena lupa makan," ujar Arslan sambil meletakkan makanan itu di meja. Ia kemudian mendekat, mengeluarkan sebuah mainan gantung edukatif dari kotak kecil tadi. "Dan ini untuk Farel. Mainan ini bisa membantu stimulasi motoriknya."
Abel menghentikan gerakannya. Ia menatap Arslan dengan dahi berkerut. Perubahan sikap pria ini terlalu mendadak. "Anda terlalu berlebihan, Dokter Arslan. Saya bisa mengurus kebutuhan saya dan putra saya sendiri."
Arslan menatap mata Abel dalam-dalam. Tatapannya kini tidak lagi menuntut atau menyelidiki, melainkan penuh dengan penerimaan yang tulus. "Bel, aku tahu semuanya. Aku sudah lihat statusmu di administrasi."
Abel tertegun. Jantungnya berdesir. Apa dia sudah tahu kalau Farel itu anak Kak Reno? batinnya was-was.
"Aku tahu kamu membesarkan Farel sendirian," lanjut Arslan dengan suara rendah dan lembut. "Aku tahu betapa beratnya beban yang kamu pikul sebagai ibu tunggal. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di masa lalu mu, atau siapa pria yang sudah meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini."
Abel nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia ingin tertawa sekaligus merasa ngeri. Ternyata Arslan salah paham. Pria itu mengira Abel telah kecelakaan dan membesarkan anak haram.
"Arslan, dengar—"
"Tidak, Bel. Biarkan gue yang bicara," potong Arslan, ia melangkah satu langkah lebih dekat, mengabaikan jarak profesional mereka. "Dulu gue bodoh karena meninggalkan lo. Dan sekarang, melihat lo berjuang sendirian untuk anak ini... itu membuat gue semakin sadar betapa hebatnya lo. Gue ingin menebus semuanya. Gue ingin ada di sini, untuk lo dan untuk Farel. Gue tidak akan membiarkan orang lain menghina atau menyulitkan lo lagi."
Abel terpaku. Ia menatap Arslan yang tampak begitu tulus menawarkan perlindungan atas dosa yang sebenarnya tidak pernah Abel lakukan. Di satu sisi, Abel merasa tersentuh karena Arslan bersedia menerima seorang wanita yang (menurutnya) punya anak di luar nikah. Namun di sisi lain, Abel merasa konyol karena kebohongannya telah menciptakan skenario drama di kepala Arslan.
"Kamu ingin menerima aku... dan anak ini?" tanya Abel memastikan, menahan senyum sarkasnya.
"Dengan sepenuh hati," jawab Arslan mantap. "Farel akan aman bersama gue. Gue adalah seorang dokter, gue bisa memberikan masa depan yang terbaik untuknya."
Abel terdiam sejenak, kemudian ia menatap Arslan dan menggelengkan kepala pelan. "Maaf, Lan, aku gak bisa."
"Abel, gue serius. Gue ingin lo jadi pendamping gue." Arslan memegang tangan Abel lembut, sorot matanya memohon belas kasih.
Abel melepaskan genggaman tangan tersebut, "lima tahun lalu, rasanya masih seperti kemarin. Rasa sakit itu masih ada."
"Gue minta maaf, Bel. Gue khilaf,"
Kecanggungan itu memberikan jarak yang nyata, namun Arslan tidak ingin menyerah. Gadis pujaan hatinya telah kembali, hanya soal waktu untuk meruntuhkan ego di hati Abel. Arslan yakin akan satu hal, jika ia benar-benar menunjukkan rasa tulus, pasti Abel akan dapat menerimanya kembali.
"Abel ㅡ"
"Dokter Arslan, mari kita pulㅡ" seruan Gea terpotong saat ia melihat Arslan memegang tangan Abel.
"Maaf mengganggu waktu kalian," Gea menutup pintu rawat inap itu dengan perasaan kesal.
Abel melepaskan kaitan tangan Arslan dengan gerakan yang tegas, seolah sedang memutus satu-satunya benang merah yang masih menghubungkan mereka. Ia melangkah menjauh, menciptakan jarak fisik yang mencerminkan jurang di antara hati mereka, lalu memfokuskan seluruh atensinya pada Farel yang terlelap.
"Pulanglah," ucap Abel. Suaranya rendah, namun sindiran di dalamnya terasa tajam. "Kekasihmu pasti sudah menunggumu dengan cemas."
Arslan tidak bergerak satu inci pun. Sorot matanya memancarkan keputusasaan yang nyata. Ia mencoba melangkah mendekat, memperpendek jarak yang Abel bangun. "Dia bukan siapa-siapa, Bel. Aku bersumpah. Aku masih—"
"Berhenti, Arslan!" potong Abel cepat. Ia akhirnya berbalik, menatap Arslan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana. "Hubungan kita sudah berakhir lama sekali. Kisah itu mati di hari aku tahu tidak pernah ada setitik pun cinta di dalamnya. Semuanya hanya fiksi yang kamu ciptakan untuk sebuah taruhan."
Dada Arslan sesak. Kalimat itu seperti belati yang menghujam tepat di ulu hatinya. "Bel, tolong, Arslan yang itu sudah mati—"
"Maka biarkan dia tetap mati," sela Abel lagi. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, menahan sekuat tenaga agar butiran bening di pelupuk matanya tidak jatuh di hadapan pria itu. Ia tidak ingin terlihat rapuh lagi. "Aku mohon, Dokter Arslan... keluar dari ruangan ini. Jangan ganggu hidupku dan anakku lagi."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru napas Arslan yang berat. Arslan menatap punggung Abel dengan rasa bersalah yang mencekik. Ia ingin memeluknya, ingin menjelaskan bahwa Farel tidak akan pernah menjadi penghalang baginya, namun ia sadar bahwa kehadirannya saat ini hanyalah racun bagi ketenangan Abel.
Dengan langkah yang terasa berat seolah kakinya terikat rantai, Arslan berbalik. Ia berjalan menuju pintu dengan enggan, kepalanya menoleh sekali lagi, menatap Abel untuk terakhir kalinya sebelum pintu VIP itu tertutup rapat.
Abel memejamkan mata. Begitu pintu terkunci, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. Di balik punggungnya yang terlihat tegar, ada hati yang sedang mati-matian meyakinkan diri bahwa membenci Arslan adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan hidup.