NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 Harapan dan Keserakahan

Mata Maya terpaku pada cermin berdiri di sudut kamar tidur yang luas dan mewah. Cahaya lembut dari lampu meja rias yang berbentuk bunga mawar emas memantulkan kilauan pada setiap helai rambut hitamnya yang telah dia susun dengan seksama dalam gaya ikal lembut yang jatuh hingga pundak. Tangannya yang dihiasi cincin berlian dan gelang emas putih bergerak dengan gesit saat dia menyapukan lapisan terakhir lipstik merah tua yang selalu membuatnya terlihat memikat dan penuh pesona.

“Sekarang ini saja yang bisa kuhadapkan,” bisiknya pelan sambil menatap wajahnya sendiri di cermin. Wajahnya yang memang cantik memang telah dia rawat dengan baik – dari perawatan wajah mahal hingga prosedur kecantikan minimal invasif yang membuatnya tampak jauh lebih muda dari usianya yang sebenarnya telah menginjak tiga puluh tahun. Dia menarik napas dalam-dalam, mencium aroma parfum Chanel yang dia semprotkan di leher dan pergelangan tangannya – parfum yang sama yang pernah dia lihat Rita kenakan saat mereka masih bersekolah di SMA Surabaya dulu.

“Rita selalu punya yang terbaik,” gumam Maya dalam hati, matanya menyala dengan rasa dendam yang telah bersembunyi dalam dirinya selama bertahun-tahun. “Saat SMA, dia adalah murid teladan, punya teman banyak, ayahnya pengusaha kaya, bahkan pakaiannya selalu yang terbaru dan paling modis. Sementara aku hanya anak penjual bakso yang harus bersusah payah hanya untuk bisa masuk sekolah yang sama dengan dia. saat kuliah aku juga kalah saing dengan Rania tapi suaminya telah aku rebut dan aku campakan, sekarang dia menjadi janda karena suaminya telah memilih aku. Kini akhirnya giliran aku yang punya segalanya – rumah mewah, mobil mewah, dan sebentar lagi perusahaannya Rita.”

Dia berbalik dan meninjau penampilannya secara keseluruhan. Baju malam merah muda muda yang dia kenakan menempel sempurna pada tubuhnya yang dia jaga dengan ketat melalui olahraga dan diet ketat. Gaun tersebut memiliki renda transparan di bagian bahu dan lengan, menambah kesan sensual yang dia sengaja ciptakan untuk menarik perhatian Herman. Di atas tempat tidur yang besar dengan seprai sutra putih, dia telah menyiapkan lingerie renda hitam yang akan dia kenakan nanti malam – barang yang dia beli secara khusus untuk memikat lawan jenis yang akan menjadi korbannya.

Maya berjalan menuju dapur yang terletak di sisi belakang rumah. Bau harum ayam bakar taliwang yang sudah matang meresap ke seluruh ruangan, membuatnya sedikit mengernyit. Padahal dia sendiri tidak terlalu menyukai makanan pedas, namun dia tahu bahwa hidangan tersebut adalah favorit Herman.

“Segalanya harus sempurna malam ini,” ujarnya sambil memeriksa hidangan yang telah dia susun rapi di atas meja makan yang besar dengan alas meja linen putih. Selain ayam bakar, dia juga menyiapkan lalapan segar, sambal matah yang pedas, nasi hangat, dan es buah segar yang dibuat dari buah-buahan pilihan. Di sudut meja, dia telah menaruh botol anggur merah mahal yang Herman suka – sebuah botol yang dia beli dengan harga jutaan rupiah dari toko anggur eksklusif di Bandung.

Setelah memastikan semua sudah siap, Maya mengambil handuk mandi besar dan masuk ke kamar mandi yang dilengkapi dengan bathtub ukuran besar dan pancuran dengan sistem jet air. Dia memasang lilin aromaterapi dengan aroma lavender yang bisa membuat tubuh rileks, lalu menuangkan sabun mandi berbahan dasar bunga mawar ke dalam air hangat yang memenuhi bathtub. Selama beberapa menit, dia merendam tubuhnya sambil menutup mata dan membayangkan apa yang akan dia dapatkan setelah malam ini.

“Sertifikat rumah harus segera atas namaku,” pikirnya sambil menggosok sabun ke kulitnya yang sudah diberi losion pemutih. “Setelah itu, aku akan menyuruh Herman membeli tanah tambahan di sebelah rumah ini – seperti yang sudah kurencanakan. Kalau uangnya sudah cair dan tanah tersebut atas namaku, aku bisa langsung menjualnya bersama rumah ini dan mendapatkan uang milyaran rupiah. Kemudian aku akan menghilang dari kehidupan Herman dan Rita sama sekali, mencari pria kaya lainnya yang bisa saya manfaatkan untuk hidup saya yang lebih mewah.”

Maya tahu bahwa Herman bukanlah pria yang dia sukai. Tubuhnya yang gendut dengan perut membuncit, kulit yang sudah mulai kendur akibat usia yang telah menginjak empat puluh lima tahun, dan bau badan yang kadang muncul ketika dia berkeringat – semuanya membuat Maya merasa jijik setiap kali mereka bersentuhan. Namun dia mampu menyembunyikan rasa jijik itu dengan baik, bahkan menunjukkan sikap penuh gairah setiap kali Herman ingin melakukan hubungan intim dengannya.

“Hanya beberapa bulan lagi, kemudian saya bisa meninggalkan laki-laki mokondo ini,” gumamnya saat keluar dari bathtub dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut. “Dia berpikir aku mencintainya, padahal hanya menginginkan uang dan kekayaannya. Aku tahu semua harta adalah milik istrinya, seperti Arga kedua laki-laki tersebut adalah laki-laki mokondo. Tapi saya tidak peduli – Aku akan merebutnya, sebelum aku kecolongan seperti dulu waktu selingkuh dengan arga.”

Ingatan tentang masa SMA kembali menghantui pikirannya. Saat itu, Maya selalu berada di bayangan Rita. Rita yang selalu menjadi juara kelas, yang selalu dipilih sebagai ketua osis, yang selalu menjadi pusat perhatian di setiap acara sekolah. Bahkan ketika mereka sama-sama mencintai seorang cowok bernama Andre – kapten tim bola sekolah – Andre memilih Rita daripada dirinya. Itu adalah luka yang dalam yang tidak pernah sembuh sepenuhnya di hati Maya. Ketika beberapa tahun kemudian dia tahu bahwa Rita menikah dengan Herman, seorang pria yang berasal dari keluarga kaya dan mengelola perusahaan besar, rasa dendam di hatinya semakin membesar.

“Saat itu kamu mengambil segalanya dariku, Rita,” bisik Maya dengan suara yang penuh amarah saat dia mengenakan piyama renda hitamnya. “Sekarang giliran aku yang akan mengambil segalanya darimu – suamimu, uangmu, bahkan kehormatanmu. Aku akan membuatmu menderita seperti yang kulakukan selama bertahun-tahun.”

Suara mobil yang masuk ke dalam halaman rumah membuat hatinya berdebar cepat. Dia melihat melalui jendela dan melihat mobil BMW yang dia suruhkan Herman belikan padanya sedang memasuki gerbang rumah. Dengan cepat, Maya menyisir rambutnya lagi dan memeriksa riasan wajahnya untuk yang kesekian kalinya. Dia mengambil semangkuk bunga mawar merah yang sudah dia siapkan dan menempatkannya di atas meja tamu, kemudian berdiri di depan pintu utama dengan senyum yang dia latihkan secara khusus untuk menarik perhatian pria.

Ketika pintu mobil terbuka dan Herman keluar, Maya segera menunjukkan wajah paling ceria yang bisa dia tampilkan. Herman mengenakan jas kerja yang sudah sedikit kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Namun matanya langsung bersinar ketika melihat Maya yang berdiri di depan pintu rumah dengan penampilan yang sangat memikat.

“Hai sayangku,” ujar Herman dengan suara yang penuh hasrat saat dia mendekati Maya dan memberikan ciuman di pipinya. Bau rokok dan alkohol dari mulutnya membuat Maya hampir tersedak, namun dia tetap menjaga senyumnya dan mengelilingi leher Herman dengan tangannya.

“Selamat datang, sayang,” jawab Maya dengan suara yang lembut dan manis. “Aku sudah menunggu kamu dengan sabar. Aku membuat makanan kesukaanmu – ayam bakar taliwang yang kamu suka sekali.”

Herman tersenyum lebar dan mengecup bibir Maya dengan penuh hasrat. “Kamu terlalu baik untukku, Maya. Aku benar-benar beruntung memiliki kamu. Rita tidak pernah melakukan hal seperti ini untukku – dia selalu sibuk dengan arisan teman-temannya atau kegiatan sosial yang tidak pernah ada habisnya. Dia bahkan tidak punya waktu untukku lagi.”

Maya menyembunyikan senyum sinis di dalam hati dan menarik tangan Herman masuk ke dalam rumah. “Kamu sudah bekerja keras, sayang. Mari kita makan dulu ya, setelah itu aku akan menghangatkanmu diranjang malam ini”

Selama makan malam, Maya menunjukkan sikap yang penuh perhatian dan penyayang. Dia mengulas makanan untuk Herman, meniriskan anggur ke dalam gelasnya, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Herman dengan tampilan sangat memperhatikan. Ketika Herman mulai bercerita tentang kesulitan dia dalam mengelola perusahaan karena Rita yang selalu terlalu protektif terhadap warisan keluarga nya, Maya segera memberikan dukungan dan kata-kata manis.

“Kamu adalah sosok yang sangat hebat, sayang,” ujar Maya sambil memegang tangan Herman di atas meja. “Rita tidak menghargai kamu seperti yang seharusnya. Kamu layak memiliki seseorang yang benar-benar mencintaimu dan mendukungmu dalam segala hal – seseorang seperti aku.”

Herman mengangkat tangan Maya dan menciumnya dengan lembut. “Aku tahu, sayang. Aku sudah mulai merasa lelah dengan semua tekanan dari Rita dan perusahaan. Kadang aku berpikir, apa jadinya kalau aku bisa hidup denganmu saja, jauh dari semua masalah itu.”

Inilah saat yang telah tunggu-tunggu Maya. Dia meraih kesempatan tersebut dengan cepat, menundukkan kepalanya seolah-olah merasa sungkan. “Sayangku, aku punya satu permintaan kecil nih,” ujarnya dengan suara yang pelan dan penuh harap. “Rumah ini memang sudah kamu belikan untukku, tapi sertifikatnya masih belum atas nama aku. Aku merasa tidak aman kalau begitu. Apakah kamu bisa mengurusnya segera ya? Biarkan rumah ini benar-benar menjadi milik kita berdua.”

Dia melihat ke mata Herman dengan pandangan yang penuh harapan dan sedikit kesedihan. “Selain itu, aku sudah menemukan tanah kosong di sebelah rumah ini yang sangat cocok untuk dibangun usaha kecil kita lho. Bayangkan saja, kita bisa memiliki kafe kecil atau toko bunga yang indah di sana. Kamu pasti akan suka, kan? Dan kalau rumah dan tanah itu sudah atas nama aku, aku akan merasa lebih tenang dan bisa fokus untuk membuat kamu bahagia.”

Herman mengerutkan kening seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. “Aku akan coba cari cara, sayang. Tapi kamu tahu kan, uang untuk membeli rumah dan tanah itu tidak bisa dikeluarkan begitu saja dari perusahaan. Rita selalu memeriksa laporan keuangan dengan sangat ketat.”

Maya segera mendekat dan menjilat bibirnya dengan perlahan, sebuah gerakan yang dia tahu bisa membuat Herman tergoda. “Kamu pasti bisa menemukan cara lain dong, sayang. Kamu adalah orang yang paling pintar dan cerdas yang aku kenal. Selain itu,” ujarnya dengan suara yang lebih pelan dan penuh hasrat sambil menyentuh dada Herman perlahan, “kalau kamu bisa memenuhi permintaanku ini, aku akan memberikan sesuatu yang sangat spesial untukmu malam ini. Aku akan melayanimu dengan sepenuh hati dan membuatmu merasa seperti raja.”

Kata-kata itu langsung membuat mata Herman menjadi merah karena gairah. Dia segera menarik Maya ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya dengan penuh hasrat. “Baiklah sayang, aku akan mengurusnya segera. Aku akan mencari cara untuk mengeluarkan uang dari perusahaan tanpa Rita mengetahuinya. Semua untuk kamu, karena kamu adalah satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku.”

Maya merespons ciuman tersebut dengan penuh semangat, meskipun di dalam hatinya dia merasa jijik dengan sentuhan mulut Herman yang basah dan berbau. Setelah beberapa saat, Herman menarik diri dan membawanya ke arah kamar tidur dengan langkah yang tergesa-gesa. Dia dengan tergesa-gesa melepas jas kerjanya, lalu mulai membuka kancing baju Maya dengan tangan yang gemetar karena kegembiraan.

Selama hubungan intim yang terjadi, Maya melakukan segala yang bisa dia lakukan untuk membuat Herman puas. Dia mengikuti setiap gerakan Herman dengan pasif, menyembunyikan rasa tidak nyaman yang dia rasakan setiap kali tubuh Herman yang gendut menyentuh dirinya. Ketika Herman akhirnya selesai dan terbaring tak berdaya di atas tempat tidur karena kelelahan, Maya segera bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Di dalam kamar mandi, dia berdiri di bawah pancuran dengan air dingin yang menyiram tubuhnya, mencoba menghilangkan rasa jijik yang menempel di kulitnya. Dia menggosok tubuhnya dengan keras menggunakan sabun dan spons, seolah-olah ingin menghilangkan setiap bekas sentuhan Herman darinya.

“Hanya beberapa bulan lagi,” bisiknya sambil melihat ke arah cermin yang berkabut karena uap air. “Setelah sertifikat rumah dan tanah itu atas nama saya, dan uangnya sudah saya dapatkan, saya akan menghilang tanpa jejak. Herman bisa saja marah atau mencari saya, tapi dia tidak akan pernah menemukan saya lagi. Dan Rita – oh, Rita – dia akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya yang paling berharga baginya. Itu adalah balasan yang pantas baginya karena selalu merasa lebih baik dari saya.”

Setelah selesai mandi, Maya keluar dari kamar mandi dan melihat Herman yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Dia mengambil baju tidur yang lembut dan mengenakannya, kemudian keluar ke ruang tamu untuk menghubungi seseorang melalui teleponnya yang dia sembunyikan di dalam laci meja kerja. Dia menekan nomor kontak yang sudah dia simpan dengan nama “Pak Bambang” – seorang notaris yang telah dia bayar mahal untuk membantu proses perubahan nama pada sertifikat rumah dan tanah.

“Halo Pak Bambang,” ujar Maya dengan suara yang rendah agar tidak mengganggu Herman yang sedang tidur. “Apakah semuanya sudah siap? Kapan kita bisa melakukan proses transfer nama pada sertifikat rumah itu? Herman bilang dia akan mengurus semua persyaratannya segera, jadi saya ingin memastikan bahwa semuanya sudah siap dan tidak ada masalah apapun.”

Setelah beberapa menit berbicara dan mengkonfirmasi semua detail, Maya menutup teleponnya dengan senyum puas. Segalanya berjalan sesuai dengan rencananya. Dalam waktu dekat, rumah dan tanah tersebut akan menjadi miliknya secara sah, dan dia akan mendapatkan uang yang cukup banyak untuk hidup mewah selama bertahun-tahun ke depan. Dia merencanakan untuk pindah ke Bali atau bahkan luar negeri, memulai kehidupan baru dengan identitas baru dan mencari pria kaya lainnya yang bisa dia manfaatkan.

Maya kembali masuk ke kamar tidur dan melihat sosok Herman yang sedang mendengkur lelap di atas tempat tidur. Dia mendekat dan melihat wajah pria tersebut dengan pandangan yang penuh dengan keserakahan dan dendam. “Kamu hanya alat untuk mencapai tujuan ku, om,” pikirnya dalam hati. “Setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan, kamu aku tendang. Aku tidak perduli kamu hancur berkeping-keping bersama Rita. Itu bukan masalahku lagi.”

Dia kemudian berbaring di samping Herman dan menutup matanya, membayangkan masa depan yang penuh kemewahan dan kesuksesan yang akan dia dapatkan. Dia tidak menyadari bahwa di luar rumah tersebut, sebuah mobil sedang memasuki kawasan elit tersebut, membawa seseorang yang telah memiliki semua bukti yang dibutuhkan untuk menghancurkan semua rencana yang telah dia susun dengan cermat selama bertahun-tahun. Malam ini mungkin menjadi malam terakhir di mana Maya bisa merasakan kesenangan dari pengkhianatan dan keserakahan yang telah dia lakukan.

 

1
Zellin
terlalu bertele-tele thor..banyak tulisan yang berulang itu2 aja cakap nya..setiap bab aq skip bacanya..jadi bosan terlalu d alur2kan kayak cerita ikan terbang
niadatin tiasmami: gitu ya kak makasih masukannya kak
total 1 replies
F.Room
korupsinya banyak banget si Arga..
niadatin tiasmami: karena keluarga nya juga matre
total 1 replies
F.Room
memang harus dimiskinkan sih itu Arga ga tau diri
Zanahhan226
wah, malah dimanfaatin sih itu..
Zanahhan226
kok aku malah curiga, ya..
F.Room
nyebelin nih harta gono gini..
F.Room
kok parah gini sih si Arga
niadatin tiasmami: tp nanti sadar kak
total 1 replies
F.Room
good, perempuan harus tegas
niadatin tiasmami: apalagi perempuan berduit
total 2 replies
F.Room
engga usah ditangisi temen seperti Maya..
F.Room
yg ga bener mayanya..
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
F.Room
dari awal aku udah curiga..
niadatin tiasmami: curiga gmn kak
total 1 replies
F.Room
hubungan tanpa uang juga delusi..
niadatin tiasmami: betul sih kak tp hubungan kalau hanya uang gk bagus jg
total 1 replies
F.Room
cowok ga guna
F.Room
kerja woi, jangan ngemis
niadatin tiasmami: gk diterima kerja kak
total 1 replies
F.Room
kena karma
F.Room
rasain dah si arga, cowok ga modal..
F.Room
memang ga tau diri nih
F.Room
ternyata arga memang seorang penjilat
F.Room
duh maya ga tau diri..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!