"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: JEBAKAN DI BALIK MEJA HIJAU
BAB 10: JEBAKAN DI BALIK MEJA HIJAU
Setelah pengusiran dramatis Ibu Mira dari lantai eksekutif, suasana di dalam ruangan kantor Alana terasa sunyi, namun suasananya tidak lagi mencekam. Harum bunga lili segar yang baru diletakkan di sudut ruangan memberikan ketenangan yang kontras dengan kekacauan di lobi tadi.
Alana duduk di kursi kebesaran direktur. Ia menyentuh permukaan meja kayu jati yang halus itu. Di sinilah Raka dulu duduk, merencanakan pengkhianatannya sambil tertawa di atas penderitaan Alana. Sekarang, kursi ini terasa dingin, mengingatkan Alana bahwa kekuasaan datang dengan tanggung jawab yang berat.
"Kau melamun lagi," suara Kenzo memecah keheningan. Pria itu berdiri di dekat jendela, memperhatikan pemandangan kota dengan tangan masuk ke saku celana.
Alana mendongak. "Aku hanya berpikir, Kenzo. Kenapa Raka dan ibunya begitu yakin bisa menjatuhkanku dengan fitnah panti asuhan itu? Rasanya terlalu... ceroboh untuk orang selicik mereka."
Kenzo membalikkan tubuhnya. Matanya yang tajam menatap Alana dengan saksama. "Itu karena mereka tidak bekerja sendirian, Alana. Raka hanyalah pion yang sedang kelaparan. Ada orang lain yang menyuplai 'bukti' palsu itu kepada Ibu Mira. Seseorang yang tahu detail masa kecilmu jauh sebelum kau bertemu Raka."
Jantung Alana berdegup kencang. "Siapa? Siapa yang bisa tahu tentang panti asuhan itu selain keluarga Adiwangsa?"
"Itu yang sedang aku selidiki," jawab Kenzo sambil melangkah mendekati meja Alana. Ia meletakkan sebuah map hitam yang tampak sangat rahasia. "Tapi sebelum kita sampai ke sana, ada badai lain yang harus kau hadapi. Raka baru saja mengajukan gugatan balik dari balik penjara."
Alana mengernyit. "Gugatan balik? Atas dasar apa? Dia yang berselingkuh, dia yang korupsi!"
"Dia menggugat hak asuh atas 'aset' yang kau bawa," jelas Kenzo dengan nada dingin. "Dia mengklaim bahwa sebagian dari harta yang kau ambil kembali saat ini adalah harta gono-gini yang dihasilkan selama masa pernikahan. Dia mencoba menguras hartamu lewat jalur hukum agar kau tidak punya modal untuk menjalankan perusahaan ini."
Alana tertawa getir. "Pria itu benar-benar tidak punya urat malu. Dia ingin harta dari keluarga yang sudah dia hancurkan?"
Keesokan harinya, persidangan awal mengenai sengketa aset digelar secara tertutup. Alana datang didampingi oleh Bastian, kakaknya yang seorang pengacara tangguh, dan tentu saja Kenzo yang tidak pernah membiarkannya berjalan sendiri.
Di kursi tergugat, Raka duduk dengan pakaian tahanan oranye. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak tirus dan kusam, namun matanya masih memancarkan kebencian yang mendalam. Di sampingnya duduk seorang pengacara tua yang dikenal sebagai "pengacara kotor" yang sering memenangkan kasus-kasus mustahil.
"Yang Mulia," pengacara Raka memulai dengan suara yang dibuat-buat sedih. "Klien saya, Raka Ardiansyah, telah mendedikasikan tiga tahun hidupnya untuk membangun perusahaan ini. Sementara istrinya saat itu, Alana, hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memberikan kontribusi apapun secara finansial. Secara hukum, aset yang ada saat ini adalah hasil keringat klien saya."
Bastian berdiri, merapikan jasnya dengan tenang. "Izin menyanggah, Yang Mulia. Kami memiliki bukti audit forensik yang menunjukkan bahwa setiap ide produk, strategi pemasaran, dan kontrak besar yang ditandatangani perusahaan selama tiga tahun terakhir adalah hasil pemikiran Alana Adiwangsa yang dicuri oleh Raka. Klien saya adalah otak di balik layar, sementara Raka hanyalah seorang pencuri identitas intelektual."
Raka tiba-tiba berdiri, berteriak tanpa memedulikan etika ruang sidang. "Bohong! Dia hanya wanita bodoh yang bisa memasak! Dia tidak tahu apa-apa tentang bisnis! Kalian hanya menggunakan kekuasaan keluarga Adiwangsa untuk menindasku!"
"Diam, Saudara Terdakwa!" tegur Hakim dengan keras.
Alana menatap Raka. Ia tidak merasa takut lagi. Ia justru merasa kasihan melihat betapa hancurnya pria yang dulu ia cintai itu. Namun, di tengah keributan itu, Alana menyadari sesuatu yang aneh. Siska tidak ada di barisan pengunjung. Padahal, Siska adalah orang yang paling vokal mendukung Raka.
Alana membungkuk ke arah Kenzo yang duduk di belakangnya. "Kenzo, di mana Siska? Kenapa dia tidak datang mendukung Raka?"
Kenzo membisikkan sesuatu yang membuat darah Alana membeku. "Siska terlihat masuk ke gedung kantor pusat Keluarga Dirgantara pagi tadi. Dia mencoba menemui ayahku."
Alana tersentak. Siska mencoba mendekati keluarga Kenzo? Ini adalah serangan langsung ke hubungan mereka. Siska tahu bahwa jika ia tidak bisa memiliki Raka, ia akan menghancurkan satu-satunya pelindung Alana.
Setelah sidang ditunda, Alana keluar dari ruang sidang dengan pikiran yang berkecamuk. Di lobi pengadilan, ia melihat Siska sedang berdiri dengan sombong, mengenakan pakaian mewah yang entah dari mana ia dapatkan.
Siska berjalan mendekati Alana dengan senyum kemenangan. "Bagaimana sidangnya, Alana? Masih merasa menang?"
Alana berhenti, menatap Siska dengan tajam. "Apa yang kau lakukan di kantor keluarga Dirgantara, Siska?"
Siska tertawa, suara tanyanya sangat nyaring dan menyebalkan. "Hanya berkunjung, Al. Ayah Kenzo adalah pria yang sangat bijaksana. Beliau sangat terkejut saat tahu putra satu-satunya sedang menjalin hubungan dengan wanita yang punya masa lalu 'kriminal' dan baru saja bercerai dengan cara yang memalukan. Kau pikir keluarga terpandang seperti Dirgantara akan menerimamu?"
Alana merasakan dadanya sesak. Ini adalah ketakutan terbesarnya—menjadi beban bagi Kenzo.
"Jangan dengarkan dia, Alana," suara Kenzo terdengar tegas dari belakang. Ia merangkul bahu Alana dengan protektif. "Siska, kau pikir kau siapa bisa mengatur siapa yang boleh masuk ke keluargaku?"
"Aku bukan siapa-siapa, Tuan Kenzo," sahut Siska dengan nada manja yang menjijikkan. "Tapi ayahmu sangat tertarik dengan dokumen yang aku bawa. Dokumen tentang kecelakaan sepuluh tahun lalu. Dokumen yang menunjukkan bahwa Keluarga Adiwangsa-lah yang sebenarnya memicu kecelakaan itu untuk menyingkirkan musuh bisnis mereka... yang ternyata adalah keluarga Dirgantara sendiri."
DEG.
Suasana di lobi pengadilan mendadak membeku. Alana menoleh ke arah Kenzo, dan ia melihat keterkejutan yang sama di mata pria itu.
Jika apa yang dikatakan Siska benar, maka Alana dan Kenzo adalah anak dari dua keluarga yang saling menghancurkan. Hubungan mereka bukan lagi sekadar cinta, tapi sebuah pengkhianatan terhadap sejarah keluarga masing-masing.
"Kau bohong!" teriak Bastian yang baru keluar dari ruang sidang.
"Cek saja sendiri," Siska mengangkat bahu, lalu berjalan pergi dengan langkah angkuh. "Selamat menikmati drama baru kalian. Ternyata kau bukan hanya putri yang hilang, Alana. Kau adalah putri dari orang yang menghancurkan keluarga pria yang kau cintai."
Alana merasakan lututnya lemas. Ia menatap Kenzo yang masih terdiam. Kehangatan yang baru saja ia rasakan selama beberapa hari ini mendadak terasa seperti es yang membeku.