NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pintu kamar Presidential Suite tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci semua keributan dunia luar, termasuk video viral Elena yang baru saja mereka klarifikasi. Kini, hanya ada Adrian dan Briana dalam ruangan yang dipenuhi wangi aromaterapi cendana dan hamparan kelopak mawar putih.

Adrian meletakkan ponselnya di meja, mencoba membuang sisa ketegangan dari wajahnya. Ia berbalik dan melihat Briana berdiri mematung di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu New York. Gaun pengantinnya yang megah tampak berkilau tertimpa cahaya bulan.

"Briana..." panggil Adrian lembut.

Briana menoleh, pipinya yang merona merah tampak kontras dengan hijab putih gading yang masih terpasang rapi. "Ya, Adrian?"

"Kemarilah. Biar aku bantu melepaskan kerudung-mu. Kamu pasti sangat lelah membawa beban itu seharian," ucap Adrian dengan senyum yang menenangkan.

Briana duduk di kursi rias marmer. Lewat cermin, ia melihat Adrian melangkah mendekat. Saat tangan Adrian mulai menyentuh jarum-jarum halus di kepalanya, Briana memejamkan mata. Detak jantungnya terasa sangat kencang, seolah-olah ini adalah pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan seorang pria.

Namun, saat tangan Adrian tidak sengaja menyentuh tengkuknya, sebuah kilatan ingatan flashback muncul begitu saja di pikiran Briana, Suara hujan deras, tawa seorang pria yang kasar namun penuh cinta, dan sentuhan di tempat yang sama.

Briana tersentak kecil, membuat Adrian menghentikan gerakannya. "Maaf, apa aku menyakitimu?" tanya Adrian cemas.

"Tidak... tidak, Adrian. Hanya saja... rasanya sangat aneh. Seperti aku pernah merasakan ini sebelumnya," bisik Briana pelan, hampir kepada dirinya sendiri.

Adrian tidak curiga. Ia melanjutkan dengan penuh kesabaran hingga kain veil dan perhiasan kepala itu terlepas semua. Ia membiarkan Briana tetap mengenakan hijab dasarnya, menghormati privasi istrinya hingga Briana merasa siap.

Adrian berlutut di samping kursi Briana, menggenggam jemari istrinya yang dingin. "Malam ini penuh dengan kekacauan karena kebohonganku pada Elena. Aku minta maaf jika momen ini tidak sesempurna yang kamu impikan."

Briana menatap Adrian. Di mata pria ini, ia menemukan ketulusan yang luar biasa, sangat berbeda dengan bayangan samar pria dari masa lalunya yang terasa penuh amarah.

"Adrian," ucap Briana, suaranya sedikit gemetar namun manis. "Aku tidak butuh kesempurnaan. Kamu sudah membuktikan berkali-kali bahwa kamu ada di pihakku. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup."

Adrian memberanikan diri mengecup punggung tangan Briana dengan lama. "Aku berjanji, mulai malam ini, tidak akan ada lagi dusta di antara kita. Aku akan menjagamu seolah kamu adalah satu-satunya alasan New York masih tetap bercahaya bagiku."

Canggung dan malu-malu, Adrian membantu Briana berdiri. Mereka berdiri sangat dekat, hingga deru napas masing-masing terasa di kulit. Dengan sangat perlahan dan penuh hormat, Adrian mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan lembut di kening Briana, sebuah tanda kepemilikan yang sah dan penuh kasih.

Briana menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian, mendengarkan detak jantung suaminya yang sama cepatnya dengan jantungnya sendiri. Di kamar yang mewah itu, mereka merasa aman.

Namun, jauh di dalam lubuk hati Briana, ada perasaan hampa yang tidak bisa ia jelaskan. Ia merasa mencintai Adrian, tapi ada bagian dari dirinya yang seolah tertinggal di masa lalu yang gelap, masa lalu yang hanya diketahui oleh ayahnya dan seorang pria yang kini tengah menatap surat nikah di pinggiran New Jersey.

Malam yang semakin larut membawa mereka ke dalam keheningan yang lebih dalam di atas ranjang bertabur kelopak mawar itu. Cahaya lampu kamar yang temaram menciptakan suasana yang begitu intim, seolah dunia di luar sana benar-benar telah berhenti berputar.

Setelah semua kecanggungan dan bisikan janji setia, Adrian perlahan membimbing Briana ke dalam momen penyatuan yang paling sakral bagi sepasang suami istri. Adrian melakukannya dengan sangat lembut, penuh penghormatan, seolah ia sedang menyentuh sebuah mahakarya yang paling suci.

Namun, di tengah prosesi yang penuh cinta itu, tubuh Briana tiba-tiba menegang. Sebuah isakan kecil lolos dari bibirnya, disusul dengan tetesan air mata yang membasahi bantal sutra di bawah kepalanya.

"Briana?" Adrian seketika berhenti. Ia menumpu tubuhnya dengan kedua tangan, menatap wajah istrinya dengan penuh kekhawatiran. "Ada apa? Apa aku menyakitimu?"

Briana hanya bisa memejamkan mata erat, napasnya tersengal. "Sesak... Adrian. Rasanya sangat sesak dan perih di bawah sana," bisiknya dengan suara yang bergetar karena rasa sakit yang tidak biasa ia rasakan.

Melihat air mata Briana mengalir deras, hati Adrian mencelos. Rasa bersalah menghantamnya begitu keras. Ia merasa seolah telah menjadi pria yang jahat karena memaksakan sesuatu pada wanita yang begitu ia muliakan, meskipun mereka sudah sah secara agama dan hukum.

Adrian segera menarik diri, menyelimuti tubuh Briana dengan penuh kasih dan menariknya ke dalam pelukan yang protektif. Ia menciumi puncak kepala Briana berkali-kali, membiarkan istrinya terisak di dadanya.

"Maafkan aku, Briana... Aku benar-benar minta maaf," bisik Adrian dengan suara yang parau dan penuh penyesalan. "Aku terlalu bodoh, aku tidak bermaksud membuatmu merasa kesakitan seperti ini. Maafkan aku, sayang."

Adrian mengusap air mata di pipi Briana dengan ibu jarinya, menatap mata istrinya yang masih basah dengan tatapan penuh permohonan ampun. "Kita tidak perlu melanjutkannya jika kamu belum siap. Aku bisa menunggu. Aku mencintaimu, dan aku tidak ingin momen pertama kita diingat sebagai rasa sakit bagimu."

Briana menatap Adrian, melihat ketulusan yang luar biasa di mata suaminya. Meskipun ada rasa sesak yang masih terasa, perhatian dan permintaan maaf Adrian yang begitu dalam justru menyembuhkan luka di hatinya. Ia menyadari bahwa Adrian bukan hanya pria yang melamarnya secara tidak sengaja, tapi pria yang benar-benar menghargai setiap inci keberadaannya.

"Terima kasih, Adrian," ucap Briana lirih sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Adrian. "Terima kasih karena sudah mengerti."

"Selamat malam, Istriku," bisik Adrian tepat di telinga Briana.

"Selamat malam, Suamiku," jawab Briana dengan suara nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat Adrian tersenyum bahagia.

Di bawah selimut yang sama, mereka akhirnya hanya saling berpelukan hingga napas Briana kembali teratur. Malam itu, meski penyatuan fisik mereka tidak berjalan sempurna, namun penyatuan jiwa mereka terasa jauh lebih kuat. Adrian berjanji dalam hati untuk selalu menjaga Briana dengan kesabaran ekstra, tanpa menyadari bahwa rasa sesak yang dirasakan Briana mungkin bukan hanya soal fisik, melainkan sisa trauma dari masa lalunya yang belum sepenuhnya terungkap.

Pagi pertama di apartemen mewah itu seharusnya terasa indah. Namun, saat Adrian masih tertidur lelap, Briana berdiri di depan jendela besar, menatap jalanan New York dengan tatapan kosong. Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut hebat. Potongan-potongan memori yang asing, suara derit ban mobil, pecahan kaca, dan teriakan seorang pria, mulai menghantuinya.

Ia tidak tahu bahwa di sebuah mansion di pinggiran New Jersey, seorang pria bernama Dante sedang menatap foto usang seorang gadis tanpa hijab, berambut panjang terurai, dengan tawa nakal yang membangkang. Gadis itu adalah Briana dua tahun lalu.

Dua tahun yang lalu, Briana Edmond bukanlah wanita anggun dan tenang yang dikenal Adrian. Ia adalah pemberontak. Ia jatuh cinta pada Dante, seorang pria berandal dari kalangan bawah yang merupakan musuh bebuyutan bisnis ayahnya. Tanpa restu Tuan Yusuf, Briana nekat nikah muda dengan Dante secara rahasia.

Namun, sebuah kecelakaan tragis menghancurkan segalanya. Mobil yang mereka kendarai terguling hebat. Dante selamat dengan luka permanen di hatinya, sementara Briana ditemukan oleh anak buah Tuan Yusuf dalam keadaan koma dan amnesia total.

Tuan Yusuf, yang melihat ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki hidup putrinya, menyembunyikan fakta bahwa Briana Pernah Berontak. Ia membawa Briana pindah, mengubah identitas pergaulannya, dan membimbingnya menjadi sosok wanita muslimah yang taat dan santun, jauh dari bayang-bayang Dante.

Siang itu, saat Adrian dan Briana baru saja hendak keluar untuk makan siang, seorang pria dengan jaket kulit dan bekas luka kecil di pelipisnya berdiri di lobi gedung mereka. Satpam mencoba menahannya, tapi pria itu berteriak lantang.

"Briana! Aku tahu kamu di sana!"

Adrian mengerutkan kening, melindungi Briana di belakang punggungnya. "Siapa kamu? Pergi sebelum aku memanggil polisi."

Pria itu, Dante, tertawa getir. Matanya menatap Briana dengan kerinduan yang menyakitkan. "Polisi? Kamu mau memanggil polisi pada suami sahnya?"

"Dia bukan Briana Edmond yang kamu kenal, Tuan. Dia istriku. Briana yang asli tidak memakai kain di kepalanya, dia mencintaiku, dan dia membenci ayahnya!"

Briana memegang kepalanya, lututnya lemas. Bayangan kecelakaan itu menghantamnya dengan keras. "Dante...?" gumamnya lirih. Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, membuat Adrian membeku.

"Riana, kamu mengenalnya?" tanya Adrian dengan suara bergetar.

Dante melangkah maju, menatap Briana dengan tajam. "Dua tahun aku mencari mu. Ayahmu bilang kamu sudah mati dalam kecelakaan itu. Tapi aku melihat mu di berita pagi ini, menikah dengan pria ini. Ayahmu mencuci otakmu, Bri! Dia menghapus aku dari ingatanmu dan mengubah mu menjadi boneka yang dia inginkan!"

Adrian menatap pria Didepannya itu, lalu menatap Briana. Pernikahan yang ia anggap sebagai takdir indah semalam, kini berubah menjadi mimpi buruk hukum dan perasaan. Ternyata, Briana yang ia nikahi adalah seorang istri yang hilang?

Kecelakaan itu terjadi di malam yang paling nekat dalam hidup Briana.

Malam itu, New York diguyur hujan deras. Briana, yang saat itu masih berusia 18 tahun, melepaskan segala atribut kemewahannya. Tanpa hijab, dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai dan mengenakan gaun putih sederhana, ia melompat keluar dari jendela kamarnya untuk menemui Dante.

Dante sudah menunggu dengan motor besar dan sebuah mobil tua yang ia siapkan dari hasil kerja serabutan nya. Ia tahu, Tuan Yusuf Edmond tidak akan pernah sudi memberikan restu pada pria berandal sepertinya.

Satu-satunya cara bagi mereka untuk bersatu adalah lari menuju sebuah gereja kecil di pinggiran kota, tempat Dante ingin Briana mengucap janji suci di depan altar, mengikuti keyakinannya.

"Kita akan bebas, Bri! Ayahmu tidak akan bisa menyentuh kita di sana," teriak Dante di balik kemudi mobil tua itu, berusaha menembus badai.

Briana menggenggam tangan Dante erat. "Aku tidak peduli kehilangan harta ayahku, Dante. Aku hanya ingin bersamamu."

Namun, pelarian itu tercium oleh kaki tangan Tuan Yusuf. Dua mobil hitam besar mulai mengejar mereka di jalanan licin yang berkelok. Aksi kejar-kejaran bak film laga pun terjadi. Cahaya lampu dari mobil pengejar membutakan pandangan Dante melalui spion.

Tepat di sebuah tikungan tajam yang menghadap jurang, sebuah mobil hitam menyenggol bagian belakang mobil mereka. Ban mobil Dante selip. Suara derit ban yang beradu dengan aspal basah memekakkan telinga, disusul dengan hantaman keras saat mobil mereka berguling berkali-kali ke dasar jurang.

Dante terlempar keluar sebelum mobil itu hancur sepenuhnya, sementara Briana terjebak di dalam kabin yang ringsek. Kepala Briana menghantam dashboard dengan sangat keras sebelum semuanya menjadi gelap.

Tuan Yusuf sampai di lokasi kejadian hanya beberapa menit kemudian. Ia melihat Dante yang bersimbah darah namun masih bernapas, berusaha merangkak menuju mobil Briana.

Dengan dingin, Tuan Yusuf memerintahkan anak buahnya untuk membuang Dante ke kota lain dan melaporkannya sebagai pria yang sudah tewas.

Sedangkan Briana, ia dibawa ke rumah sakit terbaik di bawah pengawasan ketat. Saat Briana terbangun dari komanya tiga bulan kemudian, ia tidak ingat siapa dirinya. Ia tidak ingat siapa Dante. Ia bahkan tidak ingat bahwa ia pernah membenci aturan ayahnya.

Tuan Yusuf memanfaatkan momen amnesia itu. Ia menciptakan narasi baru, bahwa Briana adalah putri yang penurut, yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal, dan sudah saatnya ia mendalami agama keluarganya. Ia memberikan hijab kepada Briana, memberikannya identitas baru sebagai wanita suci, dan menghapus semua jejak Dante dari hidup Briana.

Kembali ke lobi apartemen, ingatan itu perlahan menghantam kepala Briana seperti kilat. Ia menatap tangannya yang kini mengenakan cincin dari Adrian, lalu menatap Dante yang berdiri dengan luka masa lalu yang nyata.

"Ayah bilang... aku kecelakaan saat pulang dari perpustakaan," bisik Briana dengan suara bergetar. "Dia bilang aku tidak pernah punya kekasih. Dia bilang... dia ingin aku menjadi wanita yang lebih baik."

Dante mendekat, matanya berkaca-kaca. "Dia membohongimu, Bri. Dia mencuci otakmu karena dia benci padaku. Kita sudah menikah di depan altar itu sebelum kecelakaan terjadi. Kamu adalah istriku, bukan istri arsitek kaya ini!"

Adrian, yang berdiri di antara mereka, merasa dunianya runtuh. Ia mencintai Briana yang sekarang, wanita yang tenang dan lembut. Namun, ia menyadari bahwa Briana yang ada di hadapannya adalah hasil dari manipulasi besar seorang ayah yang egois.

"Jadi..." Adrian menelan ludah, suaranya parau. "Pernikahanku dengan Briana semalam... tidak sah secara hukum jika dia masih terikat pernikahan denganmu?"

Dante tersenyum sinis sambil menunjukkan surat nikah lama itu. "Tepat sekali. Dan aku di sini untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku."

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!