NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Malam Pertama di Pinggir Hutan

Api unggun menari-nari di tengah kegelapan, melemparkan cahaya jingga yang menjilat permukaan danau kecil di pinggir hutan. Suara retakan kayu yang terbakar menjadi satu-satunya irama di tempat itu, selain desau angin yang membawa aroma sejuk dari danau. Ji Zhen duduk bersila di atas batu datar yang menghadap ke air, mencoba memusatkan perhatian pada batu roh tingkat tinggi yang digenggamnya.

Zulong benar, tempat ini memiliki aliran qi yang jauh lebih murni dibandingkan jalur setapak yang mereka lalui tadi siang. Seharusnya, dengan lingkungan yang mendukung dan batu roh di tangan, Ji Zhen bisa memperkokoh sirkulasi energinya. Namun, kenyataannya jauh dari harapan.

Ji Zhen menarik napas panjang, mencoba mengarahkan aliran energi biru dari batu roh masuk ke dalam pusat energinya. Begitu qi murni itu menyentuh jalurnya, rasa perih yang luar biasa langsung menghantamnya. Meridian di sekitar dadanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas. Retakan fondasi yang ditinggalkan oleh kegagalan terobosan di sekte masih terlalu lebar. Sementara aliran qi tidak bisa mengalir lancar, justru bergejolak tidak stabil dan nyaris meledak keluar dari jalur yang seharusnya.

“Sial!” Ji Zhen menggeram, melepaskan batu roh itu hingga terjatuh ke tanah. Wajahnya pucat, peluh dingin membasahi pelipis.

Jelas-jelas progresnya masih buntu. Meskipun ia memiliki teknik naga dan sumber daya, wadah fisiknya saat ini tidak mampu menahan tekanan energi yang lebih besar. Sakit di meridiannya adalah pengingat nyata bahwa ia tidak bisa terus memaksa tanpa memperbaiki fondasi yang rusak parah ini terlebih dahulu.

“Bocah, jangan dipaksa terlalu jauh,” suara Zulong terdengar di kepalanya. “Tempat ini memang kaya qi, tapi meridianmu sekarang seperti saluran air yang penuh sampah. Kau butuh sesuatu yang lebih dari sekadar meditasi untuk memurnikannya kembali.”

Rasa kecewa seketika muncul kala Ji Zhen mengusap dadanya, mencoba menenangkan sirkulasi energinya yang liar. Ia menoleh ke arah api unggun, di mana Yang Huiqing sedang duduk, menjaga api agar tetap menyala sesuai perintahnya. Wanita itu tidak bicara, tidak pula mengeluh meski udara malam mulai menusuk tulang.

“Huiqing,” panggil Ji Zhen.

“Ya, Ji Zhen?” Yang Huiqing menoleh cepat, matanya memantulkan cahaya api.

“Temani aku sebentar. Aku tidak bisa langsung tidur setelah berkultivasi,” perintah Ji Zhen sambil beranjak dari batunya dan mendekat ke arah api unggun.

Yang Huiqing mengangguk dan segera menggeser posisi, memberikan ruang bagi Ji Zhen. Untuk pertama kalinya sejak pengikatan paksa di sekte, suasana di antara mereka terasa sedikit lebih manusiawi. Dikata demikian lantaran kini tidak ada teriakan penghinaan, tidak ada pula ancaman maut. Hanya interaksi antara dua orang yang pernah berbagi masa lalu.

Ji Zhen menatap api, pikirannya melayang ke masa lalu. “Kau ingat saat pertama kali kita bertemu di Paviliun?”

Yang Huiqing tertegun. Ia tidak menyangka Ji Zhen akan mengungkit hal itu. “Ingat. Saat itu kau masih seorang murid baru yang sangat ambisius, dan jujur saja, aku sangat bangga bisa berjalan di sampingmu waktu itu.”

“Dulu kita berpikir dunia ini sangat luas, padahal kita hanya katak di dalam sumur sekte,” Ji Zhen terkekeh lirih. “Aku ingat kau pernah mencuri buah persik emas dari kebun Tetua demi merayakan keberhasilanku menembus lapis ketiga.”

Yang Huiqing ikut tersenyum, sebuah binar muncul di matanya. “Dan kau hampir tertangkap karena mencoba menyembunyikan bijinya di bawah bantal. Kau sangat bodoh waktu itu.”

Tawa keluar dari mulut Ji Zhen secara cuma-cuma. Untuk sementara waktu, dirinya telah lupa bahwa wanita di sampingnya ini adalah orang yang pernah mencampakkannya demi harta dan posisi. Tawa mereka menyatu dengan suara malam, menciptakan momen nostalgia yang hangat di tengah perjalanan yang keras.

Namun, binar di mata Yang Huiqing meredup secepat ia muncul. Wanita itu menundukkan kepala, menatap kayu yang berubah menjadi arang. “Aku memang pantas mendapatkan semua ini, Ji Zhen. Penyesalanku tidak akan mengubah fakta bahwa aku pernah menjadi ular bagi orang yang paling mempercayaiku.”

Ji Zhen hanya terdiam. Senyumnya menghilang karena ia tidak suka suasana yang mulai berlarut dalam kesedihan seperti ini. Baginya, emosi yang terlalu dalam adalah penghambat bagi ambisi. Masa lalu adalah pelajaran, bukan tempat untuk menetap.

Tanpa berkata-kata lagi, Ji Zhen berdiri. Ia mengibaskan debu dari jubahnya dan berjalan menuju tepi danau yang airnya nampak berkilau di bawah cahaya bintang.

“Ji Zhen? Kau nau ke mana?” tanya Yang Huiqing bingung.

Ji Zhen berhenti di tepi air, menoleh sedikit. “Kalau kau belum bisa membela diri atau berkultivasi dengan benar, setidaknya kau harus tahu cara menangkap makan malammu sendiri. Kebetulan perutku juga mulai lapar.”

Yang Huiqing bergegas berdiri dan mengikuti Ji Zhen ke tepi danau. Perintah Ji Zhen adalah mutlak, namun kali ini ada rasa ingin tahu yang lebih besar daripada sekadar kepatuhan.

Ji Zhen mengangkat tangannya, qi dingin mulai terkumpul di telapaknya. Ia tidak meledakkannya, melainkan mengalirkan energi es itu dengan halus ke permukaan air. Lapisan kristal transparan mulai merambat, memerangkap beberapa ikan yang sedang berenang di dekat permukaan tanpa menghancurkannya.

“Lihat?” ujar Ji Zhen saat matanya terfokus pada permukaan danau. “Aku akan membendung gerombolan ikan itu dengan es, dan kau yang akan memungutnya satu per satu.”

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!