Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Biasa Saja
Ayza tersenyum lembut di balik cadarnya. Tatapannya tetap tenang saat menatap Fahri.
“Fahri,” katanya pelan. “Kakak hanya menjalankan tanggung jawab Kakak. Bukan diperbudak.” Ia menarik napas kecil. “Karena semua yang Kakak lakukan, insyaallah akan ditetapkan pahalanya.”
Fahri terdiam.
“Kamu nggak usah khawatir,” lanjut Ayza. “Allah akan menunjukkan yang terbaik buat Kakak.”
Ia melangkah pergi, tapi berhenti lagi.
“Fahri,” katanya tanpa menoleh.
“Kakak yakin kamu anak yang baik. Seperti yang Kakak bilang kemarin, bagaimana kita memperlakukan orang lain, insyaallah begitu pula orang lain akan memperlakukan kita.”
Ia menoleh sedikit.
“Menjaga adab dan sopan santun bukan untuk pencitraan, tapi untuk menghargai diri sendiri.” Ayza tersenyum tipis. “Terima kasih atas perhatianmu.”
Lalu ia melanjutkan langkahnya.
Fahri tersenyum. Bukan senyum bahagia, lebih mirip keyakinan pahit.
"Gimana bisa ada wanita kayak dia Kak Reza bakal nyesel… dan gak akan pernah ada jalan kembali saat dia memutuskan pergi nanti."
***
Pagi itu Ayza bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan dan segala keperluan untuk ke kantor. Semua dikerjakannya dalam diam, teratur, seolah itu rutinitas yang tak perlu dipikirkan lagi.
Setelah semuanya siap, ia mengetuk pintu kamar Reza.
“Masuk,” suara Reza terdengar dari dalam.
Ayza masuk dan menutup pintu perlahan. Sebelum ia membuka mulut, Reza lebih dulu bicara.
“Hari ini aku nggak mau diseka,” ucap Reza. “Aku mau mandi. Keramas. Aku nggak mau ke kantor dengan tubuh bau.”
Ayza terdiam sesaat. Tanpa bertanya, tanpa menanggapi, ia masuk ke kamar mandi lebih dulu, menyiapkan air hangat di bathtub.
"Dia gak bilang apa gitu?" gumam Reza, lalu menyusul Ayza.
Saat Ayza memandikannya, Reza memerhatikan caranya. Gerakannya hati-hati, tapi cekatan, menjaga agar gips di lengannya tetap kering.
Tidak ada lirikan, tidak aja jeda. Tidak gugup, tidak kikuk. Tidak ada rasa canggung yang berlebihan. Seolah-olah ia sedang memandikan anak kecil.
"Apa aku memang segitu nggak menariknya?" Pikiran itu muncul tiba-tiba, membuat dada Reza terasa tak nyaman.
Usai mandi, Ayza mengambilkan pakaian. Ia membantu Reza mengenakan kemeja, mengancingkannya satu per satu. Tetap tanpa tatapan kagum. Tanpa jeda yang berarti. Dari awal hingga akhir, biasa saja.
Pikiran itu akhirnya lolos dari mulut Reza. “Kau ini… nggak suka pria?”
Ayza berhenti menaikkan kerah kemeja Reza sepersekian detik. Lalu menjawab tenang, datar,
“Aku seorang wanita. Mana mungkin nggak suka pria. Apalagi keyakinanku melaknat menyukai sesama jenis.”
Reza tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata. “Kalau begitu kenapa kau kelihatan datar lihat aku?”
Ayza mendongak menatapnya. “Datar gimana?”
“Wajahku. Tubuhku.” Reza membusungkan dada. “Harusnya perempuan normal—”
“—terpukau?” potong Ayza.
Reza mengangkat alis. “Setidaknya tertarik.”
Ayza menatapnya lurus. “Aku nggak.”
Sejenak ruangan menjadi sunyi.
“Kenapa?” desak Reza.
“Karena kau biasa saja,” jawab Ayza tanpa ragu. “Nggak cukup buat aku susah mengalihkan pandangan, atau bikin jantungku berlarian.”
Reza terpaku. Ada jeda sepersekian detik sebelum rahangnya mengeras.
“Kau—”
“Selera orang beda-beda,” potong Ayza. Suaranya tetap tenang. “Mungkin kau tampan dan seksi di mata wanita lain. Terutama Zahra. Makanya dia suka nempel sama kamu.”
Deg.
Reza menelan ludah kasar. “Apa maksudmu?”
Ayza tersenyum tipis di balik cadarnya. “Maksudku sederhana. Cantik atau tampan itu tergantung siapa yang melihatnya.” Ia menjeda sejenak. "Dan bagiku..."
Ayza menepuk perutnya pelan. “Ini kurang berotot.” Lalu jarinya berpindah ke dada Reza. “Dan ini kurang bidang.”
Napas Reza tertahan. Tangannya mengepal tanpa sadar, buku jarinya memutih. Ada sesuatu yang runtuh, bukan fisiknya, tapi harga dirinya.
Ia tertawa pendek. Kering. Tak sampai ke matanya.
“Kau pikir dengan dirimu yang seperti ini,” katanya sambil menatap Ayza dari ujung kepala sampai kaki, “kau pantas dapat pria yang lebih dari aku?”
Ayza menghela napas pelan, lalu mengambil dasi.
“Aku nggak pernah bilang ingin pria yang ‘lebih’,” ucapnya sambil melingkarkan kain itu di leher Reza. “Aku cuma butuh pria yang cukup.”
“Cukup?” Reza mencibir.
“Cukup dewasa,” lanjut Ayza. “Cukup setia. Cukup tahu bahwa wajah dan tubuh cuma bonus sementara.”
Ayza mengikat dasi dengan cekatan, seolah selalu ia lakukan setiap hari.
“Nanti kulit bakal keriput. Otot turun. Yang tersisa... hanya karakter.” Ia menepuk dada Reza sekali. “Dan itu yang aku lihat.”
Reza terdiam. Dadanya terasa sesak. Kalimat itu diucapkan pelan, tapi menghantam tepat di tempat yang paling sunyi dalam dirinya.
Reza mengernyit saat menatap dasinya yang rapi dan presisi.
“Kau tinggal sama ibumu. Pakai hijab. Dari mana kau bisa selihai ini pasang dasi?”
Ayza menjawab ringan seolah tak ada yang perlu disembunyikan. “Tetanggaku punya anak SMP. Disabilitas. Orang tuanya nggak bisa pasang dasi."
Ia merapikan ujung dasi Reza. “Aku belajar supaya dia nggak berangkat sekolah dengan simpul miring.”
Kembali menatap Reza. "Masih ada pertanyaan lain, Tuan Reza yang terhormat? Kalau ada, akan saya jawab dengan jujur."
Reza tak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya. "Kenapa aku gak pernah menang? Sekalipun kami tak berdebat," batinnya pahit.
***
Makanan hangat sudah tersaji di meja makan. Reza sudah rapi. Kemeja licin, dasi terpasang sempurna.
Fahri melirik sekilas, lalu pandangannya jatuh ke tas di samping Ayza. Alisnya berkerut.
“Kau mau ke mana?” tanya Fahri.
Reza menoleh, mengira pertanyaan itu untuknya. Tapi Fahri tak menatapnya. Tatapannya terkunci pada Ayza.
“Ke kantor,” jawab Ayza tenang. “Bersama kakakmu.”
“Hah?!” Fahri mendelik. “Ke kantor? Sama dia?” Ia menunjuk Reza. “Ngapain?”
“Pekerjaan kakakmu menumpuk,” jawab Ayza datar. “Dan dia belum bisa ke toilet sendiri.”
"What?!" Fahri tertawa pendek. Hambar. “Gila,” gumamnya. “Kak, kamu segitunya sama dia?”
Ia menunjuk Reza lagi, lalu menatap Ayza. “Dia cuma manfaatin kakak. Nggak lihat apa—”
“Cukup,” potong Reza dingin. “Urus hidupmu sendiri. Jangan ikut campur rumah tangga kami.”
Fahri terkekeh. “Rumah tangga?”
Nada suaranya mengejek. “Kalau lo nggak suka dia, jangan manfaatin dia. Lepasin. Lo nggak pantas dapet wanita kaya—”
Plak!
Tamparan itu mendarat keras di pipi Fahri.
Ayza tersentak. Matanya melebar sesaat.
Fahri memegangi pipinya yang memerah, menatap Reza dengan rahang mengeras.
“Rumah tangga?” ulangnya pelan. “Rumah tangga macam apa yang isinya cuma perintah dan pemakaian?”
Reza berdiri.
“Urus saja hidupmu yang masih berantakan,” ucapnya dingin. “Itu jauh lebih butuh perhatianmu.”
Ia melangkah pergi tanpa menoleh.
Ayza menarik napas pelan, lalu mendekati Fahri.
“Kakak tahu apa yang Kakak lakukan,” ucapnya lembut tapi tegas. “Kamu nggak perlu khawatir.”
Fahri menatapnya. “Kak—”
...🔸🔸🔸...
...“Ia tak butuh pria yang lebih. Ia cuma butuh pria yang cukup. Cukup dewasa. Cukup setia. Cukup tahu bahwa wajah dan tubuh cuma bonus sementara.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Ayza akan bersanding dengan Kaisyaf