Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum masalah datang
“Aku sudah siap,” ucap Clara pada Thalia yang masih asyik bermain ponsel di sofa.
“Ayo, cacing di perut ku sudah berdisko,” sahut Thalia santai sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Clara terkekeh. “Kok nggak ngabarin kalau sudah pulang? Kan aku bisa jemput ke bandara.”
“Lah, kalau bilang-bilang namanya bukan surprise dong,” jawab Thalia sambil berdiri.
Clara menggeleng kecil sambil mengunci pintu rumahnya. Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk di dalam mobil Rubicon milik Thalia. Mobil itu perlahan keluar dari Gang Karya Bakti menuju warung nasi kuning Bu Sum yang tak jauh dari situ.
“Makan di sini atau dibungkus ?" tanya Clara ketika mobil sudah terparkir.
“Makan di sini aja. Sudah lama nggak ketemu Bu Sum,” sahut Thalia cepat.
Clara mengangguk lalu keluar dari mobil, diikuti Thalia yang langsung merapikan rambutnya sekilas sebelum berjalan mendekat ke gerobak.
“Pagi, Bu Sum!” sapa Thalia ceria.
Bu Sumiati yang sedang meracik pesanan sempat menoleh dan tersenyum lebar. “Neng Thalia lama nggak kelihatan.”
Thalia terkekeh. “Iya, Bu. Habis pulang kampung.”
Bu Sumiati mengangguk kecil, tangannya tetap cekatan membungkus nasi untuk pelanggan lain.
“Bu, dua porsi makan di sini ya,” ucap Clara kemudian.
“Siap, Neng. Tunggu sebentar,” sahut Bu Sum sambil menambahkan sambal dan taburan bawang goreng dengan gerakan yang sudah terlatih.
Tak lama kemudian dua piring nasi kuning tersaji di meja kayu panjang yang biasa dipakai pelanggan makan di tempat.
Thalia langsung mendekatkan wajahnya ke piring. Ia menghirup aroma santan hangat dan lauknya dengan penuh penghayatan, hidungnya sampai mengembang-kempis seperti anak kecil yang menemukan makanan favoritnya.
“Ya ampun… aku kangen banget sama aroma ini,” gumamnya dramatis.
Clara tertawa geli melihat kelakuan sahabatnya yang sama sekali tidak jaim, padahal warung Bu Sum sedang cukup ramai pagi itu. Beberapa pelanggan bahkan sempat melirik ke arah mereka karena suara Thalia yang terlalu ekspresif.
“Nanti siang bisa temenin aku ke tempat Kak Natan?” tanya Clara sebelum menyendokkan nasi kuningnya ke mulut.
Thalia yang sedang mengunyah langsung mengangkat alisnya. “Wah-wah… jadi mau dikenalin nih calonnya?” balasnya dengan mulut masih penuh.
Clara memutar bola mata dengan malas. “Aku mau service laptop,” jawabnya singkat.
Thalia berhenti mengunyah sejenak. “Laptop kamu rusak?”
Clara membenarkan duduknya, lalu mulai bercerita tentang undian kampanye beberapa hari lalu, tentang laptop yang ia menangkan, tentang Bu Jamilah yang ingin membeli laptop lamanya untuk Udin karena itu Clara ingin men service kan laptopnya sebelum di kasih ke bu Jamilah.
Thalia mengangguk-angguk paham. “Oh… jadi yang mau diservice itu laptop lama kamu?”
“Iya. Kalau masih bisa diperbaiki, kan lumayan buat Udin.”
Thalia tersenyum kecil mendengar itu. “Kamu ini ya… selalu mikirin orang lain.”
Clara hanya mengangkat bahu ringan.
“Nanti siang aku nggak ada mata kuliah. Aku anterin deh,” lanjut Thalia santai. “Tapi sekarang aku mau nambah dulu.”
“Bu Sum, mau nambah!” teriak Thalia tanpa sungkan.
Beberapa pelanggan menoleh sekilas. Bu Sumiati tertawa kecil dari balik gerobaknya. “Siap, Neng Thalia.”
Clara menggeleng pelan melihat nafsu makan sahabatnya yang seperti tak ada remnya. Tubuh Thalia memang lebih tinggi dan bongsor, kontras sekali dengan Clara yang kecil dan ramping. Tapi entah bagaimana, mereka selalu terlihat serasi berdampingan.
“Kamu ini habis dari Spanyol bukannya diet malah makin lahap,” goda Clara.
“Namanya juga adaptasi lagi ke cita rasa tanah air,” jawab Thalia tanpa rasa bersalah.
Mereka melanjutkan sarapan dengan penuh candaan. Sesekali Clara tergelak mendengar cerita-cerita Thalia tentang keluarganya di Spanyol tentang sepupunya yang cerewet, sampai tentang sodara neneknya yang marah-marah karena Thalia tak bisa bangun pagi.