NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sonya duduk terdiam di ruang tamu. Di depannya, berserakan beberapa kertas catatan berisi rincian pesanan katering untuk besok. Ia menarik napas panjang, berusaha fokus pada angka-angka dan daftar belanja yang harus diselesaikan malam ini. Semua ini harus dihitung dengan cermat agar esok karyawannya bisa langsung belanja dan memasak tanpa kendala.

Untuk acara hajatan dan pesta kecil, ia biasanya menyerahkan semuanya kepada timnya. Tapi untuk klien tertentu terutama yang istimewa, ia selalu turun tangan sendiri, seperti kemarin, saat ia memasak khusus untuk Yudha. Itu bahkan bukan sekadar katering. Lebih tepatnya, ia menjadi koki pribadi untuknya.

Sudah tiga tahun ia dan Intan menjalankan bisnis katering ini. Perlahan, usahanya berkembang, tapi tetap saja hasilnya belum cukup untuk menutupi biaya pengobatan Yasya. Kebutuhan itu memaksanya mengambil pekerjaan tambahan, meski melelahkan.

Sonya mulai mencoret-coret kertas di depannya, mencoba menata kembali anggarannya. Namun, pikirannya malah melayang pada percakapan dengan Reza beberapa saat lalu, saat lelaki itu mengantarkannya pulang.

"Sonya, berhenti menyiksa dirimu sendiri. Kamu bekerja seolah tidak ada yang bisa menolongmu."

Nada suara Reza masih terngiang jelas di telinganya. Ada campuran kekhawatiran dan ketegasan dalam ucapannya yang membuat hati Sonya bergetar.

"Aku sudah bilang, kalau kamu membutuhkan uang, mintalah padaku. Aku bisa membantu."

Sonya teringat betapa sulitnya menjawabnya waktu itu. Ia menggeleng, mencoba menepis emosi yang mengusik ketenangannya. "Reza, tapi aku tidak ingin berutang apa pun padamu," jawabnya kala itu dengan suara bergetar.

Namun, Reza tidak menyerah. Ia menatapnya dengan pandangan penuh keyakinan. "Kalau kamu tidak mau berutang, menikahlah denganku. Kamu tahu aku menyukaimu sejak lima tahun yang lalu. Aku juga tahu segalanya tentangmu. Jadi, apa lagi yang kamu ragukan?"

Sonya ingat betapa keras ia menahan air mata saat itu. Bukan karena tidak menghargai perasaan Reza, tapi karena ada luka yang terlalu dalam untuk ia bagi. "Kamu tidak mengerti, Reza," katanya pelan, hampir seperti bisikan.

"Sonya, semua orang punya masa lalu. Kamu tidak perlu terus merasa kecil atau rendah diri. Terimalah aku. Aku akan bertanggung jawab untukmu dan Yasya," kata Reza dengan suara tegas namun lembut, seolah ingin meruntuhkan semua benteng yang selama ini ia bangun.

Pikiran itu membuat Sonya terdiam, menatap kosong pada kertas-kertas di depannya. Kata-kata Reza terus berputar di kepalanya, menimbulkan pertanyaan yang tak bisa ia jawab. "Apa benar aku tidak perlu memikul semua ini sendirian?"

Namun, ia menggeleng cepat, menepis pemikiran itu. Baginya, mengandalkan orang lain bukanlah pilihan. Hanya akan ada lebih banyak luka jika ia membuka hati dan mempercayakan dirinya pada orang lain lagi, tidak hanya itu, ia tentu tidak bisa menghadapi kemarahan orang tua reza.

Sonya kembali menunduk, berusaha fokus pada pekerjaannya, meski pikirannya masih bergulat dengan keraguan dan rasa bersalah yang tak kunjung hilang.

Esok harinya...

Sonya berdiri di depan pintu rumah sakit, untuk menemui Sasa sebelum berangkat bekerja. Meskipun Yudha telah melarangnya bertemu dengan Arya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak datang. Bagaimanapun juga, kontrak kerja sebagai koki pribadi Yudha masih berjalan, dan ia tak berani melanggarnya, takut terkena denda yang akan memperburuk keadaan.

Saat masuk ke ruang perawatan, suara ceria Sasa langsung menyambutnya. "Bunda datang!" seru anak itu, wajahnya berseri-seri melihat kedatangan Sonya.

Melihat Sasa yang tampak lebih ceria dari sebelumnya, hati Sonya sedikit tenang. Ia tersenyum, berusaha menyembunyikan segala beban yang selama ini menekannya. Dengan lembut, ia mendekat dan berkata, "Tentu saja, Bunda datang. Bunda juga rindu sama Sasa." Ia mengangkat tentengan di tangannya. "Bunda buatkan bubur ayam. Yuk, kita sarapan dulu."

"Yay! Oke, Bun!" jawab Sasa dengan antusias, lalu duduk bersiap untuk makan.

Saat Sonya membantu menuangkan bubur ke mangkuk kecil, matanya menyapu ruangan. Intan tidak terlihat di mana pun. "Em... Mama ke mana?" tanyanya, memecah kesunyian.

Sasa mengunyah suapan pertamanya sebelum menjawab. "Tadi Mama keluar sebentar. Ada nenek yang datang."

"Nenek?" Sonya mengernyit, nada herannya tidak bisa disembunyikan. "Siapa nenek itu?"

Sasa menggeleng kecil. "Gak tahu, Bun. Tapi nenek itu baik, dia ngasih Sasa hadiah." Ia menunjuk ke arah sebuah paper bag yang tergeletak rapi di sudut ruangan.

Sonya menoleh, matanya tertuju pada tas kertas yang masih terlihat utuh. Sesuatu dalam dirinya berdesir—entah rasa penasaran atau firasat buruk yang tiba-tiba menyeruak. "Hadiah apa, Sayang?" tanyanya lembut, tapi nada suaranya sedikit bergetar.

Sasa hanya mengangkat bahu, terlalu sibuk menikmati buburnya untuk memperhatikan lebih jauh. Sementara itu, Sonya melangkah perlahan menuju tas kertas di sudut ruangan, meraihnya dengan hati-hati. Jantungnya berdegup lebih cepat tanpa alasan yang jelas, seolah tas itu menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar hadiah biasa.

Namun, sebelum sempat membukanya, suara Intan memecah keheningan.

"Kamu sudah datang, Dek?"

Sonya langsung menoleh, mengalihkan perhatian dari tas. "Iya, Kak. Kakak darimana? Kata Sasa ada nenek yang datang. Siapa dia?"

Intan terlihat ragu. Matanya sedikit menghindar, dan dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, tanda jelas bahwa ia sedang mencari kata-kata. "Oh... itu nenek di kamar sebelah. Dia juga lagi sakit. Semalam aku bantuin dia sebentar, dan tadi pagi dia datang bawa hadiah buat Sasa."

Sonya memiringkan kepalanya sedikit, mencoba mencerna. "Oh, begitu." Ia beralih ke Sasa. "Sasa, nanti jangan lupa bilang terima kasih ya sama nenek di sebelah."

"Iya, Bun," jawab Sasa dengan santai, kembali menyuap buburnya.

Intan merasa lega. Sonya tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan cerita itu atau menunjukkan tanda-tanda curiga. Ia segera mendekat, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Sepertinya Sasa sudah bisa pulang hari ini, Dek. Tadi perawat bilang tinggal tunggu hasil pemeriksaan dokter. Kalau semuanya baik, Sasa boleh pulang."

Sonya menarik napas lega, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Syukurlah. Terima kasih ya, Kak, sudah bantuin selama ini."

"Yeay! Akhirnya Sasa pulang!" seru Sasa, matanya berbinar penuh kegembiraan. "Dan nanti bisa sekolah lagi, kan?"

Sonya tertawa kecil melihat semangat anak itu. "Iya, Sayang. Tapi kita lihat dulu ya, tunggu kata dokter."

Sasa mengangguk, lalu melanjutkan makannya dengan lebih lahap. Sonya mendekatinya, duduk di sisi tempat tidur. "Ayo kita habiskan sarapan dulu, biar nanti kalau dokter datang, Sasa sudah siap."

Sasa mengangguk lagi, kali ini sambil menyuap bubur dengan lahap.

Sonya kemudian menoleh ke Intan yang duduk di kursi tak jauh dari mereka. "Kak, jangan lupa sarapan juga. Aku sudah bawakan lontong sayur, makanan kesukaan Kakak."

Intan tersentak kecil, tampak terkejut tapi langsung tersenyum hangat. "Makasih, Dek. Kamu masih sempat mikirin aku di tengah semua ini."

Sonya hanya menggeleng sambil tersenyum lembut. "Kamu sudah banyak membantu, Kak. Masa aku nggak balas sedikit pun?"

Mereka pun mulai sarapan bersama. Suasana ruangan berubah hangat, penuh dengan obrolan ringan dan candaan kecil yang membuat semuanya terasa lebih ringan. Sasa sempat tergelak saat Intan bercerita tentang seorang perawat yang kerap salah menyebut nama pasien, sementara Sonya tersenyum melihat keduanya.

Di tengah semua masalah yang menghimpit, momen sederhana seperti ini adalah pelipur lara. Sonya merasa bahwa selama ia masih bisa tertawa bersama orang-orang tercintanya, ia akan selalu memiliki kekuatan untuk menghadapi apa pun. Bagi Sonya, kebahagiaan kecil ini adalah pengingat bahwa hidup, meski berat, masih menyisakan alasan untuk terus berjuang.

Selesai sarapan dan berpamitan pada Sasa, Sonya melangkah keluar dari rumah sakit dengan hati yang sedikit lega. Namun, seperti biasa, kesibukan menantinya. Ia kini berdiri di dekat halte bus, menunggu angkutan menuju Yandex Corp. Di tangannya ada tas kecil berisi catatan pesanan katering dan beberapa dokumen pekerjaan lain.

Sesekali, ia melirik jam di pergelangan tangannya yang terus berdetak, seolah mengingatkannya bahwa waktu tidak pernah berpihak. "Kenapa lama sekali," gumamnya dengan nada kesal, pandangannya tertuju ke ujung jalan dan belum ada tanda-tanda kendaraan yang ditunggunya datang.

Sinar mentari yang terus terpancar dan jalanan yang kian banyak kendaraan membuat situasi semakin panas, ia pun mengelap peluh yang bermunculan di dahinya. Matanya kembali menatap jalan, berharap bus segera datang. Namun, justru yang muncul adalah sebuah mobil hitam mengilap yang berhenti tepat di depannya.

Sonya mengernyit, tidak langsung mengenali siapa di balik kemudi. Kaca jendela mobil perlahan turun, memperlihatkan wajah yang membuat dadanya berdebar tak karuan.

"Masuk," suara itu terdengar dingin, namun tegas.

Sonya terdiam, hatinya bergolak. Apa yang dia lakukan di sini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!