NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai berdamai

Setelah mengantri cukup lama di bawah sinar matahari, akhirnya tibalah giliran Clara. Noel berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya sejengkal, cukup dekat untuk membuat udara di antara keduanya terasa lebih berat dari biasanya.

Clara mengangkat tangan kanannya tanpa sepatah kata pun. Matanya tetap tertunduk, seolah rumput hijau itu jauh lebih menarik untuk dipandangi daripada wajah lelaki yang pernah begitu ia harapkan hadir dalam masa depannya.

Noel menggenggam pergelangan tangannya dengan hati-hati. Gerakannya profesional, tenang, seperti pada peserta lain sebelumnya. Gelang kampanye berwarna biru tua itu melingkar rapi di kulit putih Clara. Saat pengaitnya terkunci, ibu jari Noel tanpa sadar mengusap pelan bagian kulit yang tertutup gelang itu hanya sepersekian detik, nyaris tak terlihat.

Clara mengernyit tipis. Sentuhan itu tidak menyakitkan, justru terlalu lembut. Ia segera menarik tangannya, lebih cepat dari yang diperlukan, lalu melangkah pergi tanpa menoleh.

“Mbak, ini kartu untuk pemeriksaan kesehatan,” ujar petugas di meja berikutnya dengan senyum ramah. “Kalau semua kolomnya sudah terisi stempel, bisa ditukarkan ke kupon undian.”

Clara menerima kartu itu. “Terima kasih,” ucapnya sopan, nada suaranya kembali netral.

Ia melangkah masuk ke area utama, tempat beberapa tenda pemeriksaan berdiri berjajar. Suara mikrofon terdengar sayup dari panggung kecil di tengah lapangan, bercampur dengan obrolan warga.

“Kak!” Viola muncul di sampingnya tiba-tiba, wajahnya memerah antara malu dan antusias. “Jantungku rasanya mau copot. Gantengnya kelewatan banget.”

Clara menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Di sini ada dokter jantung nggak ya? Biar sekalian kamu periksa,” candanya ringan.

“Iya, sekalian aja minta dilepas terus dijual,” celetuk Alvian yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka.

“Apaan sih lu, ganggu aja,” sungut Viola sambil mendorong bahu Alvian pelan.

Clara menggeleng kecil melihat keduanya. “Anton mana, Yan? Kok nggak kelihatan?”

“Tadi bantuin Pak Yanto di antrean lansia, Mbak,” jawab Alvian, kali ini tanpa nada mengejek.

Clara mengangguk. “Vi, kita ke sana dulu.” Ia menunjuk ke meja pemeriksaan tensi darah yang antreannya tidak terlalu panjang.

Mereka berjalan mendekat. Seorang perawat dengan masker putih tersenyum melalui matanya yang melengkung lembut.

“Silakan duduk, Mbak.”

Clara duduk di kursi plastik putih dan merentangkan tangan kanannya. Perawat itu memasangkan alat tensi di lengannya, lalu meletakkan stetoskop di lipatan siku dengan gerakan cekatan. Suara udara dipompa terdengar pelan, diikuti hening beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Clara menatap lurus ke depan. Di sudut matanya, ia masih bisa melihat sosok Noel yang berdiri beberapa meter dari sana, sibuk melayani peserta lain. Ia menarik napas perlahan.

Alat itu dilepas. Perawat menuliskan angka di kartu pemeriksaan Clara.

“Tensinya normal, Mbak,” ucapnya ramah. Lalu ia tersenyum kecil di balik masker. “Cuma detak jantungnya sedikit cepat. Lagi deg-degan ya, Bu?”

Clara tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa saja. “Iya… sedikit,” jawabnya pelan.

Perawat itu terkekeh ringan. “Nggak apa-apa, asal jangan sering-sering ya.”

Clara mengangguk dan ikut tertawa pelan mendengar candaan itu. Ia berdiri, menerima kartu yang kini sudah memiliki satu stempel pertama. Viola menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Deg-degan kenapa, Kak?” bisik Viola sambil menyenggol lengannya.

Clara melirik sekilas ke arah Noel, lalu kembali menatap Viola. “Karena kamu ribut banget dari tadi,” jawabnya santai.

Viola mendecak tidak percaya, sementara Alvian tertawa kecil. Clara melangkah ke meja berikutnya, wajahnya tetap tenang.

Clara berpindah ke meja berikutnya untuk pemeriksaan hemoglobin. Tenda itu sedikit lebih lenggang, hanya terdengar suara kipas angin kecil yang berputar pelan di sudut ruangan.

“Silakan duduk, Bu,” ujar perawat yang berbeda dari sebelumnya. Tangannya sudah bersarung tangan medis, gerakannya cekatan namun tetap lembut.

Clara duduk dan meletakkan kartu pemeriksaannya di meja. Ia mengulurkan tangan kanan tanpa banyak bicara.

“Tahan ya, Bu. Akan sedikit sakit,” ucap perawat itu sebelum alat kecil menekan ujung jari Clara.

Cekit.

Rasa perih itu datang cepat dan sederhana. Singkat, jelas dan nyata.

Clara mengernyit tipis. Perihnya kecil, hampir sepele. Dan entah kenapa, rasa seperti itu jauh lebih mudah diterima daripada perih yang tak terlihat, yang tak bisa diobati dengan kapas dan alkohol.

Setitik darah muncul di ujung jarinya, merah pekat dan hangat. Clara menahan napas sebentar. Ia memang sedikit ngeri melihat darah, meskipun itu darahnya sendiri. Ada sensasi aneh saat melihat warna merah itu keluar dari tubuhnya, seolah tubuhnya mengingatkan bahwa ia tetap manusia, tetap bisa terluka.

“Sudah, Bu. Kita tunggu sebentar,” ujar perawat sambil menekan lembut ujung jari Clara dengan kapas beralkohol.

Aroma alkohol menguar tipis. Clara memperhatikan cairan itu menyerap darahnya, menghapus jejak merah perlahan-lahan. Sesederhana itu.

Kalau saja semua luka bisa dibersihkan secepat ini, pikirnya dalam hati.

Perawat memasukkan sampel kecil itu ke alat pemeriksa dan menunggu hasilnya muncul di layar kecil. Beberapa detik terasa sunyi. Dari luar tenda, Clara masih bisa mendengar suara Viola yang tertawa keras entah menertawakan apa.

Clara menoleh sekilas ke arah pintu tenda. Dari celah kain, ia tak sengaja melihat siluet Noel di kejauhan, masih berdiri tegak, memasangkan gelang pada peserta lain dengan senyum yang sama tipis, seolah tidak ada yang pernah berubah.

“HB-nya bagus, Bu. Normal,” ujar perawat itu akhirnya, memecah lamunan Clara.

Clara kembali fokus. “Terima kasih,” ucapnya pelan.

Ia menekan kapas di ujung jarinya sebentar sebelum berdiri. Satu stempel lagi memenuhi kartunya.

Perih kecil di ujung jari itu masih tersisa, tapi ia tahu, itu bukan apa-apa. Yang jauh lebih sulit adalah belajar berdiri di ruang yang sama dengan seseorang tanpa membiarkan luka lama berdarah kembali.

Clara melangkah keluar tenda dengan wajah tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Hari ini Clara jauh lebih tenang, tak ada air mata, tak ada luka yang terbuka lebar. Ia mulai berdamai dengan keadaan.

Di sisi lain, antrean panjang di area gelang akhirnya selesai. Lapangan yang tadi penuh desakan kini mulai lebih tertata. Semua peserta mulai masuk ke area pemeriksaan masing-masing, tenda-tenda putih berdiri rapi dengan suara perawat dan relawan yang saling bersahutan.

Noel masih berdiri ditempatnya, kaos putih berlogo forrer masih tertata rapi meski matahari mulai meninggi. Ia mengelap pelipisnya yang mulai berkeringat menggunakan sapu tangan.

“Pak, mau istirahat dulu?” tanya manager marketing yang sejak tadi mendampingi jalannya acara. Nada suaranya sopan namun sedikit khawatir. Ia tahu atasannya jarang berhenti jika sudah terjun ke lapangan.

Noel menoleh sekilas. “Nanti,” jawabnya tenang. “Saya mau lihat pemeriksaannya.”

Bukan hanya formalitas. Ia ingin memastikan semua berjalan sesuai standar. Kampanye ini bukan sekadar acara seremonial. Branding perusahaan dibangun dari detail, pelayanan, ketepatan, kesan yang ditinggalkan pada masyarakat. Ia ingin perusahaannya bukan hanya dikenal melainkan di dukung secara penuh oleh masyarakat.

“Baik, Pak,” sahut sang manager patuh, lalu mundur memberi ruang.

Beberapa langkah di belakang, Regan datang membawa sebotol air mineral dingin. Ia menyerahkannya tanpa banyak bicara.

Noel menerima botol itu dan membuka segelnya. Ia meneguk air dengan tenang, satu tegukan panjang yang nyaris tanpa ekspresi. Air dingin itu turun perlahan di tenggorokannya, menetralkan panas matahari dan… sesuatu yang lebih dalam.

Ia menutup kembali botol itu.

Namun pandangannya tak bergerak jauh.

Matanya terpaku pada satu tenda di sisi kanan lapangan, tenda pemeriksaan kesehatan. Dari jarak itu, kain putih yang bergoyang tertiup angin sesekali menyingkap bayangan seseorang yang duduk di dalamnya.

Noel tidak perlu melihat jelas untuk tahu siapa.

Ia berdiri diam, seolah hanya sedang mengawasi jalannya acara. Tapi tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari tenda itu.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!