Jatuh cinta pada anak tiri seiring nya waktu karena istri selingkuh terus menerus?! padahal... Renzo Draja adalah pria mapan.. bagaimana konflik mereka dan cara Renzo Draja mengatasi nya?
Setelah bercerai dengan istri nya, entah bagaimana caranya Nias Wiliam yaitu mantan istri nya Renzo Draja mendapatkan uang, sedangkan Renzo Draja nyaris menguasai semua bisnis di kota.
Setelah bercerai, Renzo di perintahkan untuk kencan buta dengan para wanita pilihan Ayah Renzo Draja, yaitu Jhonson Draja.
Gaskeun mampir baca novel ku cuyy!
[Karya Official Wulan.Chanz]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wuna.Chanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Cerai
"Tapi apa Zelia?", Tanya Zakia, Zelia menoleh kembali ke Zakia.
"Kenapa Ibu ajak Zelia pulang?", Tanya Zelia dengan agak skeptis.
"O-Oh? jadi kamu gak mau pulang sama Ibu?", Tanya Zakia dengan lembut.
"Uuh.. Zelia mau di sini aja, karena Zelia mau bantu Daddy baru Zelia di sini", Ujar Zelia, membuat Renzo tersenyum kecil dengan lega, Zakia menghela nafas lalu mengangguk paham, sembari tersenyum.
"Yaudah, Ibu pulang dulu ya?", Tanya Zakia, Zelia mengangguk, lalu Zakia berdiri menoleh ke Renzo.
"Tuan, makasih", Ucap Zakia, Renzo tidak memalingkan pandangan nya dari Zelia, hanya menjawab dengan mengangguk, lalu Zakia melangkah menuju pintu mansion, Barret membukakan pintu nya untuk Zakia, lalu menutup nya kembali setelah Zakia keluar, Zelia memperhatikan Zakia yang pergi lalu menatap kembali ke arah Renzo, tersenyum.
"Baby.. makasih udah pilih tetap di sini", Ucap Renzo dengan bangga, lalu berdiri, melangkah mendekat ke Zelia dengan perlahan.
"Baby gak mau mengecewakan Daddy, lagi pula Baby bakal merepotkan Ibu kalau ikut pulang", Ujar Zelia dengan senyuman, Renzo mengangguk setuju, lalu duduk di samping Zelia.
"Terus.. Daddy kan udah bilang waktu di pantai asuhan kalau Daddy ingin Baby di keluarga Daddy kan? jadi karena itu Baby gak mau ikut Ibu", Ucap Zelia, Renzo tersenyum, mengelus rambut Zelia, mencium rambut nya.
"Ya Baby, Daddy butuh Baby di sini", Pengakuan Renzo dengan lembut, Zelia bersandar pada Renzo, merasakan nyaman dan di lindungi oleh Renzo.
"Baby juga gak yakin kalau Ibu bakal lembut kayak gitu, pasti Ibu bakal ada masa marah-marah kayak waktu itu, waktu itu Ibu marah besar, melempar-lempar piring ke arah dinding dekat Baby karena Ibu stress waktu itu, Baby gak bisa lupain kejadian itu walau sampai sekarang", Ujar Zelia, Renzo yang mendengarkan cerita itu segera merangkul bahu Zelia dengan erat, melindungi nya.
"Kalau ada yang berani lukain Baby, pasti, pasti bakal Daddy balas lebih dari yang dia berani lakuin", Ucap Renzo dengan serius, Renzo merasakan tubuh Zelia menjadi agak berat, lalu menatap ke wajah Zelia, ternyata Zelia ketiduran, Renzo tersenyum lembut melihat nya, lalu segera menggendong Zelia dengan kuat, berjalan ke arah lift, Barret berlari kecil untuk menghampiri pintu lift, menekan buka pintu lift.
"Selamat malam Tuan", Ucap Barret dengan sopan, Renzo mengangguk, lalu Barret menekan pintu untuk di tutup.
Ting~
...****************...
Sesampai nya di kamar nya Zelia, Renzo dengan lemah lembut menaruh tubuh Zelia ke atas ranjang.
"Sudah sampai Baby, tidur nyenyak ya?", Bisik Renzo pada Zelia yang tidur pulas itu, lalu Renzo naik ke atas ranjang, dan duduk di atas ranjang sembari bersandar tubuh nya pada kepala ranjang, mengelus rambut Zelia dengan lembut, lalu mulai ikut tertidur.
...****************...
Ke esokan pagi nya, saat sedang sarapan, Ayden datang dengan mengantuk.
"Selamat pagi!!!", Ucap Ayden dengan keras, membuat pelayan mansion yang berada di ruang makan menoleh.
"Selamat pagi juga Tuan".
"Pagi juga Tuan".
"E-Eh, iya Tuan selamat pagi".
Ayden tersenyum, lalu melihat-lihat sekitar, mencari seseorang.
"Eeh? mana Renzo sama Zelia?", Tanya Ayden dengan bingung.
"Emn.. kayak nya mereka berdua masih tidur, Tuan", Jawab salah satu pelayan dengan tidak yakin, Ayden mengangguk, lalu duduk di kursi makan yang sudah di siapkan, tidak lama setelah itu, Zelia berlari masuk ke ruang makan dengan semangat.
"Baby! jangan lari nanti jatuh loh!", Saut Renzo dari belakang mengikuti Zelia dengan langkah yang panjang tetapi santai, Ayden menoleh, tersenyum jahil melihat Renzo.
"Aduh ini yang udah duda keliatan nya masih semangat walau udah cerai dari Nias", Ucap Ayden dengan jahil, Renzo memasang mata malas, Zelia duduk di kursi sebrang Ayden.
"Eeh, tapi Zelia penasaran sama kondisi nya Nyonya Nias kayak gimana", Jawab Zelia, Ayden menatap ke Zelia, mengangguk setuju.
"Bener juga", Balas Ayden dengan setuju, lalu Ayden menoleh ke Renzo yang sudah duduk di samping Zelia.
"Ren, lo gak mau tanyain kondisi dia apa?", Tanya Ayden dengan penuh penasaran, Renzo mengerutkan kening nya.
"Lah? ngapain harus gue tanya kondisi nya? lagian gue udah mau cerai juga sama si Nias itu, gue gak ada kewajiban buat tanya keadaan nya, kan?", Tanya Renzo dengan agak kesal, Ayden mengangguk setuju.
"Aah iya sih, kapan cerai nya?", Tanya Ayden, Renzo berpikir sejenak.
"Sekarang, aku bakal bayar mahal pengacara biar percepat penanganan nya, aku gak mau lama-lama", Ucap Renzo dengan dingin, Ayden terkekeh laku mengangguk setuju.
"Oke deh, apa pun untuk Baginda Draja ini, iya kan Zel?", Tanya Ayden mengalihkan tatapan nya ke Zelia sembari tersenyum jahil, Zelia tertawa kecil lalu mengangguk setuju, tak lama dari obrolan itu, ada yang menelpon Renzo, membuat ponsel Renzo yang berada di saku celana nya bergetar.
"Aku tebak, itu Nias", Ucap Ayden dengan berani, Renzo meraih ponsel nya dan melihat layar yang menunjukkan nama Nias.
"Kamu benar..", Ucap Renzo dengan suara rendah, Ayden tertawa puas.
"Hahaha! udah angkat aja, gue penasaran", Ucap Ayden dengan tidak sabar, Renzo mengangkat telpon nya lalu menekan tombol pengeras suara.
"Renzo... aku bisa jelasin, kamu harus dengerin aku dulu dong!", Ucap Nias dengan memohon, membuat Renzo semakin kesal dan sangat ingin mematikan telpon.
"Udah, aku gak butuh penjelasan, lagian aku udah mau ajukan cerai sama kamu", Ucap Renzo dengan muak, Nias terdengar terkejut.
"Sayang! terus siapa yang bayar biaya lahiran aku?!", Tanya Nias dengan kesal.
"Ya tanggung sendiri, itu bukan anak aku, aku gak ada kewajiban buat biayain itu, aku tau aku egois, tapi aku udah cukup sama kelakuan kamu yang berlebihan, minta aja uang nya ke si pirang itu, entah lah siapa nama nya", Ucap Renzo dengan geram lalu mematikan telpon nya.
"Yah kenapa di matiin? gue mau dengar jawaban nya si Nias", Ucap Ayden, Renzo tidak menjawab pertanyaan itu, menaruh kembali ponsel nya di atas meja.
"Mana makanan nya Jane?", Tanya Renzo, Jane segera menghampiri Renzo.
"Sebentar lagi Tuan", Jawab Jane dengan sopan, Renzo mengangguk kecil, Zelia memegang tangan Renzo.
"Jangan terlalu di pikiran ya Daddy?", Tanya Zelia dengan lembut, sembari tersenyum, Renzo menoleh ke arah Zelia.
"Wakhem! romantis banget nih! ekhem;", Ucap Ayden dengan jahil nya, Renzo menatap ke Ayden dengan kesal.
"Apa maksud lo? Zelia ini anak gue", Ucap Renzo dengan kesal, Zelia hanya tertawa geli, makanan pun datang, lalu mereka bertiga mulai makan dengan tenang, hanya suara alat makan yang terdengar.
...****************...
Setelah selesai makan.
"Lo kerja gak hari ini?", Tanya Ayden pada Renzo.
"Kagak lah, kan gue mau urus cerai gue sama Nias", Jawab Renzo tanpa menatap ke arah Ayden karena merapihkan meja.
"Owalah, gue kira lo mau kerja", Jawab Ayden dengan seringai.
"Eh, gue punya temen itu, pengacara", Ucap Ayden, Renzo menatap ke Ayden dengan tatapan tajam.
"Hubungin dia, bilang gue mau cerai sama Nias, gue bayar... seratus juta tapi harus selesai hari ini", Ucap Renzo, Ayden terkejut mendengar nominal nya, Zelia juga tercengang.
-Bersambung-