NovelToon NovelToon
The Queen

The Queen

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Koridor utama universitas terasa seperti lorong menuju eksekusi. Queen Elara Alexandra berjalan dengan punggung tegak, meskipun ia merasa setiap mata yang menatapnya seperti belati yang menusuk. Di belakangnya, Luna dan Rian berjalan dengan wajah tegang. Mereka membawa tumpukan dokumen audit dan catatan transaksi pasar modal yang seharusnya menjadi perisai bagi Queen.

Hari ini adalah sidang dewan etik. Jika Queen terbukti melakukan manipulasi pasar melalui hubungan gelapnya dengan Adrian, ia tidak hanya akan dikeluarkan secara tidak hormat, tetapi lisensi pialang sahamnya akan dicabut seumur hidup, dan ia akan diseret ke pengadilan federal.

Di depan ruang sidang, Clarissa berdiri dengan senyum kemenangan yang tak tersembunyi. "Selamat pagi, Queen. Nikmati menit-menit terakhirmu sebagai mahasiswa di sini. Setelah ini, satu-satunya tempat yang pantas untukmu adalah sel penjara yang sama dengan ayahmu."

Queen berhenti tepat di depan Clarissa. Ia tidak tampak hancur seperti yang diharapkan Clarissa. Sebaliknya, matanya bersinar dengan kedinginan yang mematikan. "Clarissa, kau tahu apa perbedaan antara aku dan kau? Kau butuh kamera untuk menjatuhkanku. Aku hanya butuh otakku untuk menghapus seluruh keberadaanmu."

Sementara itu, di sisi lain kampus, Adrian Alistair tidak sedang bersiap untuk sidang. Ia berada di sebuah ruangan gelap di ruang kontrol keamanan universitas. Di hadapannya, kepala keamanan kampus gemetar ketakutan.

"Aku tanya sekali lagi," suara Adrian rendah, nyaris seperti geraman binatang buas. "Siapa yang memberinya akses ke kunci pintu rooftop malam itu?"

"A-Adrian, saya tidak bisa mengatakannya... Ayahmu—"

Adrian mencengkeram kerah kemeja pria itu dan menghempaskannya ke dinding. Topeng mahasiswa kaya yang sopan miliknya telah hancur. Yang tersisa hanyalah darah Alistair yang haus kekuasaan dan kejam.

"Ayahku tidak ada di sini sekarang. Aku yang di sini," Adrian berbisik tepat di telinga pria itu. "Jika kau tidak memberikan rekaman CCTV asli sebelum Clarissa mengeditnya, aku akan memastikan seluruh keluargamu tidak akan pernah bisa meminjam satu sen pun dari bank mana pun di dunia ini. Aku akan menghapus sejarah finansialmu dalam satu klik."

Pria itu gemetar hebat. Ia tahu Adrian tidak sedang menggertak. Dalam sepuluh menit, Adrian mendapatkan apa yang ia butuhkan: bukti bahwa Clarissa telah menyuap petugas keamanan untuk menjebak mereka, dan bahwa foto itu diambil dari sudut yang sengaja dibuat agar terlihat seperti sebuah konspirasi bisnis.

Adrian keluar dari ruangan itu, namun ia tidak berhenti di sana. Ia menelepon pialang pribadinya. "Jual seluruh saham Zenith Corp yang kita miliki di pasar terbuka sekarang. Lakukan secara agresif. Aku ingin harganya menyentuh dasar lantai bursa dalam tiga puluh menit. Dan hubungi departemen hukum Alistair Group. Aku ingin tuntutan pencemaran nama baik dan manipulasi bukti diajukan terhadap Clarissa Zenith secara pribadi."

Adrian tidak lagi bermain cantik. Jika dunia ingin menyebutnya sebagai penjahat karena mencintai Queen, maka ia akan menjadi penjahat paling mengerikan yang pernah mereka temui.

Di dalam ruang sidang dewan etik yang megah, suasana sangat mencekam. Lima profesor senior dan dua perwakilan dewan penyantun duduk di kursi tinggi, menatap Queen seolah ia adalah hama.

"Ms. Queen Elara Alexandra," pimpin dewan memulai. "Foto ini menunjukkan hubungan intim antara Anda dan pewaris Alistair Group tepat sebelum terjadi lonjakan saham yang tidak wajar di perusahaan ayah Anda. Bagaimana Anda menjelaskan koordinasi ini jika bukan sebagai manipulasi pasar?"

Queen berdiri. Suaranya stabil, bergema di ruangan yang luas itu. "Hubungan saya dengan Adrian Alistair adalah urusan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan keputusan investasi saya. Transaksi yang saya lakukan didasarkan pada data kebocoran audit yang saya temukan secara mandiri. Adrian hanya memberikan konfirmasi atas apa yang sudah saya ketahui."

"Tapi foto ini membuktikan adanya kolusi!" teriak Clarissa yang hadir sebagai saksi pelapor.

Tiba-tiba, pintu besar ruang sidang terbuka dengan dentuman keras. Adrian Alistair melangkah masuk. Ia tidak minta izin. Ia berjalan dengan wibawa yang membuat para profesor terdiam.

"Maaf saya terlambat," ucap Adrian dingin. Ia meletakkan sebuah tablet di meja dewan. "Tapi saya rasa sidang ini harus dihentikan karena pelapor utama kita, Ms. Clarissa, telah melakukan tindak pidana."

Clarissa memucat. "Apa yang kau bicarakan, Adrian?!"

Adrian memutar rekaman video di layar besar. Di sana terlihat jelas Clarissa memberikan amplop cokelat kepada petugas keamanan dan menginstruksikannya untuk membiarkan pintu rooftop terbuka serta mematikan sensor gerak. Lebih dari itu, Adrian menampilkan data percakapan ponsel Clarissa yang ia dapatkan melalui peretas profesional.

"Ms. Clarissa secara sengaja menjebak Ms. Queen untuk menciptakan kepanikan pasar sehingga perusahaan keluarganya, Zenith Corp, bisa melakukan short-selling pada saham Alistair Group," Adrian menjelaskan dengan nada monoton namun menusuk. "Ini adalah definisi sebenarnya dari manipulasi pasar. Dia menciptakan skandal untuk mengeruk keuntungan pribadi."

Para dewan etik mulai berbisik panik.

Adrian berjalan mendekati Queen. Di depan semua orang, ia mengambil tangan Queen dan menggenggamnya erat. "Queen tidak pernah memanipulasi saya. Sayalah yang memanipulasi keadaan agar dia bisa menang. Jika ada yang harus dikeluarkan dari universitas ini, itu adalah saya... dan wanita yang haus akan drama ini..."

Saat itu juga, ponsel Clarissa bergetar hebat. Pesan masuk dari ayahnya: SAHAM KITA HANCUR! ADRIAN ALISTAIR MELAKUKAN DUMPING MASIF! KITA BANGKRUT, CLARISSA! APA YANG KAU LAKUKAN?!

Clarissa jatuh terduduk di lantai. Dalam satu jam, ia kehilangan segalanya—reputasinya, posisinya di kampus, dan kekayaan keluarganya. Adrian telah menghancurkan Zenith Corp hanya untuk membuktikan satu poin.

Dewan etik segera memberikan keputusan: Queen dibebaskan dari segala tuduhan, sementara Clarissa dikeluarkan secara tidak hormat dan akan menghadapi tuntutan hukum dari Alistair Group.

Setelah sidang berakhir, Queen dan Adrian berdiri di luar gedung. Matahari mulai terbenam, menyirami kampus dengan cahaya oranye yang hangat.

Queen menarik tangannya dari genggaman Adrian. "Kau melakukannya. Kau benar-benar menjadi 'Gelap' seperti ayahmu."

Adrian menatapnya dengan lelah. "Aku melakukannya untukmu, Elara."

"Aku tahu," bisik Queen. Ia mendekat, menatap Adrian dengan campuran cinta dan ketakutan. "Tapi kau baru saja menghancurkan sebuah perusahaan besar dan ribuan orang kehilangan pekerjaan hanya untuk menyelamatkanku dari gosip kampus. Kau menakutkan, Adrian."

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak lagi hangat. "Dunia ini kejam, Elara. Kau mengajariku bahwa untuk melindungi Queen, seorang King harus bersedia menjadi monster."

Queen menghela napas panjang. Ia tahu hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Masa kuliah mereka yang normal telah berakhir hari ini. Mereka bukan lagi sekadar mahasiswa, mereka adalah pemain catur yang baru saja memenangkan satu babak, namun perang yang lebih besar dengan ayah Adrian telah menanti di depan mata.

"Terima kasih, Adrian," ucap Queen akhirnya. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut. "Tapi jangan pernah berpikir aku akan berhenti menyaingimu. Karena sekarang, targetku bukan lagi Clarissa... tapi kau."

Adrian tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus untuk pertama kalinya hari itu. "Aku tidak mengharapkan hal lain darimu, Queen Alexandra."

Mereka berjalan berlawanan arah, masing-masing kembali ke medan perang mereka, namun dengan perasaan yang kini telah terikat lebih kuat daripada kontrak bisnis mana pun.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading😍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!