"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Tirai Putih
Pagi itu, Jakarta tampak lebih tenang dari biasanya. Sisa-sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah yang segar dan jejak air di kaca jendela mobil Rolls-Royce yang membawa Alana menuju rumah sakit. Di sampingnya, Arkan sibuk dengan tabletnya, sesekali mengernyitkan dahi saat membaca laporan saham pagi. Meskipun wajahnya tampak lelah setelah ketegangan pesta semalam, aura otoritasnya tetap tak tergoyahkan.
Alana menatap pergelangan tangannya. Gelang berlian itu masih di sana, berkilau di bawah sinar matahari pagi. Ia merasa seperti seorang putri yang sedang dibawa menuju kebebasan sementara. Namun, ia tahu, kebebasan apa pun yang diberikan Arkan selalu memiliki harga yang harus dibayar.
"Kita punya waktu dua jam," ucap Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Setelah itu, kamu harus kembali ke mansion untuk bertemu dengan desainer interior. Kakek ingin kamu mengubah beberapa bagian rumah agar terlihat lebih seperti hunian pasangan baru."
Alana hanya mengangguk pelan. "Terima kasih, Arkan. Untuk semuanya."
Arkan hanya bergumam pelan, namun Alana menyadari sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Ada sisi dari Arkan yang mulai terasa lebih manusiawi bagi Alana, meski ia tetap waspada. Di dunia Arkananta, kebaikan sering kali hanyalah umpan untuk jebakan yang lebih besar.
Sesampainya di rumah sakit, Alana langsung menuju ruang pemulihan VIP. Di sana, ibunya sedang duduk bersandar di ranjang, menatap pemandangan taman dari jendela besar. Wajahnya yang semula layu kini tampak jauh lebih segar. Warna kulitnya yang pucat telah digantikan oleh semburat merah muda yang sehat.
"Alana... kamu datang lagi, Sayang," sambut ibunya dengan senyum yang sangat tulus.
"Ibu! Lihatlah dirimu, Ibu tampak sangat hebat!" Alana memeluk ibunya dengan hati-hati, air mata haru menggenang di matanya. "Dokter bilang Ibu bisa segera pulang jika proses rehabilitasi ini lancar."
"Ini semua berkat suamimu, Alana. Arkan sering datang menjenguk saat kamu sedang sibuk. Dia pria yang sangat baik," ucap sang Ibu sambil mengusap kepala Alana.
Alana tertegun. "Arkan... sering datang ke sini?"
"Iya. Dia bercerita banyak tentang betapa berharganya kamu bagi perusahaannya. Ibu senang kamu menemukan pria yang begitu menghargaimu."
Alana terdiam, hatinya terasa sesak. Arkan benar-benar membangun narasi yang sempurna. Bahkan ibunya pun telah jatuh ke dalam pesona "menantu ideal" yang diciptakan sang CEO. Di satu sisi, Alana merasa bersyukur karena ibunya bahagia, namun di sisi lain, ia merasa seperti penipu ulung yang sedang mempermainkan perasaan satu-satunya orang yang ia cintai.
Setelah satu jam berbincang, ibunya tertidur karena efek obat. Alana memutuskan untuk keluar sebentar guna mencari air minum dan berbicara dengan dokter jaga. Namun, saat ia melewati ruang administrasi khusus pasien VVIP, ia melihat sebuah map berwarna biru tua tergeletak di atas meja resepsionis yang sedang kosong.
Di sampul map itu tertulis sebuah nama yang membuat jantung Alana berhenti berdetak: "ARSIP REKAM MEDIS: ARKANANTA (RESTRIDTED)"
Rasa penasaran yang selama ini terkubur tiba-tiba bangkit. Alana tahu ini berbahaya. Arkan bisa saja tahu tindakannya melalui CCTV, namun dorongan untuk mengetahui siapa sebenarnya pria yang kini menjadi suaminya itu jauh lebih kuat. Dengan tangan gemetar, ia membuka map tersebut.
Matanya menyisir lembar demi lembar. Isinya bukan sekadar pemeriksaan kesehatan rutin. Ada laporan psikiatri yang bertanggal sepuluh tahun lalu.
"Pasien menunjukkan tanda-tanda trauma pasca-kejadian (PTSD) yang parah setelah menyaksikan kecelakaan ibunya. Pasien memiliki kecenderungan untuk melakukan kontrol berlebihan (controlling behavior) sebagai mekanisme pertahanan diri..."
Alana menutup mulutnya dengan tangan. Ia terus membalik halaman hingga menemukan sebuah foto terlampir—foto sebuah mobil yang hancur total di dasar jurang. Di sana tertulis: "Kecelakaan tunggal Nyonya Arkananta (Mendiang Ibu Arkan). Saksi mata utama: Arkananta (usia 18 tahun)."
Ada catatan kecil di bawahnya dengan tulisan tangan dokter: "Pasien percaya bahwa kecelakaan itu bukan kebetulan, namun sabotase keluarga. Kepercayaan ini membentuk karakter pasien yang tidak mudah percaya pada siapa pun."
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Suara dingin itu datang dari belakang, membuat Alana tersentak hebat hingga map itu jatuh ke lantai. Arkan berdiri di sana, matanya gelap dan wajahnya mengeras seperti baja. Seluruh kehangatan yang sempat dirasakan Alana tadi pagi menguap seketika.
"A-arkan... aku tidak bermaksud—"
Arkan melangkah maju, kehadirannya yang menjulang membuat lorong rumah sakit itu terasa sempit. Ia memungut map itu, lalu menatap Alana dengan tatapan yang bisa menghancurkan apa pun yang dilaluinya.
"Aku membiarkanmu menjenguk ibumu, dan kamu membalasnya dengan mengorek sampah masa laluku?" tanya Arkan, suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan.
"Aku hanya... aku hanya ingin mengenalmu, Arkan. Aku melihat namamu dan aku—"
"Kamu tidak berhak mengenal bagian dari diriku yang ini!" bentak Arkan, membuat beberapa perawat di ujung lorong menoleh ketakutan. Arkan segera mencengkeram pergelangan tangan Alana dan menyeretnya keluar dari rumah sakit menuju mobil.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat mencekam. Arkan tidak bersuara, namun Alana bisa melihat betapa kuat pria itu mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
"Arkan, maafkan aku. Aku tidak tahu bahwa itu adalah hal yang sangat sensitif bagimu," bisik Alana sambil menangis pelan.
Arkan tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Ia berbalik, menatap Alana dengan mata yang kini berkaca-kaca karena kemarahan dan luka yang lama terpendam.
"Ibuku meninggal di depan mataku, Alana! Dan kakekku... pria yang kamu lihat sangat bangga padaku itu, dia adalah orang yang menutupi semua bukti sabotase tersebut demi nama baik perusahaan!" Arkan memukul kemudi dengan keras. "Sejak hari itu, aku berjanji tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam hidupku. Aku membangun dinding ini untuk melindungi diri sendiri. Dan sekarang, kamu dengan mudahnya menginjak-injak luka itu?"
Alana tertegun. Ia menyadari bahwa di balik sifat posesif dan dingin Arkan, ada seorang remaja laki-laki yang hancur karena pengkhianatan keluarganya sendiri. Arkan tidaklah jahat; ia hanya sangat terluka.
Tanpa sadar, Alana meraih tangan Arkan yang masih mengepal. Ia menggenggamnya dengan lembut. "Itulah sebabnya kamu tidak percaya pada cinta? Karena kamu takut dikhianati lagi?"
Arkan menatap tangannya yang digenggam Alana, lalu menatap mata gadis itu. Keheningan panjang terjadi di antara mereka. Untuk pertama kalinya, Arkan tidak menarik tangannya.
"Cinta adalah kelemahan yang membuat ibuku terbunuh," ucap Arkan pelan, suaranya bergetar. "Dan aku tidak boleh lemah."
"Tapi kamu tidak sendirian sekarang, Arkan. Aku... meskipun ini bermula dari kontrak, aku tidak punya alasan untuk mengkhianatimu. Aku justru berhutang nyawa ibuku padamu."
Arkan menarik napas panjang, mencoba mengatur emosinya. Ia menjauhkan tangannya, namun kemarahannya sudah sedikit mereda. "Jangan pernah lagi mencari tahu tentang masa laluku tanpa izin. Apa yang kamu lihat di map itu hanya sebagian kecil dari kegelapan keluarga Arkananta."
Arkan menjalankan kembali mobilnya. Sepanjang sisa perjalanan, ia tetap diam, namun ia tidak lagi melepaskan genggaman tangan Alana di atas konsol tengah mobil. Genggaman itu terasa berbeda—bukan lagi penguasaan, melainkan seperti seseorang yang sedang berpegangan pada harapan di tengah badai.
Sesampainya di mansion, Dimas sudah menunggu dengan wajah cemas. Ia membisikkan sesuatu pada Arkan yang membuat wajah pria itu kembali menegang.
"Ada apa?" tanya Alana.
"Kevin. Dia tidak tinggal diam setelah semalam," jawab Arkan pendek. "Dia baru saja mengajukan tuntutan audit ulang terhadap proyek Cendana Hills. Dia tahu ada celah di sana yang digunakan Elena dulu untuk mencuri uang."
Alana memucat. "Apa yang akan kita lakukan?"
Arkan menatap Alana dengan tajam. "Kamu harus menemuinya. Kevin ingin bicara denganmu secara pribadi di sebuah kafe sore ini. Dia berpikir kamu adalah titik lemahku yang bisa ia tekan untuk mendapatkan informasi rahasia perusahaan."
"Tapi itu jebakan, kan?"
"Tentu saja. Tapi kamu akan pergi ke sana sebagai umpanku. Aku akan memasang penyadap di gaunmu," Arkan menarik Alana mendekat, mencium keningnya dengan sangat lama. "Jadilah istri yang cerdik, Alana. Biarkan dia berpikir dia menang, sampai aku punya cukup bukti untuk menjebloskannya ke penjara selamanya."
Alana mengangguk. Ia menyadari bahwa perannya kini bukan lagi sekadar pemanis di samping Arkan. Ia telah menjadi bagian dari perang darah keluarga Arkananta. Dan entah mengapa, ia merasa siap melakukannya—bukan lagi demi kontrak, tapi demi pria yang baru saja menunjukkan luka hatinya padanya.
Malam itu, Alana bersiap untuk pertemuannya dengan Kevin. Ia tidak tahu bahwa di kafe itu, Kevin tidak datang sendiri. Ia membawa seseorang dari masa lalu Alana yang jauh lebih berbahaya daripada Marco—seseorang yang mengetahui rahasia tentang siapa sebenarnya ayah biologis Alana, rahasia yang bahkan Alana sendiri tidak mengetahuinya