Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Minta Maaf
Krisna tidak menyangka itu yang Raisa tangkap dari ucapannya. Untuk pertama kalinya sejak mereka berinteraksi, ia kehabisan kata.
Raisa tidak menunggu jawaban.
Dengan gerakan cepat dan tegas, ia memindahkan baby Ezio ke pelukan Krisna.
“Nih,” katanya dingin. “Urus anakmu sendiri. Enak aja main pakai nyuruh-nyuruh segala. Saya ini cuma gantiin kerjaan ibu saja! Bukannya ngurus Ezio!”
Krisna refleks menerima baby Ezio, sedikit terkejut.
Raisa melangkah mundur satu langkah, menatap Krisna dengan mata tajam. “Dan soal kaca mobil itu,” lanjutnya, suaranya mantap meski dadanya bergetar, “bakal saya ganti. Tapi tunggu sampai saya punya uang.”
Ia menunduk singkat—bukan hormat, lebih seperti penutup.
“Permisi, Dokter Krisna yang terhormat!”
Dan tanpa menunggu respons, Raisa berbalik menuruni tangga dengan langkah cepat.
“Kamu—” Krisna tersentak. “Tunggu!”
Namun terlambat.
Tangisan baby Ezio mendadak pecah.
Lagi.
Krisna membeku di anak tangga, menggendong Noval yang kembali merengek keras. Bayi itu menggeliat, tangannya terangkat, suaranya menggema di lorong lantai atas.
“Lho,” Krisna panik kecil. “Kenapa lagi?”
Ia mengayun, menepuk punggung baby Ezio. “Ssst … sst .…”
Tangisan justru semakin keras.
Dari bawah, Bu Lita berlari kecil menaiki tangga. “Ada apa? Ezio kenapa?”
Krisna menggeleng frustrasi. “Aku nggak tahu.”
Bu Lita mendekat, menatap wajah cucunya yang merah. “Kok bisa nangis lagi? Tadi anteng sama Raisa.”
Nama itu membuat Krisna terdiam.
Bu Lita menatap wajah anaknya, membaca ekspresi yang jarang ia lihat—kebingungan, kesal, dan … sedikit terguncang.
“Krisna,” kata Bu Lita pelan tapi tajam, “kamu ngomong apa sama Raisa?”
Krisna mengalihkan pandang. “Nggak ngomong apa-apa, Bu.”
Bu Lita menatapnya lama. “Ibu dengar nada suara kamu berbeda.”
Krisna mengatupkan rahang. “Ibu nggak ngerti.”
Bu Lita mendesah. “Justru Ibu ngerti. Kamu lagi menjaga emosimu. Kamu lagi takut kehilangan kendali atas sikapmu sendiri. Mau sampai kapan kamu kayak begini, Krisna?”
Tangisan baby Ezio semakin kencang, seolah menuntut sesuatu yang tidak bisa diberikan Krisna dengan logika.
Sementara itu, di lantai bawah—
Raisa berhenti di dekat dapur, dadanya naik turun. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang meledak tanpa ia rencanakan.
Anak pembantu.
Kata-kata itu menggema di kepalanya, meski Krisna tidak mengucapkannya secara langsung. Tapi maknanya terasa nyata.
Bik Sum menghampirinya. “Raisa? Kamu kenapa?”
Raisa menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Bik. Saya lanjut bantu-bantu ya, Bik.”
Tapi matanya merah.
Dari lantai atas, tangisan baby Ezio terdengar jelas.
Raisa memejamkan mata sesaat.
Bukan urusanku, katanya pada diri sendiri. Tapi, hatinya nggak tegaan. Ia nggak bisa lihat anak bayi menangis.
Namun kakinya terasa berat.
Bu Lita turun tangga sambil menggendong baby Ezio yang masih menangis. Begitu melihat Raisa berdiri di dekat dapur, matanya langsung tertuju padanya.
Raisa refleks menunduk. “Bu … maaf. Saya—”
Bu Lita tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Ia melangkah mendekat dan—tanpa banyak bicara—menyerahkan Ezio ke pelukan Raisa.
“Pegang sebentar,” katanya tegas.
Raisa terkejut. “Bu—”
Begitu baby Ezio berpindah tangan. Tangisan berhenti. Seperti sakelar yang dimatikan. Semua yang ada di dapur terdiam.
Raisa menelan ludah, tangannya refleks menopang kepala baby dengan lembut. “Eh … sudah, sudah,” bisiknya. “Kok Dede jadi rewel begini. Maafin Kakak ya.”
Baby Ezio mendengus kecil, lalu menempel nyaman.
Bu Lita menatap pemandangan itu lama. Lalu menoleh ke arah tangga, ke arah Krisna yang berdiri kaku di atas.
“Krisna,” panggil Bu Lita dengan suara yang tidak bisa dibantah, “turun.”
Krisna turun pelan, wajahnya tegang.
Bu Lita menatap anaknya lurus-lurus. “Lihat baik-baik.”
Krisna melihat.
Melihat anaknya tenang di pelukan Raisa. Melihat gadis itu berdiri kaku tapi tetap lembut. Melihat jarak sosial, jarak emosi, jarak ego—semuanya runtuh oleh kenyataan sederhana: bayinya merasa aman.
“Kamu tadi keterlaluan,” kata Bu Lita tanpa basa-basi.
Krisna membuka mulut, tapi Bu Lita mengangkat tangan. “Ibu tidak mau dengar alasan apa pun!”
Raisa menunduk. “Bu, saya nggak apa-apa kok.”
Bu Lita menoleh padanya, suaranya melunak. “Ibu tahu kamu bukan pembantu di sini hari ini. Kamu bantu-bantu di sini karena ibumu sakit. Dan Ibu sangat berterima kasih.”
Raisa menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang menghangat di dada.
Bu Lita kembali menatap Krisna. “Dan kamu,” katanya tajam, “kalau mau jadi ayah yang baik, kamu harus belajar merendahkan egomu dulu.”
Krisna terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kalah.
Bukan oleh Raisa.
Bukan oleh ibunya.
Tapi oleh kenyataan bahwa ia telah melukai seseorang yang seharusnya ia hormati—dan ia membutuhkannya lebih dari yang ia mau akui.
Raisa menghela napas pelan. “Bu, kalau sudah, saya balik ke dapur aja.” Ia ingin menghindari keributan yang terjadi.
Bu Lita menggeleng. “Nanti dulu Raisa.”
Ia menatap Krisna. “Krisna. Minta maaf.”
Satu kata.
Berat.
Krisna menatap Raisa. Gadis itu menghindari tatapannya, fokus pada baby Ezio.
Ia menarik napas panjang, dengan hatinya yang berbisik, “Andaikan nggak ada Ibu, sudah aku—“
“Raisa,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, tidak setajam, “maaf.”
Satu kata itu jatuh canggung.
Raisa tidak langsung menjawab.
Ia menatap baby Ezio sebentar, lalu mengangkat wajahnya. Tatapannya masih dingin, tapi tidak sekeras tadi.
“Saya terima,” katanya pelan. “Tapi jangan ulangi.”
Krisna mengangguk. “Mmm ... saya janji.” Suaranya begitu pelan, seakan belum yakin pada dirinya sendiri. Dan, untuk pertama kalinya ia kalah dengan seorang gadis. Padahal, ia tak akan mau menunduk pada perempuan mana pun kecuali mantan istrinya yang pernah ia cintai.
Di antara mereka, baby tertidur.
Dan di dalam rumah besar itu, untuk pertama kalinya, kekuasaan tidak lagi berbicara paling keras.
Yang berbicara adalah kejujuran—dan luka yang mulai saling terlihat.
“Issh ... kenapa aku jadi begini. Bisa-bisanya aku minta maaf sama dia,” batin Krisna bingung sendiri.
Bersambung ... ✍️
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊