NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Kota yang Tak Pernah Tidur

# BAB 2: KOTA YANG TAK PERNAH TIDUR

Kota Kelam menyambut Arjuna dengan bau sampah dan asap knalpot yang nyaris bikin ia muntah. Ia turun dari bus lusuh yang membawanya dari terminal pinggiran, kaki masih kaku setelah perjalanan enam jam. Di tangannya cuma tas selempang usang berisi baju seadanya, flashdisk merah, foto ayahnya, dan uang dua ratus ribu rupiah. Itu semua yang ia punya.

Semua yang tersisa dari hidupnya.

"Woi, minggir lo!" seorang pria mendorongnya kasar saat ia berdiri terlalu lama di pintu bus. Arjuna nyaris jatuh, tangannya meraih tiang lampu jalan untuk menahan tubuh. Tidak ada yang peduli. Orang-orang berlalu lalang dengan wajah datar, mata kosong menatap ponsel masing-masing.

Arjuna menatap ke atas. Gedung pencakar langit menjulang tinggi, kaca-kacanya memantulkan cahaya matahari sore sampai menyilaukan. Papan reklame raksasa menampilkan wajah-wajah cantik yang tersenyum lebar, menjual produk yang harganya mungkin lebih mahal dari seluruh isi desanya dulu. Di seberang jalan, ada mal megah dengan pintu kaca otomatis yang terus terbuka tutup, mengeluarkan hawa dingin pendingin ruangan bercampur parfum mahal.

Dan di trotoar depan mal itu, seorang anak kecil duduk dengan tangan terulur, mukanya kotor, matanya... matanya kosong.

"Selamat datang di neraka," gumam Arjuna pelan. Ia tidak tahu harus kemana. Tidak tahu harus mulai dari mana. Yang ia tahu cuma nama: Adrian Mahendra. Axion Corporation. Kaisar Kelam.

Tapi bagaimana caranya orang seperti dia, orang yang bahkan tidak punya alamat tinggal, bisa menyentuh orang sekuat itu?

Perutnya berbunyi keras. Ia belum makan sejak kemarin malam. Uang dua ratus ribu harus ia irit sekali. Harus bertahan sampai... sampai ia tidak tahu sampai kapan.

Ia berjalan menyusuri trotoar yang retak. Kakinya membawa ia masuk ke gang sempit di antara gedung-gedung tinggi. Semakin dalam ia masuk, semakin berbeda dunianya. Cahaya matahari terhalang gedung, gang menjadi gelap meski masih sore. Sampah berserakan, ada bau pesing yang menyengat. Di sudut gang, sekelompok pria duduk sambil merokok, mata mereka mengikuti Arjuna dengan tatapan lapar.

Ia percepat langkah. Jantungnya berdegup kencang.

"Hei, anak baru ya?" salah satu pria itu berdiri, suaranya menggema di gang sempit. "Mau kemana lo?"

Arjuna tidak jawab. Ia jalan terus, tangannya menggenggam tali tas kuat-kuat.

"Gua tanya lo, brengsek!" pria itu mengejar, tangannya hampir menyentuh bahu Arjuna saat...

Saat Arjuna berlari. Ia tidak tahu ia masih bisa lari secepat ini. Kakinya melompati genangan air comberan, membelok tajam ke kanan, masuk gang yang lebih sempit lagi. Di belakangnya, ia dengar teriakan dan langkah kaki mengejar.

"Sial, sial, sial..." Arjuna terus lari, napasnya tersengal. Ia belok lagi, kali ini ke kiri, terus lari sampai...

Sampai kakinya tersandung sesuatu dan ia jatuh terjerembab. Dagunya membentur aspal kasar, ia rasakan darah mengalir hangat. Tas selempangnya terlempar beberapa meter ke depan.

"Ketemu lo!" pria tadi muncul di ujung gang, napasnya juga tersengal. Dua temannya ikut muncul, senyum mereka... senyum yang bikin perut Arjuna mual.

"A... ambil aja tasnya," suara Arjuna serak. Ia coba bangkit tapi tangannya gemetar. "Ambil. Aku... aku tidak punya apa-apa yang berharga."

"Oh, kami tidak cuma mau tasnya, anak manis," pria itu melangkah mendekat. "Sepatu lo kelihatan bagus. Kaos lo juga. Dan mungkin... mungkin ginjal lo bisa dijual."

Ginjal. Mereka mau... mereka mau...

Arjuna merangkak mundur, punggungnya menyentuh tembok buntu. Jalan buntu. Tidak ada jalan keluar. Ini... ini akhirnya? Baru sehari di kota ini dan ia sudah mau mati?

Ayah, maafkan aku. Aku... aku tidak sekuat yang kau kira.

Pria itu sudah mendekat, tangannya terulur untuk menarik kaos Arjuna saat...

"Kalian bertiga mau aku panggil Pak Hendro atau mau pergi sendiri?"

Suara perempuan. Tenang. Tapi ada sesuatu di nada suaranya yang bikin ketiga pria itu berhenti.

Arjuna mengangkat kepalanya. Di ujung gang, berdiri seorang gadis. Mungkin seusianya, atau lebih muda sedikit. Rambutnya diikat asal, kaos oblong lusuh dan celana jeans robek di lutut. Tapi matanya... matanya tajam. Mata yang tidak takut.

"Sari?" pria itu terdengar... takut? "Lo... lo ngapain di sini?"

"Aku tanya, mau aku panggil Pak Hendro atau tidak?" gadis bernama Sari itu melangkah masuk, tangannya santai masuk ke saku celana. "Karena sepertinya kalian lupa, wilayah ini bukan teritorial kalian. Ini wilayah paman Hendro. Dan kalau aku bilang ke dia kalau kalian ganggu orang di sini..."

"Oke, oke!" pria itu mundur, tangannya terangkat. "Kami pergi. Kami pergi. Santai aja, Sari."

Ketiga pria itu pergi cepat-cepat, menghilang di belokan gang. Meninggalkan Arjuna yang masih duduk terduduk, napasnya belum teratur, jantungnya masih berdegup seperti mau copot.

Gadis itu mendekat. Ia ambil tas selempang Arjuna, periksa isinya sebentar, lalu hulurkan. "Masih lengkap. Untung mereka belum sempat buka."

Arjuna meraih tasnya dengan tangan gemetar. "Ter... terima kasih. Aku... aku tidak tahu harus..."

"Kau tidak dari sini, ya?" Sari jongkok di depannya, matanya memperhatikan wajah Arjuna. "Kelihatan dari cara kau jalan. Orang sini tidak akan masuk gang segelap ini kalau tidak tahu jalan keluarnya."

"Aku... aku baru tiba hari ini." Arjuna usap darah di dagunya, perih. "Dari desa."

"Desa mana?"

"De... Desa Harapan Baru." Suaranya nyaris berbisik. Menyebut nama desanya bikin dadanya sesak lagi.

Sari diam sebentar. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Sesuatu yang... sedih? Tapi cuma sekilas. "Harapan Baru," ulangnya pelan. "Jauh juga. Kenapa kau ke sini?"

Arjuna tidak tahu harus jawab apa. Ia tidak bisa bilang yang sebenarnya. Tidak bisa bilang ia datang untuk memburu seorang konglomerat terkuat di negeri ini.

"Cari kerja," bohongnya. "Desa sudah tidak ada apa-apa. Aku... aku harus cari kehidupan di kota."

Sari menatapnya lama. Terlalu lama. Seperti ia bisa lihat kebohongan di mata Arjuna. Tapi ia tidak bilang apa-apa. Ia cuma berdiri, hulurkan tangannya. "Bangun. Kau harus obati luka itu sebelum infeksi."

Arjuna raih tangan gadis itu. Tangannya kecil tapi kuat, menarik ia berdiri tanpa susah payah. Mereka berdiri berhadapan, dan Arjuna baru sadar gadis ini lebih pendek darinya, tapi... tapi ada aura di sekitarnya yang bikin ia terasa lebih besar.

"Ikut aku," Sari berbalik, mulai jalan keluar gang.

"Ke... kemana?"

"Rumahku. Aku punya obat. Dan kau kelihatan belum makan."

Perut Arjuna berbunyi lagi, mengkhianatinya. Sari menoleh, senyum tipis di bibirnya. "Ikut atau mau aku tinggal?"

Arjuna ikut. Ia tidak punya pilihan lain. Dan entah kenapa, ada sesuatu tentang gadis ini yang bikin ia merasa... aman. Untuk pertama kalinya sejak ia tinggalkan desa, ia merasa tidak sendirian.

Mereka keluar dari gang, masuk ke jalan yang lebih ramai tapi tetap kumuh. Rumah-rumah kecil berdesakan, cat dindingnya mengelupas, atapnya ada yang bocor ditambal plastik. Anak-anak bermain di jalan, tertawa sambil kejar-kejaran, tidak peduli dengan kaki mereka yang kotor dan baju lusuh.

"Kau tinggal di sini?" tanya Arjuna.

"Sekarang ya. Dulu tidak." Sari belok ke gang kecil, berhenti di depan pintu kayu yang catnya sudah pudar. Ia ketuk pintu dengan pola tertentu: tiga ketukan cepat, dua ketukan lambat.

Pintu terbuka. Seorang wanita tua muncul, rambutnya putih diikat sanggul, wajahnya penuh kerutan tapi matanya... matanya hangat.

"Sari, kau pulang. Aku kira kau jadi ikut ke..." wanita itu berhenti saat lihat Arjuna. "Siapa ini?"

"Orang yang baru tiba di kota. Hampir dirampok tadi. Boleh aku obati dia di dalam, Bu?"

Wanita itu menatap Arjuna, matanya menelusuri dari kepala sampai kaki. Lalu ia melangkah mundur, buka pintu lebih lebar. "Masuk. Tapi sepatu dilepas di luar."

Rumah itu kecil. Sangat kecil. Hanya satu ruangan yang jadi ruang tamu, ruang makan, dan dapur sekaligus. Di sudut ada tikar lusuh yang dilipat rapi, mungkin untuk tidur. Tapi rumah ini... rumah ini bersih. Sangat bersih. Lantainya dipel mengkilap, tidak ada sampah, bahkan ada vas bunga kecil di meja dengan bunga liar yang baru dipetik.

"Duduk," Sari tunjuk kursi plastik di dekat meja makan. Ia pergi ke dalam, kembali beberapa saat kemudian dengan kotak P3K yang sudah lusuh.

Arjuna duduk, biarkan Sari membersihkan luka di dagunya dengan kapas dan alkohol. Perih, tapi ia gigit bibir, tahan. Sari bekerja dengan lembut, tangannya terampil, seperti sudah sering melakukan ini.

"Kau... kau sering nolong orang yang dirampok?" tanya Arjuna, lebih untuk mengisi kesunyian.

"Kadang-kadang. Kalau aku lewat dan lihat." Sari tempel plester di dagunya. "Sudah. Jangan sampai kena air dulu."

"Terima kasih. Aku... aku tidak tahu harus balas bagaimana."

"Tidak usah dibalas." Sari tutup kotak P3K, taruh di meja. "Aku cuma tidak suka lihat orang disakiti."

Wanita tua tadi keluar dari dalam dengan nampan berisi tiga mangkuk nasi dan sayur sederhana. Ia taruh di meja. "Makan. Kau kelihatan lapar, Nak."

"Tapi aku... aku tidak bisa bayar..." Arjuna menatap makanan itu dengan mata hampir berkaca. Perutnya terasa seperti dicakar dari dalam.

"Siapa yang minta bayaran?" wanita itu tersenyum. "Ini bukan restoran. Ini rumah. Dan di rumah ini, siapapun yang datang tidak akan kami biarkan kelaparan. Makan."

Arjuna tidak bisa tahan lagi. Ia ambil mangkuk itu, sendok nasi dengan tangan gemetar, lalu suapkan ke mulutnya. Nasi itu dingin, sayurnya cuma bayam rebus dengan sedikit garam, tapi... tapi ini makanan terenak yang pernah ia makan. Atau mungkin karena ia terlalu lapar. Atau mungkin karena ada rasa yang tidak bisa dijelaskan saat kau makan makanan dari orang yang peduli padamu tanpa mengharap imbalan.

Air matanya menetes. Jatuh ke nasi di mangkuknya. Ia tidak bisa berhenti. Ia makan sambil menangis, sendoknya tidak berhenti bergerak, tapi air matanya juga tidak berhenti mengalir.

"Sudah berapa lama kau tidak makan?" suara Sari pelan.

"Dua hari," jawab Arjuna, suaranya serak. "Aku... maaf. Aku tidak bermaksud menangis. Aku cuma..."

"Tidak apa-apa." Wanita tua itu duduk di seberangnya, tangannya terulur, tepuk punggung Arjuna pelan. "Menangis itu tidak memalukan, Nak. Justru kalau kau tahan terus, nanti hatimu yang pecah."

Arjuna menghabiskan nasinya, lalu duduk diam, berusaha mengatur napas. Sari dan wanita tua itu tidak bilang apa-apa, cuma duduk menemaninya. Diam yang tidak membuat tidak nyaman. Diam yang... yang hangat.

"Namamu siapa, Nak?" tanya wanita tua itu akhirnya.

"Arjuna. Arjuna Wibowo."

Sari yang sedang minum berhenti. Ia taruh gelasnya perlahan, menatap Arjuna dengan mata membulat sedikit. "Arjuna... Wibowo?"

"Ya. Kenapa?" Arjuna menatapnya bingung.

"Tidak. Cuma... cuma nama yang bagus." Tapi nada suaranya aneh. Seperti ia menahan sesuatu.

"Oh. Terima kasih. Nama kau sudah aku tahu. Sari. Tapi... nama belakangnya apa?"

Sari diam sebentar. Terlalu lama. "Sari Amanda. Nama belakangku Amanda."

Ada sesuatu di cara ia bilang itu yang terasa salah. Tapi Arjuna tidak bisa bilang apa. Ia cuma mengangguk. "Terima kasih, Sari. Kau sudah selamatkan nyawaku hari ini. Aku... aku berhutang budi padamu."

"Tidak usah lebay." Sari berdiri, ambil mangkuk kosong Arjuna. "Kau punya tempat tinggal?"

"Belum. Aku... aku rencana cari penginapan murah."

"Dengan uang dua ratus ribu? Kau bisa bertahan paling tiga hari. Terus setelah itu mau makan apa? Mau tidur dimana?"

Arjuna terdiam. Ia tidak tahu. Ia benar-benar tidak tahu.

Wanita tua itu berdehem pelan. "Sari, kau pikir...?"

"Ya, Bu. Itu yang aku pikirkan." Sari menatap Arjuna. "Kau bisa tinggal di sini. Sementara. Sampai kau dapat kerja dan punya uang untuk sewa sendiri."

"Apa? Tidak, aku tidak bisa..." Arjuna menggeleng cepat. "Aku... aku sudah merepotkan kalian. Aku tidak..."

"Lantainya dingin dan keras. Tapi ada tikar. Makan seadanya tapi tidak akan kelaparan. Dan paling tidak, kau tidak akan dirampok atau dibunuh di malam hari." Sari menatapnya datar. "Keputusanmu. Aku tidak akan paksa."

Arjuna menatap wajah gadis itu. Wajah yang terlihat keras, tapi matanya... matanya jujur. Dan ia ingat tangan gadis ini yang menariknya dari jurang bahaya tadi.

"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kau baik sekali padaku? Kau bahkan tidak kenal aku."

Sari tersenyum tipis. Senyum yang sedih. "Karena aku tahu rasanya sendirian di kota ini. Tahu rasanya tidak punya siapa-siapa. Tidak punya tempat pulang." Ia jeda sebentar. "Dan karena aku rasa... kau datang ke sini bukan untuk cari kerja biasa, kan, Arjuna?"

Jantung Arjuna berhenti. Ia menatap Sari dengan mata membulat. "Apa... apa maksudmu?"

"Matamu," Sari menatapnya dalam. "Matamu bukan mata orang yang cari kerja. Itu mata orang yang kehilangan sesuatu. Mata orang yang mau balas dendam."

Udara di ruangan itu terasa beku. Arjuna tidak bisa bergerak. Tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimana gadis ini... bagaimana ia bisa tahu?

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu," lanjut Sari, suaranya lebih pelan sekarang. "Dan aku tidak akan tanya kalau kau tidak mau cerita. Tapi aku tahu... aku tahu kota ini penuh dengan orang-orang yang terluka. Orang-orang yang datang dengan dendam. Dan kebanyakan dari mereka... mereka mati sebelum sempat melakukan apapun."

"Lalu kenapa kau mau nolong aku?" suara Arjuna nyaris berbisik. "Kalau kau tahu aku bakal mati?"

Sari menatapnya lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang paling sedih yang pernah Arjuna lihat. "Karena mungkin... mungkin kau bisa berhasil dimana orang lain gagal. Atau mungkin aku cuma bodoh. Entahlah."

Ia berbalik, mulai mencuci mangkuk di ember kecil di sudut ruangan. "Keputusanmu, Arjuna. Tinggal atau pergi. Aku tidak akan paksa."

Arjuna menatap punggung gadis itu. Punggung yang kecil tapi entah kenapa terasa... terasa kokoh. Seperti ia sudah menanggung beban yang lebih berat dari ukuran tubuhnya.

"Aku... aku tinggal," bisiknya akhirnya. "Terima kasih. Terima kasih banyak."

Sari tidak menoleh. Cuma mengangguk pelan, terus mencuci mangkuk.

Tapi Arjuna tidak tahu. Tidak tahu bahwa tangan gadis itu gemetar. Tidak tahu bahwa matanya berkaca-kaca.

Karena Sari tahu namanya. Tahu nama Arjuna Wibowo bahkan sebelum ia memperkenalkan diri.

Dan ia tahu karena ia pernah dengar nama itu dari seseorang. Seseorang yang sudah lama ia coba lupakan.

Seseorang yang bernama Hendrawan Surya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!