NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 15

Pagi yang cerah menyambut langkah Sasha saat ia tiba di gerbang SMA Garuda Bangsa. Di sana, ia berpapasan dengan Aria yang baru saja turun dari angkutan umum.

Tanpa banyak bicara, Sasha merogoh tasnya dan menyodorkan lembaran soal Fisika yang penuh dengan coretan rapi hasil bimbingan Indah semalam via telepon.

Aria menerima kertas itu, memperhatikannya dengan teliti dari atas ke bawah. "Kau benar-benar mengerjakannya? Kau sudah paham semua konsepnya?" tanya Aria sangsi.

Sasha melipat tangan di dada dengan pose penuh percaya diri. "Tentu saja. Kau pikir otakku tidak bisa memproses rumus-rumus membosankan itu? Semuanya sudah masuk ke sini," ucapnya sambil menunjuk keningnya.

Aria menatap Sasha dengan tatapan menyelidik, seolah mencari celah kebohongan.

Melihat itu, Sasha mendelik marah. "Apa? Kau tidak percaya padaku? Kau pikir aku menyontek dari internet, hah?"

Aria hanya menghela napas panjang, tidak ingin memicu keributan di gerbang sekolah. "Ya sudah, mari kita lihat nanti saat ujian." Mereka pun berjalan masuk, dan di koridor utama, mereka bertemu dengan Indah yang langsung menyapa dengan riang.

Saat mereka bertiga melewati lapangan basket, suasana mendadak menjadi sangat bising.

Padahal jam pelajaran belum dimulai, namun pinggir lapangan sudah disesaki oleh barisan siswi yang berteriak histeris.

Suara teriakan mereka memekakkan telinga, penuh dengan semangat yang meluap-luap.

Di tengah lapangan, seorang siswa bertubuh atletis dengan keringat yang membasahi jersey basketnya sedang mendribel bola dengan lincah.

Saat ia melompat dan memasukkan bola ke ring dengan gerakan *slam dunk* yang sempurna, seluruh perempuan di sana berteriak histeris kegirangan.

"Seperti biasa ya, Yudas selalu populer di mana-mana," gumam Indah sambil memperhatikan kerumunan itu.

Sasha mengernyitkan dahi. "Siapa Yudas itu? Kenapa mereka berteriak seperti habis melihat artis?"

Aria ikut menimpali dengan nada datar. "Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan pemandangan heboh seperti ini di lapangan pagi-pagi."

Indah mendadak berhenti berjalan, ia menatap Sasha dan Aria dengan wajah tidak percaya. "Kalian... kalian serius tidak kenal dengan dia?" tanyanya sambil menunjuk ke arah lapangan.

Sasha mengangkat bahu. "Aku bahkan belum genap seminggu sekolah di sini secara normal. Mana kutahu urusan idola sekolah."

Aria menambahkan dengan tenang, "Aku hanya fokus pada buku, urusan OSIS, dan pekerjaan paruh waktuku. Selebihnya, hal-hal seperti itu tidak masuk dalam daftar prioritasku."

Indah menggelengkan kepalanya pelan, merasa heran dengan ketidaktahuan kedua orang di depannya. "Yudas itu satu kelas dengan kalian berdua! Dia di kelas 3-1!"

Sasha dan Aria tersentak bersamaan. "Apa? Benarkah?" tanya Sasha terkejut. "Aku bahkan tidak sadar ada orang seperti dia di kelasku." Begitu juga dengan Aria yang tampak berusaha mengingat-ingat wajah siswa di kelasnya.

"Ya ampun," keluh Indah. "Yudas itu bintangnya klub basket. Dia sudah membawa sekolah ini juara selama tiga tahun berturut-turut. Semester kemarin, dia membawa kita juara satu di ajang "National High School Basketball Championship"

Sasha menatap ke arah lapangan, sedikit kagum melihat postur dan ketangkasan pria bernama Yudas itu. Namun, kekaguman itu hanya bertahan beberapa detik.

Tiba-tiba, Yudas mencoba melakukan tembakan dari jarak yang sangat jauh—hampir dari tengah lapangan.

Sialnya, bola tersebut menghantam besi ring dengan sangat keras, menciptakan pantulan liar yang melesat kencang ke arah samping lapangan, tepat ke arah di mana Sasha, Aria, dan Indah sedang berdiri.

Aria yang sedang melamun tidak menyadari bahaya yang mengintai.

Melihat bola basket itu meluncur deras menuju wajah Aria, Sasha dengan refleks kilat langsung melangkah maju.

Ia memasang badan dan mengangkat lengan kanannya yang kuat untuk menangkis bola tersebut.

*DUAK!*

Bola itu menghantam lengan Sasha dan terpental jauh ke arah lain. Aria dan Indah tersentak, hanya bisa menghela napas panjang karena terkejut.

Sasha mengusap lengannya yang sedikit panas, matanya menatap tajam ke arah Yudas di tengah lapangan dengan rasa kesal yang meluap.

"Cuih, gaya saja yang selangit," gerutu Sasha ketus. "Tembakan seperti itu saja tidak masuk. Dasar, dia benar-benar tidak bisa main!"

---

Langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Yudas, sang bintang basket, berlari kecil menghampiri mereka dengan napas yang sedikit memburu.

Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak merasa bersalah.

"Aduh, maaf banget ya! Aku tidak sengaja, tadi hanya mencoba tembakan tiga angka," ucap Yudas sambil menyeka keringat di dahinya.

Namun, alih-alih menerima permintaan maaf itu, Sasha justru melangkah maju dengan aura yang sangat mengintimidasi. Matanya berkilat marah.

Tanpa peringatan, tangan Sasha menyambar kerah baju *jersey* Yudas dan menariknya hingga mereka berdiri sangat dekat.

"Kau pikir maaf bisa menyembuhkan kalau bola itu menghantam wajahnya, hah?!" bentak Sasha dengan suara rendah yang berbahaya. "Gaya-gayaan menembak jauh tapi tidak becus! Kau hampir mencelakai orang, bodoh!"

Yudas membeku. Ia tidak menyangka akan mendapatkan reaksi sebrutal ini.

Kerumunan siswi di pinggir lapangan mendadak sunyi, mereka terkejut melihat idola mereka diperlakukan seperti itu oleh siswi berandalan.

Melihat kepalan tangan Sasha yang sudah mengeras, Aria segera bertindak.

Ia memegang bahu Sasha dan mencoba melepaskan cengkeraman tangannya dari baju Yudas. "Sasha, lepaskan! Cukup!"

Indah juga ikut membantu, ia menarik lengan Sasha yang satunya. "Kak, sudah! Jangan di sini, banyak orang yang melihat!"

Dengan tenaga gabungan, Aria dan Indah berhasil menarik Sasha menjauh dari Yudas yang masih berdiri diam dengan wajah canggung dan bingung.

Sasha terus memberontak saat diseret paksa meninggalkan area lapangan menuju koridor kelas.

Begitu sampai di koridor yang agak sepi, Sasha mengibaskan tangan kedua temannya dengan kasar.

Wajahnya masih memerah karena emosi yang meluap. "Kenapa kalian malah menghentikanku, hah?! Biar kuhajar saja dia tadi! Dia butuh pelajaran agar tidak sembarangan melempar bola!"

Aria berdiri di hadapan Sasha, menatapnya dengan pandangan tegas yang tidak goyah. "Dia sudah minta maaf secara langsung, Sasha. Tidak perlu membesar-besarkan masalah sepele seperti ini di pagi hari. Kau mau kena hukum lagi?"

Sasha hanya mengerutkan keningnya dalam-dalam, mendengus kesal sambil memalingkan wajah ke arah lain.

Ia masih merasa terhina karena Aria membela "si populer" itu. Sementara itu, Indah hanya bisa tersenyum canggung melihat dinamika kedua kakaknya ini, mencoba mencairkan suasana yang masih terasa panas.

"Sudahlah, Kak. Yang penting tidak ada yang terluka," ucap Indah lembut.

Tepat saat itu, bel sekolah berbunyi dengan nyaring, menandakan dimulainya jam pelajaran pertama. Keinginan Sasha untuk membalas dendam pun terhalang oleh waktu.

"Ayo masuk, Indah. Sampai jumpa nanti," pamit Aria.

Indah melambai dan berjalan menuju kelasnya di 3-2, sementara Sasha dan Aria berjalan berdampingan memasuki kelas 3-1 dengan atmosfer yang masih terasa tegang. Mereka duduk di kursi masing-masing, siap memulai hari yang panjang dengan drama yang baru saja dimulai sejak matahari terbit.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!