💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kantin SMA Garuda siang ini berdengung dengan kehidupan. Aroma bakso yang gurih, mie ayam yang menggoda, dan es teh manis yang menyegarkan berpadu, menciptakan aroma khas kantin yang selalu dirindukan. Obrolan ringan, tawa renyah, dan dentingan sendok di mangkuk menjadi melodi latar bagi para siswa yang sedang mengisi perut.
Di sudut yang ramai itu, Cia dan Senja duduk berdua. Cia tampak tenang, menikmati makan siangnya dengan santai seolah dunia di sekitarnya tak ada, namun matanya yang tajam selalu waspada.
Di meja lain, Vano dan Varo duduk terpisah, menikmati makanan mereka dengan keheningan yang berat. Tatapan mereka sesekali melayang tajam ke arah Cia, memastikan adiknya itu baik-baik saja. Jaga jarak adalah keharusan, demi menjaga rahasia yang mereka simpan rapat-rapat, namun aura perlindungan yang terpancar dari kedua pemuda itu begitu kuat, seolah dinding tak kasat mata yang mengelilingi Cia.
Cahaya matahari menari-nari di lantai kantin, menciptakan pola-pola unik yang berubah seiring pergerakan awan di langit. Angin sepoi-sepoi menyusup melalui celah jendela, membawa aroma bunga dari taman sekolah, memberikan kesegaran di tengah panasnya hari.
Di tengah suasana yang tenang ini, seorang siswi berkacamata membawa nampan berisi jus jeruk, teh dingin, dan nasi goreng. Ia berjalan dengan hati-hati, seolah takut melakukan kesalahan. Raut wajahnya mencerminkan kecemasan, seolah menyadari aura permusuhan yang terpancar dari meja Viona, yang berada tak jauh dari sana.
Viona dan gengnya, seperti biasa, duduk dengan angkuhnya di meja mereka. Lirikan sinis dan bisikan-bisikan tajam sesekali mereka layangkan ke arah Cia, seolah menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Saat siswi berkacamata itu melewati meja mereka, Viona dengan cepat dan licik menjulurkan kakinya.
Byurrr!
Suara itu memecah keriuhan kantin. Jus jeruk, teh dingin, dan sepiring nasi goreng tumpah ruah, membasahi Cia dan Senja yang duduk di dekatnya. Seruan kaget dan gumaman kesal terdengar bergema, membuat seluruh mata di kantin tertuju pada mereka.
Siswi berkacamata itu membeku, tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya memucat, bibirnya bergetar tak mampu mengucap kata. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ma-maaf! Aku gak sengaja! Sungguh!" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar tertelan oleh keheningan yang tiba-tiba.
Cia merasakan sensasi dingin dan lengket merambat di pakaiannya. Aroma jeruk, teh, dan nasi goreng bercampur menjadi satu, menempel di kulitnya. Namun, di balik ketenangannya yang luar biasa, amarah di dalam dadanya membara seperti api yang siap meledak. Ia menatap lurus ke arah Viona, matanya memancarkan kilatan marah yang begitu tajam hingga seolah bisa membakar apa saja yang ada di depannya.
"Astaga ... bikin kotor aja," gumam Cia dengan nada datar yang justru terdengar lebih menakutkan daripada teriakan.
Viona menyeringai puas, menikmati hasil perbuatannya. Ia mengambil tisu dan membersihkan cipratan kecil yang mengenai tangannya dengan acuh tak acuh. "Ups, maaf ya," ucapnya dengan nada sinis pada siswi yang berdiri mematung di sisi Cia. "Lain kali hati-hati dong, jangan ceroboh! Kan kasian anak orang jadi basah kuyup!" sindirnya, menatap Cia dengan tatapan merendahkan.
"Iya kaya anak tikus kecebur di got!" timpal Nindy temanya Viona dengan tawa mengejek.
Di ambang pintu, Aksa baru saja tiba bersama Bima, Galang, dan Arya. Langkahnya terhenti mendadak. Matanya menyipit, memancarkan kekhawatiran yang mendalam saat melihat sosok wanitanya basah kuyup. Namun, saat matanya beralih ke arah Viona, tatapan itu berubah menjadi tajam dan dingin. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Tanpa ragu sedikitpun, ia berjalan cepat menembus kerumunan, langkahnya tegas dan penuh aura dominan, langsung menghampiri Cia.
Vano, yang duduk di meja lain bersama Varo, menghela napas dalam hati. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Dengan gerakan lambat namun penuh perhitungan, ia berdiri dari kursinya. Varo mengikutinya, tatapannya dingin dan waspada. Mereka berdua berjalan dengan tenang menuju meja Cia, namun aura mengintimidasi terpancar jelas dari setiap langkah mereka. Indra mereka bekerja penuh, siap melindungi Cia dari segala kemungkinan.
Cia menghela napas pelan. Ia merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya, namun ia berusaha tetap tenang. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada Viona dengan menunjukkan kemarahannya. Dengan nada datar, ia berkata pada siswi berkacamata itu, "Udah, gak usah minta maaf. Gue tahu lo gak salah. Mendingan lo pergi dari sini, sebelum lo ikutan jadi korban fashion show dadakan."
Siswi itu mengangguk cepat, merasa lega dan berterima kasih, lalu bergegas pergi menyelamatkan diri.
Aksa kini berada tepat di samping Cia. Dengan sigap, ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada Cia yang basah kuyup. "Lo gak apa-apa? Ada yang sakit?" tanyanya khawatir, matanya menelisik setiap inci tubuh Cia, memastikan tidak ada luka. Sentuhan lembutnya membuat jantung Cia mendadak disko di dalam sana.
Cia berusaha menetralkan detak jantungnya ia merasa sedikit tersentuh dengan perhatian Aksa. "Gue gak apa-apa. Cuma lengket aja," balasnya, matanya memancarkan kilatan amarah saat menatap Viona.
"Gue akan buat dia menyesal telah lahir ke dunia ini!" geram Aksa, suaranya rendah namun penuh ancaman.
"Gue bisa mengurusnya sendiri!" sahut Cia dengan nada dingin. "Gue gak akan biarin dia lolos begitu aja!" desis Cia dalam hati.
Senja, yang juga basah kuyup, hanya bisa menghela napas pasrah. Ia takut jika ia ikut campur, Viona akan membalas dendam padanya dan berujung beasiswanya yang akan di pertaruhkan.
"Nasib anak beasiswa emang gini, serba salah!" batin Senja menjerit tak berdaya.
Vano menatap Cia dan senja bergantian dengan tatapan khawatir. Melihat Cia aman, menghela nafas lega. Ia tahu Cia memang wanita yang kuat. ia melepas jaketnya dan memberikannya pada Senja. Ia tidak ingin menunjukkan perhatiannya pada Cia secara terang-terangan, karena ia tahu Aksa akan menjaganya.
"Pake ini," ujarnya datar, namun tersirat nada perhatian. "Lo jangan sampai sakit lagi."
Senja terkejut dengan tindakan Vano. Wajahnya merona merah, namun ia menerima jaket itu dengan senang hati. "Makasih," bisiknya pelan, sambil menundukkan kepalanya.
Cia menatap Viona dengan tatapan yang sulit dibaca. Di balik ketenangannya, tersembunyi amarah yang membara. Ia tidak akan membiarkan Viona lolos begitu saja. Di benaknya, sudah tersusun rencana balas dendam yang sempurna, yang akan membuat Viona menyesal telah berurusan dengannya.
"Oke, saatnya beraksi!" batin Cia.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah Varo. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka saling bertukar pandang. Sebuah komunikasi diam yang hanya mereka mengerti. Varo mengangguk pelan, matanya berkilat mengerti apa yang harus dilakukannya.
Cia berdiri dari kursinya. Dengan gerakan yang anggun, ia membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di pakaiannya seolah itu hanyalah debu tak berarti. Ia mengabaikan tatapan sinis Viona dan bisikan penasaran dari para siswa lainnya.
Saat Cia berjalan hendak pergi, Varo dengan sigap dan cepat meraih segelas besar jus alpukat yang ada di meja Viona. Cia, dengan senyum misterius yang mengerikan, dengan sengaja menyenggol bahu Varo seolah tidak sengaja.
Byurrr!
Segelas besar jus alpukat tumpah ke baju Viona, membasahi seragamnya yang mahal. Jeritan terkejut dan umpatan kesal terdengar dari Viona dan teman-temannya.
"Ciaaaa!!!" teriak Viona sambil mengibaskan bajunya yang basah kuyup, matanya memancarkan amarah yang tak terkendali.
Cia berhenti sejenak, menoleh ke arah Viona dengan senyuman polos yang menyebalkan. "Ups! Maaf ya. Sengaja!" ujarnya dengan nada menyindir.
Tanpa menunggu reaksi Viona, ia berbalik dan menarik tangan Senja melangkah pergi, meninggalkan kantin yang penuh dengan sorakan dan cemoohan.
Viona menggeram marah, tangannya mengepal kuat. "Awas lo, Cia! Lo pikir gue bakal diem aja? Liat aja nanti, gue bakal bikin hidup lo menderita!" teriaknya, namun suaranya tenggelam dalam riuhnya suara para siswa yang menertawakannya.
"Karma is real, Viona! Siapa yang nyiram, dia yang kena basah!" teriak seseorang di antara kerumunan.
Aksa menggelengkan kepalanya, namun seulas senyum tipis terukir di bibirnya melihat kelakuan Cia yang cerdas dan berani. "Gadis itu benar-benar tidak bisa ditebak," gumamnya pelan, merasa semakin jatuh cinta pada sosok Cia yang tangguh, cerdas, dan tidak takut pada siapa pun.
Bersambung ....