Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Sama-sama Manusia Ribet
Kenzie sudah cukup berusaha untuk melupakan kejadian bersama Kenzo waktu itu, apalagi mereka sudah tidak bertemu lebih dari dua mingguan karena Kenzo sedang sibuk-sibuknya, dan tanpa komunikasi.
Namun, Kenzo masih berada dalam situasi yang bingung dan serba salah. Dua minggu ini ia sedang disibukkan dengan pertemuan-pertemuan untuk pembangunan sirkuitnya sehingga membuat ia sering tidak di rumah. Masih ada perasaan yang mengganjal karena belum mendapatkan maaf dari Kenzie. Apalagi orangtuanya selalu menanyakan Kenzie untuk memastikan kapan diajak meninjau lokasi.
"Besok aku pulang dulu ya, Pa ... dapat undangan dari kakak tingkat waktu kuliah dan dia juga pelanggan tetap," ujar Kenzo.
"Iya, pulang aja nggak apa-apa, besok 'kan weekend, sekalian kamu temui istrimu dulu," jawab Zaky.
Kenzo hanya mengangguk karena masih ragu apakah ada pertemuan di kepulangannya kali ini.
Kenzo kembali berpikir keras bagaimana cara bertemu dengan Kenzie yang masih enggan bertemu dengannya. Dua minggu ini pun ia selalu berbohong pada Zaky mengenai komunikasi mereka. Begitu juga dengan Kenzie yang selalu berbohong kepada Zaky, Mia, ataupun Laras ketika diantara mereka ada yang menghubunginya.
Alasan mereka tidak pulang pergi karena pertemuan yang hampir setiap hari dan akan membuang-buang waktu jika harus pulang pergi.
Keesokan harinya, Kenzo pulang tanpa Zaky. Ia membawa mobil papanya karena mereka berangkat dengan satu mobil dan membawa mobil Zaky.
"Iya babe?" jawab Kenzo memasang earphone karena masih menyetir.
"Nanti jemput jam berapa, babe?" tanya Gita.
"Setengah 7 ya," jawab Kenzo.
Meskipun sempat marah, akhirnya Kenzo dan Gita masih melanjutkan hubungan mereka. Kenzo luluh dengan sikap Gita yang tidak menyerah untuk hubungan mereka agar tetap berlanjut. Biar bagaimanapun, mereka sudah lama menjalin hubungan, sehingga tidak mudah untuk berpisah.
"Kira-kira papa beneran percaya atau pura-pura percaya ya?" gumam Kenzo.
Berbagai alasan ia katakan pada Zaky agar tidak berkunjung ke rumah untuk bertemu dengan menantunya.
"Lagian gitu aja harus marah, cuma ciuman nggak sengaja!" gerutu Kenzo.
"Emangnya gue nggak menarik buat dia?" imbuhnya lalu bercermin.
"Duh gile cakep banget anak pak Zaky!" puji Kenzo untuk menghibur dirinya sendiri.
Kenzo tidak langsung pulang ke rumah karena akan singgah ke usahanya yang akhir-akhir ini sering ditinggalkan. Meskipun sudah mempercayakan kepada seseorang dan selalu menerima laporan setiap hari, tapi, Kenzo sudah mendapatkan pesan dari ayahnya untuk tetap mengontrol, terutama keuangan.
"Lah, kirain siapa." tegur karyawan Kenzo bernama Danu.
"Mobil pinjam bos besar," jawab Kenzo.
Meskipun bos dan karyawan, mereka tetap terlihat akrab, apalagi jarak usia yang tidak terlalu jauh. Mereka juga paham siapa bos besar yang dimaksud oleh Kenzo.
Hari-hari yang cukup melelahkan bagi Kenzo, ia memiliki waktu istirahat yang tidak banyak. Namun, demi cita-citanya, Kenzo selalu berusaha untuk kuat.
"Selama aku nggak di sini, ada perempuan yang nyariin nggak, Mbak?" tanya Kenzo pada wanita yang bekerja di rumah bengkelnya itu.
"Biasa Mas, non Gita yang kesini," jawab Retno.
Dengan spontan, raut wajah Kenzo terlihat kecewa.
Retno menyadari raut wajah Kenzo, ia pun heran karena seharusnya senang.
"Apa saking sudah biasanya non Gita kesini? jadi asem gitu mukanya," sindir Retno.
"Jangan ngadi-ngadi!" protes Kenzo langsung menghindar.
Selama berpacaran, Gita sudah biasa datang ke rumah ini. Ia hanya tau bahwa Kenzo pemilik bengkel Kenz. Mengenai aset lainnya, Kenzo belum berani menunjukkan karena sudah mendapatkan peringatan keras dari orangtuanya agar wanita yang ingin bersamanya bukan hanya sekedar mengincar harta warisan.
Pantang membahas semua aset kepada orang asing, karena tidak semua orang yang datang ke dalam hidup itu benar-benar tulus, apalagi melihat gaya hidup mewah Gita.
Setelah singgah di bengkel, Kenzo langsung kembali ke rumahnya dengan membawa motornya karena akan sempit jika membawa mobil kesini, sedangkan mobilnya ada di rumah. Rumah itu sangat sepi, dan kotor seperti biasanya, Kenzo reflek meringis kecewa.
"Dih! gue kenapa dah!" gumam Kenzo menggerutu.
Kenzo melihat kamar sebelah, dan kondisinya masih sama seperti hari terakhir sebelum ia pergi.
"Dia aja masih belum mau buka blokiran, sombong amat! sok jual mahal!" gerutu Kenzo kesal.
...
Seperti yang sudah direncanakan, malam ini Kenzo akan kondangan bersama dengan Gita. Mereka datang dengan sangat serasi membawa mobil Kenzo.
"Pengin kayak gitu nggak?" tanya Kenzo.
Gita langsung tersedak minuman karena mendengar pertanyaan itu.
"Hehe babe, nanti dulu ya, kita masih terlalu muda untuk menikah," jawab Gita merayu manja.
Kenzo tersenyum kecut dan mengalihkan pandangannya ke tamu lain.
Gita masih dengan prinsipnya yang belum menerima pernikahan, namun, tidak keberatan jika tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Sedangkan Kenzo tidak masalah untuk menikah muda, walaupun ia sendiri masih sering gagal mengelola emosi. Tetapi, ia tidak menerima untuk living together. Ia membebaskan Gita datang ke bengkel, termasuk ke kamarnya, tetapi ia hanya menemui sekedarnya. Retno dan Dhani sebagai pasangan suami istri yang menjadi saksi mereka.
Kenzo dan Gita bertemu dengan teman-temannya, mereka asik mengobrol secara terpisah karena teman mereka tidak sama.
"Zo! ayo foto!" seru pengantin laki-laki dari pelaminan.
Karena masih ada live musik, Kenzo tidak mendengar sehingga staf WO yang menghampiri Kenzo dan mereka naik ke pelaminan secara bersama-sama. Kenzo langsung memanggil Gita untuk ikut foto bersama.
"Gue angle kiri!" seru Gita menyerobot temannya yang sudah berdiri lebih dulu.
"Lu kanan kiri sama aja cakep, Git." jawab temannya itu.
"Pokoknya gue angle kiri! lu aja yang pindah!" paksa Gita.
Melihat drama ini, Kenzo langsung meraih lengan Gita agar tidak mengulur waktu, karena masih banyak tamu yang mengantri. Sementara kekasihnya itu justru masih harus mendapatkan apa yang ia mau, meskipun sudah ada orang lain yang lebih dulu menempati posisi tersebut.
"Babe, sudah-sudah, kamu selalu cantik di posisi manapun ... nggak enak dilihat-"
"Tin,"
Suara Kenzo langsung terpotong saat ia menatap ke tamu undangan, ia menemukan seseorang yang dikenalnya.
"Kenzie," bathin Kenzo langsung reflek melepaskan tangannya dari lengan Gita.
Kenzie hanya menatapnya sekilas dengan sinis lalu mengalihkan perhatian ke makanan, karena lebih menggiurkan. Sedangkan pemandangan yang di pelaminan itu membuatnya mual.
"Menjijikkan! cocok sama-sama manusia ribet!" bathin Kenzie mengumpat kesal ketika bersamaan teringat saat Kenzo datang meminta maaf, sedangkan hari ini terlihat bersama kekasihnya itu.
"Apes betul ketemu lagi sama mereka!" gerutu Kenzie.
"Kenapa Ken?" tanya teman Kenzie.
"Hehe, nggak papa," jawab Kenzie.
Kenzie kembali menyantap hidangan lainnya untuk mengalihkan pandangan yang membuat matanya sakit.
"Satu ... dua ... tiga!"
Beberapa foto sudah berhasil didapatkan setelah dari pihak wo menengahi dan menegasi Gita agar tidak mengulur waktu lagi.
"Babe, maaf aku nggak bisa lama-lama, aku sudah janjian sama papa." ujar Kenzo.
Gita langsung cemberut karena masih ingin bersama.
"Kamu bilang, aku harus mendapatkan pekerjaan yang lebih baik 'kan?" tanya Kenzo.
Gita mengangguk tanpa ragu.
"Aku akan berusaha supaya setara dengan kamu," ujar Kenzo.
"Kamu nuduh aku sudah merendahkan kamu?" balas Gita dengan raut wajah sedih.
Kenzo menggelengkan kepalanya.
"Aku sadar diri, babe."
"Maaf ya," ucap Kenzo.
"Next time harus jalan ya?" pinta Gita.
Kenzo mengangguk.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍