"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
"Silakan Pak," kata Dexter setelah meletakkan secangkir kopi dan buku nikah di atas meja.
"Repot-repot saja," ucap pak kepala desa.
Dexter hanya tersenyum tipis. Kemudian pak kepala desa membuka buku nikah. Hanya melihat sebentar, kemudian menutupnya kembali.
"Maaf Nak ...."
"Dexter Pak," potong Dexter. "Saya tahu kekhawatiran Bapak. Bapak tenang saja, saya dan Kiandra resmi menikah secara hukum agama dan negara," tambah Dexter. "Walaupun dengan paksaan sih," batinnya kemudian.
"Sepertinya Nak Dexter bukan dari keluarga biasa, apa Nak Dexter seorang pengusaha?"
Dexter mengangguk. Dia menceritakan sedikit tentang dirinya. Tapi tidak menceritakan tentang keluarganya yang dari keluarga terpandang di negara ini.
Pak kepala desa manggut-manggut. Dia juga menceritakan tentang desa ini. Berkat bantuan dari Kiandra, desa ini mengalami sedikit perubahan.
Dexter menoleh ke arah dapur, walaupun Kiandra tidak kelihatan, tapi Dexter tersenyum bangga dengan istrinya.
"Kalau begitu saya permisi," kata pak kepala desa setelah meneguk habis minumannya. "Oh iya, hanya sekedar mengingatkan, nanti malam listrik padam, jadi saya bawakan ini sebagai penerangan," imbuhnya.
Dexter pun menerima sekotak lilin yang diberikan oleh pak kepala desa. Baru setelah itu pak kepala desa benar-benar pamit.
Tadinya minuman itu untuk Dexter, tapi belum sempat Dexter meminumnya, pak kepala desa sudah datang bertamu.
"Silakan Pak, saya juga minta maaf karena belum sempat melapor," kata Dexter.
Dexter mengantar pak kepala desa hingga depan pintu. Setelah pak kepala desa berjalan keluar dari pekarangan rumah Kiandra, Dexter pun masuk ke dalam.
Dilihatnya sudah ada lagi secangkir kopi buatan Kiandra. Kali ini Dexter langsung menyeruput kopi tersebut.
"Pak kepala desa khawatir kita kumpul kebo," kata Kiandra.
"Aku mengerti sayang, itu sebabnya aku bawa buku nikah kita. Karena itu bisa menunjukkan identitas kita sebagai pasangan suami istri," ucap Dexter.
"Suamiku memang pintar, di desa ini cukup ketat. Jika ada laki-laki dan perempuan yang berduaan malam-malam akan digerebek. Bahkan akan dinikahkan walaupun tidak ngapa-ngapain," kata Kiandra menjelaskan.
Dexter terdiam. Dia mengerti, karena di desa tidak sama seperti di kota. Jika di kota, walau sampai pagi sekalipun tidak akan ada yang perduli.
Dexter mengajak Kiandra untuk makan, karena mereka belum makan sejak tadi. Setelah itu barulah mereka akan istirahat.
Malam harinya, mereka keluar rumah untuk menikmati malam di desa. Mereka duduk dibawah pohon mangga yang cukup rindang.
"Kalau dibuat kursi di sini kayaknya bagus deh," kata Dexter. Karena mereka hanya duduk beralaskan tikar plastik.
"Untuk apa juga? Lagian kita jarang-jarang datang kemari," kata Kiandra.
Kiandra bersandar di tubuh Dexter. Mereka melihat ke arah langit yang dipenuhi bintang-bintang.
Mereka seperti orang yang sedang pacaran ketika ini. Duduk dibawah pohon mangga dengan cahaya remang-remang dari sebuah lilin.
Angin pun berhembus sepoi-sepoi, sehingga membuat suasana menjadi sedikit dingin. Kemudian Dexter mengambil beberapa kayu yang ada di tanah.
Kemudian menyalakan api unggun agar menjadi sedikit hangat. Suasana sepi di desa ini membuat keduanya merasakan ketenangan.
Orang-orang di desa ini, kalau sehabis sholat isya di masjid, mereka tidak akan keluar lagi. Kecuali ada keperluan yang mendesak.
"Apa di sini tidak ada ronda malam atau sejenisnya?" tanya Dexter.
"Tidak, desa ini cukup aman," jawab Kiandra.
Dexter melihat jam tangannya, ternyata sudah jam 21.00 WIB. Dexter pun mengajak Kiandra untuk masuk.
Sebenarnya Kiandra masih merasa nyaman dipelukan Dexter. Tapi karena besok pagi-pagi mereka harus berziarah ke makam neneknya. Dan setelah itu mereka akan langsung pulang.
Sementara di tempat lain ...
Seorang wanita berusia 40-an tahun sedang duduk di kursi. Datang seorang pria, asisten setia dari wanita itu.
"Ada kabar apa?" tanya wanita yang bernama Regina.
"Lapor Boss, nona Kiandra ternyata sudah menikah. Sekarang nona ada di desanya."
"Hmm, cari tahu pria yang menjadi suaminya. Aku tidak ingin dia salah pilih suami."
"Siap Boss." Pria itu pun pamit undur diri.
Regina pun bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke kamarnya. Regina tersenyum, ternyata anak didiknya sudah dewasa sekarang.
"Riana, anakmu sekarang sudah besar. Tapi sayang, kamu meninggal terlalu cepat," gumam Regina.
Regina duduk di meja rias. Regina tersenyum melihat foto kebersamaan dirinya dengan sahabat baiknya, yaitu Riana.
"Sejak kita berpisah, aku tidak pernah bertemu kamu lagi. Ketika aku mendapat kabar, kalau anakmu diasingkan ke desa, aku langsung mencarinya," gumam Regina.
Regina mengingat kebersamaan mereka sewaktu masih menjadi mahasiswi. Waktu itu mereka belum menikah.
Namun setelah lulus, Regina mendengar kabar jika Riana menikah dengan Basuki Wijaya. Seorang pemuda miskin, mereka pacaran sejak tadi zaman kuliah.
Namun, ternyata Basuki hanya ingin mengincar harta milik keluarga Riana. Dan berselingkuh dengan Maura yang dulu menjadi asistennya.
"Aku harap putrimu juga tidak akan salah pilih suami," kata Regina berbicara sendiri.
Pintu kamar Regina diketuk. Regina segera membuka pintu. Yang datang ternyata asistennya.
"Ada apa?" tanya Regina setelah membuka pintu.
"Boss, hacker kita tidak mendapatkan informasi apapun tentang suami nona Kiandra. Semua informasinya terkunci," kata asistennya melaporkan.
"Aneh. Bukankah hacker kita itu tidak pernah gagal mendapatkan informasi? Tapi sekarang malah tidak bisa. Lalu siapa dia sebenarnya?" ujar Regina.
"Maaf Boss, saya akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan informasi tentang pria itu," kata sang asisten.
"Tidak perlu, biar aku yang mendatangi Kiandra langsung. Aku ingin tahu, pria seperti apa yang bisa menyembunyikan identitasnya dengan sangat baik?"
Sang asisten pun mengangguk mengerti. Kemudian dia pamit karena sudah malam. Dan tidak ingin mengganggu istirahat bossnya.
Regina berpikir keras. Dia penasaran dengan pria yang menjadi suami Kiandra. Jadi, Regina memutuskan untuk menemui Kiandra secara langsung.
Untuk memastikan putri sahabatnya itu baik-baik saja dan Regina berharap Kiandra tidak salah pilih suami.
Keesokan harinya ...
Pagi-pagi sekali Kiandra sudah bangun. Kiandra hendak bangkit, tapi ditarik kembali oleh Dexter.
"Mau lagi," kata Dexter.
"Semalam sudah dua kali, masa sekarang mau lagi," ucap Kiandra.
"Semalam ya semalam. Sekarang beda," ujar Dexter.
Kiandra baru tahu, jika suaminya bisa seganas itu bila di ranjang. Sebenarnya semalam Dexter masih mau lagi, tapi Kiandra sudah capek dan menolak suaminya untuk yang ketiga kalinya.
"Boleh ya," ucap Dexter memohon.
Kiandra tidak ada pilihan lain selain menurut saja. Lagipula ini bukan yang pertama kalinya mereka melakukannya.
Dexter pun tersenyum senang. Dia pun mulai melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kiandra awalnya pasrah, namun setelah beberapa saat, Kiandra pun mulai merespon.
Dexter semakin beringas ketika Kiandra merespon nya. Dexter menyelusuri setiap inci bagian tubuh Kiandra.
Setelah merasa cukup, Dexter pun memulai untuk melakukan pendakian. Kiandra dibawa hingga ke puncak. Hingga keringat pun mengucur dari tubuh mereka masing-masing.
Setelah cukup lama, Dexter dan Kiandra pun melenguh panjang hampir bersamaan. Hingga akhirnya Dexter berbaring di samping Kiandra.