NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Romansa
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan yang menggenapkan cinta

Berita tentang kehamilan Anindya menjadi titik balik yang mengharukan, namun bagi Yoga, kebahagiaan ini tidak akan lengkap sebelum duri dalam daging bernama Fahri dicabut sampai ke akarnya. Ia tidak akan membiarkan pria yang hampir menghancurkan mental istrinya itu tetap melenggang bebas dengan jas dokternya.

Satu minggu setelah kepulangan mereka ke Surabaya, Yoga tidak membuang waktu. Dengan kekuasaan dan koneksi yang ia miliki sebagai CEO Aditama Yoga Medika, ia menggandeng pengacara paling prestisius di negeri ini.

Sidang kode etik kedokteran dan laporan pidana atas pencemaran nama baik serta percobaan sabotase medis digelar secara tertutup namun intens. Yoga datang dengan membawa bukti rekaman suara, hasil laboratorium independen, dan kesaksian dari informan yang disuap Fahri.

Fahri duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat. Tidak ada lagi senyum sinis atau tatapan meremehkan.

"Saudara Fahri, berdasarkan bukti yang ada, Anda dinyatakan melakukan pelanggaran berat kode etik dan tindakan pidana fitnah yang membahayakan nyawa pasien," ucap ketua dewan etik dengan tegas. "Mulai hari ini, izin praktik kedokteran Anda dicabut secara permanen di seluruh wilayah Indonesia. Dan kasus ini akan dilanjutkan ke pengadilan pidana."

Yoga berdiri di sudut ruangan, menatap Fahri dengan tatapan sedingin es. Saat Fahri diseret keluar oleh petugas, ia sempat menoleh ke arah Yoga dengan tatapan memohon.

"Yoga, tolong... kita teman lama!"

Yoga hanya memperbaiki letak jam tangannya, lalu berucap tanpa emosi, "Teman tidak akan menggunakan ketakutan seorang wanita untuk menghancurkan rumah tangganya. Nikmati masa tuamu di balik jeruji, Fahri."

Kembali ke Surabaya, suasana rumah megah mereka berubah total. Jika sebelumnya Yoga sudah dicap sebagai suami yang "bucin", maka saat Anindya hamil, level kebucinan sang dokter naik ke tingkat yang tidak masuk akal.

Anindya duduk bersandar di sofa empuk sambil menonton drama Korea. Baru saja ia menghela napas sedikit, Yoga yang sedang membaca jurnal medis di sampingnya langsung siaga.

"Kenapa, Sayang? Perutnya kencang? Mual lagi? Mau Mas pijat?" tanya Yoga beruntun sambil meletakkan tabletnya.

Anindya tertawa kecil, mengelus perutnya yang mulai sedikit menonjol di balik daster sutranya. "Mas, aku cuma mau ambil bantal kecil itu. Jangan terlalu khawatir, aku bukan pasien operasi bedah sarafmu."

"Kamu lebih penting dari pasien manapun, Anin," Yoga segera mengambilkan bantal, menatanya di belakang punggung Anindya, lalu berlutut di lantai hanya untuk mencium perut istrinya. "Halo, jagoan Papa. Jangan nakal ya di dalam, jangan bikin Mama mual lagi."

Anindya mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih. Sejak kejadian di Jakarta, Yoga benar-benar tidak ingin jauh darinya. Bahkan Yoga memasang CCTV tambahan yang terhubung ke ponselnya agar bisa memantau Anindya saat ia sedang di rumah sakit.

Pukul dua pagi, Anindya tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur. Ia menyentuh bahu Yoga yang sedang tertidur lelap.

"Mas... Mas Yoga..."

Yoga langsung terduduk tegak, matanya yang merah langsung waspada. "Apa? Ketuban pecah? Kita ke RS sekarang?"

Anindya meringis malu. "Enggak, Mas. Aku... aku tiba-tiba ingin makan bakso yang di pinggir jalan dekat butik. Tapi harus Mas yang beli sendiri, nggak boleh Cakra atau supir."

Yoga terdiam sejenak, melihat jam dinding. "Jam dua pagi, Sayang? Apa tukangnya masih buka?"

Anindya mulai mengerucutkan bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca—efek hormon kehamilan yang membuatnya sangat sensitif. "Tuh kan, Mas nggak mau... ya sudah, nggak apa-apa kalau anak kita nanti ileran..."

Melihat itu, Yoga langsung panik. "Eh, eh, jangan nangis! Iya, Mas berangkat sekarang. Mas akan cari sampai ketemu, kalau perlu Mas beli sama gerobaknya sekalian!"

Sepuluh menit kemudian, sang Dokter Spesialis Internis yang disegani itu sudah keluar rumah hanya dengan mengenakan jaket hoodie dan celana pendek, berkeliling kota Surabaya demi semangkuk bakso.

Saat Yoga kembali dan melihat Anindya makan dengan lahap, hatinya terasa penuh. Ia duduk di samping istrinya, merapikan anak rambut Anindya yang menutupi wajah.

"Enak?"

Anindya mengangguk semangat. "Enak banget! Makasih ya, Dokter Bucin."

Yoga tersenyum, lalu mengecup kening Anindya dengan sangat lama. "Anin, terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi ayah. Aku berjanji, mulai sekarang tidak akan ada lagi rahasia, tidak akan ada lagi orang ketiga yang bisa menyentuh kita."

Anindya menyandarkan kepalanya di bahu Yoga, menikmati ketenangan malam di Surabaya. Badai di Jakarta telah berlalu, fitnah Fahri telah musnah, dan kini mereka hanya tinggal menanti kehadiran anggota keluarga baru yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.

"Aku mencintaimu, Mas Yoga. Sangat mencintaimu."

"Aku lebih mencintaimu, Sayang. Selamanya."

Sembilan bulan berlalu dengan segala drama "kebucinan" Yoga yang kian menjadi-jadi. Kini, momen yang dinanti itu tiba. Di lorong VVIP Rumah Sakit Aditama Yoga Medika, suasana yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi kegemparan luar biasa. Bukan karena ada pasien darurat, melainkan karena sang pemilik rumah sakit sendiri sedang kehilangan akal sehatnya.

"Mas... sakit... hhh... ahhh!" Anindya mencengkeram lengan Yoga begitu kuat hingga kuku-kukunya membekas di kulit suaminya.

Yoga, yang biasanya membedah tempurung kepala manusia dengan tangan sedingin es dan hati setenang telaga, kini tampak seperti pria yang baru pertama kali melihat rumah sakit. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri dahinya.

"Suster! Dokter Obgyn-nya mana?! Kenapa lama sekali?! Istriku kesakitan!" teriak Yoga menggelegar di sepanjang koridor menuju ruang persalinan.

"Sabar, Dokter Yoga... Dokter Maya sedang dalam perjalanan, ini baru pembukaan delapan," jawab seorang suster senior dengan sabar, meski ia ingin tertawa melihat bosnya yang biasanya berwibawa kini tampak berantakan dengan rambut jabrik dan kemeja yang kancingnya salah masuk lubang.

Begitu sampai di ruang persalinan, Yoga tidak mau melepaskan tangan Anindya sedikit pun. Ia terus membisikkan doa dan kata-kata penyemangat, meski suaranya sendiri bergetar hebat.

"Tarik napas, Sayang... buang pelan-pelan... Mas di sini," bisik Yoga, namun matanya justru melotot ngeri melihat peralatan medis di sekelilingnya.

Dokter Maya, dokter kandungan kepercayaan mereka, akhirnya tiba. "Ayo Anin, sudah pembukaan lengkap. Ikuti instruksi saya ya. Satu... dua... dorong!"

"NGGGGGHHHHHH!" Anindya mengejan sekuat tenaga, wajahnya memerah, peluh membasahi seluruh tubuhnya.

Yoga yang berada di samping kepala Anindya justru terlihat lebih pucat dari sang pasien. Saat Dokter Maya berkata, "Ayo, kepalanya sudah kelihatan sedikit!", Yoga secara naluriah menengok ke arah "medan perang" tersebut.

Detik itu juga, pandangan Yoga mengabur. Oksigen di paru-parunya seolah menghilang. Seorang ahli bedah saraf yang terbiasa melihat darah setiap hari itu tiba-tiba merasakan dunia berputar.

BRAKK!

"Dokter Yoga!" teriak para suster.

Yoga tumbang. Ia pingsan dengan posisi terduduk lalu merosot ke lantai, tepat di samping tempat tidur Anindya.

"Lho, Dokter Yoga pingsan?!" Dokter Maya melongo sejenak, namun segera kembali fokus. "Suster, biarkan saja dia dulu! Urus ibunya dulu! Anin, ayo dorong lagi!"

Di tengah perjuangan hidup matinya, Anindya sempat-sempatnya melirik ke bawah dan melihat suaminya terkapar tak berdaya. "Mas Yoga... dasar... lemah..." gumam Anindya di sela napasnya yang terengah, membuat para suster menahan tawa di tengah ketegangan.

Tangisan yang Memecah Segalanya

Beberapa menit kemudian, suara tangisan bayi yang melengking memecah kesunyian ruang persalinan.

"Oeeekkk! Oeeekkk!"

Bersamaan dengan suara bayi itu, Yoga terbangun karena bau menyengat dari garam amonia yang disodorkan suster ke hidungnya. Ia mengerjap, lalu seketika teringat di mana dia berada.

"Anin! Istriku!" Yoga langsung meloncat bangun dengan sisa tenaga yang ada.

Ia melihat Dokter Maya sedang mengangkat seorang bayi mungil yang masih merah dan berlumuran darah, lalu meletakkannya di atas dada Anindya. Anindya menangis haru, wajah lelahnya memancarkan kecantikan yang luar biasa.

Melihat pemandangan itu, pertahanan Yoga runtuh. Ia tidak pingsan lagi, tapi ia menangis sesenggukan. Bukan sekadar menangis kecil, tapi tangisan histeris yang disertai bahu yang berguncang hebat. Ia berlutut di samping tempat tidur, menciumi tangan Anindya dan kaki kecil bayi mereka secara bergantian.

"Terima kasih, Sayang... hiks... terima kasih sudah bertahan... hiks... anak kita... dia cantik sekali seperti kamu..." Yoga bicara sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan permen, membuat Dokter Maya geleng-geleng kepala.

"Dokter Yoga, biasanya Anda paling tenang kalau ada pasien pendarahan otak, kenapa sekarang jadi cengeng begini?" goda Dokter Maya.

Yoga tidak peduli. Ia terus menangis sambil memeluk istri dan anaknya. "Ini beda... ini nyawaku, Maya... ini separuh jiwaku."

Anindya, meski masih lemas, mengelus rambut Yoga dengan lembut. "Sudah, Mas... malu dilihat suster. Dokter CEO kok nangisnya begini."

Yoga mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, lalu mengecup kening Anindya dan puncak kepala bayinya. "Biarkan saja. Hari ini aku bukan CEO. Aku cuma seorang Papa yang sangat bahagia."

Malam itu, di ruang VVIP yang dipenuhi bunga, keluarga kecil itu berkumpul.

Kebahagiaan mereka lengkap. Hutang nyawa telah dibayar dengan kehidupan baru, dan cinta yang sempat diuji oleh fitnah kini bersemi selamanya dalam wujud seorang putri kecil yang cantik, bukti nyata bahwa cinta sejati selalu menemukan jalan pulangnya.

1
Mardiana
tegangggg.... kasihan Hanin nyawanya bolak balik terancam.....🤣🤣🤣
yuningsih titin: makasih komentarnya kak👍
total 1 replies
Siti Amyati
emang udah watak jahat di kasih kesempatan yg baik malah tetap bikin onar smoga dapat karma yg setimpal buat Dinda
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
emang la kekanak-kanakan kamu anin dikit-dikit ada masalah ngadu ke mama
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
koq muter2 ga jelas alur ceritanya ga sesuai harapan
yuningsih titin
makasih komentarnya kak
Echy Izzafa
semangat yoga
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera
Siti Amyati
ngga suka sikap Anin,harusnya di omongi cari solusi bukanya setiap ada masalah lari ke ortu lanjut kak
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Semangat Yogaa
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!