Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-6
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan kegundahan yang menyelimuti hati Elisa. Sudah hampir tiga minggu sejak malam di Hotel Grand Aurora, dan setiap hari yang berlalu terasa seperti siksaan bagi gadis itu. Rasa mual yang awalnya ia kira hanya masuk angin biasa, kini datang lebih rutin, terutama saat ia mencium aroma nasi hangat atau bau menyengat dari knalpot motor di jalanan.
Elisa duduk di pinggir tempat tidurnya, menatap sebuah kantong plastik hitam kecil yang baru saja ia beli dari apotek yang cukup jauh dari rumahnya. Ia sengaja mencari apotek yang tidak dikenal agar tidak ada tetangga yang melihatnya.
"Nggak... aku yakin ini pasti cuma telat karena stres," bisiknya pada diri sendiri. Tangannya dingin, gemetar saat menyentuh benda panjang di dalam plastik itu.
"Kak! Aris berangkat dulu ya! Uang jajan Aris sudah ada di atas meja?" teriakan Aris dari luar kamar mengejutkan Elisa.
"I-iya, Dek! Ada di bawah gelas! Hati-hati di jalan ya!" sahut Elisa dengan suara yang diusahakan tetap ceria.
Setelah mendengar pintu depan tertutup, Elisa menghela napas panjang. Ia harus melakukan ini sekarang. Dengan langkah limbung, ia menuju kamar mandi. Lima menit kemudian, ia keluar dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Dua garis merah. Jelas sekali.
"Ibu... Ayah... apa yang harus aku lakukan?" Elisa merosot ke lantai, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakannya terdengar pilu di ruangan yang sepi itu. Di rahimnya kini bersemayam benih dari pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya, pria yang telah merenggut paksa masa depannya.
Di luar rumah beberapa ratus meter dari rumah Elisa, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap terparkir di bahu jalan. Di dalamnya, Kalandra duduk dengan tatapan kosong, sementara Gery di kursi kemudi sedang asyik mengunyah keripik kentang.
"Lan, lo serius deh. Kita udah di sini hampir satu jam. Lo cuma mau liatin tembok gang itu?" tanya Gery sambil menunjuk ke arah gang masuk rumah Elisa.
Kalandra tidak menoleh. "Gue cuma mau pastiin dia berangkat kerja, Ger."
"Ya kalau dia nggak berangkat kerja gimana? Kita kan nggak tau Mungkin dia lagi libur, atau mungkin dia emang lagi males ketemu aspal Jakarta yang panas ini," sahut Gery santai. "Lagian, kalau lo emang penasaran, kenapa nggak turun aja sih?"
"Lo tau sendiri jawabannya. Dia takut sama gue," jawab Kalandra pendek. Suaranya terdengar berat, ada beban penyesalan yang sangat nyata di sana.
"Ya emang sih. Tapi lo nggak bisa gini terus, Lan. Lo itu Kalandra Mahendra, bukan pengintai profesional. Kerjaaan di kantor itu numpuk, si Bimo udah mulai ngomel-ngomel lewat WhatsApp karena lo nggak dateng rapat pagi ini."
Kalandra menghela napas, ia menyandarkan kepalanya di sandaran jok. "Gue ngerasa ada yang nggak beres, Ger. Perasaan gue nggak enak sejak kemarin."
Gery menghentikan aktivitas mengunyahnya. Ia menatap sahabatnya itu dengan lebih serius. "Lo ngerasain apa? Firasat?"
"Gue nggak tau. Gue cuma ngerasa gue harus tanggung jawab lebih dari sekadar nawarin uang lewat Bimo."
Tiba-tiba, sosok yang mereka tunggu-tunggu muncul. Elisa keluar dari gang dengan langkah yang sangat pelan. Ia mengenakan jaket ojek online-nya, namun wajahnya terlihat sangat pucat. Ia berjalan menuju motor tuanya yang terparkir di depan pos ronda.
"Tuh, orangnya keluar," bisik Gery.
Kalandra langsung menegakkan duduknya. Matanya terpaku pada sosok Elisa. Dari jarak ini pun, ia bisa melihat betapa rapuhnya gadis itu. Elisa tampak kesulitan saat hendak menghidupkan motornya. Beberapa kali ia mencoba menyela mesin motor, namun kakinya seolah tidak memiliki tenaga.
"Dia kayaknya sakit, Ger," ucap Kalandra cemas. Tangannya sudah berada di gagang pintu mobil.
"Eh! Jangan turun!" Gery menahan lengan Kalandra. "Inget kesepakatan kita. Kalau lo turun sekarang, suasana bakal kacau. Liat dulu, dia cuma kecapekan mungkin."
Elisa akhirnya berhasil menyalakan motornya, namun ia tidak langsung berangkat. Ia menyandarkan kepalanya di stang motor selama beberapa saat, seolah sedang menahan rasa pusing yang hebat. Setelah beberapa menit, barulah ia memacu motornya perlahan.
"Ikuti dia, Ger. Pelan-pelan aja," perintah Kalandra.
Sesuai perintah akhirnya mobil yang dikendarai Gery itu mengikuti Elisa dari belakang. Gery menjaga jarak yang cukup jauh agar tidak dicurigai. Mereka mengikuti Elisa yang ternyata tidak menuju ke pangkalan ojek atau tempat kerja biasanya, melainkan ke sebuah klinik kecil di pinggiran kota.
"Klinik?" Gery mengernyitkan dahi. "Dia beneran sakit berarti."
Kalandra terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ada sebuah pikiran yang melintas di kepalanya, sebuah kemungkinan yang sangat ia takuti namun juga masuk akal.
"Ger, lo tunggu di sini. Gue mau masuk," ujar Kalandra tegas.
"Lan! Jangan cari mati! Kalau dia liat lo di sana, bisa heboh satu klinik!" seru Gery.
"Gue bakal pake masker sama topi. Gue cuma mau denger dan tau dia sakit apa," Kalandra tidak menunggu persetujuan Gery lagi. Ia menyambar topi hitam dari kursi belakang dan memakai masker medis, lalu keluar dari mobil dengan cepat.
Gery hanya bisa menepuk dahinya. "Duh, ini anak bener-bener ya. Kalau sampe ketauan, tamat riwayat gue didepak dari jabatan direktur sama bokapnya."
Di dalam klinik yang sederhana itu, Kalandra duduk di pojok ruang tunggu, menunduk dalam-dalam. Ia melihat Elisa sedang duduk di bangku pendaftaran, memegang perutnya dengan raut wajah cemas.
Tak lama, nama Elisa dipanggil.
"Nona Elisa?" suara suster terdengar.
Elisa berdiri dan masuk ke ruang pemeriksaan. Kalandra merasa dunianya seolah berhenti berputar. Ia menunggu di sana dengan perasaan gelisah yang luar biasa. Sepuluh menit... lima belas menit... terasa seperti berjam-jam.
Saat Elisa keluar, wajahnya tidak lagi sekadar pucat. Gadis itu terlihat kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut dari raganya. Tangannya memegang sebuah amplop kecil. Ia berjalan melewati Kalandra tanpa menyadari kehadiran pria itu.
Kalandra berdiri, ia hendak mengejar, namun langkahnya terhenti saat melihat Elisa duduk di bangku taman depan klinik dan kembali menangis sesenggukan sambil memeluk amplop itu.
Kalandra kembali ke mobil dengan langkah yang terasa sangat berat. Begitu masuk, Gery langsung menyerangnya dengan pertanyaan.
"Gimana? Ketauan nggak? Dia sakit apa?"
Kalandra melepas maskernya, wajahnya terlihat sangat terpukul. "Ger... dia megang amplop hasil lab."
"Ya terus? Hasil lab kan bisa apa aja. Mungkin tipes, atau kurang darah," sahut Gery mencoba berpikir positif.
"Cara dia nangis, Ger... itu bukan cara orang nangis karena sakit tipes," suara Kalandra bergetar. "Ger, lo cari tau siapa dokter yang periksa dia tadi. Pake koneksi lo, pake duit, apa aja. Gue harus tau hasil pemeriksaan itu sekarang juga."
Gery menatap Kalandra dengan tatapan tak percaya. "Lan, lo sadar nggak permintaan lo ini ilegal? Privasi pasien itu dilindungi."
"Gue nggak peduli ilegal atau nggak! Cari tau, atau gue sendiri yang bakal obrak-abrik klinik kecil itu!" bentak Kalandra.
Gery menghela napas panjang, ia tahu kalau Kalandra sudah dalam mode seperti ini, tidak ada yang bisa menghentikannya. "Oke, oke. Gue coba telepon temen gue yang punya jaringan laboratorium. Tapi lo tenang dulu, jangan bikin keributan di sini."
Sore Harinya, Di Kantor. Kalandra duduk di mejanya, tidak menyentuh makanan siangnya sedikit pun. Bimo masuk ke ruangan dengan wajah serius, membawa sebuah map biru. Gery mengekor di belakangnya dengan ekspresi yang sangat suram, tidak ada lagi candaan yang biasanya keluar dari mulutnya.
"Lo udah dapet?" tanya Kalandra langsung.
Bimo menaruh map itu di depan Kalandra. "Gery udah cerita semuanya ke gue. Gue minta maaf, Lan, karena harus ngelakuin ini secara ilegal, tapi gue rasa lo emang berhak tahu."
Kalandra membuka map itu dengan tangan gemetar. Di sana tertera nama Elisa, umur 18 tahun, dan hasil pemeriksaan laboratorium Positif Hamil (4 Minggu).
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Kalandra merasa seperti dihantam oleh palu raksasa tepat di dadanya. Nafasnya memburu.
"Empat minggu..." bisik Kalandra. "Tepat saat kejadian malam itu.”
Gery menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lan... gue... gue beneran nggak tau mau ngomong apa. Ini kacau banget."
Bimo bersedekap, menatap Kalandra dengan tajam. "Sekarang pertanyaannya, Lan. Lo mau ngapain? Dia anak yatim piatu, punya adik kecil, dan lo baru aja ngasih dia beban yang mungkin bakal ngerusak hidup dia selamanya kalau lo nggak bertindak dengan bener."
Kalandra menutup matanya rapat-rapat. Bayangan wajah orang tuanya yang sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita terlintas di pikirannya. Papanya yang tegas namun baik, mamanya yang sangat menyayanginya. Bagaimana ia menjelaskan semua ini?
"Gue bakal nikahin dia," ucap Kalandra pelan namun mantap.
"APA?!" seru Gery dan Bimo bersamaan.
"Lo gila, Lan?" Gery mendekat ke meja. "Lo bahkan nggak kenal dia! Lo mau nikah sama kurir makanan cuma karena rasa bersalah? Nyokap lo bakal pingsan kalau tau!"
"Gue nggak punya pilihan lain, Ger. Itu anak gue," Kalandra menatap Gery dengan mata yang memerah. "Gue nggak mungkin biarin dia nanggung ini sendirian di lingkungan kayak gitu. Lo bayangin apa yang bakal tetangga dia omongin kalau tau dia hamil tanpa suami?"
"Tapi Lan, lo tau kan reaksi dia ke lo” Bimo mengingatkan. "Dia benci sama lo. Dia takut sama lo. Lo pikir dia bakal mau diajak nikah sama orang yang dia anggep sebagai monster?"
Kalandra terdiam. Benar. Elisa pasti akan menolak mentah-mentah.
"Gue bakal cari cara," gumam Kalandra. "Bimo, cari tahu jadwal dia sehari-hari. Gery, lo pantau rumahnya jangan sampe dia pergi atau ngelakuin hal bodoh kayak ngegugurin kandungannya itu."
"Gue rasa dia nggak bakal gugurin, Lan. Dari matanya, dia orang baik," ucap Gery pelan.
"Gue harus pastiin itu. Gue nggak mau kehilangan anak itu, dan gue nggak mau dia menderita lebih jauh lagi karena kesalahan gue," pungkas Kalandra.
---
Di sisi lain kota, di dalam kamarnya yang gelap, Elisa sedang meringkuk memeluk adiknya yang sudah tertidur. Ia menangis tanpa suara, tangannya terus mengusap perutnya yang masih rata.
"Maafin Kakak, Aris... Maafin Kakak..."
Takdir telah mengunci mereka dalam satu lingkaran yang sama. Kalandra dengan rencana tanggung jawabnya, dan Elisa dengan traumanya. Sebuah benih telah tumbuh, dan mungkin badai yang lebih besar sedang bersiap untuk menerjang hidup mereka yang sudah berantakan.
________❤️🌹