Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Hutan Kabel
Api yang melahap Gudang Karat masih menari-nari di cakrawala belakang, mengirimkan lidah asap hitam yang menjilat langit malam yang legam. Li Wei berdiri di ambang pintu belakang yang reyot, membiarkan angin dingin membawa aroma oli terbakar menerpa wajahnya. Di hadapan mereka, sebuah dunia yang berbeda membentang—rimba yang tidak terbuat dari kayu dan daun, melainkan jalinan kabel tembaga tua dan tiang-tiang beton yang miring seperti nisan raksasa.
"Jangan menoleh ke belakang," desis Li Wei, meski suaranya sendiri terdengar parau. Bahu kirinya yang tertembus peluru saat menghadapi Kapten Feng kini berdenyut hebat, menyebarkan rasa panas yang tidak alami ke seluruh sistem sarafnya.
Chen Xi melangkah tertatih, salah satu kakinya terseret pelan akibat benturan keras dengan kontainer logam di gudang tadi. "Hutan ini memiliki medan magnetik yang tidak stabil. Jika kau memaksakan Neural Overclock sekarang, kepalamu akan meledak sebelum kita sampai ke tengah."
"Aku masih bisa berjalan," balas Li Wei ketus. Ia mencoba menegakkan punggungnya, namun komponen penstabil saraf seri-X di sumsum tulang belakangnya justru mengeluarkan bunyi denging halus yang menyakitkan.
Xiao Hu menarik ujung jubah Li Wei, matanya yang besar menatap barisan 'pohon' logam di depan mereka dengan ngeri. "Kak, udaranya... udaranya bergetar. Aku bisa merasakannya di ujung kuku-kukuku. Kabel-kabel itu masih dialiri listrik sisa."
"Gadis kecil ini benar," Chen Xi memeriksa perangkat di pergelangan tangannya yang kini hanya menampilkan statis abu-abu. "Sistem navigasiku mati total. Sensor biometrik, radar, semuanya buta. Magnetik di hutan ini telah pulih ke frekuensi yang paling agresif. Kita berjalan secara manual sekarang."
Li Wei menatap Xiao Hu, lalu berjongkok meski rasa sakit di bahunya membuatnya nyaris terjatuh. "Kau punya kompas mekanik di tasmu, Xiao Hu? Sesuatu yang tidak butuh sinyal?"
"Aku punya kunci inggris penyesuai frekuensi," jawab Xiao Hu sambil merogoh tasnya. "Jika ujungnya bergetar ke arah tertentu, berarti ada aliran arus tanah yang besar. Kita harus menjauh dari arah itu agar zirah Kakak tidak mengalami korsleting."
"Kau yang memimpin jalan, Kecil," perintah Li Wei sambil mencoba tersenyum, meski itu lebih terlihat seperti ringisan.
Mereka mulai memasuki kerimbunan kabel. Kaki mereka memijak tanah yang tidak lagi tertutup rumput, melainkan lapisan plastik pelindung kabel yang terkelupas dan licin oleh tumpahan oli. Bau karet bakar yang menusuk menyelimuti atmosfer, bercampur dengan aroma ozon yang menyesakkan dada. Setiap kali angin berembus, jalinan kabel di atas mereka mengeluarkan suara decit logam yang menyerupai rintihan makhluk hidup.
"Li Wei, kau gemetar," Chen Xi berbisik, mendekat ke sisi pria itu.
"Hanya gangguan kecil," sahut Li Wei, meski tangannya yang memegang gagang Bailong-Jian tampak bergetar hebat. "Medan magnet ini menyerang titik-titik saraf yang baru saja diperbaiki. Rasanya seperti ribuan jarum dingin ditusukkan ke dasar otakku."
"Sini," Chen Xi tiba-tiba melingkarkan lengan Li Wei ke bahunya, membiarkan pria itu bersandar pada tubuhnya yang juga sedang tidak bugar.
"Apa yang kau lakukan? Kau sendiri sedang pincang," protes Li Wei, mencoba melepaskan diri.
"Diamlah, Algojo," sela Chen Xi dengan nada tajam yang tidak bisa dibantah. "Jika kau pingsan di sini, aku tidak punya cukup tenaga untuk menyeret mayatmu. Kita berbagi beban, atau kita mati bersama di bawah akar tembaga ini. Kau pilih yang mana?"
Li Wei terdiam. Untuk pertama kalinya, martabatnya sebagai perwira elit Kekaisaran tidak bisa memberinya jawaban. Ia menatap wajah Chen Xi dari jarak dekat—wajah yang biasanya penuh tipu daya dan sinisme, kini menunjukkan gurat kelelahan dan kekhawatiran yang murni. Di dunia yang hancur ini, kebenaran justru ditemukan pada musuh yang paling ia benci.
"Terima kasih," gumam Li Wei nyaris tak terdengar.
"Simpan terima kasihmu untuk saat kita menemukan tempat yang tidak berbau oli ini," balas Chen Xi pelan.
Mereka merayap masuk lebih dalam. Cahaya remaram berasal dari lumut elektrik yang tumbuh di sela-sela tiang beton, berpendar biru pucat yang memberikan kesan mistis sekaligus mengerikan. Tiba-tiba, Xiao Hu berhenti mendadak. Kunci inggris di tangannya bergetar sangat kencang hingga mengeluarkan suara berdenging.
"Ada sesuatu di depan," bisik Xiao Hu dengan suara bergetar. "Sesuatu yang... berdenyut. Tapi bukan mesin."
Li Wei segera melepaskan diri dari sandaran Chen Xi, meski penglihatannya sedikit kabur. Ia menarik Bailong-Jian perlahan, berhati-hati agar tidak menimbulkan gesekan logam. Di antara jalinan kabel raksasa yang menyerupai akar pohon beringin, dua pasang mata merah menyala menatap mereka dari kegelapan.
"Kucing Kabel," desis Chen Xi. "Predator bio-mekanis hasil gagal eksperimen limbah. Mereka melacak sinyal panas dan denyut saraf."
"Jangan aktifkan pedangmu, Li Wei!" seru Chen Xi saat melihat tangan Li Wei mulai memicu energi pada bilahnya. "Jika pedang itu menyala, kau akan menjadi suar bagi mereka semua di hutan ini!"
"Lalu bagaimana aku harus membunuhnya?" tanya Li Wei dengan napas memburu.
"Jangan dibunuh," Xiao Hu menyela tiba-tiba. Ia mengambil botol oli bekas dari tasnya dan menyiramkannya ke tumpukan kabel di sisi kiri mereka. "Mereka benci bau oli murni yang masih pekat. Kak, gunakan kunci inggris ini, ketuk tiang beton di sebelah sana!"
Li Wei menangkap kunci inggris yang dilemparkan Xiao Hu. Dengan sisa tenaganya, ia melemparkan benda logam itu ke tiang beton yang jauh dari posisi mereka. Ting! Suara denting itu bergema, mengalihkan perhatian predator tersebut sesaat.
"Sekarang! Masuk ke bawah akar itu!" perintah Chen Xi.
Mereka merangkak masuk ke dalam rongga di bawah lilitan kabel raksasa. Li Wei memeluk Xiao Hu erat-erat, menekan kepala anak itu ke dadanya agar ia tidak melihat sosok bayangan hitam yang melompat melewati mereka dengan kecepatan kilat. Di dalam kegelapan yang sesak itu, Li Wei bisa merasakan detak jantung Xiao Hu yang berpacu kencang, sebuah pengingat bahwa di tengah hutan mesin ini, masih ada kehidupan yang berdenyut rapuh.
"Kenapa dunia harus menjadi seperti ini, Kak?" suara Xiao Hu terdengar sangat kecil, teredam oleh jubah Li Wei. "Kenapa alam pun harus menjadi mesin yang ingin memakan kita?"
Li Wei terdiam, jemarinya mengusap rambut Xiao Hu yang berdebu. "Karena manusia lupa cara mencintai sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan, Kecil. Kita mengubah segalanya menjadi alat, sampai akhirnya kita sendiri menjadi alat."
Chen Xi, yang duduk bersandar di dinding kabel di hadapan mereka, menatap Li Wei dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan yang mendalam di sana, sebuah cermin dari luka yang sama-sama mereka bawa dari medan perang.
Keheningan di bawah rongga kabel itu terasa mencekam. Di luar, suara cakram logam yang menggores beton perlahan menjauh, menandakan predator bio-mekanis itu telah kehilangan jejak panas mereka. Li Wei mengembuskan napas panjang, namun uap yang keluar dari mulutnya tampak kebiruan akibat ionisasi udara yang tinggi. Rasa sakit di bahunya kini telah mati rasa, digantikan oleh sensasi dingin yang merayap ke seluruh lengannya—pertanda bahwa infeksi magnetik mulai mengganggu sirkulasi energinya.
"Mereka sudah pergi," bisik Chen Xi. Ia mencoba berdiri, namun wajahnya meringis saat kaki kian membengkak di dalam bot militer. "Kita harus terus bergerak. Jika kita berdiam diri di sini, magnetik hutan akan menghisap sisa daya pada Core saraf kita sampai kita menjadi patung logam."
Li Wei bangkit dengan susah payah, lalu melakukan sesuatu yang mengejutkan Chen Xi. Ia mengulurkan tangan, membantu wanita itu berdiri dengan tumpuan yang lebih stabil. "Gunakan aku sebagai tongkatmu. Aku tidak akan membiarkanmu tertinggal."
Chen Xi menatap tangan Li Wei sejenak sebelum menerimanya. "Kau sendiri hampir tidak bisa berdiri tegak, Li Wei. Jangan bertingkah seperti pahlawan."
"Aku bukan pahlawan. Aku hanya tidak ingin berutang nyawa pada mayat," balas Li Wei dengan nada pedas yang menjadi tameng bagi kerapuhannya.
Mereka melanjutkan perjalanan menembus rimbunnya kabel-kabel yang merambat seperti ular piton raksasa. Xiao Hu berjalan di depan, menggunakan insting mekaniknya untuk mendeteksi jalur kabel yang masih memiliki arus aktif. Anak itu sesekali berhenti untuk mendengarkan getaran pada tiang-tiang beton, bertindak sebagai navigasi manusia bagi dua perwira yang kini tak berdaya tanpa teknologi.
"Kak, lihat di sana!" Xiao Hu menunjuk ke arah sebuah celah di antara lilitan kabel setinggi lima meter.
Di tengah kegelapan hutan yang berantakan, berdirilah sebuah struktur beton putih yang sangat kontras. Bangunan itu berbentuk kotak simetris, tanpa jendela, dan tampak bersih dari karat maupun lumut elektrik. Permukaannya memancarkan pendaran cahaya biru yang sangat tipis, seolah-olah bangunan itu mengusir segala kekacauan hutan di sekelilingnya.
"Struktur itu... itu adalah teknologi Kekaisaran yang murni," bisik Li Wei, matanya menyipit. "Apa yang dilakukan fasilitas medis tingkat tinggi di tengah hutan limbah seperti ini?"
"Ini bukan sekadar fasilitas medis," Chen Xi mengamati lambang yang terukir samar di atas gerbang utama—sebuah simbol yang menyerupai tetesan cairan di dalam roda gigi. "Ini adalah laboratorium penelitian Qi. Tempat di mana mereka melakukan ekstraksi emosi untuk mengisi Qi-Battery."
"Tempat kakakku dibawa?" suara Xiao Hu bergetar, langkahnya mulai melambat karena takut.
Li Wei merasakan amarah yang dingin mulai membeku di hatinya. Ingatannya kembali pada perintah-perintah Zhao Kun di masa lalu, tentang 'pengorbanan yang diperlukan demi kestabilan energi Kekaisaran'. Ia tidak pernah tahu bahwa pengorbanan itu melibatkan tempat-tempat seperti ini.
"Kita akan masuk," tegas Li Wei. Ia mendekati pintu besar bangunan itu.
"Tunggu, Li Wei! Kita tidak tahu sistem keamanan apa yang ada di dalam. Tanpa Neuro-Sync yang stabil, kita hanya target empuk bagi AI pertahanan," peringat Chen Xi.
Li Wei mengabaikan peringatan itu. Ia menyentuhkan telapak tangannya pada panel sensor di samping pintu. Keajaiban terjadi; sensor itu tidak menolak, melainkan berdenyut hijau saat memindai sidik jari dan tanda saraf Li Wei.
"Akses diterima. Perwira Tinggi 09, selamat datang kembali," suara mesin yang dingin bergema di udara.
Pintu beton itu bergeser terbuka dengan suara hidrolik yang halus, melepaskan gelombang udara dingin beraroma antiseptik yang menusuk hidung. Cahaya lampu neon yang terlalu terang menyilaukan mata mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan hutan.
"Selamat datang kembali?" Chen Xi mengulang kata-kata mesin itu dengan nada curiga. "Li Wei, kenapa fasilitas rahasia ini mengenalimu?"
Li Wei terpaku di ambang pintu. Ia menatap lorong panjang di hadapannya yang dipenuhi tabung-tabung kaca raksasa berisi cairan biru yang bercahaya. Rasa mual tiba-tiba menghantamnya. Sebuah memori yang terkunci di dasar otaknya seolah-olah mulai retak, mengirimkan bayangan-bayangan buram tentang jeritan dan tangisan yang pernah ia dengar di suatu tempat yang sangat mirip dengan ini.
"Aku tidak tahu," suara Li Wei nyaris hilang. "Tapi aku merasa... aku pernah berada di sini sebelumnya. Bukan sebagai tamu."
Xiao Hu memegang tangan Li Wei dengan sangat erat, jemari kecilnya terasa dingin. "Kak, tempat ini terasa sangat sedih. Aku bisa mendengar suara orang menangis di dalam dindingnya."
Li Wei tidak menjawab. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu otomatis di belakang mereka tertutup rapat, mengunci mereka di dalam keheningan laboratorium yang steril. Di dalam sana, di bawah cahaya biru yang mematikan, rahasia tentang klan Li dan asal-usul energi yang mereka gunakan selama ini sedang menunggu untuk dikuliti.