Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Persiapan Duel —
Setelah pembicaraan yang melelahkan dengan Umi Shiina, kini aku berjalan menuju gedung asrama kelas satu.
Di perjalanan, aku banyak merenung. Aku mengabaikan keadaan di sekitar. Semuanya tidak berarti ketika tidak bersama dengan Elena.
Kenapa aku jadi begini?
Gadis itu benar, aku sudah banyak berubah. Bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa mataku begitu terpaku pada seorang gadis bernama Elena Miyazaki.
Kalau begini, aku jadi ragu. Apakah aku benar-benar mencintainya? Seandainya iya, kurasa aku tidak bisa memaksakan cintaku padanya.
Aku menutupi masa laluku karena merasa takut. Kalau dia tahu, rasanya aku tidak punya tempat lagi.
Tanpa sadar, aku sudah berada di depan Kamar Nomor 25. Dan tanganku langsung bergerak memutar gagang pintu.
"Aku pulang."
Begitu aku masuk ke dalam, pandanganku mengarah ke Elena yang sedang duduk di tatami.
"Selamat datang kembali, Naruse-kun! Kau datang lebih cepat dari yang aku kira."
Dia tidak menyambutku sepenuhnya. Fokusnya begitu intens ke papan catur. Sejak kapan kami punya itu?
Aku pun mendekat, lalu duduk berhadapan. Dia menghadap bidak putih, sedangkan aku bidak hitam.
"Catur, ya?"
"Shiina-san meminjamkannya dari klub permainan."
Nadanya begitu datar. Dia terlalu serius sampai tak menatapku sama sekali.
"Aku baru ingat kalau ada klub di sekolah ini."
"Untungnya kita tidak wajib masuk ke klub mana pun."
Tangan Elena terangkat, menggerakkan pion putih di tengah maju dua langkah.
Setelah itu, dia berniat membalik papan dan menghadap bidak hitam. Tapi aku langsung menahan tangannya.
"Kau mau main?"
"Ya, kita bisa sekaligus menyelesaikan misi harian."
Kemudian aku membuat jam tangan kami bersentuhan, dan layar hologram muncul seperti biasa.
[Sinkronisasi Ruang Tengah: Aktif!]
[Durasi: 00:00:01]
Misi harian dimulai. Ini yang ke-empat.
"Kau harus serius, Elena. Jangan anggap aku seorang pemula."
"Niatku memang begitu. Aku yakin kau familiar dengan permainan ini."
Akhirnya dia menatapku. Tatapannya tajam sekali, seolah aku bisa tertusuk jika terus menatapnya.
Tanganku lalu terangkat untuk memainkan bidak hitam. Aku mengambil pion, tapi tidak menjalankan yang di tengah.
"Caro-kann?"
"Kau tahu rupanya. Hebat juga."
"Itu hanya pengetahuan dasar."
Elena lanjut jalan. Tanpa membuang banyak waktu, dia merespons langkahku. Dia memainkan pion yang satunya di tengah, dua langkah juga.
Aku membalas dengan memajukan pion hitam dua petak di tengah, lalu dia mengembangkan kudanya.
Begitu aku memakan salah satu pionnya di tengah dengan pion milikku, dia ikut memakan pionku dengan kuda.
Langkah ini, aku yakin dia sedang memainkan Alien Gambit. Berani sekali.
Karena aku tidak berniat untuk menang, jadi aku akan membiarkan bidakku bergerak sesuai keinginannya.
Selama Elena tidak melakukan blunder, dia pasti menang. Langkah pembukaan Caro-kann memang sulit untuk melawan Alien Gambit.
"Elena, kau pergi sendiri ke klub permainan? Kau tidak tersesat, kan?"
"Aman saja, jaraknya tidak terlalu jauh."
Kami masih sempat berbincang di tengah permainan. Lagipula ini hanya permainan santai, dan otakku bahkan hampir tidak bekerja.
"Apa pipimu sudah baikan? Aku akan membalas mereka besok."
"Tidak apa-apa, kau hanya perlu fokus melawannya. Ngomong-ngomong, bagaimana aturan dan taruhan duelnya?"
"Kami hanya bertaruh seratus poin pasangan, dan dia ingin balas menamparku sebagai ganti taruhan kedua."
"Lalu aturannya?"
"Totalnya ada lima babak, siapa yang memenangkan tiga babak lebih dulu akan menang. Tiap babak lima menit."
"Oh, jadi begitu."
Beberapa langkah pun berlalu. Dan aku sudah di ambang kekalahan karena rajaku berada di posisi serba salah.
"Skak!"
Ratunya menyerang agresif, memaksa rajaku terus berpindah posisi.
"Kau hebat sekali, Elena. Aku mengaku kalah."
Sampai akhirnya, aku memberikan kemenangan pada Elena.
Mata jernihnya menyipit. Dia mengangkat wajahnya dari papan catur dan menatapku lurus-lurus. Tatapan tajam itu kini bercampur dengan rasa curiga yang kental.
"Naruse-kun, kau sengaja kalah?"
Astaga, cepat sekali sadarnya. Aku jadi tidak punya pilihan selain mengaku.
"Bukan sengaja kalah, tapi aku ingin memastikan ratingmu dulu."
"Rating? Kalau tidak salah, ratingku dulu dua ribu ke atas."
"Ya, lumayan. Meski hanya angka, kita tetap bisa berpatokan pada nilai itu."
"Apa maksudmu?"
Elena memegang dagunya, tampak bingung dengan kata-kataku.
"Begini, aku ingin mengajarimu sesuatu. Makanya sebelum itu, aku perlu tahu langkah-langkah yang biasa kau gunakan."
"Kau tahu aku memainkan Alien Gambit tadi, kan?"
"Ya. Jadi, bisakah aku menganggap kalau kau tahu tentang beberapa langkah pembukaan catur?"
"Umm... Caro-kann, Alien Gambit, Latvian Gambit, Sicilian Defense, Italian Game. Itu semua yang aku tahu."
Rupanya Elena benar-benar ada di tingkat lanjutan. Dia menyebutkan semuanya dengan sangat lancar, dan tentunya bukan seperti setor hafalan.
Aku tidak tahu dari mana dia belajar catur, tapi sayangnya aku tidak bisa banyak tanya. Itu menyangkut masa lalunya.
Tidak adil rasanya jika aku melarangnya mengetahui masa laluku, tapi aku sendiri malah bertanya dengan gampangnya.
Walaupun dia ada bilang tidak mempermasalahkan itu sebelumnya, tetap saja aku merasa tidak nyaman.
"Hei, Naruse-kun. Kenapa kau melamun?"
"Ah, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu."
Ternyata aku sedang melamun dan disasarkan kembali oleh Elena.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Dia menunggu jawabanku.
Untuk saat ini, aku jelas tidak bisa jujur padanya. Aku tidak ingin menekannya karena dia masih ada duel besok.
Sebenarnya aku tidak peduli dengan hasil duelnya. Satu-satunya yang kuinginkan adalah kebahagiaan hidup gadis ini.
"Aku memikirkan cara terbaikmu untuk melawan Sera Nanashi. Entah kenapa, aku merasa kalau dia mungkin akan curang besok."
"Bagaimana caranya curang di catur?"
"Pasti ada cara, dia bisa saja mendapat instruksi dari seseorang."
"Tenang saja, Naruse-kun. Apa pun yang terjadi, aku akan menang!"
Dia mengatakannya dengan tegas, apalagi wajahnya penuh tekad. Matanya seolah berapi-api, siap menghadapi duel besok hari.
Mendengar keyakinannya, rasa khawatirku sedikit mereda. Ini pertama kalinya aku melihat Elena begitu optimis, setelah sekian lama merasa kurang percaya diri.
Selain kemampuan memasaknya, dia juga pandai bermain catur. Patut diakui, langkahnya tenang dan konsisten tadi.
Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak menepuk kepalanya. Kemudian aku mengelus-elusnya.
"Semangat yang bagus, Elena."
Aku memujinya.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu, apalagi kau sampai terluka."
Kepalanya menunduk. Senyumnya sedikit terukir di wajahnya. Dia jelas mempersilakanku untuk mengelusnya.
Rasanya begitu hangat, apalagi aroma rambutnya membuatku tenang.
Nampaknya ini akan jadi kebiasaanku. Selama dia tidak keberatan, aku pasti akan terus melakukannya.
"Dan satu hal lagi, Naruse-kun. Aku ingin kau memegang janjimu."
Secara tiba-tiba, Elena mengangkat kepalanya dan jarinya menyentuh bibirku. Sentuhannya terasa lembut.
Gerakanku otomatis terhenti. Tentu saja aku mengerti maksudnya.
"Tenang saja, aku akan memberikannya."
Bibirku menyeringai. Sensasi sentuhannya berubah.
Dia lalu ikut tersenyum, membuat mataku terpaku saat menatap wajahnya. Tidak bisa dimungkiri, dia manis sekali.
TING!
Beberapa saat kemudian, jam tangan kami sama-sama berbunyi pelan. Berarti misinya sudah selesai.
[Sinkronisasi Harian: Berhasil!]
[Sinkronisasi Pasangan: 17% (+2%)]
[Hadiah Dasar: +50 Poin Pasangan]
[Bonus Interaksi: +36 Poin Pasangan]
[Total Hadiah: +86 Poin Pasangan]
Menurutku, poin tak lagi penting sekarang. Ada banyak hal yang harus kulakukan demi menjaga senyuman gadis ini.