NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Harga Kemenangan

“Kau menang, tapi ini baru permulaan. Mereka tidak akan diam saja setelah kau mempermalukan salah satu anak buah Ma Yingjie.”

Suara Zulong bergema di dalam batok kepala Ji Zhen, seiring dengan hawa dingin yang merayap di sepanjang tulang belakang pemuda itu. Ji Zhen duduk bersila di atas dipan kayu yang keras, menyeka sisa darah kering di sudut bibirnya.

Sebelum akhirnya tertawa kecil, suara serak yang menghapus keheningan. “Aku tahu. Makanya aku harus lebih cepat dari mereka. Apa saranmu, Ular sawah?”

Energi di dalam ruangan terasa menajam, tanda sang naga sedang menahan amarah atas julukan merendahkan itu. Namun, detik berikutnya, jawaban Zulong kembali terdengar, lebih dingin dari sebelumnya. “Mulai dari sekarang, kau tidak boleh percaya siapa pun.”

Kemenangan atas Tang Wei seharusnya menjadi momen pembuktian, namun bagi Ji Zhen, itu justru menjadi lonceng peringatan bagi para predator di Sekte Qingyun. Dalam dua hari setelah duel itu, suasana di sekitarnya berubah menjadi medan perang yang sunyi. Ji Zhen tidak lagi mendengar ejekan terang-terangan, yang ada hanyalah bisikan yang berhenti saat ia mendekat dan tatapan yang segera berpaling.

Lebih dari itu, ia mulai menyadari keberadaan mata-mata. Saat ia berjalan menuju pasar bawah gunung untuk sekadar membeli roti, ada pergerakan halus di balik tumpukan karung gandum di sudut gang. Saat ia mencoba berlatih di petak hutan belakang rumahnya, bunyi gesekan daun yang tidak searah dengan embusan angin membuatnya berhenti seketika.

“Kau sedang diawasi,” konfirmasi Zulong. “Entah atas perintah sekte atau Ma Yingjie, tapi jelas, seseorang ingin tahu setiap tarikan napasmu. Langkahmu bukan lagi milikmu sendiri.”

Ji Zhen tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan kegugupan sedikit pun. Ia terus berjalan menuju balai distribusi sumber daya murid luar, tempat di mana jatah bulanan seharusnya dibagikan.

“Maaf, Ji Zhen. Kiriman pil pemulihan untukmu terlambat dari pusat alkimia,” ucap murid penjaga gudang tanpa menatap matanya. “Dan tugas wajibmu bulan ini sudah keluar: Mengumpulkan Bunga Kabut Merah di Hutan Guyun.”

Ji Zhen menatap daftar tugas itu. Hutan Guyun adalah wilayah yang dihindari karena makhluk-makhluk buas di sana bisa membekukan darah dalam hitungan menit. Ini bukan sekadar tugas, ini adalah upaya sekte untuk membuatnya mati secara alami tanpa harus mengotori tangan mereka sendiri. Ji Zhen tidak melapor pada tetua pengawas, tidak pula mengeluarkan keluhan. Ia hanya mengambil gulungan tugas itu, menyimpannya di balik jubah, lalu berbalik pergi. Ia tahu, di tempat ini, keadilan adalah dongeng bagi mereka yang tidak punya taring.

Karena jalur resmi telah ditutup, Ji Zhen beralih ke jalur gelap. Dengan bantuan Lian Shu yang bergerak seperti hantu di arsip sekte, ia mendapatkan rincian yang ia butuhkan tentang jadwal patroli para murid penegak hukum dan celah keamanan pada ventilasi gudang ramuan samping. Di mana dirinya akan mencuri dari para pencuri.

Malam itu, Ji Zhen merayap di antara atap bangunan kayu. Tangannya yang dilapisi es berfungsi sebagai pengait alami yang tidak menimbulkan suara saat menyentuh permukaan keras. Ia masuk ke gudang melalui celah sempit, gerakannya kini jauh lebih luwes. Ia hanya mengambil tiga botol kecil cairan penguat meridian, jumlah yang cukup untuk tidak memicu audit besar, tapi cukup untuk menjaga agar jalur energinya tidak hancur saat berlatih teknik naga.

“Di dunia kultivasi, moralitas adalah kemewahan orang yang kuat,” Zulong mendorong dengan suara serak. “Kau masih berada di titik bawah, jadi ambil apa yang kau butuhkan untuk memanjat. Tanah ini tidak akan memberimu makan jika kau hanya diam dan memohon.”

Ji Zhen tidak menjawab. Ia merasakan botol-botol itu di dalam sakunya. Ada sensasi aneh yang mulai mengendap di dadanya. Setiap kali ia melakukan tindakan melanggar aturan ini, ia menyadari bahwa kejujuran lamanya telah terkikis. Ia mulai berbohong kepada ibunya tentang asal-usul obat yang ia bawa pulang, menyembunyikan jejak dengan ketelitian yang menakutkan, dan yang paling membuatnya tersadar adalah hilangnya rasa bersalah itu sendiri. Hatinya membeku, seiring dengan qi es yang semakin stabil di dalam nadinya.

Suatu malam, saat Ji Zhen sedang mengasah aliran qi naga di halaman belakang yang sunyi, sebuah langkah kaki santai mendekat. Ji Zhen tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma bunga yang dulu sangat ia sukai, kini hanya terasa seperti gangguan.

Yang Huiqing berdiri di batas cahaya lampu minyak. Wajahnya pucat, jemarinya meremas ujung gaun birunya dengan cemas.

“Ma Yingjie merencanakan sesuatu yang besar,” ucap Yang Huiqing tanpa pembukaan. Suaranya gemetar. “Aku tidak tahu detail pastinya, tapi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka di paviliun. Mereka ingin menjebakmu dalam situasi yang tidak bisa kau hindari saat tugas di luar sekte nanti.”

Ji Zhen berhenti menggerakkan tangannya. Ia berdiri tegak, menatap gadis itu dengan mata yang kini terasa sangat asing bagi Huiqing. Dingin, tajam, dan sama sekali tidak ada sisa kehangatan masa lalu di sana.

“Kenapa kau memberitahuku lagi?” tanya Ji Zhen datar.

Yang Huiqing menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat tatapan mati dari pria yang dulu selalu tersenyum padanya. “Karena… aku tidak ingin kau mati. Aku tahu aku salah, aku tahu kata-kataku menyakitimu, tapi aku hanya ingin kau selamat, Zhen-er—”

“Pergilah,” sela Ji Zhen tanpa emosi. “Aku tidak butuh belas kasihanmu. Dan aku tidak butuh informasi dari seseorang yang hanya datang saat nuraninya merasa tidak nyaman. Simpan peringatanmu untuk kekasih jeniusmu itu.”

Yang Huiqing tersentak seakan baru saja ditampar secara fisik. Ia ingin bicara lagi, ingin menjelaskan bahwa ia terpaksa melakukan pilihannya, namun Ji Zhen sudah berbalik memunggunginya. Pemuda itu kembali melakukan gerakan bela diri, memukul udara dengan tinju yang dilapisi embun beku, seolah sosok gadis di belakangnya hanyalah debu yang tidak layak diperhatikan.

Dengan tangisan yang tertahan, Yang Huiqing akhirnya berbalik dan lari meninggalkan halaman itu.

Zulong muncul dalam kesadaran Ji Zhen saat suasana kembali sunyi. “Kau semakin keras. Aku suka itu. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai kau kehilangan kemanusiaanmu sepenuhnya sebelum kau cukup kuat untuk tidak membutuhkannya lagi.”

Ji Zhen tidak menanggapi. Namun, saat ia mengepalkan tangannya untuk meluncurkan serangan es terakhir, tangannya memberikan tanda-tanda tidak sinkron yang halus. Ada sisa keraguan yang bergetar jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah bagian dari Ji Zhen yang lama yang masih meronta sebelum akhirnya sepenuhnya membeku oleh hawa dingin yang ia pilih sendiri.

Harga dari setiap kemenangan bukan hanya luka di tubuh, melainkan potongan-potongan jiwa yang harus ia tanggalkan demi mencapai puncak. Ji Zhen menatap langit malam yang kelam, menyadari bahwa mulai malam ini, ia telah menjadi predator yang sesungguhnya.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!