Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Kerja Berubah
"Lucas ingin bertemu denganku," ucap Sarah dengan ringan, gadis itu masih berada di kantor Rovano.
Meski terkesan tidak profesional tapi Sarah sendiri sudah menyelesaikan pekerjaannya, Adrian juga banyak membantunya hingga urusan dengan skandal keluarga Jonas telah selesai meski Sarah mengalami kerugian yang cukup besar. Setidaknya, ia bisa berleha-leha di kantor suaminya untuk melepaskan penat.
Rovano menaikkan sebelah alisnya, "untuk apa?" tanyanya, rasa penasaran mulai meradang.
"Sepertinya dia ingin meminta maaf atas kesalahan ayahnya," jawab Sarah, ia sedang berada di atas pangkuan Rovano, pria itu membiarkan istrinya memeluknya seperti ini.
"Aku memberikan waktu mungkin sekitar beberapa bulan ke depan agar ia bisa membenahi dirinya dulu, di saat seperti ini mental seseorang sangat perlu di lindungi," lanjut Sarah, "aku pernah merasakan hancur, maka jika aku menemuinya sekarang maka aku tidak ada bedanya dengan penyebab kehancuran itu."
Rovano bukanlah pria jahat yang akan memarahi Sarah atas setiap tindakan yang di ambil wanita itu meski tidak sejalan dengannya.
Ia akan selalu menghargai setiap keputusan yang di ambil oleh Sarah, kecuali jika sangat bertentangan maka Rovano akan memberi nya alternatif lain.
"Aku tidak akan melarang mu untuk menemuinya, aku senang jika kalian bisa membuatnya benar-benar selesai," ucap Rovano menanggapi.
Pria itu kemudian memeluk erat Sarah, mengusap punggung isterinya dengan penuh kasih sayang, "jika itu bisa mengakhiri rasa sakitmu, mengakhiri kekecewaan mu atas apa yang terjadi sebelumnya, maka kau harus melakukannya. Menemuinya untuk terakhir kali tidak masalah bagiku."
Sarah melepas pelukannya, menatap wajah Rovano dengan dalam. Ia tidak menyangka bisa mendapatkan pasangan yang sangat pengertian seperti Rovano, kesannya Sarah bagai mendapat jackpot.
Sarah mengecup nya sekali, "terima kasih Rovano, kau memang yang terbaik," bisiknya kemudian mereka berciuman dengan intens.
Meluapkan rasa cinta yang masih saling bergemuruh, melupakan semua urusan dunia yang melelahkan.
Seberat apapun masalah yang akan mereka hadapi, setidaknya mereka masih memiliki satu sama lain untuk saling memberikan topangan.
Begitu ciuman itu mulai memanas, keduanya berhenti. Rovano segera mengunci pintu ruangannya, memastikan jendela tertutup rapat kemudian segera menerjang Sarah di sofa.
Sentuhan-sentuhan intens dan penuh gairah saling menggoda satu sama lain, hingga perlahan Rovano sudah melepas celana nya, sementara Sarah sudah menaikkan rok yang di pakai nya.
Rovano memainkan bagian bawah, memeriksa nya berkali-kali, memastikan sudah siap untuk di isi. Harus basah, licin dan siap menjepit.
"Sayang, aku akan memasukkannya sekarang," bisik Rovano.
Sarah tidak pernah membayangkan adegan seperti ini sebelumnya, melakukan seks di kantor Rovano pada jam kerja pria itu benar-benar tidak profesional. Namun hasrat keduanya terlanjur sudah naik, sayang untuk di lewatkan begitu saja.
"Get in, babe," bisik Sarah sembari menggigit bibir bawahnya, semakin membuat Rovano tergoda untuk menghantamnya.
"Ahh."
"Aahhh."
Rovano sudah masuk sepenuhnya, perlahan ia menghentakkan, semakin dalam, semakin keras hentakan nya hingga Sarah kembali meracau dan mendesah.
Rovano segera menciumnya, membungkam bibir itu sebelum suaranya semakin keras dan terdengar keluar.
"Kita akan segera mendapat Jovian junior," bisik Rovano, "aku tidak memakai pengaman, tidak masalahkan?"
"Ahh, lakukan saja, Rovano."
Gerakan semakin memanas, Rovano terus menghantamkan miliknya sepenuhnya hingga Sarah merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat, Rovano merasakan sofanya basah, Sarah baru saja mencapai klimaksnya.
"Tahan sayang, sebentar lagi, sedikit lagi, bertahanlah untuk tetap bergerak," ucap Rovano yang sedang menggerakkan pinggulnya semakin cepat, ritme yang bersahutan dengan waktu karena mereka harus segera menyelesaikan nya.
"Aarghhh," Rovano menggeram, ia melepaskan cairan kehidupan di dalam Sarah, ia memeluk wanita itu dengan erat, keduanya merasakan kehangatan di bawah sana dalam keadaan saling terengah-engah.
"Sepertinya, ada yang harus membersihkan sofa," bisik Sarah seraya tersenyum, kemudian ia tertawa manja.
"Jangan lupa membersihkan bagian bawah, Nyonya Jovian," bisik Rovano.
Sarah menghela napasnya, "sekarang aku tau alasan kau menambah toilet pribadi dalam ruanganmu ini, supaya bisa melakukan di sini dengan bebas, iya kan?"
Rovano menyeringai, "tentu saja, sekarang aku sudah memiliki istri yang cantik seperti ini, aku bisa melakukannya dimana saja dengan nya."
Rovano terus menggerayangi tubuh Sarah, tangannya sekarang mulai menaikkan dress yang di pakai Sarah hingga ia bisa melihat dua sembulan sexy surgawi nya.
Rovano mengeluarkan nya dari kubah itu dan mulai memainkannya, memelintir bagian ujungnya hingga Sarah mendesah kembali.
"Mau satu ronde lagi, istriku?"
...****************...
Sarah menghela napasnya kasar, ia kesal karena masalah yang di buat Jonas ternyata berdampak cukup besar pada salah satu cabang perusahaan nya.
Jika begini, ia sendiri harus memeriksa langsung ke lapangan, salah satu kantor start up miliknya mengalami pembengkakan biaya dan pemerosotan pendapatan.
Perusahaan nya itu murni ia yang membuatnya, maka Sarah selalu turun tangan untuk menangani nya langsung. Belum lagi, lokasinya berada di luar kota membuat nya bimbang.
Jika ia pergi, ia akan berjauhan dengan Rovano, tapi jika tidak pergi ia yakin hatinya akan terus gusar karena masalahnya belum terpecahkan.
Ada yang salah dengan karyawannya di sana, Sarah yakin itu, karena harusnya masalah korupsi Jonas sudah di selesai kan oleh Adrian.
"Kak, sepertinya aku memang harus ke sana," ucap Sarah pada Adrian.
Adrian menoleh, pria itu sedang menikmati kudapan nya bersama Sarah, di sebuah kafe dekat perumahan Sarah karena ia memang akan pulang namun menunggu suaminya dulu.
"Kau harus bertanya pendapat suamimu dulu sekarang, tidak bisa main pergi ke sana kemari," ucap Adrian menanggapi.
Sarah meminum secangkir kopi miliknya, mengingat Rovano membuatnya merinding, tadi siang mereka baru saja bercinta begitu panas di kantornya. Bayangan itu masih terekam jelas di benaknya.
"Dia pasti mengizinkannya tapi justru aku yang dilemma, aku tidak mau jauh darinya," ucapnya kemudian, membuat Adrian memutar matanya bosan.
Akhir-akhir ini Sarah sangat menunjukkan kalau ia sangat mencintai Rovano. Lama-lama Adrian jadi muak, ia merasa tergantikan di hati adiknya, meski itu salahnya sendiri karena mereka terpisah.
"Sebenarnya, kakak itu tau atau tidak tentang alasan ayah membiarkan kakak tinggal jauh sendirian?" Tanya Sarah pada Adrian.
Adrian menjadi lebih serius tatapannya, ia mengangguk pelan lalu menyimpan alat makan nya, ia minum terlebih dulu kemudian menoleh sepenuh nya pada Sarah.
"Kau pasti baru mengetahui nya, di sana aku tidak hanya menjalani kehidupan biasa Sarah, tapi menjalankan perusahaan seperti mu bahkan lebih banyak darimu," jawab Adrian, "itu satu-satunya cara untuk melindungi harta ibu sebenarnya. Aku tau, kau hidup dalam kesedihan, melihat ayah dan ibu tidak harmonis."
Sarah merasa tidak percaya, "ya, aku sendirian melihat ibu menderita dan mereka berperan seakan keluarga bahagia di hadapan ku bertahun-tahun!"
"Semua itu terpaksa Sarah," ucap Adrian, "asal kau tau, di keluarga ayah semua pernikahan bisnis hanya memiliki satu anak, lalu setelah sukses, mereka akan menceraikan istrinya."