NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Kamu adalah Pasiennya

Abel tidak tega melihat Arslan meringkuk di ruangan yang lebih mirip sel isolasi daripada tempat tinggal. Ia tahu bahwa Arslan yang ada di hadapannya sekarang bukanlah "Putra Mahkota Raendra Dirgantara" yang arogan, melainkan seorang pria yang telah kehilangan segalanya—harta, keluarga, dan harga dirinya.

Abel segera mengambil ponselnya dan melangkah ke pojok ruangan untuk menghubungi Reno. Seperti yang sudah diduga, perdebatan sengit pun terjadi.

"Apa?! Lo mau menginap di sana? Jangan gila, Abel! Gue izinin lo mencarinya, bukan untuk menyerahkan diri lo di apartemen kumuh itu!" suara Reno menggelegar dari seberang telepon.

"Kak, dia hancur! Dia tidak punya siapa-siapa. Kartu kreditnya disita, dia diusir, dan dia sedang terluka. Di mana hati nurani Kakak? Dia bahkan membela kita habis-habisan di depan Bianca kemarin!" balas Abel tak kalah sengit.

Setelah perdebatan panjang yang melelahkan, Reno akhirnya memberikan satu syarat: ia harus bicara langsung dengan Arslan. Abel memberikan ponselnya kepada Arslan yang masih terduduk lemas.

"Arslan, ini gue. Dengar baik-baik," suara Reno terdengar sangat serius di telepon. "Gue izinin Abel menjaga lo malam ini karena dia yang memaksa. Tapi besok, gue akan mengirimkan kunci unit apartemen milik perusahaan, lo pindah ke tempat yang lebih layak. Jangan membantah! Gue gak mau Abel jenguk lo nanti di tempat kumuh. Dan satu hal lagi... kalau lo sampai melukai perasaan atau keamanan adik gue sedikit saja saat lo dalam kondisi seperti ini, gue sendiri yang akan menyeret lo keluar dari sana. Paham?"

Arslan hanya bisa menjawab dengan suara serak, "Terima kasih banyak kak Reno. Gue... gue akan ingat pesan Kak Reno."

Setelah menutup telepon, Abel langsung bergerak cepat. Ia mulai membereskan ruangan yang berantakan itu. Ia melipat pakaian Arslan yang berserakan dan menyeduh teh hangat untuk menenangkan saraf pria itu.

"Besok kita pindah ke apartemen yang lebih layak. Kamu tidak bisa tinggal di tempat lembap seperti ini, itu tidak baik untuk lukamu," ucap Abel sambil duduk di samping Arslan, kembali mengompres luka di pelipisnya dengan lebih telaten.

Arslan menatap Abel yang sibuk mengurusnya. "Kenapa lo melakukan ini, Bel? Setelah apa yang gue lakuin sama lo di masa SMA... setelah taruhan brengsek itu..."

Abel terhenti sejenak, lalu menatap mata Arslan dalam-dalam. "Karena Arslan yang aku kenal sekarang bukanlah pria labil dan haus akan validasi, Arslan saat ini adalah pria yang menangis karena merindukan adiknya. Arslan yang lama mungkin sudah mati. Yang ada di depan aku sekarang adalah Pak dokter yang hebat buat Farel."

Mendengar kata "Farel", Arslan teringat sesuatu. "Farel... dia tidak apa-apa ditinggal?"

"Ada Mbak Nita dan Kak Reno di rumah. Kamu jangan khawatirkan itu," Abel tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Malam ini, biarkan aku yang jadi 'Dokter'-nya. Kamu cukup istirahat."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arslan bisa memejamkan mata dengan sedikit lebih tenang. Meskipun ia berada di apartemen murah yang remang-remang, kehadiran Abel di sampingnya terasa lebih mewah daripada seluruh harta keluarga Raendra.

Malam yang tadinya terasa mencekam dan penuh duka, perlahan berubah menjadi hangat berkat kehadiran Abel. Apartemen sempit itu kini tercium aroma nasi goreng dan sate ayam yang baru saja dipesan Abel melalui aplikasi.

"Ayo, buka mulutmu. Jangan hanya dilihat saja, sate ini tidak akan masuk sendiri ke perutmu," ujar Abel sambil menyodorkan sepotong daging sate ke depan bibir Arslan.

Arslan menurut, ia mengunyah pelan sambil matanya tak lepas menatap Abel. "Sejak kapan 'Mama Farel' jadi se-perhatian ini? Apa gue perlu kena asbak setiap hari supaya bisa disuapi seperti ini?"

"Jangan bicara sembarangan!" Abel mencubit pelan lengan Arslan. "Cepat habiskan, lalu mandi. Kamu bau debu dan keringat."

Setelah makan, Abel menyiapkan baju ganti untuk Arslan dari tas ransel yang dibawa pria itu. Saat Arslan selesai mandi dan hanya mengenakan kaus oblong putih tipis dengan rambut yang masih basah, sisa-sisa keusilannya mulai muncul kembali. Arslan sengaja berjalan mendekat ke arah Abel yang sedang membereskan meja, lalu membungkuk rendah hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Bel, kancing baju gue yang belakang sepertinya nyangkut. Bisa tolong?" bisik Arslan dengan nada manja yang dibuat-buat, padahal ia memakai kaus oblong yang tidak ada kancingnya sama sekali.

Abel awalnya tertegun, namun ia segera sadar sedang dikerjai. Alih-alih menghindar, Abel justru tersenyum misterius. Ia tidak mundur, malah memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Abel meraih kerah kaus Arslan, lalu mengusap sisa air yang menetes dari rambut Arslan ke lehernya dengan jemarinya yang dingin.

"Oh, nyangkut ya? Sini aku lihat..." Abel berbisik tepat di telinga Arslan, suaranya sengaja dibuat lembut dan sedikit serak. Ia meniup pelan tengkuk Arslan, membuat pria itu seketika merinding.

Arslan mematung. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia dikejar deadline operasi. Ia tidak menyangka Abel akan membalas kejahilannya seberani itu.

"Kenapa wajahmu jadi merah begitu, Dokter?" goda Abel sambil menarik diri, tertawa kecil melihat Arslan yang sekarang justru salah tingkah dan memalingkan wajah.

"Lo... lo curang, Abel," gumam Arslan sambil mengusap lehernya, berusaha menetralkan gejolak di dadanya yang terasa mau meledak.

"Siapa yang mulai duluan?" Abel menjulurkan lidahnya, lalu melemparkan handuk ke arah wajah Arslan. "Sana keringkan rambutmu dengan benar. Aku tidak mau nanti pasienmu protes karena dokternya masuk angin besok."

Malam itu, di tengah kesederhanaan dan puing-puing luka masa lalu, ada sebuah benih baru yang tumbuh. Bukan lagi karena taruhan masa SMA, tapi karena kenyamanan yang tulus.

Malam itu, apartemen yang semula terasa dingin dan sunyi berubah menjadi panggung sandiwara kecil yang penuh tawa. Perdebatan sengit namun jenaka terjadi saat menentukan siapa yang berhak tidur di kasur tunggal yang keras itu dan siapa yang harus mengalah di sofa sempit.

"Gue ini pasien, Bel. Pelipis gue luka, hati ini hancur, masa lo tega membiarkan dokter tampan ini tidur di sofa yang baunya seperti gudang?" Arslan memasang wajah memelas paling dramatis yang pernah ia miliki, sisi manja yang hanya ia keluarkan khusus untuk Abel malam ini.

Abel memutar bola matanya, namun tak bisa menahan senyum. "Justru karena kamu pasien, kamu harus belajar disiplin. Sofa itu cukup untukmu, Dokter."

Namun pada akhirnya, mereka berakhir duduk bersisian di pinggir kasur, saling berbagi selimut tipis untuk menghalau dinginnya AC tua di ruangan itu. Arslan menyandarkan kepalanya di bahu Abel, menghirup aroma sabun bayi yang selalu lekat pada tubuh gadis itu. Keheningan yang tercipta bukan lagi kesedihan, melainkan sebuah pelukan tanpa sentuhan yang saling menguatkan.

Abel, yang gemas melihat sisi manja Arslan, mulai melancarkan aksi usilnya. Ia menusuk-nusuk pipi Arslan yang tidak terluka dengan telunjuknya, lalu menarik-narik ujung rambut Arslan yang masih lembap.

"Ternyata seorang Arslan Raendra kalau sedang galau jadinya seperti anak kecil ya? Farel saja tidak semanja ini kalau sedang rewel," goda Abel sambil tertawa renyah.

Arslan tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru menegakkan tubuhnya, memutar posisi sehingga kini mereka duduk berhadapan sangat dekat. Tatapannya berubah; tidak ada lagi tawa, hanya ada binar dalam yang tulus. Tangannya terangkat, merapikan anak rambut yang menutupi dahi Abel.

Suasana mendadak menjadi sangat intens. Jantung Abel seolah berhenti berdetak saat Arslan perlahan mendekatkan wajahnya. Ia bisa merasakan hembusan napas Arslan di kulitnya. Saat bibir Arslan hanya berjarak beberapa milimeter dari miliknya, Abel dengan gerakan kilat menutup mulut Arslan dengan telapak tangannya.

"Eits! Belum saatnya, Dokter," bisik Abel dengan kerlingan mata nakal, meski pipinya kini terasa panas seperti terbakar.

Arslan tertegun, lalu terkekeh pelan di balik telapak tangan Abel. Ia mengecup telapak tangan itu dengan lembut sebelum menjauhkan wajahnya. "Lo benar-benar jago merusak momen, Bel. Tapi tidak apa-apa... gue punya sisa umur untuk menunggu momen yang tepat."

Malam itu berakhir dengan mereka yang tertidur dalam posisi saling memunggungi namun jemari mereka saling bertautan erat di atas kasur, seolah takut jika dilepaskan, salah satu dari mereka akan menghilang.

1
Android Tv
Arslan dan Reno ini makhluk apaan dah, ribut Mulu 🤣
Ariany Sudjana
bijak sekali mertua dokter Arslan, kak Reno, juga dokter Arslan, tetap semangat yah Abel, keluarga mendukung apapun keputusan kamu
Ariany Sudjana
seru kayak tom and Jerry ini dokter Arslan dan Reno 😄, tapi mereka begitu bukan karena musuhan, tapi karena kompak 😄😄
Ultramen Pink: mengungkapkan rasa sayangnya emang agak lain mereka berdua mah 😄
total 1 replies
Belimbing Wuluh
bau-bau ada ular
Ariany Sudjana
semuanya juga sama-sama pintar, kalau ga pinter, ga bisa jadi dokter,psikolog dan juga CEO
Ultramen Pink: akal² Reno buat bully Arslan saja itu mah.
total 1 replies
Android Tv
gombal kau Lan, Arslan...
Ariany Sudjana
semangat yah pa dokter Arslan dan Abel 😄
Ultramen Pink: semangat dong... 😄
total 1 replies
Belimbing Wuluh
lah si Arslan main nyosor Bae dah
Ultramen Pink: Naluri laki2 itu namanya
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya saya ga suka makan kepiting gitu, pusing dengan kupas cangkangnya, makan ga jadi, keburu kenyang dengan bersihkan cangkang 😄
Ultramen Pink: kepiting enak cuma ambil dagingnya sangat sulit ya kak😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats dokter Arslan dan Abel
Ultramen Pink: terimakasih Kak, jgn lupa datang ke pesta mereka ya 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
pak dokter niat buat Abel senang, akhirnya mama yang menyelamatkan hasil karyanya 😄😄 ga apa pak dokter, yang penting niat dulu
Ultramen Pink: niat aja dulu, soal hasil gimana nanti 🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
pengalaman masa lalu itu jadikan pelajaran, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa datang
Ultramen Pink: nah betul itu kak
total 1 replies
Android Tv
dah tua maklum matanya jadi rabun Papa nya si Arslan
Android Tv
nah loh, jangan2 nanti di jodohkan.
Ultramen Pink: gak di jodohkan hanya di restui
total 1 replies
Belimbing Wuluh
akal²an lu aja, Lan 😄
Android Tv
beban anak tunggal benar2 nyata ya.
Belimbing Wuluh
nah loh, malu kan lu Arslan.
Ultramen Pink: kayaknya kakaknya dendam banget sama Arslan 🤭
total 1 replies
Belimbing Wuluh
nah kan, telat lu nyadarinya Lan.
Belimbing Wuluh
sakit gak Lan? nyesel kan lu.
Ariany Sudjana
waduh ini direktur ga tau diri, sudah ditolong malah berkhianat, dan harus dibinasakan. btw cepat sembuh kak, saya juga baru sembuh ini , ditunggu updatenya yah
Ultramen Pink: iya kak, terimakasih. jaga kesehatanmu juga ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!