Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Brutal Part 2
Permukaan cermin di lemari pakaian menampilkan Lora yang sedang duduk santai sambil memperhatikan kuku-kukunya yang merah.
"Jangan manja, Bianca," nadanya tanpa empati. "Pria-pria yang memujamu itu hanya menginginkan kecantikanmu, sementara Mahesa? Dia tahu siapa kau sebenarnya. Dia tidak dibayar untuk mencintaimu, dia ada untuk memastikan kau tetap 'berfungsi'. Rasa sakit itu adalah bukti bahwa kau masih hidup dan terikat padaku. Bangunlah, mandi, dan hapus air matamu. Simon akan menelepon sepuluh menit lagi, dan kau harus terdengar seperti wanita paling bahagia di dunia karena baru saja sampai."
Lora tersenyum tipis, "Selamat datang di dunia nyata, di mana keabadian menuntut harga diri sebagai bayarannya."
"Tunggu. Aku tidak bisa berjalan ke kamar mandi, tubuhku rasanya tidak bertulang," ucap Bianca dengan suara putus-putus. "Buat Simon sibuk agar tidak meneleponku, tolonglah... aku hanya ingin berbaring sejenak dan tertidur hingga esok."
Wajah Lora tampak bosan muncul kembali di cermin.
"Kau beruntung aku sedang dalam suasana hati yang baik" Lora menjentikkan jarinya di balik kaca.
"Baiklah. Simon baru saja menerima laporan palsu tentang kebocoran data di server utamanya. Dia akan terjebak di ruang kendali selama enam jam ke depan. Tapi ingat, Bianca, kelemahan ini hanya boleh bertahan sekali saja. Mahesa tidak akan membiarkanmu bersantai lama-lama.
Sosok Lora perlahan tenggelam ke dalam kegelapan cermin, meninggalkan Bianca dalam keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara napasnya yang berat dan aroma Mahesa yang masih tertinggal di sprei.
...****************...
Pagi itu, Bianca terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara tirai jendela kamarnya yang disingkap secara kasar. Sinar matahari Bali yang terik langsung menghantam wajahnya.
"Bangun. Kita tidak punya waktu untuk bermalas-malasan," suara Mahesa terdengar dari arah balkon. Ia sudah rapi mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kulit cokelatnya yang maskulin.
Bianca menarik selimutnya dengan geram. "Ini jam tujuh pagi, Mahesa! Aku sedang liburan, bukan sedang ikut wajib militer. Semalam kau menggila di atas tubuhku."
Mahesa berjalan mendekat, lalu dengan satu gerakan cepat, ia menyentak selimut Bianca hingga terlempar ke lantai. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Bianca, mengurung wanita itu di atas kasur.
"Di pulau ini, aku yang menentukan kapan liburanmu dimulai dan kapan berakhir," bisik Mahesa, aromanya yang maskulin bercampur wangi kopi mulai mengacaukan fokus Bianca. "Cepat mandi. Aku ingin membawamu ke sebuah tebing tersembunyi di Uluwatu. Pakai gaun yang paling tipis yang kau punya."
"Kenapa harus yang tipis?" tanya Bianca menantang, meski jantungnya berdebar kencang.
Mahesa menyeringai, matanya menyapu tubuh Bianca dengan tatapan yang sangat provokatif. "Supaya kau bisa merasakan angin laut—dan supaya kau ingat bahwa di bawah kain itu, kau tidak punya kuasa apa pun jika aku memutuskan untuk menyentuhmu."
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam SUV, membelah perbukitan batu kapur. Mahesa menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali bertengger di tengkuk Bianca, meremas pelan rambutnya seolah sedang menjinakkan seekor kuda liar.
Bianca benci betapa menyebalkannya pria ini, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa adrenalin yang ia rasakan jauh lebih nyata daripada makan malam romantis nan membosankan bersama Simon di Paris.
Sesampainya di tepi tebing yang sepi, Mahesa menghentikan mobil. Ia keluar, lalu membukakan pintu untuk Bianca, namun tidak membiarkannya turun begitu saja. Ia menahan pinggang Bianca, menariknya hingga tubuh mereka merapat sempurna.
"Lihat ke bawah sana," Mahesa menunjuk ombak besar yang menghantam karang. "Itu adalah kekuatan yang tidak bisa kau atur. Sama seperti aku. Kau bisa mencoba melawanku, Bianca, tapi pada akhirnya kau hanya akan kelelahan sendiri."
Ia kemudian mengambil ponsel Bianca dari tasnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri. "Hari ini, tidak ada Simon. Tidak ada urusan kantor. Hanya kau, aku, dan matahari. Mengerti?"
"Kau benar-benar sangat menjengkelkan, "
"Dan kau sangat menyukainya," balas Mahesa penuh percaya diri sebelum mencium kening Bianca dengan sentuhan yang posesif.
Setelah puas dengan pemandangan tebing yang memukau, Mahesa membawa Bianca ke sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan yang ramai. Aroma bumbu rempah dan kopi Bali menyeruak di udara.
Mahesa memesankan nasi campur khas Bali dengan lauk sate lilit, lawar, dan ayam betutu. Bianca, yang terbiasa dengan santapan mewah di restoran bintang lima, sedikit terkejut melihat penataan makanan yang sederhana di atas piring anyaman bambu.
"Ini enak, kau harus coba," kata Mahesa, menyuapkan sepotong sate lilit ke mulut Bianca tanpa bertanya lebih dulu. Sentuhan jarinya di bibir Bianca terasa seperti sengatan listrik.
Bianca mengunyah perlahan, dan harus ia akui, rasanya enak dan menggugah selera. Pedas, gurih, dan penuh cita rasa yang belum pernah ia temukan di Paris atau Milan. "Kau tahu tempat-tempat bagus," pujinya, terdengar acuh tak acuh.
"Ada banyak hal lain yang belum kau ketahui dariku. Dan dari dirimu sendiri."
Setelah makan, mereka kembali ke mobil. Suasana di dalam SUV terasa lebih intim. Jendela mobil yang sedikit terbuka membiarkan angin panas Bali masuk, membawa serta aroma dupa dan bunga kamboja.
Mahesa tidak langsung menyalakan mesin. Ia menoleh ke arah Bianca, meraih dagunya, dan memiringkan kepalanya sedikit. "Kau terlihat... hidup hari ini, Bianca. Tidak seperti boneka porselen yang biasa ku lihat."
Pandangan Mahesa mengunci, membuatnya sulit bernapas. Ia bisa merasakan tarikan yang kuat, hasrat membara di mata pria itu. Sebuah hasrat yang gelap, penuh dominasi, namun entah mengapa, membuat Bianca merasa... diinginkan.
Tanpa sepatah kata pun, Mahesa mendekatkan wajahnya. Ciumannya tidak lembut. Itu adalah ciuman yang mendominasi, menuntut, dan penuh gairah yang terpendam. Tangan Mahesa merayap ke tengkuk Bianca, menariknya lebih dalam ke ciuman itu, sementara tangan yang lain dengan lancar membuka kancing gaun tipis yang dikenakan Bianca.
Napas Bianca memburu. Ia tahu ini salah, ia tahu ia harus melawan. Namun, tubuhnya mengkhianatinya.
Rasa panas yang membakar seluruh tubuhnya melumpuhkan akalnya.
Desahan kecil lolos dari bibirnya saat Mahesa mulai mengeksplorasi kulitnya, membiarkan sentuhannya membangkitkan gairah yang selama ini terkunci rapat di balik citra wanita anggun.
Mobil yang terparkir di bawah rimbun pohon itu, kini menjadi saksi bisu dari dominasi Mahesa dan kehancuran Bianca yang terasa begitu... nikmat.
Mahesa membersihkan dirinya dan tubuh Bianca menggunakan tisu basah.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Bianca.
"Jangan malu, Bianca. Toh, setiap inci tubuhmu sudah aku sentuh dan sesap tadi." Mahesa tergelak menatap wajah Bianca yang marah namun terpuaskan.