NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Jam digital di dinding lobi menunjukkan pukul 20.00. Angka-angka merah itu menyala stabil, seolah menandai berlalunya waktu tanpa empati. Lampu-lampu putih menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya dingin ke lantai marmer yang mengilap. Suasana lobi cukup ramai—beberapa orang berbincang pelan, sebagian sibuk dengan ponsel, sisanya berlalu-lalang tanpa tujuan jelas. Malam berjalan seperti malam-malam lainnya. Tenang. Normal.

Hingga pintu kaca di sisi timur terbuka perlahan.

Seorang pria melangkah masuk.

Langkahnya pincang, berat, nyaris terseret. Tubuhnya condong ke depan, seolah ditopang oleh sisa kekuatan yang tak lama lagi akan habis. Tangan kirinya menekan perut dengan gemetar, sementara tangan kanan berusaha menahan dinding agar ia tidak jatuh. Dari sela jemarinya, darah mengalir tanpa henti—merah, hangat, dan berbau besi. Tetesannya jatuh ke lantai, meninggalkan jejak yang mencolok di antara kilau bersih marmer.

Beberapa pasang mata menoleh. Awalnya bingung. Lalu terkejut.

“T-tolong aku…” ucapnya lirih. Suaranya serak, tercekat oleh rasa sakit yang luar biasa. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Matanya yang sayu menyapu ruangan, mencari siapa pun—siapa saja—yang bisa menolongnya.

Ia mencoba melangkah sekali lagi.

Namun lututnya tak lagi sanggup menahan tubuh.

Gubrak!

Tubuhnya ambruk menghantam lantai. Kepanikan pecah seketika. Ada yang menjerit histeris, ada yang mundur ketakutan, ada pula yang terpaku dengan wajah pucat. Darah semakin meluas, membentuk genangan kecil di bawah tubuh pria itu. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak pernah sempat terucap.

Seseorang berteriak memanggil petugas. Orang lain menghubungi ambulans. Namun dalam hitungan menit, semuanya menjadi sia-sia. Pria itu tak lagi bernapas.

Hidupnya berhenti di sana—di tengah keramaian, tanpa nama pelaku, tanpa penjelasan.

...****************...

*Dua puluh menit sebelumnya…

“Iya, sayang. Besok kan hari bahagia kita.”

Pria itu tersenyum kecil sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Ia berdiri di area parkir yang mulai lengang, diterangi lampu-lampu jalan yang temaram. Angin malam berembus pelan, membawa udara dingin yang seharusnya menenangkan.

“Aamiin, udah mau pulang, kan? Hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut, udah malam.”

“Iya, tenang aja,” jawabnya ringan, sedikit tertawa. “Aku juga pengin cepat sampai rumah.”

Ia memandangi mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Dalam benaknya, hari esok terbayang begitu jelas—senyum, doa, dan janji yang akan diikat. Hidup terasa baik-baik saja. Terlalu baik, bahkan.

“I love you,” ucapnya pelan, seolah tak ingin kata itu menghilang begitu saja.

Telepon ditutup.

Ia melangkah menuju mobilnya.

Langkah ketiga belum sempat ia ayunkan saat sesuatu terjadi begitu cepat. Sebuah tangan tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Napasnya tersedak, tubuhnya menegang. Sebelum ia sempat melawan atau berteriak, rasa nyeri luar biasa menghantam perutnya.

Satu tusukan.

Dua.

Tiga.

Dunia seakan runtuh dalam sekejap. Rasa panas menjalar, diikuti dingin yang mematikan. Kakinya melemas, penglihatannya berkunang-kunang. Ia hanya sempat mengerang pelan sebelum tubuhnya terlepas dari cekikan.

Sosok di belakangnya menghilang begitu saja, lenyap ditelan gelap malam.

Dengan sisa kesadaran, pria itu berjalan tertatih-tatih. Setiap langkah terasa seperti pisau baru yang menusuk. Tangannya menekan perut, mencoba menghentikan darah yang terus mengalir. Ia tak tahu ke mana harus pergi—yang ia tahu hanya satu: ia harus bertahan.

Hingga akhirnya ia mencapai lobi yang ramai.

Tempat terakhir yang sempat ia datangi.

...----------------...

Malam itu, kabar duka menyelimuti sebuah keluarga. Seorang ibu menangis histeris di ruang rumah sakit, tak percaya anak yang dibesarkannya dengan kasih kini terbaring kaku di balik kain putih.

“Anak saya baik… dia nggak pernah menyakiti siapa pun,” ucapnya terisak kepada polisi. “Setega itu pelaku sampai membunuh anak saya seperti ini?”

Pihak kepolisian bergerak cepat. Autopsi dilakukan. TKP disisir dari awal—dari area parkir hingga lobi. Namun pelaku terlalu rapi. Tak ada saksi mata yang melihat jelas. Tak ada sidik jari yang dapat diandalkan. Kamera pengawas tak menangkap sudut yang menentukan.

Pelaku seolah tahu apa yang ia lakukan.

Kasus itu pun dimulai—sebuah pembunuhan misterius yang membuka pintu pada rahasia, dendam, dan kegelapan yang selama ini tersembunyi.

Dan di luar sana, seseorang masih bebas berjalan.

Menunggu malam berikutnya.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!