Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menampar Plot
“Lebih baik kamu mengakuinya sekarang, atau aku akan menceraikanmu, Alicia Vort! Paula tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu!” Suara Marquis menggema di aula utama kastil.
“Kapan aku melakukan hal-hal seperti itu padanya? Apakah kamu buta?” Alicia membalas dengan tatapan tajam.
“Alicia!!”
“Tuan Marquis, tolong berhenti!” Paula menyela dengan suara gemetar. “Saya yakin Nyonya Marchioness tidak bermaksud seperti itu. Ini hanya salah paham. Jangan membicarakan perceraian hanya karena saya—”
“Paula, kamu terlalu baik selama ini.” Marquis menghela napas, nadanya melunak sejenak. “Jika bukan karena dia merangkak ke tempat tidurku sebelumnya, aku pasti sudah lama menikahimu.”
Paula segera menunduk. “Tidak, Tuan Marquis. Anda dan Nyonya Marchioness mendapatkan restu satu sama lain dari dewa. Kalian adalah pasangan yang cocok. Tolong jangan menyalahkan Nyonya Marchioness.”
“Paula …” Suara Marquis kembali berat.
“Tuan Marquis.” Paula kembali mengingatkan, “Hari ini adalah ulang tahun Duke Vassal. Saya mohon ....”
Suara pertengkaran itu menggema keras hingga ke lantai dua kastil.
Karenanya keributan di lantai bawah itulah—membuat Beatrice yang masih terbaring lemah, mengerutkan kening. Ia membuka mata perlahan, cahaya pagi menembus jendela dan membelai hangat tubuhnya. Ia memijat pelipisnya untuk meredakan sakit kepala.
Sudah sebulan sejak ia jatuh sakit—atau lebih tepatnya sejak jiwanya meninggalkan Alam Dewa, ia masih berusaha menyesuaikan diri dengan tubuh barunya yang ringkih.
Saat ini, Beatrice berada di salah satu dunia kecil paling kacau dari novel yang pernah ia baca di Alam Dewa. Bahkan Dewa Kehidupan sendiri tidak mau membaca ceritanya sampai selesai. Karena ini hanyalah sebuah novel dengan plot berantakan, penokohan tak masuk akal dan beberapa bab yang penuh adegan erotika.
“Sekarang aku, Yan Biluo, telah menjadi manusia biasa di dunia kecil ini," gumamnya lirih.
Dewa Kehidupan menawarinya memasuki dunia novel yang kacau ini. Dan tubuh yang dipilihkan untuknya adalah milik Beatrice Nuo Vassal, putri kesayangan Duke Vassal—seorang gadis yang sejak lahir sakit-sakitan dan hampir sekarat ketika Yan Biluo memasuki tubuhnya.
Yan Biluo—tidak, Beatrice—menghela napas pelan. Ada sesuatu yang selalu mencubit hatinya ketika memikirkan akhir hidup pemilik tubuh ini dalam versi asli cerita. Sesuatu yang samar, gelap dan terasa seperti bayangan yang belum selesai dibentuk.
Dalam novel aslinya, Beatrice meninggal karena demam tinggi. Kepergiannya membuat orang tuanya larut dalam kesedihan yang panjang. Bahkan sang Duke Vassal—Leonidas, pada akhirnya menyerahkan gelarnya lebih awal kepada putra sulungnya—Angelo. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan Duchy bersama istrinya untuk mencoba melupakan duka atas kematian putrinya.
Mendengarkan pertengkaran yang masih bergemuruh dari lantai bawah, Beatrice merasa kesabarannya terkikis sedikit demi sedikit. Rasanya ia ingin turun dan meninju wajah pria baj*ngan bernama Chars Kyron itu sampai semua giginya rontok.
Dan wanita bernama Paula Perrone itu—dia tidak lebih dari pemeran utama wanita antagonis yang selalu menjebak orang lain. Termasuk menjebak Alicia Vort, sosok wanita tangguh di novel aslinya.
Bagaimana mungkin penulis membuat hidup Paula jauh lebih baik ketimbang Alicia? Padahal Paula telah melakukan banyak hal yang menghancurkan hidup Alicia, memotong satu per satu harapan wanita itu sampai habis.
Mungkin karena Paula adalah orang yang terlahir kembali di dalam novel ini, bukan? Tidak heran jika dia melakukan apa pun untuk naik ke puncak.
Semua itu ia dapatkan dengan menginjak orang lain, memakan daging dan meminum darah. Dan entah bagaimana … penulis membiarkan semua itu berjalan seolah-olah dunia ini memang diciptakan untuk orang jahat.
Yang membuat Beatrice lebih frustasi, ia bahkan tidak tahu siapa pemeran utama pria dan wanita yang sesungguhnya dalam novel ini. Apakah itu Alicia dengan putra mahkota? Atau Paula dengan putra mahkota?
Penulisnya membuat begitu banyak alur bercabang dari berbagai karakter, seperti kisah yang ditulis secara acak oleh seseorang yang kehilangan akal sehat.
“Nona Muda, akhirnya Anda bangun!”
Erica Millen—pelayan pribadi Beatrice dalam cerita asli—masuk sambil membawa baskom air hangat. Wajahnya yang selalu ramah tampak dipenuhi kekhawatiran.
“Erica, malam apa ini?” tanya Beatrice, berpura-pura baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
“Nona, ini malam ulang tahun Duke Vassal,” jawab Erica lembut. “Semua tamu undangan Tuan Duke sedang berada di ruang utama perjamuan.” Ia jelas menahan diri untuk tidak menyebutkan tentang kekacauan yang terjadi di luar.
“Kenapa berisik sekali?”
Erica tampak ragu. “Nona … apakah suara di luar mengganggu Anda?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit tidak nyaman.” Beatrice menghela napas. “Suara pria itu benar-benar seperti mimpi buruk. Aku ingin tahu siapa orangnya.”
Melihat Beatrice hendak bangun dari tempat tidur, Erica buru-buru menahannya. “Tidak, My Lady. Anda baru saja bangun. Tolong istirahatlah. Saya yakin Tuan Duke dan Nyonya Duchess mampu mengatasinya.”
Beatrice menggelengkan kepala, senyum kecil muncul di bibirnya. “Jika dibiarkan, suasananya akan makin kacau. Suaranya … jelek sekali saat memarahi orang. Benar-benar membuatku tidak nyaman.”
Ia berusaha menahan sudut bibirnya agar tidak berkedut kesal. Lalu ia bangkit, merapikan gaun selututnya dan menyisir rambutnya yang sedikit kusut. Gerakannya mantap, jauh lebih hidup dibandingkan beberapa minggu terakhir.
Erica hanya bisa terpana melihat perubahan gadis itu. Nona mudanya tampak berbeda—lebih segar, lebih cerah, seolah-olah vitalitasnya kembali setelah demam panjang merenggut separuh nyawanya.
“Ayo ikut aku,” kata Beatrice tenang. “Dan bawa baskom air itu.”
Beatrice sudah berada di ambang pintu ketika Erica akhirnya tersadar dan buru-buru mengikutinya. Pelayan itu masih linglung, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
Sejak kapan Nona Muda begitu penuh energi hingga bisa berjalan cepat? Pikirnya.
Keluar dari kamar dan melangkah menuju aula perjamuan ulang tahun sang ayah, Beatrice merasakan gejolak halus di dadanya. Malam ini, ia akan menjalani adegan pertamanya dalam menampar balik plot yang tidak adil itu.
“Nona, tolong pelan-pelan,” desis Erica dari belakang. Barulah ia sadar bahwa langkah Beatrice begitu cepat—tidak seperti seseorang yang baru saja berhari-hari terbaring karena demam tinggi.
Setibanya mereka di pagar pembatas lantai dua—yang malam ini dihias megah dengan bunga-bunga, Beatrice akhirnya bisa melihat wajah asli para tokoh dalam novel ini.
Kastil keluarga Vassal memang luas. Aula besar di lantai bawah saja mampu menampung banyak tamu bangsawan sekaligus. Wanita-wanita bergaun elegan berdiri berkelompok, sementara para pria dalam setelan formal tampak menonjolkan lambang keluarga masing-masing.
Karena Charls dan Paula, kemeriahan pesta ulang tahun itu berubah menjadi tontonan yang memalukan. Para tamu menyingkir ke samping, pura-pura sibuk dengan minuman mereka. Padahal mata mereka tak pernah lepas dari pertengkaran suami-istri—beserta gundiknya—yang sedang berlangsung.
Kebetulan, Charls dan Paula berdiri tak jauh dari posisi Beatrice di atas balkon. Meski wajah keduanya tidak terlihat sepenuhnya dari atas, Beatrice tahu persis bagaimana rupa mereka—tidak terlalu menawan, jauh dari gambaran protagonis yang biasanya diberi cahaya lebih oleh penulis.
Tak jauh dari keduanya, Beatrice melihat Alicia. Tokoh wanita tangguh yang dalam cerita aslinya terus-menerus dijebak dan dihancurkan oleh Paula. Sayangnya malam ini, Alicia tampak terduduk di lantai marmer yang dingin—bekas tamparan Charls masih jelas membekas di pipinya.
“Benar saja … dia memang cantik dan menawan,” gumam Beatrice pelan. Lalu ia menoleh sedikit ke belakang. “Erica, di mana ayah dan ibu?”
“Duke dan Duchess seharusnya masih di ruang dalam bersama dua tuan muda,” jawab Erica cepat. “Saya yakin kepala pelayan sudah melaporkan keributan ini pada Tuan Duke sekarang.”
Perjamuan belum benar-benar dimulai—pukul sembilan malam acara resmi akan dibuka. Masih ada sekitar lima belas menit lagi, namun keributan sudah menghancurkan suasana sebelum musik pertama dimainkan.
Sementara itu, di bawah sana Charls masih berteriak tanpa rasa malu sedikit pun.
“Malam ini juga aku akan menceraikanmu, Alicia Vort!! Aku—”
Namun sebelum Charls menyelesaikan ucapannya, Beatrice mengambil baskom air dari tangan Erica. Dengan gerakan cepat dan tepat—ia menyiramkan seluruh isi baskom itu ke kepala Paula.
Air itu jatuh seperti bah, membasahi tubuh Paula. Dan tentu saja, Charls yang berdiri di sisinya ikut tersiram.
“Ahhh…!!”