Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan yang Tak Pernah Sampai
Suasana di depan rumah petak itu mencekam. Cahaya lampu teras yang kekuningan dan mulai redup menerangi wajah Syifa yang sembab. Gadis kecil itu berdiri dengan kaki telanjang di atas semen dingin, jemarinya yang mungil gemetar hebat saat mencengkeram ujung daster ibunya yang hendak pergi. Di dalam rumah, Hilman tergeletak di lantai dapur. Tubuhnya membujur kaku dengan sisa muntahan darah yang membasahi kaos kusamnya, sebuah pemandangan yang seharusnya mampu meruntuhkan gunung batu, namun entah mengapa tidak mampu meruntuhkan ego Andini malam itu.
"Mama... jangan pergi dulu... Ayah, Ma... Ayah panggil-panggil Mama," isak Syifa. Suaranya serak, nyaris hilang ditelan isak tangis yang menyesakkan dada.
Andini menarik dasternya dengan kasar, membuat Syifa hampir tersungkur. Di tangannya, ia mencengkeram tas berisi buku tabungan satu miliar dan perhiasan yang ia curi dari kotak rahasia suaminya. Pikirannya sudah tidak berada di rumah itu. Pikirannya sudah berada di dalam mobil mewah Reno yang mesinnya menderu halus di ujung gang, menunggu untuk membawanya ke kehidupan yang ia anggap pantas.
"Lepaskan, Syifa! Mama ada urusan penting! Ayahmu itu cuma pingsan biasa, dia sudah sering begitu kan? Paling sebentar lagi bangun sendiri. Jangan manja!" bentak Andini tanpa menoleh sedikit pun ke dalam rumah.
Syifa kembali mengejar. Kali ini ia memeluk kaki ibunya, menghalangi langkah Andini yang terburu-buru. "Sekali saja, Ma... Ayah tadi bilang... Ayah mau peluk Mama sebelum tidur. Ayah bilang dadanya sakit sekali. Syifa takut, Ma. Peluk Ayah sekali saja, cuma sebentar..."
Andini berhenti melangkah, namun bukan karena tersentuh. Ia menatap ke bawah, ke arah putrinya yang bersimbah air mata, dengan pandangan penuh kejijikan seolah Syifa adalah penghalang besar bagi kebahagiaannya.
"Peluk?" Andini tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian malam. "Kamu mau Mama memeluk pria yang baunya seperti besi berkarat dan oli itu? Kamu mau Mama mengotori daster mahal ini dengan darah dan keringatnya? Tidak, Syifa! Mama sudah muak memeluk kemiskinan selama tujuh tahun! Hari ini Mama mau memeluk dunia yang sebenarnya!"
"Tapi Ayah sayang Mama! Ayah kerja sampai berdarah-darah buat Mama!" teriak Syifa, mencoba menyadarkan ibunya dengan sisa kekuatannya.
"Sayang tidak bisa membelikan Mama apartemen! Sayang tidak bisa membuat Mama dihormati orang!" Andini menyentakkan kakinya kuat-kuat hingga pegangan Syifa terlepas. "Sana masuk! Urus ayahmu yang tidak berguna itu. Besok Mama akan kirimkan uang untuk kalian, tapi sekarang... biarkan Mama pergi!"
Andini tidak peduli lagi. Ia menyeret kopernya di atas jalanan gang yang tidak rata, menimbulkan suara berisik yang memicu gonggongan anjing liar di kejauhan. Ia tidak menoleh ketika Syifa jatuh terduduk di tanah, menangis sejadi-jadinya sambil memanggil namanya berkali-kali.
Di ujung gang, Reno sudah menunggunya di balik kemudi. Ia menurunkan kaca jendela, menatap Andini dengan senyum miring yang penuh rahasia.
"Lama sekali, Din. Hampir saja aku tinggal," ucap Reno dingin.
"Maaf, Ren. Anak itu terus-terusan merengek. Ayo, jalan sekarang sebelum tetangga bangun," balas Andini sambil masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa. Ia meletakkan tas berisi 'harta karun' itu di pangkuannya, memeluknya erat-erat seolah benda itu lebih berharga daripada nyawa manusia yang baru saja ia tinggalkan.
Mobil itu mulai bergerak. Andini menatap spion samping. Ia melihat siluet kecil Syifa yang masih berdiri di tengah jalan, tampak sangat kecil dan rapuh di bawah sorot lampu jalan. Hati nurani Andini sempat berdenyut sekali, sebuah peringatan terakhir dari jiwanya, namun ia segera menepisnya. Ia justru menutup mata, membayangkan dirinya sedang berbelanja di butik ternama di Paris atau Bali.
Sementara itu, di dalam rumah yang kini terasa seperti lubang hitam yang dingin, Syifa merangkak masuk kembali. Ia mendekati Hilman yang masih terbaring di lantai dapur. Tangan Hilman yang terbalut perban kotor bergerak sedikit, jemarinya mencakar lantai semen seolah mencari pegangan.
"An... di... ni..." bisik Hilman. Matanya terbuka sedikit, namun hanya memperlihatkan bagian putihnya saja.
"Ayah... Mama pergi, Yah... Mama nggak mau peluk Ayah," Syifa memeluk kepala ayahnya, meletakkannya di pangkuannya yang mungil. "Tapi Syifa ada di sini. Syifa peluk Ayah ya? Ayah jangan pergi..."
Hilman tidak menjawab. Napasnya terdengar seperti suara kertas yang diremas, berat dan penuh cairan. Di saat-saat terakhir kesadarannya, ia masih berharap merasakan wangi parfum istrinya untuk terakhir kali, namun yang ia rasakan hanyalah tetesan air mata hangat dari putrinya.
Tiba-tiba, tubuh Hilman kejang. Ia terbatuk hebat, dan kali ini darah mengalir deras dari sudut bibirnya, membasahi daster Syifa. Mata Hilman terbuka lebar, menatap langit-langit rumah yang bocor, lalu perlahan... cahaya di matanya meredup. Tangannya yang tadinya mencakar lantai, kini terkulai lemas.
"Ayah? Ayah jangan bercanda! Ayah bangun!" Syifa mengguncang-guncang tubuh Hilman. "Ayah sudah janji mau lihat harta karun sama Syifa! Ayah bangun!!!"
Hening. Tidak ada napas. Tidak ada detak jantung. Hanya suara detak jam dinding tua yang seolah menghitung mundur kehancuran keluarga itu.
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju bandara, Reno tiba-tiba tertawa.
"Kenapa, Ren? Ada yang lucu?" tanya Andini, mencoba mencari perhatian pria itu.
Reno melirik ke arah tas di pangkuan Andini. "Aku baru ingat, Din. Aku lupa memberitahumu sesuatu yang sangat penting soal apartemen itu."
Andini mengernyitkan dahi. "Apa? Bukankah semuanya sudah beres? Aku sudah bawa uangnya, Ren. Satu miliar. Kita bisa langsung beli unit yang paling besar kan?"
Reno menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan tol yang sepi. Ia memutar tubuhnya, menatap Andini dengan tatapan yang kini tidak lagi manis, melainkan tajam dan penuh ancaman.
"Uang satu miliar itu... kamu pikir itu cukup untuk menutupi hutang-hutangku pada orang-orang yang mengejar ku sekarang?" Reno merampas tas dari pangkuan Andini dengan kasar.
Andini terkejut. "Hutang? Apa maksudmu, Ren? Kamu bilang kamu sukses! Kamu bilang kamu direktur!"
Reno tertawa terbahak-bahak, tawa yang membuat bulu kuduk Andini meremang. "Direktur? Aku bahkan tidak punya kantor, Andini! Mobil ini sewaan, jas ini pinjaman, dan aku kembali ke Jakarta hanya karena aku butuh mangsa bodoh untuk membayar hutang judi ku di luar negeri. Dan kamu... kamu adalah mangsa paling sempurna. Wanita haus harta yang rela mengkhianati suami yang sedang sekarat demi mimpi kosong."
Andini mencoba merebut kembali tasnya. "Kembalikan! Itu uang suamiku! Itu uang masa depanku!"
Reno mendorong Andini hingga kepalanya terbentur jendela mobil. Ia mengeluarkan sebuah benda logam dari balik dashboard—sebuah pisau lipat yang mengkilap.
"Keluar dari mobil sekarang, atau kamu akan menyusul suamimu ke liang lahat malam ini juga," desis Reno.
Andini gemetar hebat. Ia menatap pria yang ia puja-puja itu kini berubah menjadi iblis. Ia melihat tasnya, yang berisi seluruh hidup Hilman, kini berada di tangan orang jahat. Ia melihat ke arah jalan tol yang gelap dan sepi. Tidak ada siapa-siapa.
"Keluar!" teriak Reno.
Andini dipaksa keluar dari mobil di tengah malam buta, di pinggir jalan tol, tanpa membawa apa-apa selain baju di badan. Reno langsung memacu mobilnya, meninggalkan Andini yang jatuh tersungkur di atas aspal kasar.
Andini berteriak histeris, namun suaranya hilang ditelan deru angin malam. Ia mencoba meraba sakunya, berharap ada sisa uang, namun yang ia temukan hanyalah sebuah kunci kecil—kunci kotak rahasia Hilman yang tadi ia gunakan.
Di saat yang bersamaan, di rumah petak mereka, pintu depan didobrak oleh Pak Gatot yang datang karena merasa firasat buruk. Pak Gatot terpaku melihat Syifa yang sedang memeluk jenazah Hilman yang sudah dingin.
Namun, mata Pak Gatot tertuju pada satu hal yang ada di genggaman tangan Hilman yang sudah kaku. Sebuah kertas kecil yang sepertinya baru saja ditarik dari saku kaosnya sebelum ia menghembuskan napas terakhir.
Pak Gatot mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis:
"Andini, jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah membuka kotaknya. Maafkan aku... satu miliar itu bukan uang asli semuanya. Periksa lagi bagian bawah tumpukan sertifikat itu..."
Andini yang berada di pinggir jalan tol mendadak teringat sesuatu. Ia tadi hanya melihat saldo di buku tabungan, ia tidak sempat memeriksa tumpukan paling bawah karena terburu-buru. Ia mulai merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan yang selama ini disembunyikan Hilman.
Apa sebenarnya isi asli dari tabungan satu miliar itu? Dan apa yang akan terjadi pada Andini yang kini terlunta-lunta di jalan tol sementara suaminya telah tiada?