NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 Berproses

"Jalani saja setiap prosesnya, apapun itu hasilnya. Serahkan saja pada-Nya."

—Reina Athariz—

Malam jatuh perlahan, membawa sunyi yang tak pernah benar-benar kosong. Di sebuah kamar yang rapi dan bersih, Aldivano duduk sendirian. Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan samar pada dinding. Tidak ada suara, selain detak jam dan napasnya sendiri yang sesekali terdengar berat.

Ia baru saja menunaikan salat Isya. Sajadah masih terhampar, belum dilipat. Aldivano belum sanggup beranjak. Ada doa yang telah terucap, namun belum selesai bergaung di hatinya.

Nama itu kembali hadir.

Celine.

Sejak hari akad itu, nama tersebut menjadi doa yang tak pernah benar-benar berhenti. Ia menyebutnya tanpa suara, menyimpannya tanpa tuntutan, mencintainya tanpa ingin dimiliki secara utuh—setidaknya untuk sekarang.

Aldivano menatap kosong ke arah jendela. Di luar sana, dunia tetap berjalan seperti biasa. Lampu jalan menyala. Kendaraan berlalu-lalang. Orang-orang tertawa, pulang, dan beristirahat dengan kehidupan mereka masing-masing. Tak satu pun tahu, bahwa di balik dinding kamar itu, ada seorang lelaki yang telah sah menjadi suami—namun belum bisa berdiri di sisi istrinya.

Ia tidak menyesal. Tidak pernah.

Namun gelisah—itu ada.

Bukan gelisah karena ragu pada keputusan. Melainkan gelisah karena cinta yang harus dikendalikan. Karena rindu yang tak boleh sembarang diucapkan. Karena hak yang sah, namun belum boleh disentuh.

Ponselnya tergeletak di meja. Nama Celine ada di sana. Kontak yang sama, percakapan yang biasa, sapaan yang tetap sederhana. Tidak ada yang berubah di layar itu. Padahal segalanya telah berubah di baliknya.

“Ya Allah…” gumamnya pelan.

Ia bersandar ke kursi, menutup mata.

Jika ini jalan-Mu, kuatkan aku untuk menjalaninya tanpa keluh.

Aldivano tahu, mencintai dengan cara seperti ini tidak akan dipahami oleh semua orang. Ada yang menyebutnya bodoh. Ada yang menganggapnya berlebihan. Namun baginya, inilah bentuk cinta paling jujur yang bisa ia lakukan—menjaga sebelum memiliki sepenuhnya.

Pintu kamar diketuk pelan.

“Masuk,” ucapnya.

Reina melangkah masuk. Wajah sepupunya itu terlihat lelah. Bukan karena aktivitas, tapi karena beban yang tak kasatmata.

“Kamu belum tidur?” tanya Reina.

Aldivano tersenyum tipis. “Belum ngantuk.”

Reina duduk di tepi ranjang. Ia menatap Aldivano cukup lama, seolah ingin memastikan sesuatu.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.

Aldivano mengangguk. “Aku baik.”

Reina menunduk. “Aku bohong kalau bilang aku tenang.”

Aldivano paham. Ia tidak menyela.

“Aku lihat Celine hari ini,” lanjut Reina. “Dia tertawa. Bahagia.”

Aldivano menghela napas pelan. “Syukurlah.”

“Kamu tidak cemburu?”

Aldivano tersenyum, kali ini lebih tipis. “Cemburu itu wajar. Tapi aku tidak ingin perasaanku menjadi beban untuknya.”

Reina menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu tahu kan… aku sering merasa bersalah.”

“Aku tahu,” jawab Aldivano lembut. “Tapi ini bukan kesalahanmu.”

Ia bangkit, melipat sajadah perlahan.

“Reina, kalau suatu hari Celine tahu dan marah… jangan salahkan dirimu sendiri.”

Reina menggigit bibir. “Dan kalau dia membencimu?”

Aldivano terdiam sesaat.

“Kalau itu harga dari ketenangan hatinya hari ini, aku rela.”

Kalimat itu jatuh pelan, namun berat.

***

Awalnya hanya perasaan kecil. Hampir tak berarti.

Celine mulai menyadari, ada hal-hal yang terasa berbeda. Tatapan orang tuanya yang terlalu lama. Cara Calvin memperhatikannya lebih sering. Dan Aldivano—yang entah sejak kapan menjadi lebih tenang, lebih menjaga jarak, namun juga… lebih perhatian.

Bukan perhatian yang berlebihan. Justru sebaliknya. Terlalu tertib. Terlalu terkontrol.

Suatu sore, Celine duduk di ruang tamu bersama Aldivano. Hanya mereka berdua. Sunyi terasa canggung.

“Mas Aldi,” ucap Celine tiba-tiba.

“Iya?” Aldivano menoleh.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini beda?”

Aldivano terdiam sejenak. “Beda bagaimana?”

Celine mengernyit. “Kamu kayak… jauh.”

Aldivano menunduk. “Mungkin kamu capek.”

Celine menggeleng. “Aku mengenalmu cukup lama untuk tahu kalau ada yang kamu sembunyikan.”

Jantung Aldivano berdegup lebih cepat. Namun wajahnya tetap tenang.

“Aku hanya ingin kamu fokus,” jawabnya akhirnya.

Jawaban itu tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya menjawab.

Malam itu, Celine terbangun dari tidurnya dengan dada berdebar. Ada mimpi aneh. Tentang janji. Tentang tangan yang digenggam tanpa wajah yang jelas.

Ia duduk, memeluk lututnya.

Kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang luput dariku?

Hari demi hari, kejanggalan itu tumbuh perlahan. Bukan sebagai kecurigaan, tapi sebagai firasat.

Dan di saat yang sama, Aldivano terus berdoa agar ketika kebenaran itu tiba, hati Celine cukup kuat untuk menerimanya.

Karena cinta sejatinya bukan tentang memiliki lebih dulu—melainkan tentang menjaga sampai waktunya tiba.

***

Riuh itu datang seperti gelombang.

Berisik. Menggelegar. Tidak memberi ruang bagi sunyi.

Sorak sorai suporter saling bertabrakan di udara malam. Teriakan nama rider, dentuman musik, dan suara mesin yang dipanaskan membaur menjadi satu. Lampu-lampu besar menyinari lintasan aspal, memantulkan kilau tajam yang membuat arena balap tampak seperti dunia lain—dunia yang hidup dari adrenalin dan keberanian.

Di antara kerumunan, seorang gadis melangkah turun ke arena.

Celine.

Langkahnya mantap, meski wajahnya menyimpan raut gugup yang samar. Jaket tipis melekat di tubuhnya, rambutnya terikat rapi, namun sorot matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar. Ia tidak turun sebagai rider. Tidak pula sebagai pendukung salah satu tim. Ia hanya ingin merasakan atmosfernya—sekadar melihat, sekadar ada.

Namun kehadirannya cukup untuk mengubah banyak hal.

Di tempat lain, jauh dari sorot lampu arena, Aldivano baru saja menerima kabar itu.

“Celine di arena balap.”

Kalimat singkat dari Calvin itu membuat tangannya yang tengah memegang kunci motor menegang seketika. Dadanya terasa dipukul keras oleh sesuatu yang tak terlihat. Bukan cemburu semata—lebih dari itu. Ada rasa takut yang selama ini ia tekan rapat-rapat, kini muncul tanpa izin.

Arena balap bukan tempat yang aman.

Tidak untuk Celine.

Wajah Aldivano mengeras. Rahangnya mengatup kuat. Dalam sekejap, ketenangannya runtuh, berganti dengan kegelisahan yang berdenyut cepat.

“Di mana tepatnya?” tanyanya, suaranya rendah namun penuh tekanan.

“Lintasan utama,” jawab Calvin santai di seberang sana. “Tenang. Aku di sana.”

Namun bagi Aldivano, kata tenang tak lagi memiliki arti.

Ia menutup panggilan, meraih helm, dan tanpa berpikir panjang—tancap gas.

Motor besar itu melaju membelah jalanan malam. Angin menerpa keras wajahnya, lampu-lampu kota berpendar menjadi garis-garis panjang. Aldivano memacu kecepatan tanpa ragu, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Celine.

Kenapa kamu ada di sana…

Ia tidak marah padanya. Tidak pernah. Yang ada hanyalah ketakutan yang bercampur dengan naluri melindungi—naluri yang kini terasa terlalu kuat untuk diabaikan.

Begitu memasuki area arena, suara riuh menyambutnya seperti badai. Aldivano langsung mengarahkan motornya ke area rider. Tanpa basa-basi. Tanpa ragu.

Motor itu berhenti tepat di antara deretan kendaraan para rider. Mesin masih menyala, menggeram pelan, seolah mencerminkan isi dada pemiliknya.

Beberapa orang menoleh. Ada yang terkejut. Ada yang berbisik. Aura Aldivano terlalu kuat untuk diabaikan.

Celine yang tengah berdiri di pinggir lintasan menoleh refleks.

Dan seketika, matanya membesar.

“Aldivano…?” gumamnya hampir tak terdengar.

Ada kaget. Ada bingung. Ada sesuatu yang berdesir pelan di dadanya—perasaan yang sulit ia jelaskan, namun terasa nyata.

Di sisi lain, Calvin justru terlihat santai. Ia menyandarkan tubuh pada pembatas lintasan, melipat tangan, dan tersenyum kecil saat melihat Aldivano turun dari motor.

“Telat dikit,” katanya ringan.

Aldivano melepas helmnya dengan gerakan tegas. Wajahnya dingin. Tatapannya tajam. Namun begitu matanya menangkap sosok Celine—semua itu runtuh perlahan.

Tatapan itu berubah.

Melembut.

Menghangat.

Seperti es yang mencair tanpa suara.

Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya mantap, penuh keyakinan. Sorak sorai di sekeliling seolah memudar, menyisakan ruang sunyi di antara mereka berdua.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Aldivano, suaranya tertahan, tidak keras—tapi cukup untuk membuat Celine meneguk ludah.

“Cuma… lihat-lihat,” jawab Celine pelan. “Sama teman-teman.”

Aldivano menatap sekeliling. Lintasan. Kerumunan. Rider-rider yang bersiap. Dunia yang terlalu keras untuk seseorang seperti Celine.

“Kamu tahu ini berbahaya,” ucapnya.

Celine mengangguk kecil. “Aku nggak turun ke lintasan. Cuma nonton.”

Aldivano menghela napas panjang. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun semuanya tertahan di dada. Ia ingin melarang. Ingin menarik Celine pergi dari sana. Ingin memastikan gadis itu aman di tempat yang semestinya.

Namun ia ingat.

Ia harus menahan diri.

Calvin mendekat, menepuk bahu Aldivano pelan. “Santai. Aku di sini dari tadi.”

Aldivano meliriknya singkat. “Aku tahu.”

Celine memperhatikan interaksi itu dengan perasaan yang semakin aneh. Ada sesuatu yang berbeda. Cara Aldivano berdiri terlalu protektif. Tatapannya terlalu waspada. Sikapnya… terlalu peduli.

“Mas Aldi,” panggil Celine pelan.

“Iya?” Aldivano menoleh.

“Kamu marah?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun menghantam tepat di hatinya.

Aldivano menggeleng. “Tidak.”

“Terus kenapa kamu kelihatan…” Celine terdiam, mencari kata yang tepat. “…tegang?”

Aldivano menatapnya lama. Di tengah riuh arena, di antara cahaya lampu dan suara mesin, dunia terasa menyempit hanya pada mereka berdua.

“Karena aku khawatir,” jawabnya jujur.

Jawaban itu membuat Celine tercekat.

“Oh…”

Tidak ada kalimat lanjutan. Tidak ada penjelasan berlebihan. Tapi cukup untuk membuat dada Celine menghangat dengan cara yang aneh.

Di mata orang lain, Aldivano mungkin terlihat dingin. Menakutkan. Terlalu kaku. Namun bagi keluarganya—dan entah sejak kapan, bagi Celine juga—lelaki itu seperti kristal yang mencair saat disentuh dengan kejujuran.

Sorak sorai kembali menggema saat balapan dimulai. Mesin-mesin melesat, adrenalin memuncak. Namun Aldivano berdiri tepat di samping Celine, sedikit condong ke arahnya, seolah tubuhnya sendiri adalah perisai.

“Kamu mau pulang sekarang?” tanyanya lembut.

Celine menatap lintasan sebentar, lalu menoleh ke Aldivano.

“Kalau aku bilang mau nonton sebentar lagi?”

Aldivano terdiam. Lalu mengangguk. “Aku di sini.”

Kalimat itu sederhana. Tapi penuh makna.

Dan di bawah cahaya arena balap yang bising dan berisik itu, cinta yang belum sepenuhnya terungkap berdiri dalam diam—menjaga, menunggu, dan berharap.

Karena terkadang, cinta tidak perlu teriak paling keras.

Cukup hadir… tepat saat dibutuhkan.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!