NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 27 - KEMBALI KE TEMPAT AMAN

Perjalanan kembali ke Vairlion memakan waktu tiga hari.

Tiga hari yang terasa lambat dan cepat sekaligus.

Lambat karena tidak ada yang banyak bicara. Mereka semua terjebak dalam pikiran masing-masing, memproses apa yang baru saja terjadi di Fort Silvergate.

Cepat karena sebelum mereka sadari, pemandangan sudah berubah dari pegunungan berbatu menjadi dataran hijau, dari jalanan sepi menjadi jalan perdagangan yang ramai.

Dan akhirnya, saat matahari mulai condong ke barat di hari ketiga, mereka melihatnya.

Vairlion.

Kota netral dengan tembok batu putih yang tinggi, gerbang besar yang selalu terbuka, dan suara hiruk pikuk kehidupan yang terdengar bahkan dari kejauhan.

Ash merasakan dadanya lega saat melihat kota itu.

Tidak ada asap hitam. Tidak ada teriakan perang. Tidak ada bau darah.

Hanya kota yang hidup, ramai, dan damai.

"Akhirnya," gumam Razen sambil meregangkan leher yang kaku. Perban di rusuknya sudah diganti beberapa kali, tapi lukanya masih belum sembuh total. "Aku sudah lupa bagaimana rasanya tidur tanpa takut diserang tengah malam."

"Aku juga," ucap Eveline pelan. Matanya menatap kota dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Rasanya sudah berbulan-bulan sejak kita terakhir di sini. Padahal baru beberapa minggu."

"Waktu terasa berbeda saat kau menghadapi kematian setiap hari," jawab Razen dengan nada pahit.

Morgana yang duduk di sudut dengan kaki terangkat di bangku tersenyum lebar. "Tapi kalian selamat~! Itu yang penting~! Sekarang Nivraeth mau coba semua makanan di kota ini~!"

Ash tertawa kecil. Setidaknya ada satu orang di kereta ini yang tidak trauma.

Kereta memasuki gerbang kota. Penjaga di gerbang hanya melirik sebentar, melihat bendera Lunaria yang terpasang di kereta, lalu mengangguk membiarkan mereka lewat.

Tidak ada interogasi. Tidak ada kecurigaan. Ini Vairlion. Selama kau bisa membuktikan kau bukan kriminal, kau bisa masuk dengan mudah.

Mereka turun di depan guild besar yang sudah familiar. Vairlion Adventurer's Guild. Bangunan tiga lantai dengan papan kayu besar bertuliskan nama guild, jendela jendela yang terbuka lebar, dan suara ribut dari dalam yang terdengar seperti musik bagi telinga Ash.

"Kita harus lapor dulu," ucap Razen sambil menatap bangunan guild. "Memberitahu bahwa kita sudah kembali. Dan mungkin naik rank kalau beruntung."

"Naik rank?" Ash menoleh. "Memangnya bisa?"

"Kau baru saja selamat dari perang di Fort Silvergate. Melawan ratusan tentara Varnhold dan ksatria LightOrder. Kalau itu tidak cukup untuk naik rank, aku tidak tahu apa lagi." Razen tersenyum tipis. "Ayo."

Mereka masuk ke guild.

Di dalam, ramai seperti biasa. Adventurer duduk di meja meja kayu, minum ale, tertawa keras, atau membahas quest. Papan quest di dinding penuh dengan kertas kertas penugasan. Resepsionis di counter melayani dengan sabar meski ada yang komplain keras tentang pembayaran.

Beberapa orang menoleh saat mereka masuk. Mata-mata itu mengamati pakaian mereka yang penuh bekas pertempuran, luka-luka yang masih terlihat, dan aura lelah yang mereka pancarkan.

Salah satu adventurer tua dengan janggut panjang bersiul pelan. "Kalian baru dari mana? Neraka?"

"Mirip," jawab Razen singkat.

Mereka berjalan ke counter. Resepsionis yang melayani adalah wanita paruh baya dengan rambut coklat diikat rapi. Dia tersenyum ramah saat melihat mereka.

"Selamat datang kembali. Lama tidak terlihat. Ada yang bisa kubantu?"

Razen meletakkan plat adventurer mereka di meja. "Kami ingin lapor penyelesaian penugasan dan evaluasi rank."

Resepsionis mengambil plat-plat itu, memeriksanya. "Penugasan apa yang sudah kalian selesaikan?"

"Pertahanan Fort Silvergate. Konflik perbatasan Lunaria dan Varnhold."

Resepsionis berhenti bergerak. Dia menatap Razen dengan mata lebar. "Fort Silvergate? Yang diserang Varnhold beberapa waktu lalu?"

"Ya."

"Dan kalian... bertahan?"

"Kami bertahan."

Resepsionis menatap mereka bertiga dengan ekspresi yang berubah dari ramah menjadi hormat. "Tunggu sebentar. Aku akan panggil Guild Master."

Dia bangkit dan berjalan cepat ke lantai atas.

Ash menatap Razen bingung. "Kenapa dia panggil Guild Master?"

"Karena penugasan level perang biasanya ditangani langsung oleh Guild Master untuk verifikasi. Ini bukan quest biasa." Razen bersandar di counter. "Santai saja. Ini prosedur standar."

Beberapa menit kemudian, Guild Master Vairlion. Ash pernah lihat dia sekali saat pertama kali mendaftar jadi adventurer, dia orang pertama yang berkata hal-hal aneh yang Ash tak mengerti waktu itu tentang segel. Guild master Theron

"Kalian berhasil kembali dengan selamat." ucapnya dengan suara berat.

"Ya, Tuan," jawab Razen sambil sedikit membungkuk hormat.

Guild Master menatap mereka satu per satu. "Aku dapat laporan dari Lunaria tentang pertempuran di sana. Brutal. Banyak korban. Tapi benteng masih berdiri." Dia menunjuk mereka. "Dan kalian ada di sana?"

"Kami mempertahankan gerbang dalam," jawab Razen. "Bersama pasukan Lunaria."

Dia menatap Ash, dengan tatapan yang sulit di jelaskan, antara sudah bisa memprediksi, atau tetap tak percaya.

Theron terdiam, lalu mengangguk pelan. "Bertahan di perang level itu dan masih hidup. Mengesankan." Dia mengambil plat mereka dari meja, memeriksanya. "Aku akan naikkan kalian. Razen, dari C ke B. Eveline, dari C ke B. Dan Ash.. Dari F ke C."

Ash merasakan kegembiraan yang seperti sudah lama dia lupakan. Naik rank. Itu artinya akses ke quest yang lebih baik, bayaran yang lebih tinggi, dan pengakuan sebagai adventurer yang kompeten.

Tapi momen itu tidak bertahan lama karna, rasanya tidak sebesar yang dia bayangkan. Setelah melihat perang yang sesungguhnya, rank terasa seperti... hanya label.

Theron mengembalikan plat mereka yang sekarang sudah berubah warna sedikit, menandakan rank baru. "Kalian butuh istirahat. Aku bisa lihat itu dari mata kalian. Jangan ambil quest dulu untuk beberapa hari. Bersantailah dulu."

"Terima kasih, Tuan," ucap Razen sambil menerima platnya.

Theron menepuk bahu Razen, hampir membuat pria itu terhuyung. "Bagus kau masih hidup, veteran. Dunia butuh lebih banyak orang sepertimu."

Dia berbalik dan naik tangga lagi tanpa kata lain.

Resepsionis tersenyum. "Selamat untuk rank baru kalian. Apa ada yang bisa kubantu lagi?"

"Rekomendasi Penginapan yang bagus," ucap Eveline tiba-tiba. "Yang tenang. Jauh dari keramaian."

Resepsionis berpikir sebentar, lalu mengangguk. "Ada penginapan di distrik timur. Quiet Inn. Pemiliknya tua dan tidak suka ribut, jadi dia jaga suasana tetap tenang. Harga sedikit lebih mahal tapi layak."

"Kami ambil itu," ucap Ash. Dia tidak peduli soal harga. Dia hanya ingin tempat di mana dia bisa tidur tanpa mimpi buruk tentang mayat.

Mereka keluar dari guild dengan plat baru dan alamat penginapan.

Morgana yang sudah menunggu di luar dengan sabar langsung melompat. "Sudah selesai~? Ayo cari makanan~! Nivraeth lapar~!"

"Kita cari penginapan dulu," ucap Razen. "Lalu kita bisa makan sepuasnya."

"Deal~!"

---

Quiet Inn ternyata benar-benar tenang.

Bangunan dua lantai dengan cat putih bersih, taman kecil di depan dengan bunga bunga yang mekar, dan suara gemericik air mancur kecil yang menenangkan.

Pemiliknya adalah wanita tua dengan rambut putih dan senyum hangat. Dia tidak banyak bertanya, hanya menyerahkan kunci tiga kamar di lantai dua dan berkata, "Kalau butuh apapun, panggil saja."

Ash masuk ke kamarnya dan langsung ambruk di kasur.

Kasur empuk. Bantal lembut. Seprai bersih yang berbau lavender.

Dia menutup mata dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, dia tidur tanpa mimpi buruk.

---

Sore harinya, mereka berkumpul di ruang makan penginapan. Pemilik menyiapkan makan malam sederhana: sup ayam hangat, roti segar, dan daging panggang dengan sayuran.

Makanan paling enak yang pernah Ash rasakan semenjak tiba di dunia ini. Atau mungkin dia hanya terlalu lapar dan terlalu lelah untuk peduli.

Morgana makan dengan lahap, menghabiskan tiga porsi sendirian. "Enak~! Nivraeth suka tempat ini~!"

Razen makan perlahan, kadang meringis saat rusuknya yang luka bergerak salah. Tapi dia tidak komplain.

Eveline makan sedikit, lebih banyak memainkan makanannya dengan garpu.

Ash memperhatikan. "Kau tidak lapar?"

"Aku lapar. Tapi... perut rasanya aneh. Seperti ada yang menekan." Eveline meletakkan garpunya. "Mungkin masih shock."

"Itu normal," ucap Razen. "Setelah pertempuran besar, tubuh butuh waktu untuk kembali normal. Kadang napsu makan hilang. Kadang tidak bisa tidur. Kadang tiba-tiba menangis tanpa alasan." Dia menatap supnya. "Aku mengalami semua itu dulu. Setelah pertempuran pertamaku di LightOrder."

"Berapa lama sampai kau kembali normal?" tanya Ash.

"Beberapa minggu. Mungkin sebulan." Razen mengangkat kepalanya. "Tapi 'normal' juga berubah definisinya. Kau tidak pernah benar-benar kembali jadi orang yang sama setelah melihat perang."

Hening sejenak.

"Aku tidak mau jadi seperti dulu lagi," ucap Eveline tiba-tiba. Suaranya pelan tapi tegas. "Dulu aku seperti kosong. Tidak merasakan apapun. Sekarang aku merasakan terlalu banyak. Tapi aku lebih suka ini. Lebih suka merasakan sesuatu, meski sakit, daripada tidak merasakan apapun."

Ash meraih tangannya di atas meja, menggenggamnya. "Kau tidak akan jadi seperti dulu lagi."

Eveline menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Kau tidak bisa janji hal seperti itu."

"Aku tetap janji."

Morgana yang mendengar percakapan itu tersenyum lebar. "Kalian lucu~! Nivraeth suka menonton drama serangga~!"

"Ini bukan drama," protes Ash. "Dan kami bukan serangga!"

"Bagi Nivraeth semua hal adalah drama~" Morgana mengambil roti lagi. "Tapi drama juga ada yang jelek dan bagus~"

Razen tertawa kecil. "Setidaknya ada yang tidak berubah. Morgana masih seaneh biasanya."

"Nivraeth bukan aneh~! Nivraeth special~!"

Mereka menghabiskan makan malam dengan obrolan ringan. Tidak ada yang menyebut perang lagi. Tidak ada yang membahas Fort Silvergate.

Untuk malam ini, mereka hanya ingin jadi orang biasa. Bukan prajurit. Bukan adventurer yang baru selamat dari neraka.

Hanya orang biasa yang makan bersama dan tertawa karena lelucon bodoh Morgana.

---

Malam harinya, Ash berdiri di balkon kamarnya, menatap kota Vairlion yang masih ramai meski sudah gelap.

Lampu lampu menyala di jendela-jendela. Orang-orang berjalan di jalan, tertawa, ngobrol. Pedagang masih buka toko. Anak anak berlarian mengejar satu sama lain.

Kehidupan normal.

Kehidupan yang tidak tahu bahwa di perbatasan, perang baru saja terjadi. Bahwa ratusan orang mati. Bahwa ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ash merasakan angin malam yang sejuk menyentuh wajahnya.

Dia memikirkan Violet yang masih di Lunaria, berhadapan dengan politik dan negosiasi palsu.

Dia memikirkan tentara-tentara di Fort Silvergate yang sekarang sedang memperbaiki kerusakan dan mengubur teman-teman mereka.

Dia memikirkan Varnhold yang pasti sedang mempersiapkan serangan berikutnya.

Dan dia memikirkan dirinya sendiri.

Kekuatan Uroboros di dadanya masih ada. Masih berdenyut. Menunggu.

Selama pertempuran di Fort Silvergate, dia hampir menyentuhnya beberapa kali. Hampir membiarkan kekuatan itu keluar.

Tapi dia menahan diri. Dia bertarung dengan mana alami. Dengan sihir yang dia pelajari dari Violet dan Morgana.

Dan dia selamat.

Tapi dia tahu itu hanya karena beruntung. Karena Morgana ada di sana. Karena Varnhold mundur tepat waktu.

Di perang berikutnya, mungkin dia tidak akan seberuntung itu.

Di perang berikutnya, mungkin dia harus memilih antara menggunakan kekuatan Uroboros atau membiarkan orang yang dia sayangi mati.

*Apa yang akan aku pilih saat itu?*

Dia tidak tahu jawabannya.

Dan itu yang membuatnya takut.

Ketukan di pintu balkon membuatnya menoleh. Eveline berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri, balkon mereka berdampingan dengan jarak hanya satu meter.

"Tidak bisa tidur?" tanyanya.

"Tidak," jawab Ash. "Kau juga?"

"Setiap kali aku tutup mata, aku lihat wajah wajah itu lagi." Eveline bersandar di pagar balkon. "Orang-orang yang aku bunuh. Orang-orang yang mati di sampingku."

"Aku juga."

Mereka diam, berdiri di balkon masing masing, menatap kota yang sama.

"Ash."

"Ya?"

"Apa kita melakukan hal yang benar?"

Ash menoleh. "Maksudmu?"

"Ikut perang itu. Mempertarungkan nyawa kita untuk negara yang bahkan bukan negara kita." Eveline menatapnya. "Kita bisa saja kabur. Kembali ke Vairlion sejak awal. Hidup sebagai adventurer biasa. Tapi kita tidak. Kenapa?"

Ash berpikir lama. "Karena... karena Violet meminta bantuan kita. Karena tentara itu butuh bantuan. Karena kalau kita tidak ikut, mungkin lebih banyak yang mati."

"Tapi kita juga bisa mati."

"Tapi kita tidak."

"Kali ini." Eveline menatap tangannya. "Tapi lain kali?"

"Aku tidak tahu," jawab Ash jujur. "Aku tidak tahu apakah kita melakukan hal yang benar. Aku tidak tahu apakah kita akan selamat lain kali. Tapi aku tahu satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak menyesal. Karena aku melakukannya bersamamu. Bersama Razen. Bersama orang-orang yang aku pedulikan." Ash tersenyum kecil. "Kalau aku harus mati, setidaknya aku mati sambil melindungi sesuatu yang penting."

Eveline menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. "Kau terlalu idealis."

"Mungkin."

"Tapi... aku suka itu tentangmu."

Mereka menatap satu sama lain. Jarak satu meter terasa sangat dekat sekaligus sangat jauh.

"Selamat malam, Ash."

"Selamat malam, Eveline."

Eveline masuk kembali ke kamarnya, menutup pintu balkon.

Ash berdiri di sana sedikit lebih lama, lalu akhirnya masuk juga.

Dia berbaring di kasur, menatap langit langit.

Besok, mereka akan mulai hidup di Vairlion untuk sementara waktu. Mengambil quest. Melatih diri. Pulih dari trauma perang.

Besok, mereka akan mencoba jadi normal lagi.

Tapi jauh di kepalanya, Ash tahu.

Ketenangan ini tidak akan bertahan lama.

Badai sedang datang.

Dan ketika badai itu tiba, mereka harus siap.

Atau mereka akan tersapu.

Ash menutup matanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, dia bermimpi tentang sesuatu yang bukan perang.

Dia bermimpi tentang tawa seorang Ogre berwarna biru kecil yang belum pernah dia dengar.

Tentang senyum seorang Elf yang belum pernah dia lihat.

Tentang petualangan yang belum terjadi.

Tentang masa depan yang masih mungkin.

Dan dia tidur dengan senyum kecil di wajahnya.

---

**[AKHIR ARC 2]**

---

*Di suatu tempat, di atap bangunan di distrik barat Vairlion, seorang anak kecil dengan jubah hitam duduk sambil menatap penginapan di kejauhan.*

*Di tangannya, sebuah jam saku tua berdetak pelan.*

*Dia membuka jam itu, menatap jarum yang bergerak mundur.*

*Lalu dia tersenyum kecil.*

*"Pada awalnya aku tak mengenalinya, namun sekarang aku yakin bahwa itu dia" bisiknya pada diri sendiri. "Timeline berubah. Tapi hasilnya... hasilnya mungkin masih sama."*

*Dia menutup jam saku itu.*

*"Selamat datang kembali, Ash. Kita akan segera bertemu."*

*Lalu dia menghilang ke dalam bayangan, seperti tidak pernah ada.*

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!