Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Di Bawah Sorotan Obor
Deru mesin motor tua Rian terbatuk, seolah ikut tercekik melihat lautan obor yang mengepung halaman rumah Pak Jaya. Gia mencengkeram jaket Rian begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Di sana, di tengah kerumunan yang emosinya sedang disulut, Niko berdiri dengan pongah. Ia mengenakan jaket bomber mahal, sangat kontras dengan wajah warga desa yang kusam oleh keringat dan kecemasan.
"Lihat! Pahlawan kesiangan kalian baru pulang dari kota!" teriak Niko, suaranya menggelegar melalui pengeras suara portabel. "Kalian tahu apa yang mereka lakukan di sana? Mereka mencoba menyabotase masa depan kalian! Mereka menemui investor dan bilang kalau warga desa ini tidak butuh bantuan!"
Gumam amarah mulai terdengar dari barisan warga. Beberapa orang yang biasanya menyapa Gia dengan ramah, kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian.
"Itu bohong!" teriak Gia sambil turun dari motor. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha berdiri tegak. "Niko, kamu seharusnya di penjara! Bagaimana bisa kamu ada di sini?"
Niko tertawa, sebuah tawa yang kering dan meremehkan. "Hukum itu fleksibel bagi mereka yang tahu cara menggunakannya, Sayang. Tapi lupakan soal itu. Warga, dengar! Saya datang membawa surat kesepakatan resmi. Siapa yang tanda tangan malam ini, uang muka kompensasi sebesar lima juta rupiah langsung cair tunai!"
Ia mengangkat koper hitam yang terbuka, memperlihatkan tumpukan uang merah yang berkilau di bawah cahaya obor. Bagi warga desa yang hidupnya bergantung pada hasil tani yang tak menentu, pemandangan itu seperti air di tengah padang pasir.
"Tunggu dulu!" Rian melangkah maju. Ia tidak tampak panik. Ia justru berjalan santai menuju tengah kerumunan, meski beberapa pemuda desa yang terpengaruh Niko mencoba menghalanginya.
"Rian, jangan cari mati!" bisik Pak Jaya yang muncul dari balik pintu dengan wajah pucat.
Rian mengabaikan peringatan itu. Ia menatap Pak Kades yang berdiri di antara warga dengan wajah bingung. "Pak Kades, apa Bapak sudah baca detail amdal untuk proyek agrowisata ini?"
"Niko bilang semuanya sudah beres, Rian. Dia bawa dokumen resmi dari kabupaten," jawab Pak Kades ragu.
"Dokumen yang mana? Yang ini?" Rian mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. "Atau dokumen asli yang mereka sembunyikan di brankas kantor pusat?"
Niko mendengus. "Jangan dengarkan dia! Itu cuma taktik supaya kalian tidak dapat uang!"
Rian tidak membalas ucapan Niko. Ia justru merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah proyektor mini portabel—benda yang selalu ia bawa di dalam tas kerjanya sejak dulu. Ia mengarahkan lensa proyektor itu ke dinding putih rumah Pak Jaya yang luas.
"Warga sekalian, saya tidak minta kalian percaya pada saya. Saya minta kalian percaya pada mata kalian sendiri," ujar Rian dengan suara berat yang menenangkan.
Satu per satu, foto-foto yang ia ambil di kantor kabupaten tadi malam muncul di dinding. Gambar pertama adalah peta kawasan. Area hijau yang dilabeli 'Agrowisata' hanya tampak seperti jalur kecil di depan. Namun, di belakangnya, terdapat blok-blok besar berwarna abu-abu yang diberi label "Unit Pengolahan Limbah Industri B3".
"Apa itu B3, Rian?" tanya seorang petani tua dengan suara serak.
"Itu racun, Pak. Limbah kimia dari pabrik-pabrik besar milik Mahendra Group di kota. Mereka tidak mau membuangnya di sana karena biayanya mahal dan diprotes warga kota. Jadi, mereka cari desa yang jauh, yang warganya bisa disuap pakai uang lima juta rupiah supaya mau jadi tempat pembuangan racun," jelas Rian dengan tajam.
Kerumunan mulai sunyi. Mereka menatap gambar selanjutnya: rincian dampak lingkungan. Ada poin yang menyebutkan tentang potensi kontaminasi air tanah dalam radius lima kilometer dalam waktu dua tahun.
"Itu artinya," Gia menyambung, suaranya kini stabil dan penuh otoritas. "Sumur-sumur kalian tidak bisa dipakai lagi. Sawah kalian tidak akan tumbuh. Anak-anak kalian akan minum air yang mengandung merkuri. Uang lima juta itu... tidak akan cukup untuk biaya rumah sakit kalian selama setahun."
Niko mulai panik. Ia mencoba merebut proyektor itu, tapi Rian dengan sigap menghindar. "Itu palsu! Dia ahli komputer, dia bisa bikin gambar apa saja!" teriak Niko.
"Kalau ini palsu, kenapa namamu ada di sini sebagai penanggung jawab lapangan proyek limbah, bukan agrowisata?" Rian menunjuk pada dokumen digital yang memperlihatkan tanda tangan Niko.
Tiba-tiba, suasana berubah. Obor yang tadinya diarahkan untuk mengintimidasi Rian dan Gia, kini mulai bergerak mendekat ke arah Niko.
"Kamu mau meracuni kami, Den Niko?" tanya seorang pemuda desa yang tadi paling keras mendukungnya.
"Bukan begitu... ini... ini demi kemajuan!" gagap Niko.
"Kemajuan apa kalau tanah kami mati?!" teriak warga lain.
Situasi menjadi kacau. Warga yang merasa dikhianati mulai melempari mobil Niko dengan apa saja yang ada di tangan mereka. Niko segera masuk ke dalam mobilnya dan memerintahkan supirnya untuk tancap gas, meninggalkan kepulan debu dan rasa malu yang mendalam.
Setelah kerumunan mulai tenang, Pak Kades mendekati Rian dan Gia. Ia menunduk, tampak sangat menyesal. "Rian, Gia... maafkan kami. Kami hampir saja menjual masa depan demi uang receh."
Rian menepuk bahu Pak Kades. "Wajar, Pak. Orang lapar itu gampang dirayu. Tapi sekarang kita tahu, perang ini belum selesai. Mahendra tidak akan diam saja dokumennya terbongkar."
Malam itu, setelah warga pulang ke rumah masing-masing, Gia duduk di tangga depan rumahnya. Ia menatap langit malam yang bersih. Rian duduk di sampingnya, menyerahkan secangkir kopi yang masih mengepul.
"Tiga hari yang kamu minta... ternyata cuma butuh beberapa jam," ujar Gia pelan.
"Kadang, kebenaran itu kayak kopi hitam, Gia. Pahit, tapi bikin mata melek," sahut Rian.
Gia menatap Rian dari samping. Cahaya rembulan membuat garis wajah pria itu tampak lebih lembut. "Rian, kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu bisa saja pergi dan menyelamatkan dirimu sendiri."
Rian menyesap kopinya, lalu menatap lurus ke depan. "Dulu, aku membangun gedung tinggi supaya namaku terkenal. Sekarang, aku cuma mau menjaga agar satu desa kecil ini tetap punya air yang bisa diminum. Rasanya... jauh lebih memuaskan."
Ia lalu menoleh ke Gia, matanya berkilat jahil. "Lagian, kalau aku pergi, siapa yang bakal ngingetin kamu supaya nggak terlalu galak sama pelanggan?"
Gia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rian. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa aman, meski ia tahu bahwa di luar sana, Tuan Mahendra sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.
"Kita bakal terus berjuang, kan?" tanya Gia.
"Sampai titik kopi terakhir, Neng," jawab Rian mantap.
Tanpa mereka sadari, dari kegelapan hutan di seberang jalan, sebuah lampu kecil berkedip. Seseorang sedang merekam seluruh percakapan mereka. Perang sesungguhnya baru saja bergeser dari fisik ke arah yang lebih gelap: spionase dan sabotase karakter.