Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Pertama
Nayara pulang ke rumah dengan hati remuk. Sepanjang perjalanan di taksi, air matanya tidak berhenti mengalir. Supir taksi sampai nanya, "Ibu tidak apa-apa?" tapi Nayara cuma geleng, tidak sanggup bicara.
Sampai rumah, Nayara langsung masuk kamar, melempar tubuhnya ke ranjang. Menangis sekeras yang dia bisa. Bantal jadi basah kuyup karena air mata. Tenggorokannya sakit, dadanya sesak, kepalanya berdenyut.
Kenapa Gilang begitu? Kenapa dia dingin sekali di depan Sandra? Kenapa dia tidak bangga punya istri? Kenapa?
Dan Sandra. Cewek sialan itu. Senyumnya yang meremehkan. Tatapannya yang menghina. Kata-katanya yang menyindir. "Pantas saja Pak Gilang sering pulang malam. Pasti tidak betah di rumah ya, Pak?"
Menyakitkan. Sangat menyakitkan.
Nayara menangis sampai ketiduran. Bangun lagi sore hari dengan mata bengkak dan kepala pusing luar biasa. Dia turun ke bawah, minum air putih banyak-banyak. Perutnya lapar tapi dia tidak nafsu makan.
Jam delapan malam. Gilang belum pulang. Nayara kirim pesan. Tidak dibaca. Telepon. Tidak diangkat.
Jam sembilan. Masih belum pulang. Nayara mulai cemas. Jangan-jangan Gilang kenapa-kenapa? Atau, atau dia lagi sama Sandra?
Pikiran itu bikin Nayara makin gelisah. Dia mondar-mandir di ruang tamu, tangan gemetar, napas sesak.
Jam sepuluh lewat. Pintu rumah akhirnya terbuka. Gilang masuk dengan wajah lelah. Jas dibuka, dasi sudah tidak ada, kemeja kusut.
"Mas." Nayara langsung menghampiri.
Gilang melirik sekilas, lalu jalan ke arah dapur. Buka kulkas, ambil air mineral, minum langsung dari botol.
"Mas, sudah makan belum?" tanya Nayara hati-hati.
"Sudah."
"Bekalnya dimakan?"
"Tidak."
Nayara menggigit bibir. Tidak dimakan. Bekal yang dia masak dari pagi tidak dimakan sama sekali.
"Kenapa tidak dimakan, Mas? Tidak enak ya?"
Gilang menutup kulkas keras. Bunyi gedebuk bikin Nayara tersentak. "Lupa. Sibuk. Puas?"
"Aku, aku cuma tanya aja, Mas."
"Ya udah kan gua jawab. Ngapain tanya lagi?" Gilang berjalan mau ke tangga.
Nayara mengikuti dari belakang. Dadanya berdebar kencang. Ada yang harus dia tanyakan. Harus. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
"Mas, aku mau nanya sesuatu."
Gilang berhenti di tangga paling bawah, berbalik dengan wajah kesal. "Apa lagi sih?"
Nayara menelan ludah susah payah. Tangannya meremas-remas ujung dress. "Mas, Sandra itu, dia cuma sekretaris kan?"
Hening sebentar. Gilang menatap Nayara dengan alis terangkat. "Memangnya kenapa?"
"Aku, aku lihat tadi kalian terlalu dekat. Kayak, kayak bukan atasan sama bawahan gitu." Suara Nayara pelan, gemetar.
Gilang tertawa. Tertawa keras dengan nada mengejek. "Lo cemburu sama Sandra? Serius?"
"Aku tidak cemburu! Aku cuma, cuma merasa tidak nyaman lihat Mas terlalu akrab sama dia!"
"Akrab apanya? Itu namanya profesional! Dia sekretaris gua, ya wajar dong kalo kita kerja bareng tiap hari!" Gilang mulai naik suaranya.
"Tapi tadi dia bilang Mas sering pulang malam karena tidak betah di rumah! Kenapa dia berani bilang gitu kalau kalian cuma atasan bawahan?" Nayara juga mulai emosi. Dadanya naik turun, napasnya memburu.
"ITU CUMA BERCANDA! LO TIDAK NGERTI BERCANDA APA?" Gilang berteriak keras.
Nayara mundur selangkah. Tubuhnya gemetar. "Bercanda yang menyakitkan, Mas! Aku istrimu! Kenapa kamu biarkan dia ngatain aku kayak gitu di depan kamu?"
"GUA TIDAK BIARKAN DIA NGATAIN LO! LO YANG TERLALU SENSITIF!" Gilang turun dari tangga, berjalan mendekat ke Nayara. Wajahnya merah, urat-urat di lehernya menegang.
"Aku tidak sensitif! Aku cuma tidak terima diperlakukan kayak gitu!" Nayara menangis sekarang, air matanya mengalir deras. "Kamu tahu tidak, Mas? Tadi aku malu! Malu banget! Kamu tidak bangga punya aku sebagai istri! Kamu cuma bilang 'iya' pas Sandra tanya aku istrimu! Cuma 'iya'! Tidak ada bangga sama sekali!"
"TERUS GUA HARUS BILANG APA? 'INI ISTRI GUA YANG PALING CANTIK DI DUNIA'? MIMPI AJA LO, NAYARA!" Gilang menunjuk wajah Nayara dengan jari telunjuk. "LO LIHAT CERMIN TIDAK SIH? LIHAT DIRI LO SEKARANG! PERUT GENDUT, MUKA PUCAT, BAJU LUSUH! DIBANDING SANDRA? JAUH!"
Kata-kata itu seperti peluru yang menembus jantung Nayara. Dia terdiam. Matanya melebar tidak percaya. Bibirnya bergetar hebat.
Gilang membandingkannya dengan Sandra.
Dan Nayara kalah.
"Mas, aku, aku hamil anak kamu. Wajar kan kalau aku jadi begini?" Suara Nayara serak, hampir tidak terdengar.
"HAMIL BUKAN ALASAN BUAT JADI JELEK! IBU-IBU HAMIL LAIN TETAP CANTIK, TETAP RAPI! KENAPA LO ENGGAK?" Gilang masih berteriak, tidak peduli Nayara menangis makin keras.
"Aku, aku sudah berusaha, Mas. Tapi aku lagi mual terus, pusing terus, susah banget buat dandan!" Nayara mencoba menjelaskan dengan isakan.
"ITU ALASAN! ALASAN DOANG! LO CUMA MANJA! CUMA MAU ENAK-ENAKAN DI RUMAH!" Gilang meraih vas bunga kristal yang ada di meja samping tangga.
PRANG!
Vas itu dilempar ke lantai. Pecah berkeping-keping. Air dan bunga mawar tumpah ke mana-mana. Nayara menjerit kaget, tubuhnya bergetar hebat.
"MAS! KENAPA MAS MARAH BEGINI?" Nayara mencoba mendekati Gilang tapi Gilang mendorong bahunya kasar. Nayara tersandung, hampir jatuh kalau tidak pegangan di dinding.
"KARENA LO NYEBELIN! NGOMEL TERUS! CEREWET! CEMBURU BUTA! GUA CAPEK, NAYARA! CAPEK SAMA LO!" Gilang berteriak tepat di depan wajah Nayara.
"Aku tidak cemburu buta! Aku cuma, aku cuma takut kamu selingkuh sama dia!" Nayara berteriak balik, air matanya tidak berhenti mengalir.
"SELINGKUH? LO PIKIR GUA SEBODOH ITU? GUA SELINGKUH SAMA KARYAWAN SENDIRI?" Gilang tertawa sarkastik. "KALAU GUA MAU SELINGKUH PUN, GUA PILIH YANG LEBIH BAGUS DARI LO!"
Tambahan luka di hati Nayara. Dia merosot, duduk di lantai sambil memeluk perutnya yang mulai terasa kencang. Sakit. Perutnya sakit.
"Mas, kumohon jangan bilang begitu. Aku sakit hati." Nayara memohon dengan suara lirih.
"SAKIT HATI? LO YANG BIKIN GUA SAKIT HATI DULUAN! DATANG KE KANTOR GUA, BIKIN MALU GUA DI DEPAN KARYAWAN! LO PIKIR GUA SENANG?" Gilang menendang pecahan vas yang berserakan. Kaca-kaca kecil beterbangan.
"Aku cuma mau kasih bekal! Cuma mau perhatian sama kamu!" Nayara menangis terisak-isak.
"PERHATIAN? LO MAU PERHATIAN? UDAH GUA KASIH RUMAH MEWAH, UANG, SEMUA KEBUTUHAN! ITU BUKAN PERHATIAN NAMANYA APA?" Gilang mencengkeram rambutnya sendiri, wajahnya merah padam.
"Aku tidak butuh rumah mewah kalau kamu tidak cinta sama aku! Aku tidak butuh uang kalau kamu tidak sayang sama aku!" Nayara berteriak sekeras tenaganya, seluruh tubuhnya bergetar.
"CINTA? SAYANG? LO MASIH PERCAYA KATA-KATA GOMBALAN KAYAK GITU?" Gilang menatap Nayara dengan tatapan penuh hina. "BANGUN, NAYARA! INI DUNIA NYATA! BUKAN DONGENG!"
Kata-kata itu menghancurkan seluruh harapan Nayara. Jadi selama ini cuma gombalan? Semua kata-kata manis Gilang waktu melamar, waktu bulan madu, semua itu cuma gombalan kosong?
Perutnya makin kencang. Sakit sekali. Nayara meringis, tangannya meremas perutnya erat. "Mas, perutku sakit. Tolong, tolong bantuin aku."
"SAKIT? DRAMA LAGI LO!" Gilang tidak peduli.
"Mas, ini beneran! Perutku sakit banget! Aku takut kenapa-kenapa sama baby!" Nayara menangis histeris sekarang.
Gilang menatap Nayara sebentar. Ada sedikit keraguan di wajahnya. Tapi kemudian dia menggeleng, membuang muka. "Lo cuma mau perhatian gua. Gua tidak akan termakan akting murahan lo!"
"INI BUKAN AKTING! MAU KAMU PERCAYA ATAU ENGGAK, PERUTKU SAKIT BENERAN!" Nayara berteriak sambil merintih kesakitan.
PLAK!
Tangan Gilang melayang. Keras. Mengenai pipi Nayara.
Tamparan itu begitu keras sampai kepala Nayara miring ke samping. Pipinya panas menyengat. Telinga berdengung. Pandangannya berkunang-kunang.
Nayara terdiam. Tubuhnya kaku. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh pipi yang baru ditampar. Panas. Perih.
Gilang menamparnya.
Suaminya sendiri menampar dia.
"Mas," bisik Nayara pelan, suaranya pecah.
Gilang tidak menyesal. Tidak ada penyesalan di wajahnya. Malah ada kepuasan. "Itu buat lo belajar tutup mulut!"
Gilang berbalik, naik tangga dengan langkah berat.
BRAK!
Pintu kamar dibanting keras. Suara gedoran itu menggelegar di seluruh rumah.
Nayara duduk sendirian di lantai yang penuh pecahan kaca dan bunga-bunga berserakan. Pipinya masih panas. Perutnya masih kencang dan sakit. Air matanya mengalir tanpa henti.
Tangannya memeluk perutnya erat. "Maafin Mama, sayang. Maafin Mama tidak bisa jaga kamu dengan baik. Maafin Mama punya Papa yang jahat."
Perutnya makin sakit. Rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum dari dalam. Nayara meringkuk di lantai, posisi janin, menahan sakit yang luar biasa.
Dia takut. Takut sekali. Takut bayinya kenapa-kenapa. Takut keguguran. Tapi dia tidak berani minta tolong Gilang. Gilang pasti marah lagi. Pasti bilang dia drama.
Nayara merangkak pelan menuju sofa. Tubuhnya lemas sekali. Setiap gerakan terasa berat. Akhirnya dia sampai di sofa, naik dengan susah payah, lalu meringkuk di sana.
Tangannya tidak lepas dari perutnya. Mengelus pelan, mencoba menenangkan bayinya yang mungkin juga merasakan emosi ibunya.
"Bertahan ya, sayang. Kita harus kuat. Mama janji akan lindungi kamu. Walau Papa tidak sayang, Mama akan sayang dua kali lipat." Nayara berbisik di sela isakannya.
Malam itu Nayara tidak tidur. Dia terjaga semalaman, meringkuk di sofa dengan perut yang masih terasa sakit. Matanya menatap kosong ke langit-langit.
Di atas sana, Gilang tidur nyenyak. Tidak peduli istrinya menangis di bawah. Tidak peduli istrinya kesakitan. Tidak peduli sama sekali.
Dan Nayara sadar.
Pernikahannya sudah hancur.
Bahkan sebelum bayinya lahir, cinta di rumah tangga ini sudah mati.
Yang tersisa hanya luka, sakit, dan penyesalan.
Penyesalan Nayara kenapa dia percaya janji-janji manis Gilang.
Penyesalan kenapa dia menikah dengan lelaki yang ternyata tidak pernah benar-benar mencintainya.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭