___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 28
Senin pagi yang menyebalkan dimulai dengan pergulatan di balik selimut king size. Alarm sudah menjerit sejak sepuluh menit lalu, tapi Aiden seolah menulikan telinga. Alih-alih bangun, cowok itu malah makin erat melingkarkan lengannya di pinggang Vanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Kak... bangun... senin.. Upacara bendera, Kak Aiden!" rengek Vanya sambil berusaha ngelepasin tangan Aiden yang kayak borgol.
"Bentar... bareng. Mandi bareng," gumam Aiden dengan suara serak, makin nempelin bibirnya ke kulit leher Vanya.
"GAK MAU! Ihhh, Kak Aiden mah! Lepas nggak?" Vanya mulai meronta, kakinya nendang-nendang asal di balik selimut.
"Hiks... Mamaaa! Kak Aiden nakal banget, Vanya nggak bisa napas! Hiks..."
Tangisan manja Vanya akhirnya bikin Aiden nyerah.
Dia nggak tega denger istrinya udah mulai sesenggukan meskipun dia tau itu cuma jurus andalan Vanya biar dilepasin. Aiden ngelonggarin pelukannya sambil ngedengus kesel.
"Ya udah sana mandi. Pelit banget sama suami sendiri."
Vanya nggak nunggu dua kali.
Dia langsung loncat dari kasur dan lari ke kamar mandi luar sambil bawa handuk.
"Wlee! Mandi aja sendiri sana sama bebek karet!" teriaknya dari kejauhan.
Setelah sarapan kilat dengan roti bakar selai kacang, mereka berangkat bareng. Sampai di parkiran sekolah yang udah penuh, Vanya langsung ngibrit ke kelasnya.
Di sana, Elsa udah duduk manis sambil ngerapiin topi upacaranya.
"Woy, Vanya...,Telat dikit lagi lo jadi penunggu gerbang," sapa Elsa semangat.
Vanya duduk sambil ngos-ngosan.
"Gara-gara Kak Aiden tuh, manja banget kayak balita."
Pas mereka jalan bareng menuju lapangan, mata Elsa yang setajam silet mendadak berhenti di leher samping Vanya. Elsa langsung narik kerah seragam Vanya sampe temennya itu kaget.
"Anjay..., Vanya! Ini apa?" bisik Elsa heboh.
"Brutal parah ya semalem? Ini mah bukan gigitan nyamuk,Gimana rasanya? Enak gak? Pake gaya apa lo berdua?"
Vanya langsung nutupin lehernya pake rambut yang diurai.
"Apaan sih, Sa...!Enggak ya Itu... itu gue alergi taukk! Jangan mulai deh!"
"Alergi kok bentuknya mirip bibir,"
ejek Elsa sambil ketawa jahat.
Lagi asyik ngegosip sambil jalan santai, tiba-tiba suara menggelegar dari arah kantor guru bikin mereka berdua loncat.
"GABRIELLA! ELSA! MAU JALAN SANTAI ATAU SAYA JEMUR DI LAPANGAN?!" teriak Bu Agniya, guru IPA paling galak yang terkenal suka bawa penggaris kayu panjang.
"ASTAGA BU AGNIYA! KABURRR!" teriak Elsa. Mereka berdua langsung lari tunggang langgang menuju barisan upacara sambil ketawa-ketawa nggak jelas, takut kena omel lebih parah.
Upacara bendera berjalan ngebosenin kayak biasanya. Panas matahari bikin Vanya makin ngerasa badannya lemes, apalagi asupannya tadi malem diambil Aiden lebih banyak dari biasanya. Setelah bubar, mereka balik ke kelas buat ngerjain soal Matematika Pak Bambang yang udah menanti di papan tulis.
"Sa, laper banget... ke kantin yuk habis ini," ajak Vanya sambil coret-coret buku.
"Ogah ah, kantin pasti penuh sesak. Mending ke belakang sekolah, ada pohon rambutan di deket gudang olahraga lagi berbuah lebat banget," usul Elsa.
Pas bel istirahat bunyi, mereka beneran nyelinap ke belakang sekolah. Benar aja, ada pohon rambutan yang buahnya merah-merah banget dan udah mateng. Mata Vanya langsung berbinar-binar, dia langsung lari ke bawah pohon itu kayak anak kecil.
"Waaaa! Rambutannya banyak banget! Sa, petikin dong! Aku mau yang itu, yang paling merah!" seru Vanya sambil nunjuk-nunjuk dahan yang agak tinggi.
Elsa ngeliatin Vanya dengan tatapan penuh selidik. Dia inget Vanya tadi pagi ngerasa lemes, terus sekarang pengen banget buah yang asem-manis secara tiba-tiba.
"Van... lo nggak lagi ngidam kan?" tanya Elsa hati-hati.
"Ngidam pala lo peyang Gwehh cuma pengen makan buah, gerah taukk!" semprot Vanya manja.
"Cepetan petikin atau gwehh laporin Kak Aiden nih!"
"Iya, iya, dasar bumil!" Elsa mulai berusaha ngegapai dahan, sementara Vanya udah siap nampung di bawah.
Tanpa mereka sadari, dari arah kejauhan, ada sepasang mata yang merhatiin mereka. Aiden, yang lagi patroli bareng Bagas, cuma bisa geleng-geleng kepala liat istrinya lagi nungguin rambutan jatuh kayak bocah TK.
"Bini lo tuh, Den. Ngidam kayaknya," goda Bagas sambil nyenggol bahu Aiden.
Aiden nggak jawab, tapi kakinya langsung melangkah menuju arah pohon itu.
"Vanya, turunin bajunya. Perut lo keliatan kalau lo jingjit gitu,"
suara dingin Aiden bikin Vanya kaget setengah mati sampe hampir jatoh.