NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Pesan Terakhir

Hallo temen-temen!!! Lama tak jumpa❣

Gimana kabarnya, nih? Pada baik semua, kan? Setelah sekian lama bertempur melawan rintangan dalam menulis, aku akhirnya bisa upload cerita lagi di sini •⁠ᴗ⁠•

Semoga temen-temen suka ceritaku, ya... 🤍

Baiklah, mari kita mulai ceritanya...

Happy reading 🙌

#

#

#

“... Penemuan jasad seorang wanita tanpa identitas di dalam koper itu tentu kembali menghebohkan masyarakat kota Jakarta Barat. Pasalnya, kejadian ini bukanlah kali pertama yang terjadi di kawasan itu. Sebab sebelumnya, warga juga pernah dihebohkan dengan kejadian yang nyaris serupa. Tepatnya pada beberapa waktu lalu, jasad seorang wanita tanpa identitas juga pernah ditemukan mengambang di waduk air. Hal ini tentu mengundang keresahan masyarakat, khususnya warga daerah Jakarta Barat...”

“Serem banget ...” gumam Naya sambil melipat beberapa potong pakaian yang tadi diangkatnya dari jemuran.

Malam yang terasa lebih dingin itu jelas sekali menjadi pertanda akan turunnya hujan yang mungkin bisa sangat deras. Niat awal Naya menonton saluran berita adalah untuk memecah keheningan di ruangan hunian sederhananya, namun justru malah berita mengerikan itu yang muncul.

Lalu sebuah gemuruh besar mendadak menggelegar diantara lengangnya langit malam itu. Benar-benar membuat jantung Naya berdegup lebih cepat karena rasa terkejutnya.

Hujan kemudian turun dengan derasnya. Sepanjang malam. Dan baru mereda ketika fajar menyingsing seolah mempersilakan matahari untuk melakukan tugasnya.

#

“Separuh diriku kopi,” tawa ringan yang nyaris tak bersuara lalu muncul dari sudut bibir wanita itu setelah ucapannya barusan. “Lucu...” sambungnya.

Dan kebetulan saat itu segelas minuman hitam berkafein memang menemaninya untuk terus fokus dengan monitor di hadapannya; melawan rasa kantuk yang siang itu datang menyerang. Di dekat monitor itu terdapat kartu identitas miliknya yang ia letakkan begitu saja menggulung dengan pita yang biasa ia gantungkan di lehernya.

Nayana Anindya, seorang editor naskah yang beberapa saat lalu tengah melakukan tugasnya kini terlihat kehilangan fokusnya. Tubuhnya diam membeku ketika ia membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

Sebuah pesan suara yang dikirimkan oleh kontak bernama ‘Bestrid<3’ itu seperti membuat dunia Naya berhenti seketika.

“DASAR PENIPU GAK TAHU MALU!!! ANJ*ING LO!!! ORANG GILA!!!” cacian dan makian itu lalu diakhiri jeritan kencang dan kemudian pesan suara itu terputus begitu saja.

“Astrid...” lirih Naya dengan raut wajah yang terlihat tegang.

Ia lalu memutar kembali pesan suara yang membuatnya sangat terkejut itu. Kali ini, Naya menyadari bahwa terdengar tawa kegirangan seorang laki-laki diantara caci maki yang dilontarkan Astrid.

Naya segera menghubungi Astrid namun usahanya itu sia-sia saja. Beberapa kali Naya mencoba memanggilnya, namun tidak ada satupun yang mendapat jawaban. Bahkan beberapa menit setelahnya, nomor Astrid benar-benar tak bisa ia hubungi. Panggilan Naya hari itu tak pernah mendapat jawaban.

Tak bisa terlalu lama menunggu, Naya segera mendatangi kantor kepolisian setelah pulang dari tempatnya bekerja.

“Pak. Masa gak bisa dibantu diselidiki lebih cepat?! Menunggu 24 jam itu terlalu lama...! Pak, denger ini!” Naya menyodorkan ponselnya dan memutar pesan suara yang diterimanya dari Astrid. “Udah jelas temen saya ini lagi gak baik-baik aja!”

“Ya namanya aturan, ya mesti dipatuhi, dek. Kita gak bisa melanggar aturan yang sudah ada,” kata seorang pria sambil menolak ponsel yang disodorkan Naya. Raut wajahnya tak memperlihatkan rasa ingin tahu tentang apa yang Naya ungkapkan padanya.

“Ya, ya, ya. Baguslah ternyata masih ada aturan yang dipatuhi,” Naya menyilangkan tangan di dada sambil menatap dua orang pria berseragam di hadapannya. Jelas sekali Naya merasa sangat kesal. “Jadi saya harus-“

“Yang penting adek kan sudah melapor. Nah nanti setelah 24 jam, bisa kita masukkan ke sistem laporan,” kata pria itu lagi memotong ucapan Naya.

“Ck. Kelamaan!”

Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, Naya segera berlalu meninggalkan kedua orang pria berseragam itu.

#

Di lain tempat, seorang wanita muda yang mulutnya tersumpal kain yang diikat hingga belakang kepala tampak baru membuka kedua matanya. Sepertinya wanita itu baru mulai mendapatkan kembali kesadarannya.

Tunggu, wanita yang terikat pada tiang itu adalah Astrid! Celaka. Ia terlihat berada dalam situasi yang sangat buruk. Kondisinya benar-benar terlihat mengkhawatirkan.

Sayangnya, Astrid yang saat itu mengenakan gaun coklat tiga perempat tampaknya tak bisa berbuat banyak selain berusaha berteriak. Walau sekeras apapun ia berusaha berteriak, hanya sedikit suaranya yang menembus kain penyumpal mulutnya.

Kedua kakinya yang terikat tali benar-benar membuatnya tak bisa bergerak. Area sekitar ikatan itu tampak mulai lecet kemerahan sebab telah muncul keinginan kuat dirinya untuk bisa lari dari sana.

Gadis malang itu terlihat berada di sebuah bangunan terbengkalai yang nyaris rubuh. Terlihat beberapa titik pada sejumlah sisi dinding di tempat itu telah mengelupas. Tak terlihat ada jendela yang terpasang di sana, melainkan papan kayu yang dipakulah yang mengisi ruang tempat jendela seharusnya dipasang.

Mungkin saat itu Astrid berada di lantai tiga atau empat. Karena dari tempatnya berada, ia bisa melihat puncak pohon tinggi yang tertimpa cahaya langit dipenghujung senja. Atau memang bangunan itu berdiri di tanah yang cukup tinggi? Entahlah.

Yang jelas saat itu Astrid tidak sendirian. Ia bisa melihat seorang pria yang duduk di sebuah sofa butut, hanya sekitar dua atau tiga meter dari tempatnya diikat.

Pria itu terlihat tengah memainkan ponsel di genggamannya namun sayang Astrid tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Selain masker sialan dan tudung yang menutupi wajah pria itu, penerangan yang buruk juga mengurangi daya penglihatan Astrid.

“Mari kita segera bertemu, bestie...” gumam pria itu dengan menekankan kata ‘bestie’ diakhir ucapannya. Gelak tawa yang tak enak didengar juga menyusul ucapan pria itu.

#

Keesokan harinya, Naya benar-benar merasa tak bisa fokus melanjutkan pekerjaannya. Ia terus saja bolak-balik mengecek ponsel dan sering kali mengabaikan layar monitor yang menyala di depannya.

Naya terus menatap layar ponselnya. Alam bawah sadarnya sedang sangat berharap supaya tiba-tiba saja sebuah notifikasi dari Astrid akan muncul dan menghilangkan semua kegelisahannya. Jika diingat-ingat lagi, sudah lebih dari lima belas jam Naya menunggu kabar dari Astrid. Jika sampai beberapa jam kedepan ia tak kunjung menerima kabar dari Astrid, maka mau tidak mau Naya akan harus kembali ke kantor polisi untuk melapor.

“Astrid... Kamu ke mana, sih...?” sorot mata Naya semakin terlihat sendu.

Tepat ketika Naya sedang dirundung kegelisahan, pandangannya tak sengaja menangkap sebuah pesan yang Astrid kirim padanya berbulan-bulan lalu:

Bestrid<3 || Nay... Aku mingdep mau ke Jogja, diajakin kk ku, ikut gk?”

Dan beberapa saat setelah Naya membaca pesan itu, ia baru teringat bahwa Astrid memiliki seorang saudara yang kebetulan cukup populer di sosial media.

“Ya Tuhan...” Naya menepuk keningnya. “Kenapa Aku gak inget buat nanya ke kak Addam?”

Dari pesan-pesan lama itu Naya kemudian segera beralih ke aplikasi berbagi foto.

Di sana Naya mengetikkan nama di kolom pencarian, hingga beberapa saat kemudian muncul sebuah nama yang tengah ia cari.

“Tapi udah bener gak ya kalau aku tanya ke Kak Addam?” gumam Naya sambil menatap layar ponselnya.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!