NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Retakan di Tanah Harapan

Pagi itu, suasana di Kedai Harapan terasa berbeda. Biasanya, sejak fajar menyingsing, kepulan asap dari dapur Mbak Siska atau candaan para pemuda yang bersiap ke kebun sudah meramaikan suasana. Namun kali ini, ada kesunyian yang ganjil. Hanya ada suara gesekan sapu lidi Gia yang menyapu teras, itu pun terdengar ragu-ragu.

Di ujung jalan, sekelompok warga tampak berkumpul di depan rumah Pak Kades. Mereka tidak sedang memegang cangkul, melainkan selebaran mengkilap yang ditinggalkan oleh orang-orang Tuan Mahendra kemarin sore.

"Gia, kamu sudah lihat ini?" Mbak Siska datang menghampiri dengan wajah gelisah. Ia menyodorkan selebaran itu.

Gia membacanya. Isinya adalah desain megah tentang "Kawasan Agrowisata Terpadu Desa Sukamaju". Di sana digambarkan hotel berbintang, pusat pengolahan kopi modern, dan janji lapangan kerja bagi seluruh warga desa. Di pojok bawah tertulis syarat mutlak: "Pembangunan hanya akan dilakukan jika stabilitas investasi terjaga, tanpa gangguan dari pihak-pihak yang bermasalah secara hukum."

Gia meremas kertas itu. "Ini fitnah, Mbak. Ini cara dia supaya warga benci sama kami."

"Tapi Gia..." Mbak Siska menunduk. "Suamiku sudah dua bulan nggak narik angkot karena mesinnya rusak. Anakku mau masuk SMA. Uang kompensasi yang dijanjikan di kertas ini... itu bisa mengubah hidup kami."

Gia terdiam. Ia ingin marah, tapi ia tahu ia tidak berhak menyalahkan kebutuhan perut orang lain.

Di dalam kedai, Rian sedang duduk di depan laptop tuanya, jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak biasa. Ia tampak sedang membangun sebuah sistem keamanan jaringan baru.

"Rian, mereka mulai terpengaruh," ujar Gia sambil masuk ke dalam dan membanting selebaran itu ke meja.

Rian melirik sekilas, lalu kembali ke layar. "Aku sudah duga. Mahendra itu ahli psikologi massa. Dia nggak perlu pakai senjata untuk ngusir kita. Dia cuma perlu bikin kita ngerasa jadi beban buat orang-orang yang kita sayang."

"Terus kita diam aja?"

"Siapa bilang diam?" Rian memutar laptopnya ke arah Gia. "Aku lagi melacak aliran dana perusahaan bayangan yang dipakai Mahendra buat beli tanah-tanah di desa tetangga. Dia nggak cuma mau bangun agrowisata, Gia. Dia mau bikin pusat pembuangan limbah industri di balik bukit itu. Agrowisata ini cuma kedok supaya warga setuju tanahnya dibeli murah."

Gia terbelalak. "Kita harus kasih tahu warga!"

"Nggak akan ada yang percaya kalau cuma omongan, Gia. Kita butuh bukti fisik. Masalahnya, data itu ada di kantor perwakilan mereka di kabupaten. Dan penjagaannya pasti ketat setelah kejadian di Jakarta kemarin."

Siang harinya, ketegangan itu memuncak. Pak Kades datang ke kedai didampingi beberapa tokoh masyarakat. Wajah Pak Kades yang biasanya ramah kini tampak kaku dan penuh beban.

"Gia, Rian... Bapak minta maaf harus bicara begini," Pak Kades mengawali sambil duduk di kursi bambu. "Tapi warga mulai resah. Mereka merasa kehadiran kalian di sini menghambat rezeki desa. Tadi pagi, ada orang suruhan Tuan Mahendra bilang, kalau kalian masih di sini, investor nggak akan mau masuk."

Pak Jaya, ayah Gia, keluar dari dapur dengan membawa teko kopi. "Pak Kades, Rian ini sudah bantu benerin kedai saya. Gia ini anak saya. Masa Bapak mau ngusir mereka cuma gara-gara janji manis orang kota?"

"Bukan mengusir, Pak Jaya," sahut salah satu warga, Pak RT. "Tapi mungkin... Rian bisa menyelesaikan masalahnya di Jakarta dulu? Jangan bawa-bawa urusan hukum ke desa kita yang tenang ini. Kami cuma mau hidup tenang dan cukup makan."

Rian bangkit dari duduknya. Ia menatap satu per satu wajah orang-orang yang dulu sering ia ajak bercanda. Ia melihat ketakutan, keserakahan yang tersembunyi, tapi juga keputusasaan yang nyata.

"Pak Kades, Pak RT," suara Rian tenang tapi berwibawa. "Saya hargai kejujuran kalian. Saya tahu kalian butuh kemajuan. Tapi tolong beri saya waktu tiga hari. Hanya tiga hari."

"Buat apa, Rian?" tanya Pak Kades.

"Buat ngebuktiin kalau agrowisata ini bukan surga yang kalian bayangkan. Kalau dalam tiga hari saya nggak bisa buktiin apa-apa, saya sendiri yang akan angkat kaki dari desa ini tanpa kalian suruh."

Gia menatap Rian dengan cemas. Tiga hari? Itu gila, pikirnya.

Setelah para tokoh desa pergi dengan perasaan sangsi, Gia langsung menarik Rian ke belakang kedai. "Kamu gila ya? Tiga hari itu nggak cukup buat apa-apa!"

"Cukup, kalau kita tahu di mana harus nyari," Rian mengambil kunci motor tua milik Pak Jaya. "Malam ini kita ke kabupaten. Kita harus masuk ke kantor mereka."

"Kita? Kamu maksudnya aku ikut juga?"

"Kamu manajer pemasaran, kan? Kamu jago akting. Aku butuh orang yang bisa ngalihin perhatian satpam di depan sementara aku masuk lewat saluran udara. Lagian..." Rian menatap mata Gia dengan tulus. "Aku nggak bisa ninggalin kamu di sini sendirian saat warga lagi emosi begini. Aku lebih tenang kalau kamu di sampingku."

Gia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar. "Oke. Tapi kalau kita tertangkap, aku bakal bilang ke polisi kalau kamu yang nyulik aku."

"Deal," Rian nyengir, seolah mereka tidak sedang berencana melakukan aksi spionase yang berbahaya.

Malam itu, dengan motor tua yang suaranya sengaja diredam dengan kain pada bagian knalpot, mereka menempuh perjalanan dua jam menuju kota kabupaten. Kantor perwakilan Mahendra Group berada di sebuah ruko berlantai tiga yang tampak sunyi namun dijaga oleh dua orang satpam di pintu depan.

Rian memarkir motor di balik rimbunnya pohon beringin, jauh dari jangkauan lampu jalan.

"Dengar, Gia. Kamu pakai gaun ini," Rian mengeluarkan sebuah bungkusan dari tasnya. Itu adalah gaun kantor milik Gia yang sempat terbawa di ransel. "Kamu pura-pura jadi sekretaris dari kantor pusat yang ketinggalan kunci atau semacamnya. Bikin mereka sibuk selama sepuluh menit. Cukup sepuluh menit."

Gia mengganti pakaiannya di balik semak-semak dengan cepat. Saat ia keluar, ia kembali menjadi Gia yang dulu—elegan, tegas, dan penuh percaya diri. Rian sempat terpana melihat perubahan itu.

"Wah... kalau begini sih satpamnya nggak cuma sibuk, bisa-bisa mereka lupa nama sendiri," gumam Rian.

"Fokus, Rian!" bisik Gia pedas, meski wajahnya merona merah.

Aksi pun dimulai. Gia melangkah menuju pintu depan dengan gaya terburu-buru, berpura-pura sedang menelpon dengan nada marah.

"Saya tidak peduli! Tuan Mahendra bilang berkas itu harus ada di meja beliau besok pagi! Kenapa kantor ini terkunci?!" teriak Gia pada ponselnya (yang sebenarnya mati).

Kedua satpam itu langsung berdiri tegap, panik melihat wanita yang tampak sangat penting dan berkuasa itu. Sementara mereka sibuk mencoba menenangkan Gia dan mencari kunci cadangan, Rian bergerak seperti bayangan di sisi gelap gedung.

Dengan kelincahan yang terlatih, Rian memanjat pipa air dan menyelinap masuk lewat jendela kecil di lantai dua. Di dalam, ia segera menuju ruang arsip utama. Cahaya dari ponselnya menelusuri tumpukan map hingga matanya tertuju pada sebuah folder biru bertanda "Project Sukamaju - Fase 2: Industrial Waste".

Rian dengan cepat memotret setiap lembar dokumen itu. Tangannya bergerak stabil, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. Di lembar terakhir, ia menemukan peta yang sangat jelas: lahan agrowisata hanya ada di bagian depan seluas satu hektar, sementara sepuluh hektar di belakangnya adalah area pengolahan limbah B3.

Tiba-tiba, suara radio panggil (HT) satpam terdengar dari koridor luar.

"Eh, kamu cek lantai dua. Tadi kayak ada suara kaca kegeser."

Rian membeku. Ia tidak punya waktu untuk keluar lewat jendela lagi. Ia mendengar suara langkah sepatu bot mendekat ke arah ruangan itu.

Di depan ruko, Gia mulai merasa cemas karena sepuluh menit sudah berlalu. Ia melihat salah satu satpam masuk ke dalam dengan terburu-buru.

"Aduh, Pak, ini bagaimana? Saya harus segera masuk!" Gia mencoba menahan satpam yang satu lagi agar tidak ikut masuk.

"Maaf, Bu, ada prosedur keamanan. Rekan saya harus cek dulu," satpam itu bersikeras.

Gia tidak punya pilihan. Ia harus melakukan sesuatu yang drastis. Ia sengaja menjatuhkan tasnya, membuat isinya berhamburan, termasuk beberapa botol kosmetik kecil.

"Oh, astaga! Tolong bantu saya, Pak! Ini sampel mahal!" teriak Gia sambil berjongkok.

Satpam itu terpaksa ikut berjongkok membantu. Di saat itulah, Gia melihat bayangan Rian meluncur turun dari pipa air di samping gedung dengan kecepatan tinggi. Rian mendarat dengan senyap, lalu memberikan isyarat jempol dari kegelapan.

Gia menghela napas lega yang luar biasa. Setelah merapikan tasnya, ia memberikan tatapan dingin pada satpam itu. "Sudahlah! Saya lapor ke Tuan Mahendra kalau pelayanan di sini sangat buruk! Tidak usah cari kuncinya lagi!"

Gia berbalik dan berjalan dengan anggun menuju kegelapan, meninggalkan satpam yang kebingungan dan ketakutan. Begitu sampai di balik pohon beringin, Rian langsung menariknya.

"Gila! Kamu tadi keren banget, Gia!" bisik Rian penuh semangat.

"Hampir aja jantungku copot, Rian! Mana buktinya?"

Rian menunjukkan layar ponselnya. Foto-foto dokumen itu sangat jelas. "Ini dia. Tiket kita buat dapet kepercayaan warga lagi. Tapi kita harus cepat, Mahendra pasti bakal sadar kalau ada yang masuk."

Mereka segera memacu motor kembali ke desa. Angin malam terasa sangat dingin, tapi ada api semangat yang berkobar di dada mereka. Mereka bukan lagi sekadar bertahan; mereka mulai menyerang balik.

Namun, saat mereka sampai di gerbang desa, mereka melihat pemandangan yang mengejutkan. Rumah Pak Jaya sudah dikelilingi oleh warga yang membawa obor. Suasananya panas. Di tengah kerumunan itu, tampak Niko—yang entah bagaimana bisa keluar dari tahanan—berdiri dengan senyum kemenangan.

"Nah, itu dia tikus-tikusnya sudah pulang!" teriak Niko sambil menunjuk ke arah motor Rian.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!