NovelToon NovelToon
Saat Istriku Tak Bodoh Lagi

Saat Istriku Tak Bodoh Lagi

Status: tamat
Genre:Tamat / Poligami / Selingkuh / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.6
Nama Author: Itha Sulfiana

Firman selama ini berhasil membuat Kalila, istrinya seperti orang bodoh yang mau saja dijadikan babu dan tunduk akan apapun yang diperintahkan olehnya.

Hingga suatu hari, pengkhianatan Firman terungkap dan membuat Kalila menjadi sosok yang benar-benar tak bisa Firman kenali.

Perempuan itu tak hanya mengejutkan Firman. Kalila juga membuat Firman beserta selingkuhan dan keluarganya benar-benar hancur tak bersisa.

Saat istri tak lagi menjadi bodoh, akankah Firman akhirnya sadar akan kesalahannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memergoki

Pagi ini, Kalila bangun seperti biasa. Ia masih mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak untuk mertua serta suaminya.

Perihal masalah telfonan sang suami dengan perempuan lain tadi malam, Kalila memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa. Walaupun bodoh karena mencintai terlalu buta, namun Kalila tetap perempuan yang menolak keras untuk diduakan.

Apalagi, jika membayangkan nasibnya di rumah ini hanya dijadikan babu sementara wanita itu justru menjadi ratu, membuat Kalila benar-benar meradang. Tidak. Ia tak ikhlas sama sekali.

"Kalila, sarapannya kok cuma segini? Mana cukup buat makan kami berlima," tegur Bu Midah saat tiba di meja makan.

Hanya selang beberapa saat, Firman juga ikut bergabung di meja makan.

"Maaf, Bu. Beras sudah habis," jawab Kalila seadanya.

Bu Midah seketika berdecak.

"Ya, kamu belilah! Masa' gitu aja mesti dikasih tahu?" ketusnya marah.

"Uangnya mana, Bu?" tanya Kalila lagi.

Mata wanita paruh baya itu mendelik. "Kamu berani minta uang sama saya? Uang belanja yang Minggu kemarin saya kasih kemana? Kamu tilep, ya?"

"Minggu kemarin, Ibu cuma kasih uang dua ratus ribu aja untuk Kalila belanja semua kebutuhan dapur. Jelas, sudah habis, Bu!"

"Jangan bohong, Kalila! Uang dua ratus ribu itu banyak! Mana mungkin sudah habis tanggal segini."

"Banyak?" Kalila tertawa sinis. "Kalau begitu, kenapa nggak Ibu saja yang belanja? Kalila mau lihat, bagaimana Ibu bisa mengatur uang dua ratus ribu itu agar cukup untuk makan seminggu."

"Kamu nantangin Ibu? Wah! Nggak benar, ini! Firman, lihat kelakuan istrimu! Dia sudah mulai melawan sama Ibu. Nasib, nasib! Punya mantu perempuan kok begini amat, ya? Sudahlah yatim piatu, miskin lagi. Makanya, nggak punya tata Krama plus nggak bisa lihat duit banyak! Serakah!"

"Dua ratus ribu, banyak?" Lagi-lagi, Kalila tertawa sinis.

"Kalila! Sudah!" tegur Firman. "Jangan melawan sama Ibu!"

Kalila tak menjawab. Dengan sorot matanya yang tajam, ia melengos pergi meninggalkan meja makan.

"Kalila, mau kemana, kamu?" teriak Bu Midah dengan suara menggelegar. "Ini gimana? Kasihan kalau Fika ke sini dan dia nggak dapat makanan sedikit pun! Sana, masak dulu untuk Fika dan keluarganya! Hei! Budeg ya, kamu!?"

Sayangnya, Kalila sama sekali enggan untuk menggubris. Dia terlalu lelah. Jika Firman sendiri sudah mendua, maka tak ada alasan lagi untuk dia terus bertahan.

"Kalila mungkin masih sakit, Bu! Lagian, Ibu juga yang salah. Kenapa sih, pake jorokin Kalila segala? Dia sampai luka begitu, kan? Kalau dia gegar otak, gimana?"

"Ya, salah dia sendiri, Firman! Siapa suruh dia memuntahkan makanan yang sudah susah payah Ibu siapkan untuk dia."

Firman menggelengkan kepalanya. Ia malas melanjutkan perdebatan. Lebih baik dia lekas sarapan lalu berangkat ke rumah sang selingkuhan yang sudah menunggu

"Ibu nggak mau tahu! Kamu harus paksa si Kalila untuk masak lagi. Kasihan, kalau keluarga kakakmu kemari dan mereka tidak makan apa-apa," desak Bu Midah pada putranya.

"Kalau begitu, berikan uang untuk Kalila belanja, Bu!" sahut Firman dengan entengnya.

"Nggak. Ibu nggak mau," geleng Bu Midah.

"Ya sudah, kalau begitu. Terserah Ibu saja! Firman nggak tanggung jawab kalau Kalila terus membangkang. Mau diapakan lagi? Kalila kan memang tidak pernah dikasih pegangan pribadi. Jadi, dia dapat uang darimana untuk belanja kalau bukan dari Ibu?"

Bu Midah mendengkus kasar mendengar ucapan putranya. Wanita paruh baya dengan gaya paripurna itu hanya memalingkan wajah ke arah lain.

Sementara, Firman sendiri sudah pamit untuk segera berangkat. Tak lupa, ia mampir ke kamar pribadinya untuk berpamitan juga kepada istrinya.

"Mas berangkat ke toko dulu ya, Sayang! Kamu baik-baik di rumah! Doakan semoga toko hari ini rame dan banyak pembeli, ya!" pamit Firman pada sang istri.

"Iya, Mas!" angguk Kalila sambil mencium punggung tangan sang suami seperti biasa.

"Halah! Mana mempan doa orang miskin seperti dia, Firman!" celetuk Bu Midah sinis. Rupanya, wanita paruh baya itu mengekori langkah putranya dari belakang. "Kamu bisa sukses dan banyak uang seperti sekarang, itu karena doa dan perjuangan Ibu. Bukan karena doa dan perjuangan perempuan miskin yatim piatu seperti dia!"

Kalila mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa miris didalam hati. Padahal, modal dari toko meubel yang dikelola oleh sang suami adalah hasil dari Kalila menjual seluruh perhiasannya.

Sama sekali tak ada campur tangan sang Ibu mertua dalam usaha tersebut. Ditambah lagi, beberapa pelanggan tetap toko meubel sang suami adalah orang-orang yang memang mengenal Kalila.

Kalila yang melobi sebagian besar pelanggan itu hingga bersedia menjadi pelanggan tetap di toko meubel milik Firman.

"Sudahlah, Bu! Jangan seperti itu! Walau bagaimanapun, Kalila tetap menantu Ibu!"

"Huh! Terus saja kamu bela perempuan itu biar dia semakin besar kepala!" ujar Bu Midah sambil menghentakkan kakinya.

"Jangan diambil hati ya, omongan Ibu!" ucap Firman pada sang istri.

"Iya, Mas!"

"Jangan lupa beri Ibu suntik insulin, ya! Nanti, sakitnya kambuh kalau beliau lupa."

"Iya, Mas!"

Untuk yang ke sekian kalinya, Kalila hanya mengangguk patuh. Ia tetap bersikap seperti Kalila yang biasa dihadapan sang suami.

Kalila ingin melihat, sampai sejauh mana Firman ingin membodohinya.

Saat sang suami berangkat, diam-diam Kalila mengikuti pria itu dari belakang. Dengan motor matic milik tetangga, Kalila terus mengikuti sang suami yang rupanya tidak berbelok menuju ke toko melainkan terus melaju menuju ke sebuah perumahan baru.

Sampai di sana, Firman membelokkan mobil yang ia pakai memasuki halaman sebuah rumah bercat biru. Tak berselang lama, pria itu turun kemudian disambut mesra oleh seorang wanita dengan penampilan seksi yang luar biasa.

"Jadi, di sini tempat kamu menyembunyikan gundikmu, Mas?" gumam Kalila menahan geram.

Ia lekas turun dari motor. Berjalan mengendap-endap mendekat pada pintu rumah yang tidak ditutup dengan rapat.

"Astaghfirullah! Mas Firman?" lirih Kalila saat melihat sang suami tengah melakukan adegan dewasa bersama perempuan seksi tadi.

"Kamu benar-benar selingkuh?" gumam Kalila dengan suara bergetar.

Ponsel lekas dia nyalakan. Adegan itu ia rekam meski hatinya remuk redam.

"Jangan di sini, Mas!" tukas si perempuan seksi saat Firman hendak meloloskan benda terakhir yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Di sini saja! Biar lebih menantang!" kata Firman tak sabaran.

"Kalau ada yang lihat, gimana?"

"Biarin aja! Biar jadi tontonan gratis buat mereka." Firman tersenyum nakal.

Perempuan itu pun tertawa manja.

"Tapi, Mas harus kasih aku uang lagi, ya!"

"Berapa, hm?"

"Dua juta. Aku mau beli tas baru, Mas!" pinta wanita itu dengan suara yang dibuat seimut mungkin.

"Oke. Nanti selesai 'main' langsung Mas kasih. Uang segitu, bukan masalah untuk Mas!"

Keduanya kembali melanjutkan aktivitas mereka. Sementara, Kalila yang terus merekam perbuatan mesum keduanya hanya bisa menangis sambil menertawai kebodohan dirinya.

"Aku minta dua ratus ribu, dia menolak. Sementara, perempuan itu minta dua juta, langsung dikasih. Ternyata, kamu setega itu ya, Mas!"

Pluk!

Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Kalila dari belakang.

"Ngapain, kamu?"

Degh!

Kalila langsung mematikan ponselnya. Dia berbalik dengan wajah yang benar-benar terlihat tegang.

"Kamu mau maling, ya? Ayo, ngaku!"

1
arniya
ko tamat kak??!
Ken L
singkat padat tepat ceritanya ga bertele2 yg jahat dpt bagian jahatnya di akhir cerita.. lanjut thor karya2 lainnya
mince: beneran tamat kak
total 1 replies
aryuu
ditunggu kisah bos galak n sekretaris cupunya tor
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor
sutiasih kasih
kisah kalandra & Diandra keknya seru nich...
Atmita Gajiwi
/Heart//Rice//Rose/
iin marlina
bonchap nikahan kalandra thor
mince
ya gak mau ngakulah laki2 kalaupun selingkuh udah ketahuan
Desmeri epy Epy
lanjut thor
3sna
baru bang ini udh kk gk konsist di othornya
Sawang Aceh
Biasa
Sawang Aceh
Buruk
Riaaimutt
penipu ditipu adil bukan...
Nur Adam
lnjut
Riskiya ahmad
rasakn karma pelakor nya
Yuli Purwati
ini posisi anak Vivi zico masih sama Vivi Ndak sih? apa aku yang kurang fokus baca.kalau posisi si bayi masih sama Vivi ya kasihan sih bayi nya.ndak salah apa2 malah ikut jadi korban kelakuan buruk emak bapak nya.😔
Noor hidayati
dulu vivi sebelum nikah sama firman dia pernah minta tanggung jawab sama zico,tapi zico menolak bahkan mengusir vivi waktu datang kerumahnya,terus vivi minta tanggung jawab sama firman buat dinikahi,waktu firman kecelakaan terus dirawat dirumah sakit,zico datang menemui vivi,dia meminta vivi untuk balikan lagi,dan menyuruh vivi bercerai dengan firman
aryuu
mamam tuh kurma vi 😌
Nay Nayla
..
mutiara dewi
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!