"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Gejala yang Terbagi Dua Benua
3 minggu telah berlalu sejak deru mesin jet pribadi Devan menghilang di cakrawala. Bagi Shena, 3 Minggu ini terasa seperti 3 tahun. Namun, yang lebih menyiksa daripada rasa rindu adalah sikap Devan yang tiba-tiba "menghilang". Tidak ada pesan singkat, tidak ada video call manja, bahkan asisten rumah tangga di Singapura hanya mengatakan bahwa Pak Devan sangat sibuk dengan urusan hukum di kantor cabang yang mengakibatkan waktu bertambah menjadi 3 minggu.
Pagi itu, di Jakarta, Shena terbangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa bergejolak di perutnya yang tak tertahankan.
"Ugh..." Shena berlari kencang menuju kamar mandi.
Hueekk!
Shena terduduk lemas di lantai marmer yang dingin, wajahnya pucat pasi. Ini sudah hari keempat ia mengalami mual hebat setiap pagi. Badannya terasa pegal, dan aroma parfum Devan yang tertinggal di bantal—yang biasanya menenangkannya—kini justru membuatnya ingin muntah lagi.
Tepat saat itu, bel rumah berbunyi. Mama Widya dan Papa Surya muncul dengan wajah penuh kecemasan. Mereka langsung masuk setelah Bi Inah melaporkan bahwa "Non Shena sering mengurung diri di kamar mandi".
"Shena! Sayang, ada apa?" Mama Widya langsung memeluk menantunya yang tampak layu. "Wajahmu pucat sekali, Nak. Kamu sakit?"
"Hanya... masuk angin mungkin, Ma," bisik Shena lemah.
Papa Surya mengernyitkan dahi. "Apa Devan belum meneleponmu? Papa sudah mencoba menghubunginya, tapi sekretarisnya selalu bilang dia sedang rapat tertutup."
Mendengar nama Devan, mata Shena berkaca-kaca. "Belum, Pa. Mungkin masalah di sana sangat berat."
Melihat kondisi Shena yang memprihatinkan, Mama Widya langsung membuat keputusan tegas. "Papa, suruh orang bawakan koper kita dari rumah. Kita menginap di sini mulai malam ini. Mama tidak mau menantu kesayangan Mama pingsan sendirian gara-gara memikirkan si bandel Devan itu!"
Sementara itu, di kantor cabang Singapura yang megah, suasana sangat kontras dengan kesuksesan yang biasanya dirayakan. Devan Adiguna duduk di kursi kebesarannya, namun bukan dengan gaya angkuh. Ia membungkuk di depan tempat sampah di bawah meja kerjanya.
Hueekk!
"Pak... Anda baik-baik saja?" Rian masuk dengan setumpuk dokumen, namun langsung menjatuhkan semuanya karena terkejut melihat bosnya.
Wajah Devan yang biasanya segar dan berwibawa kini pucat pasi seperti kertas. Matanya sayu, dan yang paling aneh... di atas meja kerjanya bukan ada kopi hitam, melainkan setumpuk manisan mangga muda dan jeruk nipis.
"Rian... kenapa aroma kopimu baunya seperti sampah?" tanya Devan dengan suara serak, sambil menutupi hidungnya dengan saputangan.
"Tapi ini kopi Blue Mountain favorit Anda, Pak," jawab Rian heran. "Dan kenapa Anda makan mangga muda?"
"Aku tidak tahu! Aku tiba-tiba ingin sekali makan sesuatu yang asam. Jika tidak, kepalaku rasanya mau pecah," gerutu Devan. Ia mencoba berdiri, namun kepalanya berputar. "Dan kenapa hatiku terasa sangat gelisah? Aku merasa bersalah, tapi aku tidak tahu kenapa."
Rian menatap bosnya dengan iba sekaligus bingung. "Pak, Anda sudah bekerja 20 jam sehari selama 3 minggu ini tanpa menyentuh ponsel. Anda bahkan lupa memberi kabar pada Nyonya Shena. Mungkin Anda stres berat."
"Ponsel?" Devan meraba sakunya. Ia baru ingat ia mematikan ponselnya sejak hari pertama untuk fokus pada audit. Saat ia menyalakannya, ribuan notifikasi masuk, namun matanya langsung tertuju pada satu nama: Shena.
Tiba-tiba, rasa mual itu datang lagi. Devan merasa perutnya melilit. "Rian... panggil dokter. Sekarang! Aku merasa seperti sedang hamil!"
Rian segera meraih telepon. "Halo, Dokter? Segera ke kantor Adiguna Group. Pak Devan... sepertinya dia keracunan atau mengalami gangguan saraf. Dia mengidam mangga muda!"
Di Jakarta, Shena sedang disuapi bubur oleh Mama Widya. Ia merasa sedikit lebih baik, namun rasa rindu pada Devan tetap menyesakkan.
"Ma, apa mungkin Devan marah padaku?" tanya Shena lirih.
"Tidak mungkin, Sayang. Dia itu sangat memujamu," sahut Mama Widya. "Tapi kalau sampai besok dia tidak berkabar, Mama sendiri yang akan terbang ke Singapura dan menjewer telinganya di depan semua dewan direksi!"
Shena tersenyum kecil. Ia mengusap perutnya yang masih terasa bergejolak. Ia teringat "Proyek Cucu" dan jamu "Macan Galak". Sebuah pemikiran melintas di benaknya, namun ia takut berharap terlalu tinggi.
Di Singapura, Devan sedang diperiksa oleh dokter pribadi. Dokter itu menatap Devan dengan ekspresi yang sangat aneh setelah memeriksa denyut nadi dan gejalanya.
"Tuan Adiguna," ujar Dokter itu sambil menahan tawa. "Anda sehat secara fisik. Tapi dalam dunia medis, ada fenomena yang disebut Couvade Syndrome."
"Apa itu? Penyakit mematikan?" tanya Devan panik.
"Bukan. Itu adalah kondisi di mana seorang suami merasakan gejala kehamilan yang dialami istrinya—seperti mual, mengidam, dan perubahan suasana hati—karena ikatan batin yang terlalu kuat."
Devan dan Rian terdiam. Mata Devan membelalak. "Maksud Dokter... Istri saya sedang...?"
Devan langsung menyambar ponselnya. Ia mengabaikan rasa mualnya dan mencoba menelepon rumah. Ia menyadari satu hal: selama 3 minggu ini ia meninggalkan "hartanya" yang paling berharga demi angka-angka di Singapura, sementara istrinya mungkin sedang berjuang sendirian.
...****************...