Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan yang Dibeli
“Aku tidak pernah menjual diriku.”
Kalimat itu berputar di kepala Sasha saat ia berdiri di ruang tamu rumah megah yang bahkan lantainya terasa lebih mahal daripada harga dirinya hari ini.
Dua jam lalu, ia masih berada di kontrakan sempitnya. Sekarang, ia berdiri di rumah keluarga Wijaya. Rumah orang yang menghancurkan hidupnya.
Seorang pria paruh baya duduk di sofa besar dengan jas rapi dan wajah dingin. Di sampingnya, seorang wanita elegan memandang Sasha dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang di etalase.
“Jadi ini perempuannya?” tanya wanita itu pelan, tanpa berusaha menyembunyikan nada meremehkan.
Sasha menahan napas. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Namanya dipanggil seperti benda, bukan layaknya manusia.
“Iya, Ma,” jawab pria paruh baya itu singkat.
Sasha tahu siapa mereka.
Keluarga Gio Artha Wijaya.
Keluarga dari pria yang membuatnya dicap murahan oleh tetangga, dipecat dari pekerjaan, dan menjadi bahan gosip satu kampung.
Semua karena satu kabar yang tidak pernah benar. Semua orang mengira dirinya hamil dan parahnya lagi, ayah dari bayi itu adalah adik Gio Artha Wijaya. Padahal Sasha bahkan tidak pernah disentuh pria itu.
Pintu di lantai atas terbuka.
Langkah kaki turun dengan tenang, mantap, berat.
Sasha menoleh dan di situlah ia melihatnya untuk pertama kali.
Gio Artha Wijaya.
Pria yang namanya selama ini hanya ia dengar lewat bisikan orang-orang. Terlihat dingin, sangat berbahaya, dan tidak tersentuh. Kini matanya menatap Sasha seperti menatap masalah yang harus segera dibereskan.
“Ini dia?” suara Gio berat, rendah, tanpa emosi.
“Iya,” jawab ayahnya.
Tatapan Gio turun dari kepala hingga kaki Sasha. Pelan. Menghakimi. Menguliti.
Sasha merasa lebih telanjang daripada saat ia dipermalukan warga karena gosip kehamilan itu.
Gio mendekat dan berhenti tepat di depan Sasha dan terlalu dekat.
“Apa kamu tahu kenapa kamu ada di sini?” tanyanya.
Sasha menelan ludah. “Tidak.”
Gio tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Karena kamu sudah menghancurkan nama keluarga saya.”
Kalimat itu menusuk.
Sasha terperanjat. “Saya tidak pernah—”
“Diam,” potong Gio tegas.
Suasana ruangan langsung membeku.
“Kamu hamil karena adik saya. Itu yang semua orang tahu. Itu yang media kecil sudah hampir angkat. Itu yang membuat saham perusahaan kami turun pagi ini.”
Sasha menatapnya tak percaya.
“Dan kamu pikir saya menikmati ini?” suara Gio mulai meninggi. “Kamu pikir saya senang melihat perempuan seperti kamu masuk ke rumah saya?”
Air panas mulai menggenang di mata Sasha, tapi ia menahannya mati-matian.
“Aku tidak hamil,” katanya pelan, nyaris berbisik.
Gio tertawa pendek. Sinis.
“Semua perempuan yang mencoba menjebak keluarga kaya selalu bilang begitu.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan.
Ayah Gio berdiri.
“Kami tidak peduli kamu hamil atau tidak,” katanya datar. “Yang kami pedulikan hanya satu.”
Sasha menoleh.
“Reputasi.”
Suasana menjadi sunyi dan kalimat berikutnya menghancurkan segalanya.
“Kamu akan menikah dengan Gio.”
Jantung Sasha berhenti berdetak.
“Apa?” napasnya tercekat.
Gio langsung menoleh ke ayahnya. “Aku sudah bilang—”
“Kamu akan menikahinya,” ulang sang ayah lebih tegas. “Ini satu-satunya cara agar publik percaya bahwa keluarga kita bertanggung jawab. Bahwa tidak ada skandal. Bahwa semuanya terhormat.”
Sasha mundur satu langkah.
“Tidak… saya tidak mau…”
Semua mata menoleh padanya.
Untuk pertama kalinya, ia berani menolak.
“Saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Kenapa saya yang harus—”
“Karena kamu sudah terlanjur terlibat,” potong ibu Gio dingin. “Dan kamu tidak punya pilihan.”
Sasha menatap mereka satu per satu.
Orang-orang ini benar-benar sedang membicarakan hidupnya seperti sedang membicarakan perjanjian bisnis.
Gio mendekat lagi.
Kali ini suaranya lebih rendah. Lebih mengancam.
“Kamu akan menikah denganku. Tinggal di rumah ini. Berperan sebagai istri yang baik di depan publik.”
Tatapannya tajam menusuk.
“Sebagai gantinya, keluargamu akan berhenti menerima teror dari orang-orang yang kamu tahu siapa.”
Tubuh Sasha membeku, ia tahu apa maksud yang dikatakan Gio. Memang benar saat ini, ibunya sedang sakit, dan kini adiknya masih bersekolah. Tagihan rumah sakit juga sudah sangat banyak dan harus dilunasi. Ancaman-ancaman anonim yang datang sejak gosip itu menyebar.
Gio tahu.
“Kamu membeli saya?” suara Sasha bergetar.
Gio menatapnya tanpa rasa bersalah.
“Aku menyelamatkan namaku. Kamu menyelamatkan keluargamu. Kita impas.”
Air mata akhirnya jatuh, bukan karena lemah. Tapi karena ia sadar… ia benar-benar tidak punya jalan keluar.
“Berapa lama?” tanyanya lirih.
Gio menjawab tanpa ragu, “Sampai aku bilang selesai.”
Dan di detik itu, Sasha sadar. Ia tidak sedang ditawari pernikahan, ia sedang dijatuhi hukuman.
Malam itu, saat ia berdiri di kamar besar yang kini disebut “kamarnya”, Sasha memandangi pantulan dirinya di cermin.
Gaun mahal sudah menggantikan pakaian lusuhnya.
Tapi matanya tetap sama, sangat kosong.
Pintu kamar terbuka tanpa diketuk.
Gio masuk. Masih dengan wajah yang sama, tanpa ekspresi.
“Kita tidur terpisah,” katanya singkat. “Kamu di sini. Aku di kamar sebelah. Jangan pernah masuk ke ruang pribadiku tanpa izin.”
Sasha tidak menjawab.
“Ada aturan lain,” lanjut Gio. “Di luar rumah ini, kamu istriku. Di dalam rumah ini, kamu tidak lebih dari kewajiban.”
Kata-kata itu menampar lebih keras dari apa pun.
Gio berbalik hendak pergi. Namun sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan tanpa menoleh,
“Jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu seperti istri.”
Pintu tertutup.
Dan Sasha akhirnya terduduk di lantai, tangisnya pecah tanpa suara. Ia baru saja menikah dengan pria yang membencinya. Untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, dan yang lebih menakutkan adalah ia merasa ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk.
Sasha tidak tahu sudah berapa lama ia menangis ketika ponselnya bergetar pelan di atas nakas. Nama yang muncul di layar membuat dadanya semakin sesak.
Ibu.
Dengan jari gemetar, ia mengusap air matanya dan mengangkat panggilan itu.
“Sha… kamu di mana, Nak?” suara ibunya terdengar lemah dari seberang sana.
Sasha menutup mulutnya, menahan tangis agar tidak terdengar. “Aku… di rumah teman, Bu.”
“Kamu jangan dengarkan omongan orang. Ibu percaya sama kamu. Kamu bukan perempuan seperti yang mereka bilang.”
Kalimat itu menghantam pertahanannya, air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan.
Di luar sana, semua orang menganggapnya murahan. Penjebak pria kaya. Perempuan tak tahu malu, tetapi ibunya tetap percaya bahwa putrinya bukan seperti itu.
“Tadi ada orang datang lagi ke rumah,” lanjut sang ibu pelan. “Mereka tanya kamu. Nada bicaranya tidak enak. Ibu takut…”
Sasha memejamkan mata.
Gio tidak berbohong.
Teror itu nyata dan sekarang ia tahu, pernikahan ini bukan hanya soal reputasi keluarga Wijaya. Ini tentang menutup mulut orang-orang yang mulai terlalu banyak bertanya.
“Bu, jangan khawatir,” bisiknya lirih. “Semua akan segera selesai.”
Padahal ia sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. Setelah panggilan terputus, Sasha menatap langit-langit kamar yang asing itu dengan tatapan kosong.
Perlahan, satu kesadaran dingin merayap di benaknya. Ia mungkin bukan perempuan yang hamil karena adik Gio, tetapi seseorang sengaja membuat cerita itu terlihat sangat meyakinkan dan keluarga Wijaya terlihat terlalu siap menutupinya.
Seolah mereka sudah tahu skandal ini akan meledak. Seolah Sasha memang sudah dipilih sejak awal, bukan sebagai korban. Tapi sebagai bagian dari rencana yang belum ia pahami.