Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pagi hari Minggu datang dengan sinar matahari yang cerah, seolah ikut merayakan hari istimewa bagi dua anak kembar yang sudah tak sabar sejak beberapa hari lalu. Langit biru tanpa awan tebal, udara segar masuk melalui jendela kontrakan sederhana yang kini terasa hangat dan penuh kehidupan.
Di ruang tengah, Fattan dan Fattah sudah bangun sejak subuh. Mereka mondar-mandir sambil mengenakan kaus baru yang semalam disiapkan Kayla, kaus polos biru dan hijau yang sudah disetrika rapi.
“Kak, hari ini kita benar-benar main, kan?” tanya Fattan dengan mata berbinar.
“Iya, Kak?” sambung Fattah, menatap Kayla penuh harap.
Kayla tersenyum tipis sambil menata rambut Nayla yang masih setengah mengantuk. “Iya, kita akan main. Tapi jangan rewel, ya. Kita main secukupnya,” jawab Kayla lembut.
Dalam hatinya, ada rasa sesak yang tak bisa Kayla sembunyikan sepenuhnya. Ia ingin memberi lebih untuk adik-adiknya, seperti pesta kecil, kue ulang tahun besar, hadiah yang mereka impikan. Namun, ia hanya bisa mengajak mereka ke Timezone dan makan fried chicken setelahnya. Itu pun sudah menguras sebagian besar uangnya.
Saat Kayla hendak menyiapkan sarapan sederhana, ketukan di pintu terdengar. Kayla mengernyit.
“Siapa yang datang sepagi ini?”
Kayla membuka pintu dan matanya langsung membelalak. Di depan pintu berdiri Ashabi, mengenakan kemeja lengan panjang kasual dan celana panjang hitam. Di tangannya ada dua kotak besar terbungkus kertas kado berwarna biru dan hijau, serta sebuah tas besar berlogo toko elektronik.
“Selamat ulang tahun, jagoan kecil!” seru Ashabi sambil tersenyum lebar ke arah Fattan dan Fattah yang langsung berlari ke pintu.
“OM ABI!” teriak mereka serempak, nyaris menabrak Kayla saking girangnya.
Ashabi tertawa kecil, lalu berjongkok setinggi mereka. “Ini untuk kalian,” katanya sambil menyerahkan dua kotak kado.
Fattan dan Fattah saling berpandangan, lalu membuka bungkusnya dengan penuh semangat.
“Aaa! Ponsel!” teriak Fattan terperangah.
“Notebook!” seru Fattah hampir melompat kegirangan.
Kayla berdiri mematung di ambang pintu, tangannya tanpa sadar menutup mulutnya. Dadanya terasa sesak, matanya mulai berkaca-kaca.
“Abi, ke-napa ka-mu ...,” ucap Kayla terbata.
Ashabi menoleh padanya, suaranya lebih lembut. “Bukan untuk main-main saja. Ini untuk belajar. Biar mereka bisa ikut kelas daring, nonton video mengaji, dan belajar.”
Fattan memeluk ponselnya erat-erat. “Kak, lihat! Om Abi kasih aku ponsel!”
Fattah tak kalah heboh, membuka notebook dengan hati-hati seolah takut rusak.
“Ini bisa buat aku ngerjain tugas, Kak!”
Nayla menarik ujung gamis Kayla. “Kak, Om Abi baik, ya?”
Air mata Kayla akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menoleh, berpura-pura sibuk mengusap sudut matanya. “Ya Allah, aku tidak bisa membelikan kalian kado sebesar ini, untuk adik-adikku,” bisiknya dalam hati.
Ashabi melihat reaksi itu. Tanpa berkata apa-apa, ia berdiri di samping Kayla.
“Jangan menangis,” katanya pelan. “Kamu sudah melakukan lebih dari cukup untuk mereka.”
Kayla mengangguk, menunduk dalam-dalam.
“Kalian sudah pada ganteng dan cantik,” puji Ashabi. “Pada mau ke mana?”
“Mau main ke Timezone, Om!” jawab ketiganya serempak.
“Sebelum pergi main, kita sarapan dulu, ya,” kata Ashabi dan disambut gembira oleh ketiga anak kecil itu.
Setelah itu, mereka pun berangkat ke Timezone. Tawa Fattan, Fattah, dan Nayla memenuhi mobil Ashabi sepanjang perjalanan. Mereka bermain, berlari, tertawa, dan menikmati setiap detik seolah dunia hanya milik mereka hari itu.
Kayla mengamati dari bangku samping, senyumnya merekah, tetapi hatinya bergetar haru.
Setelah puas bermain, mereka makan fried chicken bersama. Tiga anak itu makan dengan lahap, wajah mereka belepotan saus, tetapi penuh kebahagiaan.
“Mau ke mana lagi?” tanya Ashabi tersenyum tipis. Seharian ini dia ikut menikmati kegiatan ketiga anak itu.
“Sebaiknya kita pulang. Besok anak-anak harus sekolah,” jawab Kayla dan ketiga adiknya mengangguk.
“Apa kalian senang hari ini?” tanya Ashabi lagi kepada Fattan, Fattah, dan Nayla.
“Senang!” jawab Nayla dengan nada riang.
“Ini hari terbaik!” kata Fattan sambil menggigit ayamnya besar-besar.
“Pokoknya hari ini kita semua bahagia,” lanjut Fattah.
Kayla menatap mereka satu per satu, hatinya terasa hangat dan perih bersamaan.
***
Keesokan harinya di rumah Pak Ramlan, ramai oleh aktivitas menjelang makan siang. Kayla banyak masak menu makanan karena semua orang akan makan di rumah.
“Kayla, kalau sudah menata semua makanan di meja makan, tolong buatkan teh tawar, ya!” titah Bu Aisyah.
"Baik, Bu,” balas Kayla.
Sebuah mobil mewah berhenti di halaman. Pintu terbuka, dan Zahira turun dengan anggun, mengenakan gamis panjang sederhana tetapi elegan. Di tangannya, ia membawa beberapa kotak makanan yang tampak mahal dan tersusun rapi.
Bu Aisyah menyambutnya dengan senyum sopan. “Zahira, kamu datang lagi?” ucapnya ramah.
“Iya, Tante. Kebetulan lewat, jadi sekalian mampir. Saya bawa makanan untuk makan siang,” jawab Zahira dengan nada manis.
Tak lama kemudian, Ashabi dan Dalfa datang hampir bersamaan dengan kendaraan masing-masing. Dalfa naik mobil sport mewah miliknya, sementara Ashabi naik motor bebek miliknya.
Ashabi terlihat sedikit terkejut melihat Zahira, tetapi ia tetap bersikap tenang. Dalfa, seperti biasa, masuk dengan langkah tegas dan wajah datar.
Mereka duduk di meja makan. Kayla, seperti biasa, berada di dapur untuk membantu menyajikan makanan. Dari balik pintu dapur, Zahira diam-diam memperhatikan. Matanya menangkap sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman.
Ashabi beberapa kali melirik ke arah dapur, tepatnya ke arah Kayla. Dia merasa tenang jika wanita dalam keadaan baik.
Dalfa juga. Meski wajahnya dingin, tatapannya sempat tertahan lebih lama dari seharusnya ketika Kayla muncul sebentar untuk meletakkan piring di meja.
Zahira menggenggam gelas airnya lebih erat. Dalam hatinya, ada perasaan cemburu yang mulai merayap.
Setelah makan, Zahira sengaja berjalan ke dapur. Kayla sedang mencuci piring, lengan bajunya digulung, wajahnya fokus pada pekerjaannya. Zahira berdiri di ambang pintu, menatapnya lekat-lekat.
“Kayla, ya?” panggil Zahira.
Kayla menoleh, sedikit terkejut. “Iya, Bu. E, maksud saya, Mbak.”
Zahira tersenyum tipis, tetapi matanya tajam. “Kamu sudah lama kerja di sini?”
“Baru tiga bulan lebih, Mbak,” jawab Kayla sopan.
Zahira mendekat, berdiri tidak jauh darinya. “Kamu dekat dengan Abi?” tanyanya tiba-tiba.
Kayla tersentak, hampir menjatuhkan piring. “A-aku … aku hanya bekerja di sini,” jawabnya gugup.
Zahira mengamati wajah Kayla, matanya menyelidik. Dalam hatinya, ia yakin Kayla menaruh hati pada Ashabi. Ia bisa melihatnya dari cara perempuan itu salah tingkah, dari sorot matanya yang berubah setiap kali nama Ashabi disebut.
Zahira tersenyum, tetapi senyum itu dingin. “Semoga kamu tahu batasanmu,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Kayla menunduk, dadanya berdebar kencang.
Di ruang makan, Ashabi berdiri di dekat jendela, merasa ada yang tidak beres. Tanpa sadar, ia menoleh ke arah dapur.
Sementara itu, Dalfa duduk di kursinya, menatap ponselnya, tetapi pikirannya justru melayang pada mata amber Kayla.
***
up LG Thor