NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Ritual Pengampunan

Di masjid kecil tengah desa, Pak Kades berdiri di serambi, tangannya memegang tasbih kayu jati yang sudah aus karena sering digosok. Usianya 65 tahun, tapi sore itu ia tampak lebih tua—keriput di wajahnya seperti peta dosa desa ini sendiri. Ia mengetuk bedug pelan tiga kali, suaranya bergema lembut tapi tegas, memanggil warga yang tersisa.

“Warga Durian Berduri... datanglah. Kita tak bisa lagi lari dari masa lalu. Malam ini kita hadapi bersama, bukan dengan golok atau obor, tapi dengan hati yang tulus.”

Satu per satu warga berdatangan. Mbok Jum membawa kain putih untuk alas sajadah, Bu Kades membawa kendi air  dari sumur masjid, Kang Ujang berjalan pelan dengan wajah pucat setelah pengalaman ilusi di hutan. Kang Asep memimpin Siti Aisyah—Mbak Neneng—yang berjalan di sampingnya, tangannya gemetar tapi langkahnya mantap. Sari Wangi, yang masih lemah setelah kejadian malam itu, duduk di baris belakang, matanya merah karena menangis terus, tapi ia datang juga—karena Lilis, bayinya, masih di tangan Nenek Gerandong.

Masjid penuh. Bau minyak wangi  bercampur dengan aroma tubuh manusia yang lelah dan takut. Pak Kades naik ke mimbar sederhana, suaranya pelan tapi menggema.

“Saudara-saudara... tiga puluh tahun lalu, kita membakar gubuk Mbah Saroh. Kita selamatkan Siti Aisyah kecil, tapi kita tak pernah minta maaf atas apa yang kita lakukan pada Mbah Saroh. Kita anggap dia monster, tapi dia manusia—korban yang kita khianati. Dendamnya lahir dari kesedihan kita sendiri. Malam ini... kita minta ampun. Bukan hanya untuk selamatkan bayi-bayi, tapi untuk selamatkan jiwa kita.”

Ia menoleh ke Siti Aisyah. “Nen... kau yang paling dekat dengan dia. Ceritakan. Biar kita semua dengar, dan hati kita terbuka.”

Siti Aisyah berdiri perlahan, tubuhnya gemetar. Ia maju ke depan, berdiri di tengah sajadah putih yang digelar. Matanya menatap warga satu per satu—wajah-wajah yang dulu menyelamatkannya, tapi juga wajah-wajah yang membiarkan Mbah Saroh terbakar. Air matanya jatuh sebelum ia bicara.

“Aku... aku ingat malam itu. Aku kecil, baru tujuh tahun. Mbah Saroh ambil aku dari rumah orang tuaku. Dia bilang aku miliknya karena janji darah. Tapi warga datang, membakar gubuknya, selamatkan aku. Aku selamat... tapi Mbah Saroh hilang dalam api. Sejak itu, aku sering mimpi buruk. Dia panggil aku ‘anakku’. Dia bilang aku yang seharusnya tetap di sisinya. Dan sekarang... karena aku lolos, dia ambil bayi-bayi desa ini. Lilis... bayi-bayi lain... mereka bayar dosa yang bukan dosa mereka.”

Suara Siti Aisyah pecah, tapi ia melanjutkan. “Aku tahu Mbah Saroh menderita. Suaminya mati, anaknya mati dalam kandungan, warga usir dia. Dia jadi dukun hitam karena putus asa. Kita yang bikin dia begini. Kita yang ingkar janji, kita yang bakar dia hidup-hidup. Malam ini... aku minta ampun atas nama desa. Ampuni kami, Mbah. Kami salah. Kami tak tahu penderitaanmu. Kembalikan bayi-bayi itu... kami siap bayar dosa kami, tapi bukan dengan nyawa polos.”

Warga diam. Beberapa menangis pelan. Sari Wangi menutup mulut, air matanya jatuh tanpa suara. Kang Asep memeluk istrinya dari belakang, matanya basah—ia ingat godaan malam itu, rasa bersalahnya semakin dalam.

Pak Kades mengangkat tangan. “Mari kita berdoa. Doa dari hati yang tulus. Kita minta ampun atas nama leluhur, atas nama kita, atas nama anak-cucu kita.”

Mereka semua menengadakan tangan ke atas. Suara takbir dan doa menggema di masjid kecil itu, pelan tapi penuh getar. “Ya Allah... ampuni dosa kami... lindungi anak-anak kami... lembutkan hati kami yang penuh dendam...”

Tiba-tiba, angin menderu masuk dari jendela masjid yang terbuka. Langit yang tadi cerah mendung seketika. Dan hujan turun—bukan air biasa. Tetesannya merah pekat, seperti darah yang jatuh dari langit. Warga tersentak, beberapa berteriak ketakutan. Hujan darah itu membasahi atap masjid, menetes masuk melalui celah genting, membentuk genangan merah di lantai.

Siti Aisyah mengangkat wajah, air mata bercampur darah ilusi di pipinya. “Mbah... ini tanda kau dengar kami...”

Hujan darah itu tak lama. Hanya beberapa menit, tapi terasa seperti abadi. Lalu, pelan-pelan, warna merah memudar. Tetesan yang jatuh menjadi bening kembali, air hujan biasa yang dingin dan membersihkan. Genangan merah di lantai surut, meninggalkan lantai masjid basah tapi bersih.

Pak Kades berdiri, suaranya gemetar tapi penuh harap. “Ini... tanda pengampunan. Allah dengar doa kita. Mbah Saroh... mungkin hatinya mulai melunak.”

Siti Aisyah menatap ke luar jendela, ke arah hutan yang kini terlihat lebih tenang. “Dia dengar. Tapi... dia masih nunggu. Dia bilang... tukar jiwa. Aku harus masuk hutan lagi... sendirian.”

Kang Asep menarik istrinya. “Nen... tidak. Kita bareng.”

Tapi Siti Aisyah tersenyum tipis, penuh tekad. “Ini jalan satu-satunya. Doa malam ini sudah buka pintu. Sekarang... aku harus masuk ke dalamnya.”

Malam itu, masjid masih penuh doa. Tapi di hati semua orang, ada harapan kecil yang baru lahir—bahwa pengampunan bisa mengakhiri dendam yang sudah berlangsung satu generasi.

\*\*\*

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!