NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Kontrak di Ruang Kedap Suara

Malam itu, langit di atas kota seolah ikut berduka. Gerimis tipis turun, membuat udara semakin menggigit tulang. Kella melangkah masuk ke pintu belakang Amai Memories dengan tubuh yang masih sedikit gemetar. Jaket kulit milik Gala yang berat dan beraroma maskulin itu tersampir di lengannya. Ia ingin membuangnya ke tempat sampah, namun ia tahu, membuang barang milik Gala sama saja dengan menggali liang lahatnya sendiri.

"Kella? Astaga, kamu kenapa basah kuyup begini?" Kak Sisca menghampirinya dengan raut cemas.

"cuman kena hujan di jalan, Kak," bohong Kella dengan suara serak. Ia segera menuju loker, mengganti seragam sekolahnya yang lembap dengan gaun maid hitam-putih.

Saat memoles wajahnya di depan cermin, Kella berhenti sejenak pada bagian bibirnya. Ia teringat ancaman Gala di sekolah tadi. Gue belum puas liat lo pakai baju renda-renda itu. Kalimat itu menghantuinya. Kella tahu, Amai Memories bukan sekadar kafe tempat orang minum kopi

Di lantai dua, terdapat fasilitas yang jauh lebih privat, ruang-ruang bertema yang bisa disewa pelanggan untuk mendapatkan layanan pendampingan eksklusif.

Hanya sekadar teman mengobrol, teman makan, atau pendengar curhat. Tidak boleh ada kontak fisik berlebih, itu aturan mutlak. Namun, bagi Kella, masuk ke ruangan-ruangan itu selalu terasa seperti masuk ke dalam kandang singa.

"Kella," Kak Sisca mengetuk pintu ruang ganti lagi. Suaranya terdengar tidak enak hati. "Ada pelanggan VVIP yang memesan layanan pendampingan di Kamar Sakura. Dia... dia secara spesifik minta kamu. Namanya tidak disebutkan, tapi dia sudah membayar deposit sepuluh kali lipat dari tarif biasanya."

Jantung Kella berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Sepuluh kali lipat? Hanya ada satu orang yang cukup gila dan cukup kaya untuk melakukan itu.

"Siapa, Kak?" tanya Kella, meski ia sudah tahu jawabannya didalam otaknya.

"Dia bilang, 'Bilang sama si Bisu, majikannya udah datang'."

Kella memejamkan mata erat. Tangannya terkepal hingga kuku-kukunya memutih. Gala. Pria itu benar-benar tidak melepaskannya. Dengan langkah berat yang terasa seperti diseret, Kella menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Koridor lantai dua jauh lebih sunyi, dengan lampu remang-remang berwarna kuning hangat dan aroma dupa aromaterapi yang menenangkan—yang bagi Kella justru terasa menyesakkan.

Kella berhenti di depan pintu kayu jati bertuliskan "Sakura". Ia menarik napas panjang, merapikan celemek rendanya, lalu mengetuk pelan.

"Masuk," suara bass yang familier terdengar dari dalam.

Kella membuka pintu. Kamar itu cukup luas, beralaskan tatami dengan meja rendah di tengahnya. Di sudut ruangan terdapat sofa beludru yang nyaman. Gala duduk di sana, masih mengenakan seragam batiknya yang berantakan, tanpa jaket. Ia sedang menyesap teh hijau dengan gaya yang sangat santai, seolah-olah ruangan ini adalah ruang tamu pribadinya.

Kella masuk dan berlutut di atas tatami, menjaga jarak yang cukup jauh. "Selamat datang kembali, Tuan. Apa yang bisa saya bantu di layanan privat ini?"

Gala menatapnya lama. Matanya menyusuri sosok Kella yang kini tampil sempurna sebagai seorang maid. Rambut yang tertata, senyum yang dipaksakan, dan aroma sabun yang kembali menyeruak. "Ternyata bener. Lo kelihatan beda banget kalau lagi 'berperan'. Di sekolah kayak mayat, di sini kayak boneka mahal."

Gala berdiri, melangkah mendekat hingga.

bayangannya menutupi tubuh mungil Kella. "Gue sewa ruangan ini selama tiga jam. Artinya, selama tiga jam ke depan, lo adalah milik gue. Lo nggak boleh keluar, dan lo harus lakuin apa pun yang gue suruh."

"Peraturannya hanya untuk menemani mengobrol dan makan, Tuan," sela Kella dengan nada datar namun tegas.

Gala terkekeh, suara tawanya terdengar meremehkan di ruangan yang kedap suara itu. "Gue tahu aturannya, Kella. Gue nggak tertarik nyentuh lo. Gue cuma mau... kebenaran."

Gala duduk kembali di meja rendah, tepat di hadapan Kella. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kenapa lo kerja di sini? Uang jajan lo kurang? Atau lo emang suka pake baju kayak gini?"

"Aku butuh uang untuk sekolah dan makan. aku tidak punya siapa-siapa," jawab Kella jujur, karena ia tahu berbohong pada Gala adalah sia-sia.

"Anak yatim piatu yang malang," gumam Gala, meski nadanya tidak terdengar tulus. "Terus, siapa Gabriel? Kenapa wajah gue bisa bikin lo nangis kayak orang gila kemarin?"

Pertanyaan itu membuat pertahanan Kella goyah. Ia menundukkan kepala, memandang jemarinya yang masih terbalut perban. "Dia... seseorang dari masa lalu aku. Dia sudah meninggal."

Gala terdiam sejenak. Ada kilatan aneh di matanya—mungkin sedikit rasa terkejut, namun segera tertutup oleh keangkuhannya. "Dia pacar lo?"

"Dia segalanya bagi aku."

Jawaban itu entah mengapa membuat Gala merasa tersinggung. Ia merasa harga dirinya terluka saat mengetahui bahwa emosi yang ditunjukkan Kella kemarin bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk sebuah bayangan dari masa lalu.

"Segalanya, huh?" Gala berdiri lagi, kali ini ia berjalan memutari Kella. "Tapi dia udah mati. Dan sekarang, yang ada di depan lo adalah gue. Gala. Orang yang bisa bikin lo dikeluarkan dari sekolah ini besok pagi, atau orang yang bisa bikin kafe ini bangkrut dalam semalam."

Gala berhenti tepat di belakang Kella. Ia menunduk, berbisik di dekat telinga gadis itu. "Gue mau bikin penawaran. Satu kesepakatan yang bakal menguntungkan buat lo yang miskin ini."

Kella menoleh sedikit, waspada. "Kesepakatan apa?"

"Jadilah asisten pribadi gue di sekolah. Bawain tas gue, kerjain tugas gue, dan yang paling penting... lo harus ada kapan pun gue panggil. Sebagai imbalannya, gue bakal tutup mulut soal kerjaan sampingan lo ini. Dan gue bakal mastiin Reno atau anak-anak lain nggak bakal nyentuh lo lagi. Gimana? Adil, kan?"

Kella terdiam. Ini adalah kontrak dengan iblis. Jika ia setuju, ia akan menjadi budak Gala sepenuhnya. Namun jika ia menolak, ia akan kehilangan segalanya. Pekerjaannya, masa depannya, impiannya untuk kuliah.

"Kenapa harus aku? Ada banyak orang yang mau melakukan itu untukmu," tanya Kella lirih.

Gala tersenyum lebar, senyuman yang terlihat sangat mirip dengan Gabriel saat sedang usil, membuat dada Kella sesak. "Karena lo menarik, Kella. Karena cuma lo yang berani natap gue pake mata sayu itu seolah-olah gue nggak ada harganya. Gue mau liat... berapa lama lo bisa bertahan."

Kella menarik napas panjang. Ia tidak punya pilihan. Dunia ini memang tidak pernah adil bagi orang seperti dia. Uang dan kekuasaan adalah hukum tertinggi, dan saat ini, Gala adalah pemegang hukum itu.

"iya. aku setuju," ucap Kella pelan.

"Pilihan yang cerdas," Gala merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam emas. "Mulai besok, lo berangkat sekolah bareng gue. Gue jemput di halte depan gang lo jam tujuh pagi. Telat satu menit, rahasia lo jadi konsumsi publik."

Gala melangkah menuju pintu, namun sebelum keluar, ia menoleh kembali. "Ah, satu lagi. Karena gue udah sewa ruangan ini tiga jam, lo tetap di sini. Jangan keluar sampai waktu sewa habis. Gue mau lo duduk di sini, sendirian, dan pikirin gimana cara lo melayani gue besok. Anggap aja ini latihan pertama."

Klik.

Pintu tertutup dan terkunci dari luar. Kella terduduk lemas di atas tatami. Ruangan VVIP yang mewah itu tiba-tiba terasa seperti penjara yang paling sempit. Ia menatap dinding yang kedap suara, menyadari bahwa mulai besok, suaranya—perlawanannya—benar-benar tidak akan terdengar oleh siapa pun.

Ia sendirian di ruang Sakura itu, ditemani oleh wangi dupa yang mulai memuakkan dan bayangan Gabriel yang perlahan-lahan mulai memudar, digantikan oleh bayang-bayang Gala yang mengintimidasi.

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!